Matahari baru saja menampakkan wujudnya setelah bergantian dengan bulan. Siap menemani hari panjang Kanya bersama Cesa. Kemarin Kanya memintanya datang jam 06.00 WIB. Bukan apa-apa, jarak pantai dan Karaganyar itu cukup jauh, yang terdekat bisa ditempuh dalam dua setengah jam perjalanan. Jika berangkat lebih siang lagi sudah pasti panas di pantai. Justru tidak bisa menikmati pantai dengan leluasa. Belum lagi semakin mempersingkat waktu di sana.
“Jadi pergi sama Cesa, Dik?” tanya Mama yang sudah bersiap pergi ke Tawangmangu. Sedang ada diklat kecil-kecilan khusus PNS Disdikbud katanya.
“Jadi, Ma. Tapi Cesa belum datang juga, mana Mama sudah mau berangkat. Papa juga belum pulang.”
Mama tersenyum tipis. “Nanti biar Bang Raka yang menghadapi, lagian hanya pamit ini sih. Mama dan Papa mengizinkan kok. Selama kamu pergi dengan Cesa, Mama tidak telalu khawatir.” Memasang sepatu pantofel hitamnya.
“Bang.” Menuju ke arah kamar Bang Raka. Sejak sholat subuh tadi Bang Raka tak bersuara. Hanya lantunan musik klasik yang terdengar dari bilik kamarnya. “Mama mau berang... astagfirullah!” Mama bersorak kaget ketika membuka pintu kamar Bang Raka.
Kanya ikut masuk ke dalam kamar Bang Raka, tak ada hal genting yang terjadi tetapi Mama sampai sepanik ini.
“Mata kamu sudah kelelahan begini.” Membuka mata Bang Raka yang memang tinggal setengah watt. “Tidur dulu, ayo!” Mama mengangkat tubuh Bang Raka yang sudah lemah selemah-lemahnya.
“Tidur juga percuma, Ma. Yang dimimpikan tetap skripsi,” tolak Bang Raka yang kembali duduk di depan komputernya. “Abang enggak mau telat lulus, Ma. Abang harus kejar target ini,” rengekannya macam anak kecil.
“Iya, tapi mata dan otakmu butuh istirahat, Abang.” Mama tetap memaksa penuh kasih sayang. “Jangan terlalu dipaksakan, yang penting kamu bisa lulus terus nikah. Kalau begini caranya Mama tambah repot.” Kembali memaksa Bang Raka hengkang dari kursi pesakitannya, bukan kursi tersangka atau kursi dalam sidang pidana, ini kursi yang lebih menyiksa bagi mahasiswa, di depan komputer.
Bang Raka menurut, berbaring pelan di atas tempat tidurnya yang cukup sempit. Hanya muat untuk dia seorang.
“Mama harus berangkat. Mungkin lusa baru bisa pulang, jadi Mama titip Adik sama Abang. Tidak boleh bertengkar, tidak boleh telat makan, tidak boleh menjadi manusia kelelawar.” Mama memang menyebut mereka manusia kelelawar, kala terang dua anaknya tertidur, kala gelap beraktivitas. “Mama tidak mau mendengar kabar buruk selama Mama tidak ada di rumah. Papa mungkin baru pulang dua hari lagi, masih ada urusan bisnis di Lampung.”
Satu langkah menjauh dari Bang Raka. Langkah Mama terhenti. “Adik mau main sama Cesa. Kasih dia izin dan pastikan Adik sampai rumah sebelum Magrib,” pesan untuk Bang Raka.
“Siap, Ma!”
Kanya hanya tertawa penuh kemenangan. Entah kemenangan macam apa yang dia dapatkan, tanpa alasan begitu saja dia tertawa tanpa suara seolah baru saja memanangkan sesuatu.
“Dan.” Beralih pada Kanya. “Jangan mentang-mentang Mama kasih kamu izin main sama Cesa lalu kamu melupakan kewajibanmu.”
“Kewajiban belajar, Ma? Ospek saja belum, masih masa liburan ini, Ma,” elakku.
“Bukan itu, Dik!” Mama geregetan sendiri. “Lihat Abang kamu itu, ngurus skripsi sampai begitu, manja lah, susah diatur lah, berisik lah. Selama Mama dan Papa tidak di rumah, itu kewajiban kamu untuk menjaga Abang, mengingatkan Abang, memberi...”
“Sudah, Ma. Nanti terlambat!” Mendorong Mama pelan keluar dari kamar Bang Raka. “Pokoknya Mama tenang saja, soal urusan Bang Raka, gampanglah."
Mama hanya memberikan lirikan tajam tanpa mengatakan apapun.
“Selamat Pagi, Tante,” sapa orang yang telah aku tunggu sejak tadi. Mengenakan kaos hitam dan celana pendek hitam selutut, ditambah dengan jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya. Tema style-nya hari ini hitam.
Cesa mencium tangan Mama setelah berjabat tangan. Mama menghentikan langkahnya di depan pintu mobil miliknya. “Eh, Cesa. Sudah Tante tunggu dari tadi. Aduh maaf nih, Tante tidak bisa lama-lama ngobrol sama kamu. Yah, pokoknya seperti biasa ya. Tante nitip Kanya sama kamu, jangan macam-macam!” Setiap katanya terucap cepat.
“Tidak apa-apa kok, Tante. Maaf saya datang terlambat. Siap, Tante. Saya pastikan Kanya aman” tegas menanggapi kalimat dari Mama.
“Ya, Tante percaya sama kamu.” Mengelus bahu Cesa yang memang sudah berdiri tepat di depan Mama. “Eh, selamat atas diterimanya kamu sebagai prajurit TNI, ya. Jaga negara baik-baik. Segera cari calon istri juga, karena mendampingi seorang tentara itu sulit, harus mau hidup susah baik materi maupun hati. Harus jauh-jauh hari memilih pasangan hidup yang pas, jangan sampai salah pilih,” pesan untuk Cesa tetapi Mama melirik ke arah Kanya.
Senyum Cesa mengembang. “Terima kasih, Tante. Sudah ada pilihan kok, Tante. Tunggu tanggal mainnya saja,” seloroh Cesa.
Mama menengok ke arah anak perempuannya, mengangkat kedua alisnya. Kanya memang belum bercerita soal perempuan yang Cesa cintai. Akhir-akhir ini beliau sibuk sekali dengan urusan kantor. Bulan lalu ada pemecahan dan pergantian nama sekaligus tugas di tempat kerjanya. Yang tadinya Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) sekarang berubah nama dan tugas menjadi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud). Sementara Dinas Pariwisata berubah menjadi Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora).
“Ah, ya jaga perempuan itu baik-baik. Aduh, sudah terlambat.” Mama mulai panik setelah menatap jarum jam yang berdetak di pergelangan tangannya. “Berangkat dulu, ya?” pamit Mama.
“Hati-hati, Ma.”
“Iya, kalian juga hati-hati. Tidak usah ngebut, santai saja,” pesan Mama smabil mengendalikan setir.
Kanya dan Cesa serempak menjawab.
Tidak ada satu dua kalimat yang kami bicarakan setelahnya. Cesa bahkan hanya diam ketika Kanya masuk dan berpamitan dengan Bang Raka. Dia memang berpamitan juga dengan Bang Raka, sayangnya dia tidak berbicara dengan Kanya sama sekali.
Mereka dekat, tetapi terasa jauh. Itu yang Kanya rasakan di pagi hari ini, bahkan di saat burung-burung baru saja keluar dari sarangnya. Kenyataan yang memilukan, begitulah sepasang sahabat yang terjebak pada kata friendzone—dekat tetapi jauh. Ah, tapi lupakan. Kanya sudah memilih kemarin, apapun itu Kanya harus bahagia. Tak ada waktu untuk terus meratapi kenyataan lebih lama. Semoga saja dia bisa.
Kali ini Cesa menjemput Kanya tanpa mobil, sepeda motor matik yang biasa dia gunakan untuk sekolah, lengkap dengan dua helm berwarna senada, hitam. Tanpa aba-aba, Cesa memakaikan satu helmnya untuk Kanya. Ini adegan romantis yang biasa dilakukan oleh pasangan-pasangan dalam FTV atau sinetron. Realitanya? Adegan romantis itu hanya dilakukan oleh sepasang sahabat yang memiliki cinta tak terbalas. Tak apa, ini pun membuat Kanya tersenyum manis di hadapan Cesa.
“Jangan senyum-senyum terus. Lama-lama aku bisa terserang diabetes,” seloroh Cesa.
Kanya tahu ada kenyataan pahit, tetapi dia tersenyum dan melayang karena kalimatnya barusan. Cesa memang sering seperti ini, mungkin dengan perempuan yang dia cintai lebih manis lagi.
“Naik!” pinta Cesa saat dia sudah benar-benar siap.
Tak perlu jawaban, hanya perlu tindakan.
“Dik,” panggil Bang Raka tepat saat Cesa hendak menarik gas di tangan kanannya.
Kami mengalihkan pandangan pada Bang Raka, kompak. “Kenapa, Bang?” Pertanyaan yang kami lontarkan pun bebarengan.
“Nanti bawain oleh-oleh, ya? Apa kek ikan atau apa gitu.” Bang Raka langsung to the point, tepat seperti apa yang aku duga.
“Siap, Bang. Kalau ada, ya?” Cesa yang menyahut.
“Sip, hati-hati loh, ya? Jaga adikku baik-baik, sampai kenapa-kenapa aku suruh ngerjain skripsiku!” ancam Bang Raka yang apa-apa selalu dihubungkan dengan skripsinya. Mulai lelah dia.
“Siap, Bang Raka, Siap!” Cesa menekan.
Tak ada lagi kalimat yang mereka ucapkan selain salam. Beberapa detik kemudian sepeda motor Cesa melaju kencang, mnyusuri jalanan Karanganyar. Kanya tidak tahu pantai mana yang akan mereka kunjungi. Dari arah jalan yang mereka lalui, ini jalanan menuju Pacitan.
Perjalanan kali ini akan memakan waktu yang cukup panjang. Mungkin sekitar 3 jam atau lebih. Dibandingkan dengan Gunung Kidul, Pacitan lebih jauh beberapa kilometer. Tetapi, pantai-pantai di Pacitan sangat indah. Sejujurnya Kanya, memang lebih suka pantai-pantai yang ada di Pacitan. Ah, tapi apapun itu pantai tetap indah.
Kendaraan yang membawa mereka menuju surga dunia melaju kencang. Berkisar antara 80 Km/jam sampai 100 Km/jam. Berasa dibonceng sama Rossi. Ingat, beberapa minggu yang lalu Cesa teriak-teriak di jok belakang, sekarang dia yang kesetanan.
“Kalau takut bilang ya, Kan?” teriak Cesa dari depan. Suaranya kalah dengan angin-angin yang menerpa. Memang sedang melewati area persawahan, angin yang berhembus lebih kencang dari tempat yang lainnya.
“Aku enggak takut kok, tidak seperti kamu. Tak masalah asal jangan diajak nyium aspal,” teriak Kanya balik.
Cesa tak menjawab, dia tersenyum di balik maskernya. “Pegangan!” titahnya menarik gas lebih kencang. Kanya menuruti apa yang dia perintahkan, sayangnya bukan pinggang yang menjadi pegangan Kanya, melainkan tas ransel di balik punggung Cesa. Benda yang menjadi alternatif terbaik untuk berpegangan.
Tak terasa, perjalanan panjang telah membawa mereka memasuki area Wonogiri, selanjutnya tinggal menempuh jarak panjang untuk masuk ke Pacitan. Itupun belum sampai di tempat tujuan. Jauh, bukan? Tetapi sebanding dengan pemandangan yang disuguhkan. Pantai, bagi Kanya adalah surga dunia yang bisa membuat siapapun lupa dengan banyak masalah atau beban hidup.
“Agak santai ya, Kan? Aku capek,” kata Cesa. Sepeda motor kami melaju pelan, hanya 40 Km/jam.
“Gantian aja gimana, Cesa?” tawar Kanya. Jika hanya Wonogiri Pacitan itu tidak terlalu sulit baginya. “Kita minggir aja dulu.”
“Aku enggak mau kamu capek. Biarkan laki-laki yang susah.” Tangan kiri Cesa meraih tangan Kanya yang masih setia memegangi tas di punggungnya. “Kita nanti bakalan sulit bersama seperti ini, Kanya,” nadanya berubah lesu.
Kanya diam, tidak bisa mengatakan apapun.
“Jangan ke pantai sama cowok lain ya, Kan?”
Dahi Kanya terlipat. “Kenapa memangnya?”
“Emmm...” Cesa sedikit panik. “Ya, nanti aku bisa iri sama kamu, Kanya. Kamu bisa ke pantai sama cowok lain sementara aku tidak bisa mengajak cewek yang aku cintai ke pantai,” jelasnya, menusuk hati.
“Oh.”
Cesa memberi Kanya sentuhan lembut di punggung telapak tangan. Cukup lama tanpa mengatakan apapun. Ini terlalu bahaya karena jalanan Wonogiri cukup padat.
“Fokuslah pada jalanan, Cesa,” ujar Kanya menarik tangan. Sayang, Cesa tidak melepaskan tangannya, justru menggenggamnya semakin kuat. Percuma juga melawan hanya akan membuat banyak gerakan dan itu sama berbahayanya.
“Biarkan seperti ini lebih lama,” pintanya, tetap melaju di angka 40 Km/jam.
Jantung Kanya berpacu kencang, ritmenya benar-benar menyalahi aturan, serasa ingin lepas dari tempatnya, berlari dan berhenti beroperasi. Kondisi di mana Kanya melayang karena cinta tetapi juga tersiksa karena cinta. Cinta memang selalu membahagiakan dan menyakitkan.
Truk yang sangat besar melewati mereka, suaranya mengganggu sekali, terlebih angin yang berhembus saat truk itu terlewat seperti membuat mereka hampir terbang.
“...Kanya”
“Apa, Cesa?” tanyanya, Kanya mendengar Cesa mengatakan sesuatu, sayang, yang dia dengar hanya namanya saja, kalimat sebelumnya terganggu oleh suara truk pembawa hasil pertanian yang melewati mereka.
“Ah!” Cesa seperti terbangun. “Tidak apa-apa,” jawabnya, dia menyembunyikan sesuatu.
Kanya tidak menanggapi lagi. Rasa penasara memang mendorongnya untuk bertanya, tapi terlalu kepo itu tidak baik juga.
Perjalanan berlanjut, tepat saat memasuki kota Pacitan, Cesa melepaskan tangan Kanya. Kembali menarik gas dengan kecepatan penuh. Pantai semakin dekat, meski tidak sedekat jarak Kanya dengan Cesa saat ini.
“Kita mau ke pantai mana, Cesa? Yang belum pernah aku kunjungi kan?”
“Ke Pantai Srau, Kan. Mau pindah pantai? Mumpung belum terlalu jauh,” jawabnya sekaligus memberi pilihan.
“Ah, iya Srau itu saja tidak apa-apa, Cesa” sahut Kanya.
“Iya deh, kalau aku asal sama kamu, ke pantai manapun tetap indah,” balas Cesa.
Kanya benar-benar dibuat melambung sekarang. Hampir-hampir kehilangan nyawa karena ucapan Cesa yang mematikan. Gombalan macam apa di perjalanan panjang seperti ini, bahkan di saat hatinya sudah terpaut oleh satu wanita.
Perjalanan terus berlanjut, berlanjut dan berlanjut. Jauh nian jarak yang mereka tempuh, dari Karanganyar, Jawa Tengah hingga Pacitan, Jawa Timur. Sudah lintas provinsi yang mereka lalui, jalanan rata hingga jalanan bergelombang, lurus hingga berkelok, jalanan ramai hingga sepi dan sekarang jalanan kecil yang hanya muat satu mobil. Jika berpapasan dengan mobil di lain arah harus ada yang mengalah dan butuh waktu yang lama.
Pantai yang mereka tuju merupakan pantai baru, belum seterkenal Teleng Ria, Pacitan atau pantai Indrayanti, Gunung Kidul. Akses menuju Pantai Srau sudah lebih baik, bukan jalan setapak tetapi tak bisa dilalui bus besar. Jadi, jika ingin pergi ke pantai ini harus menggunakan mobil kecil atau sepeda motor.
Lebih dari tiga jam mereka lalui perjalanan panjang, itu juga karena sering berjalan lambat ketika mereka membicarakan beberapa hal. Termasuk rencana pendidikan Bintara yang akan segera Cesa jalani. Kurang lebih 7 bulan mereka tidak akan bisa bertemu, berkomunikasi sekadar say hello atau how are you.
Tiba di tempat tujuan. Cukup sepi, hanya ada beberapa kendaraan, satu dua warung kecil yang buka, mushola dan beberapa kamar mandi yang sepi. Benar-benar seperti pantai yang baru saja di buka. “Indah kan?” tanya Cesa tepat saat Kanya melonjak turun dari motor setelah Cesa menghentikan laju kendaraannya.
Kanya mengangguk. Tak peduli Cesa masih sibuk memarkirkan sepeda motornya. Langkah kaki sudah tidak sanggup ditahan lagi, sudah waktunya melangkah, menyentuh pasir putih yang terhampar di sepanjang bibir pantai.
Begitu mata memandang sekeliling pantai, semua beban dalam pikiran dan hati enyah. Menghilang bak hanyut bersama ombak-ombak yang datang. Bibir Kanya sudah tersenyum sejak turun dari motor. Dia tidak tahu kenapa dia begitu menyukai pantai, debur ombaknya, karang di tepian pantainya, pasir putihnya, anginnya yang bertiup, dia menyukai itu. Terlebih, menyukai pantai tidak sebahaya menyukai hujan. Jika hujan dapat menumbangkan, pantai seolah membuatnya bangkit.
Perlahan, kaki telanjangnya menyentuh pasir putih. Menyalurkan energi positif yang begitu membahagiakan. Tebing karang di samping pantai menambah sumringah senyum di bibir. Dua orang lain juga terlihat sedang menikmati ombak yang mencoba menyapu tubuh mereka. Benar-benar indah surga dunia yang Tuhan telah ciptakan.
Mendekat lebih mendekat. Telapak kaki mulai tersapu ombak ringan. Hanya begitu saja sudah membuat Kanya lupa dengan daratan. Entahlah, tidak bisa dijelaskan sepertinya seberapa dia menyukai pantai, sama seperti seorang pendaki yang tidak bisa dengan mudah menjelaskan kenapa dia menyukai gunung.
“Aku sudah seperti calon suami idaman ya, Kan?” Cesa memecah kebahagiaan. Datang dari belakangk membawa tas dan flatshoes yang sudah Kanya tinggalkan tadi. “Kamu suka gini kalau sudah ketemu pantai, lupa sama barang-barangnya,” keluhnya meletakkan tas dan flatshoes di pinggir pantai.
Hanya tertawa kecil.
“Asal jangan sampai lupa aja sama aku, Kan.” Cesa mendekati sahabatnya, berdiri di sampingnya. Menikmati angin yang berhembus dan pemandangan luas penuh warna biru. Bahkan matanya terpejam untuk sesaat. “Mau basah-basahan apa menikmatinya saja?” tanya Cesa. Dia selalu menanyakan itu ketika mereka pergi ke pantai. Biasanya bersama Anna, tapi kali ini hanya mereka berdua.
“Nanti saja main airnya, mau menikmati angin,” jawabnya duduk di tepian pantai.
“Tujuh bulan enggak bakal ketemu sama kamu, aku tidak tahu nanti bakalan sekangen apa sama kamu, Kan. Kangen cerewetmu, kangen senyummu, kangen debat sama kamu,” ujarnya setelah mereka sama-sama diam lebih dari 3 menit.
“Simpan rindumu untuk perempuan yang kamu cintai, Cesa,” balas Kanya tersenyum getir. Dia tidak mau lagi setiap kata manis yang Cesa lontarkan membuatnya terus berharap. Dia mungkin memilih mendekap perih, sayangnya dia tidak mau selalu dilambungkan padahal tahu kenyataannya akan dijatuhkan, tinggal menunggu waktu.
Sahabat terbaiknya itu tersenyum. “Kamu tahu kenapa aku yakin memilih dia sebagai pendampingku, Kanya? Bahkan di saat aku belum menjadi apa-apa.” Memandang jauh ke pantai lepas.
Kanya diam. Sejujurnya dia tidak mau memperpanjang percakapan tentang perempuan yang Cesa cintai, tapi dia juga tidak bisa menghentikan Cesa semudah itu. Kanya takut Cesa curiga jika dia menghentikan paksa topik yang dia bahas, seolah cemburu. Padahal kenyataannya memang cemburu.
“Aku butuh perempuan kuat yang mau menemaniku mengabdi pada negeri ini, Kanya.” Cesa melanjutkan bicaranya.
Kanya tetap tidak ingin menanggapi satu kalimat pun. Bahkan jika daun telinga ini bisa menutup secara otomatis, sudah diperintahkan untuk menutup sejak tadi. Agar tidak mendengar apapun.
“Dia sangat mencintai negeri ini, meski militer juga bukan bidangnya, tapi dia jauh lebih perhatian pada negeri ini dibandingkan dengan orang lain. Aku tahu itu, aku paham sekali dengannya. Dia pasti bisa mendampingiku mengabdi, itu yang membuatku semakin yakin, Kanya.” Terhenti sejenak. Menoleh pada sahabatnya, menatap dalam. “Yang pasti aku mencintainya.” Lembut sekali di telinga akan tetapi begitu menusuk.
Hatinya bergetar, andaikata kalimat itu untuk Kanya. Entah apa yang harus dia perbuat selanjutnya.
“Ah!” Cesa megalihkan pandangannya. “Jaga dirimu baik-baik selama aku tidak ada di dekatmu, Kanya. Jangan buat aku mati berdiri karena mendengar kabar tidak menyenangkan dari kamu,” pesannya kembali memandangi ombak yang tergulung.
“Tenang saja, yang penting selesaikan pendidikanmu dulu. Pastikan pangkat centang itu ada di lenganmu tujuh bulan dari sekarang.” Akhirnya Kanya mau menanggapi kalimat Cesa.
Cesa tersenyum segaris, kemudian berubah murung. “Siapa laki-laki yang kamu cintai, Kanya? Apa orang baru?”
Senyum pahit mengembang tipis. “Memangnya ada orang lama?” Bertambah pahit. “Dari dulu aku mencintai orang yang sama, orang yang tidak pernah mencintaiku. Dan itu tidak penting.”
Dulu, di saat Kanya belum sadar telah jatuh cinta pada Cesa. Waktu yang mereka jalani sangatlah menyenangkan, soal urusan politik, pelajaran, sepak bola, bulu tangkis dan hal-hal seru lainnya. Sekarang? Urusan cinta sangat rumit untuk di bahas, lebih rumit dari jalan pikiran seorang politisi.
“Kamu membuatku goyah.” Itu kalimat Cesa yang bisa Kanya dengar, tetapi tidak mengerti maksudnya.
“Apa?”
“Tidak apa-apa,” jawabnya singkat. Bangkit, mendekati ombak yang tak pernah berhenti datang. “Ayo main air,” ajaknya sudah menyentuh air pantai.
“Aku mau foto-foto dulu,” balas Kanya mengambil beberapa objek untuk foto-foto. Sebuah benda mirip dengan kelapa namun lancip di ujungnya menjadi objek foto yang paling Kanya sukai. Hasilnya juga tidak terlalu buruk untuk dilihat. Tak hanya itu, beberapa bongkahan terumbu karang di tepian pantai turut menjadi objek fotonya. Sekadar untuk mengabadikan.
Setelah puas, Kanya ikut bermain air dengan Cesa. Beralarian, melempar pasir, mendorong, bahkan Cesa menggenggam tangannya saat dia hendak terjatuh akibat dorongan Cesa. Jantungnya semakin sulit dikondisikan.
Banyak warga sekitar melihat adegan FTV yang mereka buat seolah mereka sangat dekat. Memang sangat dekat tapi ada jarak yang amat sangat jauh yang mereka ciptakan tanpa disengaja. Realita persahabatan terlalu mengikat dan menciptakan jarak semu di antara mereka, jarak yang tak kasat mata.
“Terima kasih untuk wakrunya, Kanya. Tunggu sampai aku pulang," bisiknya di balik telinga Kanya. "Aku akan selalu merindukanmu."
Kanyatak menjawab apapun, cukup menikmati hari ini.