Okey, tarik napas Lu! Tarik napas! Entah berapa kali aku sudah mensugesti diri saat menuruni tangga untuk menuju ke lantai satu. Selang tiga hari dari adegan tidur bersama dengan Pak Rifat, ini pertama kalinya lagi aku makan bareng sama pria itu. Biasanya aku akan menghindar dan salah tingkah jika tak sengaja bertemu, bahkan gara-gara kejadian itu diriku berlaga kuat dan menolak bantuannya. Padahal dua hari kemarin kakiku masih cenat-cenut, untung sekarang sudah lumayan karena sudah bisa diajak jalan dan siap pecicilan lagi. Obat dan pijitan Pak Rifat emang mujarab. "Pagi, Lu?" sapa Pak Rifat yang pagi ini telah siap dengan pakaian casualnya. Lelaki itu melihat ke arahku yang terhenti di tengah tangga. "Pa ... pagi," jawabku tidak bisa menutupi kegugupan. Bayangan dadanya yang nyaman

