"Aww! Aww sakit Pak!" ringisku ketika Pak Rifat mengoleskan salep ke bekas gigitan Ceu Fiyah.
Sekarang kami lagi berdiri berhadapan di depan apotik karena Pak Rifat bersikeras untuk memeriksa kondisi tanganku sehabis digigit Ceu Fiyah. Katanya, kulitku bisa infeksi jika tidak diobati.
"Udah jangan bawel, suruh siapa kamu menghadapi wanita bar-bar kayak gitu sendirian? Tanpa memberitahu saya."
Lagi-lagi dia menceramahiku tentang kesalahan tadi. Padahal seandainya dia tahu aku melakukan itu karena tidak ingin merepotkannya.
Aku tidak mau ketergantungan. Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya itu enggak enak.
Aku menundukan kepala dalam.
"Iya, Pak. Maaf, lain kali saya bilang," sesalku lirih yang hanya disambut delikan jutek dari Pak Rifat.
Ya ampun! Galaknya suamiku. Aku cemberut sambil terus memperhatikannya yang dengan telaten mengobati tapak bekas gigi Ceu Fiyah.
Asli ya, itu cewek lebih sadis dari Dementor. Gigitannya itu udah kayak siluman srigala yang memberikan tanda di tanganku yang eksotis ini.
"Huuh! Huuuh!" Aku meniup-niup tanganku setelah Pak Rifat selesai mengoleskan salep.
Meski sudah diobati anehnya masih terasa sangat perih. Begini nih, kalau yang ngigit kloningan Mak Lampir.
"Oke udah selesai. Oh, ya, kamu tunggu di sini dulu ya? Saya mau ke dalam, beli minum buat kamu," kata Pak Rifat sambil berjalan ke arah minimarket yang bersebelahan dengan apotik.
Aku hanya menganggukkan kepala, tidak mau cari perkara. Apalagi perkara hati karena mau diakui atau tidak jantungku suka tak aman jika berada di dekatnya seperti tadi.
Menyadari kalau dia selalu membantu dan selalu ada untukku, membuatku khawatir kalau aku berharap lebih. Lalu, jika itu terjadi siapa yang akan bertanggung jawab sama hatiku? Hati seorang gadis miskin yang untuk makan saja harus bergelut dengan para penghutang.
Untunglah, sekarang bebanku sedikit berkurang karena Rani sudah tinggal bersama Wak Romlah walau tetap saja biaya hidupnya aku yang nanggung.
"Eheum! Permisi!" Di tengah lamunan tiba-tiba pundakku ditepuk seseorang.
Aku menolehkan kepala. "Ya?" tanyaku sedikit terkejut.
Dahiku berkerut halus ketika melihat yang menyapaku seorang perempuan cantik, tinggi, putih dan berambut ikal. Seketika itu juga aku merasa minder dan ingin di-make over.
"Maaf, mau nanya apa tadi yang berbicara denganmu itu Rifat Shangkar?" tanya si cewek sambil melihat-lihat ke arah mini market.
"Heum, iya. Kenapa ya Mbak? Mbak kenal?"
"Oh heum. Kamu siapanya?"
Lah! Malah balik nanya.
"Istrinya Pak Rifat," balasku memperkenalkan diri.
Perempuan itu tampak terkejut. Kenapa? Apa aku terlalu astaghfirullah bagi seorang Rifat yang subhanallah gitu?
Emang sih, kuakui jika bukan karena perjodohan dan syarat mana mau dia menikah denganku. Tapi dari raut muka si perempuan ini aku bisa menilai kalau dia ....
"Lulu!" panggil Pak Rifat dengan langkah tergesa menghampiriku.
Kulihat Pak Rifat dan perempuan itu saling berpandangan sesaat tapi suamiku lekas memalingkan muka. Wajahnya sedatar papan penggilesan.
Berbeda ekspresi, wanita yang ada disampingku langsung menatap tegang. "Hai, Mas, kok gak bilang kalau udah nikah?"
"Apa pentingnya saya bilang sama kamu?" tanya Pak Rifat tajam.
Jujur. Aku pribadi sangat terkejut mendengar nada lelaki itu yang berubah ketus.
Eng, ing, eng. Ada apa gerangan sebenarnya?
"Bukan begitu Mas, saya kira selama ini kita ...."
"Lu, kita jadi kan pergi ke penghutang 17?" potong Pak Rifat seakan tak peduli apa yang akan dibicarakan wanita itu.
Aku bengong. "Eh? Ke Wak Mince? Sekarang?" tanyaku sedikit linglung.
Perasaan tadi kami nggak ada rencana ke sana, terutama Wak Mince ini bukan penghutang yang bisa seenaknya didatangi tanpa rencana karena tempat tinggalnya yang ah ... sudahlah! Aku tidak yakin Pak Rifat akan mau ke sana.
"Iya, kapan lagi? Ayo!"
Pak Rifat segera menarikku menjauh dari wanita yang persis bihun tersebut dengan wajah yang sangat dingin, lelaki itu bersegera pergi seolah tak ingin berlama-lama di sini.
"Pak, kalau boleh tahu ngemeng-ngemeng yang tadi siapa?" Aku memberanikan diri bertanya, ketika kami sudah sampai di dalam mobil.
Pak Rifat terdiam sejenak, lalu menatap wajahku datar.
"Dia mantan saya."
Oalah! Pantes ekspresinya beda banget.
Oh iya, jangan-jangan dia yang bikin suamiku trauma? Elah ... baru juga nikah udah nambah masalah.
(***)
Wak Mince nama si penghutang ketujuh-belas. Dia perempuan setengah baya yang terpaksa bekerja sebagai tukang masak di salah satu warteg yang berada di kawasan gelap. Orang-orang biasa menyebutnya red-district atau zona merah.
Kehidupan kota yang keras, mengharuskan Wak Mince bertahan dalam kondisi apa pun sekali pun di sekelilingnya penuh dengan kegiatan yang kurang berakhlak.
Mau bagaimana lagi? Inilah kehidupan tidak semua warna dapat terlihat jelas, ada hitam dan putih atau bahkan abu-abu. Maka, seenggaknya sebagai manusia kami harus saling mengasihi.
Mungkin itu juga yang membuat almarhum Ibu meminjamkan hutang meski tak tahu kapan akan dibayar.
Aku memijit pelipis yang terasa berat. Entah kenapa perasaanku kali ini terasa janggal dengan perjalanan menuju warteg Wak Mince ini. Sesuai WA yang kudapat dari Wak Mince, warteg Wak Mince itu dekat rumah karaoke yang di depannya terdapat jalan besar.
Namun, kok, rasa-rasanya menyeramkan banget ya? Sejauh mata memandang yang kulihat hanya warung remang-remang yang tampak sepi terlebih hari sudah malam.
Aku tegang.
"Gimana, Lu? Habis ini kita harus ke mana lagi?" tegur Pak Rifat kepadaku yang masih diam memperhatikan map.
"Ehm, kalau menurut map sih di sekitar sini Pak tapi kok, aneh ya?" jawabku ragu.
"Aneh gimana?"
"Itu Pak heum ...."
"Eh, kok mati?"
Belum juga aku selesai menjelaskan kegundahanku tiba-tiba Pak Rifat berseru keras.
"Sial! Harusnya saya ganti mobil tadi," umpatnya seolah tak bisa ditahan.
"Walah! Mogok, Pak?" tanyaku panik.
"Iya Lu, terpaksa kita harus berhenti di sini," kata Pak Rifat membuatku sontak celingukan heboh.
"Ya Allah! Gimana nih?"
Ondeh mandeh. Ini sih namanya udah jatuh tertimpa tangga dan kejedot aspal namanya. Amsyooong!
Pak Rifat segera menepikan mobilnya di pinggir jalan lebih tepatnya di samping warung yang lampunya cukup temaram. Sekilas dari luar warung itu tampak sepi tapi anehnya ada halaman luas yang terbentang di depannya.
"Lu, kamu diem di dalam mobil aja ya? Saya mau lihat mesin dulu," kata Pak Rifat.
Aku menganggukan kepala sambil mencoba menghubungi Wak Mince lagi dan untungnya langsung dijawab. Setelah memberi tahu posisiku, Wak Mince langsung memberikan arahan bagaimana agar aku bisa sampai ke rumah makannya.
Tidak ingin berlama-lama, kuputuskan turun dari mobil dan langsung menghampiri Pak Rifat yang sibuk sedang memeriksa mobil.
"Pak, gimana mobilnya?" tanyaku tepat di dekatnya karena dia terlihat sangat fokus.
Dia reflek mendongak karena kaget hingga tanpa sengaja mata kami bertatapan. Namun, tak lama karena aku dan dia sama-sama gugup.
"Ehm, ini Lu biasa akinya kendur, dinamo amperesnya aus. Kayaknya harus ganti, saya lupa kemarin," katanya terbata sambil kembali melihat-lihat isi dalam mobil.
Aku berdehem sambil menetralkan degup jantung yang tak beraturan. Di tempat sesunyi ini, hatiku masih saja baper.
"Oh begitu. Jadi kita bakal lama di sini dong, ya?"
"Ya, lumayan tapi saya udah nelepon bengkel langganan saya. Kenapa?"
Aku menggigit bibir bingung, mencari cara bagaimana untuk mengatakannya karena tadi siang dia sudah marah karena aku tak ijin mendatangi Ceu Fiyah sendirian.
"Ini ... ehm ... saya boleh gak kalau ke Wak Mince sendirian? Dekat kok Pak," tanyaku ragu.
Pak Rifat menghentikan aktivitasnya setelah mendengar pertanyaanku.
"Dekat? Kamu yakin?" tandasnya sambil menepukkan kedua tangannya yang terlihat kotor.
"Yakin Pak, insya Allah."
"Kalau gitu saya ikut."
"Jangan Pak, Bapak di sini aja tenang saya bisa sendiri," tolakku halus.
Sebenarnya, dari awal aku memang tidak mau mengajaknya ke Wak Mince soalnya kasian pada Pak Rifat yang tidak terbiasa ke daerah sepi dan terpencil seperti ini tapi mendadak ada kejadian tadi.
"Nggak! Saya tidak mau kamu sendirian lagi gimana kalau kamu kenapa-napa?"
"Tenang Pak, saya akan baik-baik saja. Oke? Ayolah, percaya ke saya, ya? Soalnya kalau Bapak ikut ntar tukang bengkel ke sini siapa coba yang bakal nunggu?" bujukku memberikan asumsi agar hatinya luluh.
Aku pikir sayang jika aku menyerah dan tidak jadi pergi. Kami sudah jauh-jauh ke sini, ini saatnya aku mencari.
Pak Rifat melipat lengan bajunya sambil berpikir dan itu membuat pria tampan itu semakin seksi.
Uluh-uluh. Suami siapa ini?
"Iya juga sih. Tapi Wak Mince orangnya baik kan, ya?" Lelaki itu masih sangsi. Mungkin dia takut kalau Wak Mince barbar kayak Ceu Fiyah.
"Iya Pak. Dia baik kok. Jadi, boleh ya?" tanyaku dengan mata berbinar.
Sejenak dia terdiam lalu menghembuskan napas dalam. "Ya udah, oke tapi inget ponselmu pastikan aktif," ancamnya memberi ultimatum.
"Siap Pak," jawabku lega.
Ah, syukurlah!
(***)
Ternyata Allah memang sayang banget sama aku. Baru saja aku berjalan kurang lebih satu kilometer dari mobil eh, warteg Wak Mince sudah terlihat dan seperti info itu terletak tepat di samping rumah karaoke yang cukup ramai dan terang. Sayangnya, perjalanan ke sini saja yang agak 'nganu'.
"Neng Lulu!" panggil Wak Mince heboh. Perempuan itu melambaikan tangannya ke arahku.
"Uwaak! Masya Allah. Udah nyari di mana-mana eh, di sini, gimana kabarnya Wak?" tanyaku girang. Gegas aku berlari dan menghampirinya.
Wak Mince tersenyum ramah. Dia tidak berubah sama sekali tetap baik seperti dulu.
"Baek Neng, baek. Oh ya laki Lu yang ganteng itu mana?" tanya Wak Mince. Kepalanya sibuk mencari-cari ke belakangku.
"Oh, itu Wak, mobil kami mogok jadi dia nunggu mobil di sono soalnya takut ada tukang bengkel." Tunjukku ke arah belakang.
"Di mana Lu?" Muka Wak Mince berubah panik.
"Di sana di depan warung remang-remang yang halamannya gede itu loh, Wak."
"Astaghfirullah! Di sana, Lu?" pekikknya kaget.
"Ya ampun! Buru cepet jemput laki lo!" Tiba-tiba saja Wak Mince mendorongku untuk berbalik kembali ke tempat semula.
"Lah, emang kenapa Wak?" tanyaku bingung. Mendadak firasatku enggak bagus karena baru saja sampai udah disuruh pergi. Kan aneh?
"Ayo, cepet! Selamatin laki Neng! Di sana bentar lagi bakal lewat perempuan jadi-jadian! Ih, serem!"
Walah! Perempuan jadi-jadian? Jangan-jangan ...?!
"Pak Rifaaat!" Sontak aku berlari kembali ke arah sebelumnya sebelum terlambat diikuti Wak Mince di belakangku.
Di otakku sudah berkecamuk hal-hal buruk karena info Wak Mince. Diam-diam aku bisa menerka betapa beringasnya mereka dan tepat saja ketika aku dan Wak Mince sampai di tempat mobil mogok tadi ternyata kericuhan sudah terjadi.
Mataku sontak membelalak ketika melihat Pak Rifat sudah berwajah pucat di depan mobilnya karena dikerubungi oleh lima w*aria yang terus menggoda sambil mencolek lengannya.
"Mas, Mas godain kita dong!"
Ya Salam! Bahaya. Paaak Rifaaat! I am comiiing!