Bab 13. Gas Yang Tak Diharapkan

1264 Words
Mobil mogok, dikejar waria, belum makan, kelaparan dan kemalaman. Luar biasa! Perfect-nya acara tagih-menagih malam ini hingga membuat kami tak bisa berkata-kata. Untunglah, aku bisa datang tepat waktu sebelum mereka semakin beringas dan mengambil harta berharga Pak Rifat. Terbayang di benakku jika terlambat sedetik saja. Bisa-bisa keperjakaan suamiku dipertaruhkan. Kan, asem. Aku yang bertindak sebagai istri juga belum mencoba, masa udah sama yang lain? Hash! Ngeri. Namun, kalau dipikir-pikir kasian juga suamiku tadi pasti dia sangat kaget. Seorang Rifat yang terbiasa dengan lingkungan adem, ayem, tentram loh jinawi mendadak harus menghadapi hal-hal baru yang 'nganu'. Anehnya kok aku malah mau tertawa, ya melihat mukanya? Ternyata seorang ahli taekwondo kalah sama perempuan jadi-jadian. Mana pucat banget lagi mukanya kayak lihat setan. "Jang Rifat, mau istirahat di kamar anak Uwak? Pasti capek, kan?" tanya Wak Mince pada Pak Rifat yang baru saja meminum teh hangatnya sampai tandas. Malam ini karena alasan mobil mogok dan keamanan, kami bersepakat untuk bermalam di rumah Wak Mince. Awalnya Pak Rifat menolak tapi ternyata tukang bengkel tidak datang sehingga dia tidak punya pilihan. "Nggak Wak, gak capek," kata Pak Rifat. Mulutnya berbanding terbalik dengan mukanya yang udah kuyu. Aku menyimpan gelas tenang mendengar jawaban Pak Rifat, lucu juga melihat dia kikuk begini. "Beneran Pak? Gak capek?" tanyaku sangsi. "Enggak. Saya biasa saja." "Weh? Yakin? Sudah diuji di IPB dan ITB? Kok, kayaknya Pak Rifat ngantuk gitu? Tidur gih Pak entar ada yang nyolek lagi loh," cerocosku yang langsung mendapat delikan Pak Rifat. "Lulu?" geramnya. "Iya, maaf canda bosku," elakku sambil langsung beranjak membantu Wak Mince yang membereskan peralatan bekas kami makan malam. Soalnya kalau tetap diam di samping Pak Rifat takut dimakan. Aku tuh heran sama Pak Rifat. Dia itu suka sok jaim kalau depan orang padahal aslinya menyeramkan. Lagian kenapa sih dia gak bobo duluan aja? Apa lelaki itu masih gengsi? Atau dia belum terbiasa tidur di atas kasur yang sederhana macam kasur si Henhen anak Wak Mince? Entahlah. Namanya orang kaya ada aja alasannya. "Kenapa si Ujang?" tanya Wak Mince. Melihat Pak Rifat masih diam sama sekali tak beranjak, persis patung. "Biasa lagi M. Males dan mager," kataku sambil terkekeh. "Hehehe ... ah, si Neng mah bisa aja. Oh ya, kalau mau mandi juga bisa tapi gak ada air anget. Gak apa-apa?" tanya Wak Mince. Perempuan setengah baya itu tampak merasa tak enak. "Gak apa-apa atuh, Wak. Segini juga alhamdullilah. Oh, iya, kalau aku tidur sama Wak kan?" bisikku. "Eh, nya nggak atuh. Sok macam-macam, nya Neng mah tidur sama Jang Rifat. Enak aja, mau sama Uwak. Gak boleh, nanti almarhumah Ibu kamu ngambek kalau anaknya kayak gini," omel Wak Mince membuat aku cemberut. "Ish, si Uwak mah gak bisa diajak kompromi." "Ih, si eneng mah karunya (kasian) suami. Digaet yang lain baru tahu, udah ah Uwak ke dapur dulu," kata Uwak sambil berlalu meninggalkanku berdua saja sama Pak Rifat di ruang tamu. Karena sudah selesai membantu Uwak aku pun membalikan badan dan ternyata Pak Rifat sedang menatapku dari tadi. Sontak saja pandangan kami beradu. Deg. Ya Allah! Kok, jadi deg-degan? Jantungku nggak aman nih. "Pa-Pak! Kok, liatin saya?" tanyaku saking gugupnya. "Kata siapa? Sa-saya liatin tembok kok, jangan geer!" ujarnya gelagapan sambil menunjuk tembok di belakangku. Lalu, tanpa basa-basi ngeloyor masuk kamar. Dasar aneh! (***) Pak Rifat menggelar kasur lipat di lantai. Sedangkan aku hanya bisa memperhatikannya karena bingung bersikap. Mau duduk salah, mau menatap salah sampai mau napas pun serasa salah. Di kamar Henhen, anak Uwak yang sedang pesantren ternyata hanya ada satu kasur itu pun hanya cukup untuk satu orang. Lalu bagaimana dengan aku? Apalagi kamar ini memang cukup kecil buat kami berdua, dengan sangat terpaksa kami harus tidur berdekatan. Aduh! Gimana ini? Aku berdehem bingung juga gugup. Dadaku sejak tadi sudah berdebar tak karuan sementara mataku bingung harus memandang ke arah mana. "Kamu tidur di kasur saya di tikar," kata Pak Rifat sambil menunjuk kasur kapuk di sebelah kanannya. "Eh, Bapak tidur di kasur aja, aku di tikar gak apa-apa. Soalnya udah biasa," kataku ragu. Sebenarnya aku bingung mau menawarkan ini atau tidak. Tapi apa boleh buat? Dia kan juragan mana bisa masuk angin? Repot juga nanti kalau dia demam. Dia menggelengkan kepala sambil menepuk-nepuk tikarnya. Entah kenapa kegantengan-nya seolah nambah jika berdiri di bawah lampu temaram seperti sekarang. "Sudah! Jangan berisik! Cepat tidur, sini!" katanya sambil merebahkan diri lalu memiringkan tubuh ke arah berlawanan. "Baik Pak, tapi jangan colek saya ya Pak." "Tenang kamu bukan tipe saya. Inget saya gak suka anak kecil dan gak mau buat juga," katanya kalem sambil memejamkan mata. Astaghfirullah! Sadis. Bilang aku bukan tipenya lagi. Sabar, Lu, sabar! Aku mengelus d**a rataku. Mungkin dia sengaja bersikap begitu agar aku bisa lebih nyaman dan bebas berbaring di kasur kapuk yang ada di sebelahnya tanpa khawatir. Setelah menarik napas dalam. Dengan pelan aku merayap ke atas kasur lalu merebahkan tubuh secara hati-hati dan cukup nyaman. Sebab, meski kosong Wak Mince menjaga kamar ini dan seisinya dengan bersih. Aku menutupi seluruh tubuh dengan selimut karena tubuhku terasa dingin dan perutku mendadak sakit. Semenit, dua menit, tiga menit hingga beberapa menit mataku sama sekali tak mengantuk. "Pak! Bapak udah bobok?" tanyaku mengetesnya karena otakku tiba-tiba teringat sesuatu dan harus segera disampaikan. "Udah," katanya enggan. "Kok, nyahut?" "Biar kamu gak berisik," katanya tanpa membalikan badan. "Pak!" panggilku pelan setelah menarik napas dalam. "Heum?" "Maaf ya Pak, Bapak harus ikut repot dalam masalah saya, seharusnya Bapak gak ngalamin kejadian kayak gini. Seandainya Pak Rifat gak ikut saya mungkin mobil Bapak gak mogok," sesalku sambil memiringkan tubuh, menatap punggungnya yang tampak indah jika dipandang dari jarak dekat seperti ini. Sebenarnya, melihat dia harus bersusah payah sampai harus meninggalkan rapatnya untuk aku membuat hati ini merasa tak enak. "Tenang saja Lu, gak apa-apa. Anggap saja sebagai suami dan anak sulung dari Pak Gilar, sudah kewajiban saya melunasi hutang Ayah dengan cara apa pun. Jadi, jika dengan menjaga kamu, hutang Ayah saya lunas maka akan saya lakukan," kata Pak Rifat terdengar dewasa. Namun, anehnya jawaban Pak Rifat itu menimbulkan pertanyaan lain dan getaran tak nyaman di dalam d**a. "Kalau begitu, jika sudah lunas. Apa Pak Rifat gak akan jaga saya lagi?" tanyaku sedikit kecewa. Merasa bodoh karena berharap lebih atas jawaban Pak Rifat. Dia terdiam sesaat, lalu tiba-tiba pria itu membalikan badan tanpa pemberitahuan. Deg. Sontak saja aku terkesiap karena sekarang tubuh kami saling berhadapan dan mata kami saling menatap satu sama lain. "Kamu pikir saya semudah itu melepaskan tanggung jawab?" tanyanya seraya menatapku lekat. Glek! Reflek aku menelan ludah dengan susah payah karena jantungku yang berdegup sangat kencang karena Pak Rifat. "Ya, enggak sih. Tapi say--" "Tidurlah! Sudah malam," potongnya sambil kembali ke arah semula. Memunggungiku. Aku tertegun, tak kupungkiri akibat percakapan ini hatiku semakin merasa gelisah dan perutku semakin bergejolak disebabkan ingin mengeluarkan sesuatu. "Pak!" panggilku lagi. "Heum?" sahutnya lebih malas dari yang tadi. "Bo-boleh aku kentut?" tanyaku hati-hati khawatir dia marah kalau aku nggak ijin. Apalagi di sini ventilasinya terbatas. Terdengar keheningan sesaat, kupikir dia pingsan tapi ternyata tidak. Pak Rifat kembali bersuara. "Boleh tapi ...." Duuut! Belum juga Pak Rifat selesai bicara aku langsung beraksi karena tak tahan. Pikirku kan dia sudah setuju. "Lulu! Kok, langsung meledak sih?" protesnya sambil menutup hidung dan beranjak dari tikar. "Maaf Pak masuk angin plus makan telor, maaf ya Pak," ringisku sambil memegang perut. Sementara sang suami hanya bisa diam menahan penderitaan. Namun, ternyata perutku masih tak bisa diajak negosiasi karena tiba-tiba aku kelepasan lagi. Duuut! "Luuluuu!" teriak Pak Rifat gemas sambil membuka jendela. Kayaknya dia dari tadi menahan napas. Ya ampun kasian! "Maafin Pak, gak kuaaat maaaaaaaaf!" lolongku sambil menarik selimut sampai menutup wajah. Sumpah! Aku malu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD