Sore ini rumah sepi, hanya ada Kanya dan Hatu Caraka Bhuana—kakak kandungnya, biasa dipanggil dengan Bang Raka. Mungkin berdua itu termasuknya lebih baik, tetapi berdua dengan Bang Raka itu sama saja dengan sendiri. Dia terlalu sibuk dengan urusan kuliahnya, urusan skripsi. Mahasiswa semester tujuh yang sudah memulai perang nyatanya.
“Huahh! Tahu kaya gini mending berhenti kuliah, nikah aja, Ma!” teriak Bang Raka dari kamar sebelah.
Kanya tidak begitu peduli. Sudah teralu sering dia mendengar teriakan, keluhan, bahkan sumpah serapah kakanya untuk beberapa dosen yang tidak Kanya kenal. Bang Raka itu memang macam perempuan berisiknya, terlebih sejak berurusan dengan skripsi. Seringkali berteriak frustasi dari kamarnya. Kantung matanya juga menghitam, dia sama saja dengan Kanya dalam urusan manusia nokturnal.
Brakkk! Suara pintu dibanting dengan kasarnya.
“Ngapain sih, Bang? Ganggu orang tidur saja!” protesnya setengah sadar.
Bang Raka tak segera menjawab, justru menjatuhkan tubuh di samping Kanya. Kasar sekali, macam tak pernah menyayangi tubuhnya sendiri.
“Dik.” Wajahnya memelas, kantung matanya semakin parah. Kanya tahu semalam dia tidak tidur lagi. Katanya percuma juga tidur kalau yang dimimpikan tetap skripsi dan dosen pembimbing.
Kanya diam saja, menatap kasian Bang Raka. Dia benar-benar frustasi tingkat tinggi.
“Bantuin Abang kek, Dik! Tidur mulu dah!” Menggoyang-goyangkan tubuh adik perempuannya.
“Bang, Kanya enggak paham soal perbankan. Pelajaran ekonomi aja enggak suka,” sahutnya. “Lagian Abang juga, kenapa harus ambil skripsi tentang Perbankan Syariah? Abang kan konvensional. Sukanya ngerepotin diri sendiri!” Mata Kanya setengah terpejam.
“Dik.” Membuka paksa kelopak mata Kanya. “Sekarang tuh ekonomi islam sedang digadang-gadang sebagai solusi terbaik mengatasi masalah ekonomi di Indonesia. Salah satunya melalui sektor Perbankan Syariah. Tapi kepercayaan masyarakat kepada Perbankan Syariah itu kurang. Jadi, ini tuh ide cemerlang. Langsung di acc juga kan judulku kemarin, Seminar Proposal juga lancar”
Kanya membuka mata lebar-lebar. “Abang ngomong apa kumur-kumur sih?!”
“Abang tuh seriusan tahu, Dik.”
“Kanya juga serius, Bang,” sahut Kanya cepat. “Lagian gini loh, Bang. Kan sudah ada bagiannya masing-masing tuh. Ya, konvensional ngurus konvensional aja sih. Enggak usah ngurus yang syariah. Karena pada kenyataannya ilmu konvensional dan syariah itu murni berbeda. Sekarang mungkin yang bikin banyak orang enggak percaya karena judulnya Perbankan Syariah tapi isinya konvensional. SDM juga dari konvensional, sementara SDM yang murni dari Syariah justru jarang diberi kesempatan,” nyerocos saja.
“Ya.” Mengangkat sebelah tangannya. “SDM yang murni Perbankan Syariah enggak banyak, program studi Perbankan Syariah juga enggak banyak, lulusannya juga belum menyakinkan, sementara Bank Syariah yang ada semakin banyak. Enggak sebanding lah!”
“Aku juga tahu soal itu, Bang. Sekarang coba dipikirkan, kalau memang ekonomi islam itu bisa memperbaiki ekonomi yang ada di Indonesia. Kenapa pemerintah tidak ikut campur tangan dalam perkembangannya? Toh, pemerintah juga kan yang berwenang atas kebijakan fiskal. Setidaknya bisalah pemerintah ikut andil dalam meperbanyak SDM-SDM Perbankan Syariah yang benar-benar paham akan ilmu syariah, sesuai dengan agama islam. Memperbanyak program studi Perbankan Syariah kek, mengerahkan guru-guru besar untuk membahas ekonomi islam kek. Ya, apa kek gitu!” Ikut frustasi jadinya.
“Kamu pinter, Dik.” Mengusap-usap rambut adiknya. “Enggak suka ekonomi tapi ngerti juga soal kebijakan fiskal di tangan pemerintah. Kamu ngasih ide cemerlang, walaupun teorimu kurang tepat.” Mengacungkan kedua jempolnya kemudian berlalu pergi.
Huft! menghembuskan napas.
Kembali berbaring di atas tempat tidur kesayangan. "Padahal tahu juga karena seringnya lihat perdebatan di televisi," batinya sedikit kesal karena waktuku bermalas-malasan terganggu.
Lambat laun matanya mulai terpejam. Tidak ada pekerjaan membuatnya tertidur sepanjang hari, sayang, nanti malam pasti dia tidak tidur lagi. Susah memang, sudah terbiasa menjadi manusia nokturnal.
“Adiiik!” teriak Bang Raka lagi dari kamarnya. Berulangkali Kanya sudah merengek-rengek pada Papa untuk memindahkan kamarnya tetapi tidak pernah beliau setujui. Dia ingin sedikit lebih jauh dari Bang Raka. Ya, sejak kakaknya memulai skripsi, Kanya tidak betah berada di samping kamar Bang Raka.
Kanya duduk di tepian tempat tidur dengan wajah kesal. Setiap kali matanya hampir terlelap sempurna pasti ada saja gangguan yang datang. Bukan dari banyak sumber, sumbernya hanya satu, Bang Raka.
“Kenapa lagi?” tanya Kanya benar-benar benci dengan Bang Raka.
“Cesa sudah punya pacar kah?” tanyanya menggenggam ponsel hitam besar di tangan kanannya.
Mata Kanya membelalak sempurna untuk beberapa detik. Kemudian teringat. “Bukan pacar tapi calon istri. Kenapa memangnya?”
“What the...” Tertahan, Kanya tahu Bang Raka pasti akan mengeluarkan u*****n buruknya. “Baru lulus sudah punya calon istri? Yang kuliah berabad-abad aja belum dapet. Kerja cepat dia, ya?”
“Ya, enggak sekarang dinikahin juga sih, Bang. Dia cuma enggak mau pacaran aja, maunya langsung lamar terus nikah,” jelasnya.
“I know, Dik. Abang enggak sebodoh itu.” Mengerlingkan matanya. “Tapi keren juga dia, ya? Tahu mana yang benar-benar kepastian dan mana yang hanya janji manis palsu,” lanjutnya.
“Jadi Abang setuju sama Cesa?”
“Iyalah.” Sigap menjawab.
“Oh.”
“Memangnya perempuan mana, Dik? Kalau kamu yang dilamar nih, Abang adalah orang pertama yang merestuimu. Cesa baru perjalanan dari rumahnya saja sudah Abang restuin,” seloroh Bang Raka.
Kanya tertawa getir. “Sayangnya bukan Kanya perempuan itu, Bang. Dan Kanya enggak tahu siapa perempuannya. Lagian atas dasar apa Abang tiba-tiba tanya soal pacar Cesa?”
Bang Raka tak menjawab apapun, hanya mengajukan ponsel pintarnya ke arah adiknya. Dalam layar yang baru saja dihidupkan, terpampang jelas foto Cesa lima belas menit yang lalu, memegang sebuah kertas bertuliskan, "Calon Ibu Persitku, tunggu aku sampai mejadi Sertu," tersenyum manis seperti biasanya.
“Nih!” Memberikan ponsel Bang Raka kembali ke pemiliknya.
“Lesu gitu.” Tepat saat ponsel berpindah tangan. “Cemburu, ya?” tebak Bang Raka.
“Enggak lah!” jawab Kanya cepat. “Enggak ada cemburu-cemburu."
“Orang tuh kalau menjawab diulang dua kali berarti dia berbohong. Kalau kerlingan matanya panik itu berarti dia bohong,” sanggah Bang Raka.
“Terserah!”
“Jangan-jangan kamu terjebak friendzone, Dik. Hahaha,” ejeknya dengan tawa keras yang menggema di seluruh sisi kamar.
“Pergi sana!” Melempar guling ke arah Bang Raka. Dia mengelak, tidak tepat sasaran lemparanku.
“Bentarlah, Abang belum selesai.” Justru duduk di samping Kanya. “Kalau Ibu Persit, itu artinya...”
“Cesa jadi tentara,” potong Kanya. “Aaa... Alhamdulillah. Akhirnya apa yang dia impikan tercapai. Tapi kok dia enggak ngabarin Kanya ya, Bang?”
“Kamu siapanya? Ingat, friendzone, Dik,” ejek Bang Raka menjulurkan lidahnya. Ya, Friendzone memang menyakitkan.
“Ihh!” Memukul wajah Bang Raka dengan boneka Cony kesayangannya. “Niatnya ngerjain skripsi apa i********:-an sih, Bang?!”
“Ya, i********: kan hiburan, Dik,” elaknya.
“Bilangin Mama nih, Abang enggak serius ngerjain skripsi-nya!” ancam Kanya mengcungkan telunjuk, menyipitkan mata.
“Jangan gitulah, Mama sudah minta menantu malah ditambahin kaya gitu. Padahal Abang masih pengen S2, masih pengen jadi manager Bank, masih pengen main, masih pengen... ngejekin kamu yang lagi terjebak friendzone.” Menjulurkan lidahnya kemudian berlari cepat meninggalkan kamar Kanya. Tawanya menggelegar di samping dinding.
Kakak yang satu itu memang usil dan jahil, suka tertawa di atas penderiataan adiknya. Dia juga dekat dengan Cesa, karena Cesa sering datang ke rumah sebelumnya. Sekadar main PES atau berbincang soal sepak bola dengan Bang Raka.
“Friendzone, friendzone, friendzone!” Bang Raka seperti tak puas hanya dengan melihat adiknya diam tidak berdaya macam ini. Lagipula, apa yang bisa Kanya perbuat dalam hal ini? Tak ada.
Kanya tidak mau memperdulikan Bang Raka lagi. Sudah terlalu sakit menerima kenyataan friendzone, masih juga dipanas-panasin begitu. Coba kakak mana yang tega sekali membuat adiknya semakin tersiksa? Ya, hanya Bang Raka. Tak berperikemanusiaan.
Lebih baik jika mata Kanya terpejam meski hatinya tidak mau, setidaknya mata tidak terlalu sakit melihat kenyataan. Telinga juga lebih baik jika tersumpal, apapun itu, agar tidak mendengar suara kenyataan. Ah, friendzone itu menyakitkan.
Meratapi nasib pun tidak merubah segalanya. Hanya akan membuatnya jatuh semakin dalam, hanya akan menggores luka semakin tajam. Soal cinta, Kanya memang tak pernah beruntung. Diduakan? Pernah, ditinggalkan begitu saja? Pernah. Sekarang? Bertepuk sebelah tangan.
Ada kutipan dari orang Jawa, "Kuat dilakoni, ora kuat ditinggal ngopi." Artinya—kuat dijalani, tidak kuat ditinggal ngopi. Kalau Kanya? Kuat dijalani, tidak kuat tinggal tidur. Masa bodoh hati tersayat.
“Dik." Tubuh Kanya digoncang-goncang. Macam sedang ada gempa berkekuatan rendah. “Dik, bangun woy!” teriaknya diiringi dengan guncangannya yang semakin kuat.
Kanya bangkit dengan frustasi. Hari bermalas-malasannya diganggu oleh Bang Raka.
“Dicari tuh!” Menunjuk seseorang yang sudah berdiri di depan pintu kamar.
“Bangun, Kan.” Yang di depan pintu bersuara. “Anak gadis jam segini tidur!” lanjutnya menggeleng-geleng pelan. “Gimana mau dilamar cowok kalau kaya gini kelakuannya?”
“Senja Bhuana Wicesa,” mengucap setiap katanya—geram. “Gimana ceweknya mau menerima lamaran, kalau kelakuan cowoknya kaya kamu! Anak laki-laki berdiri di depan pintu kamar teman ceweknya. Pergi sana lah!” usir Kanya, setelah berusaha kuat membuka mata dan mengedipkannya berulang-ulang. Serasa tak percaya jika yang berdiri di depan pintu adalah Cesa. Namun, nyatanya memang Cesa.
“Ah, oke.” Cesa langsung menyadari kesalahannya. Enyah dari depan pintu kamar Kanya.
“Lagian kenapa coba? Di depan pintu ini sih.” Bang Raka tepat setelah Cesa melangkah pergi. “Bilang aja malu, orang yang kamu cintai melihat wajah polosmu setelah bangun tidur,” ejek Bang Raka, diimbuhi dengan tawa. “Makin enggak suka deh dia.” Langsung berlari pergi.
Kanya berjalan gontai keluar kamar setelahnya. Tidak peduli dengan muka bantalnya. Cesa sering melihatnya seperti ini ketika sedang ada acara kemah atau bermalam di sekolah dulu. Bukan hanya Cesa, yang lain juga sering melihat muka buruk Kanya ketika baru saja bangun tidur.
“Cuci muka dulu kek, Dik!” tegur Bang Raka yang sudah duduk lesehan di depan televisi bersama dengan Cesa. Tempat favorit mereka ketika bersama, di depan sebuah kotak ajaib berwarna hitam dengan layar datar.
“Biasanya juga gini,” balasku, acuh.
“Ya, bener kalau cowok yang kamu cintai enggak jatuh cinta balik sama kamu, Dik. Kelakuanmu itu bikin dia ilang feeling,” sambil melirik-lirik Cesa.
Cesa menatap Kanya penuh tanya. Sementara Kanya memelototi Bang Raka yang tersenyum tanpa dosa. Sepertinya skripsi membuat Bang Raka menjadi terlalu banyak bicara, kurang hiburan, kurang perhatian, dan otaknya memiliki tingkat keenceran yang berlebihan.
“Kanya suka sama cowok, Bang?” Cesa bertanya kepada Bang Raka.
“Ha?” Bang Raka tak siap dengan pertanyaan Cesa. Sedetik kemudian melirik adik perempuannya. “Kamu tidak tahu?” Beralih pada Cesa lagi.
Cesa menggeleng.
“Kamu tidak perlu tahu, Cesa. Tidak penting juga,” potong Kanya, dingin.
Raut wajah tampan itu berubah kecewa. Mungkin karena rasa penasaran yang tidak mendapatkan jawaban pasti. Tidak akan pernah terjawab pula pertanyaan itu.
“Bang, aku boleh ajak Kanya keluar enggak? Sebentar kok.” Seperti biasanya jika hendak mengajak Kanya keluar, Cesa memang bukan laki-laki yang mengajak keluar perempuan hanya dengan chat w******p atau sekadar telepon.
Bang Raka melirik adiknya, sementara Kanya tidak tahu apa rencana Cesa dengan mengajaknya keluar. Mereka semua terdiam, yang seharusnya menjawab juga terdiam. Tak biasanya seperti ini, kenyataan cinta memang merubah segalanya.
“Boleh nggak, Bang?” Cesa tak bisa menunggu lebih lama.
Bang Raka terus melirik Kanya.
“Boleh.” Kanya yang menyahut karena Bang Raka terlalu lama.
“Ah, iya, silakan. Bawa balik sebelum Magrib, ya?” Akhirnya Bang Raka bersuara.
Cesa tersenyum lebar. “Siap, Bang!” Memberikan hormat.
“Mentang-mentang calon Serda,” celoteh Bang Raka.
Yang menerima celotehan hanya tertawa ringan.
Dari sekian tempat nongkrong yang ada di Karanganyar, hanya hik tepi jalan yang Kanya dan Cesa suka. Terlebih di sore hari begini. Hik atau warung tenda tepi jalan itu baru saja buka. Makanan masih hangat-hangatnya dan pembeli juga belum ramai. Sekadar duduk ngopi sembari menikmati lalu lalang orang pulang kerja.
Sejak perjalanan dari rumah hingga 6 Km dari rumah, tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Baik dari mulut Kanya maupun dari mulut Cesa. Sekarang, sudah duduk lima menit di atas tikar ala kadarnya pun tidak ada kata yang terucap. Kata saja tidak, apalagi kalimat.
“Emmm...” Cesa menyiapkan kata. “Sepertinya kamu dan Bang Raka sudah tahu tujuanku datang lagi ke Karanganyar untuk apa.”
Kanya mengangguk.
“Ya, aku lulus. Aku calon Serda sekarang. Tinggal bagaimana aku menjalani pendidikan nantinya. Aku bahagia sekali akhirnya bisa mengabdi pada negeri ini, Kanya. Seperti apa yang selalu kita bicarakan, mengabdi. Tapi rasanya kamu tidak ikut berbahagia denganku.” Berbinar di awalnya, kecewa di akhirnya.
Diamnya Kanya menyimpan sejuta makna. Dia tidak tahu apa yang seharusnya dia ekspresikan. Mungkinkah kebahagiaan atau mungkin kesedihannya. Semua perasaan itu datang berkat foto Cesa yang Bang Raka tunjukkan padanya tadi. Kanya bahagia karena Cesa berhasil menjadi tentara, meski belum bisa dikatakan secara resmi. Selain itu, dia juga bahagia karena Cesa yang tiba-tiba datang. Benar, yang namanya kerinduan itu setiap detiknya meningkat. Sementara sedihnya karena kenyataan yang ada, friendzone. Terlebih seorang tentara selalu menciptakan jarak yang panjang, waktu yang jarang sekali luang. Sekadar mengatakan hal sederhana yang membuatku sedih saja masih berat.
“Kanya,” panggil Cesa pelan.
Ratapan Kanya memang semakin dalam. Soal cinta yang hanya dianggap teman, soal jarak yang akan tercipta, dan perihal waktu yang seringkali menyiksa nantinya. Otaknya terganggu sekali oleh ratapan hati.
Tersenyum tipis, tak sesempurna bulan sabit. Segaris tak manis.
“Aku bahagia atas diterimanya kamu sebagai prajurit Angkatan Darat, Cesa,” ucapnya. “Semoga lancar selama pendidikan dan pengabdian,” lanjutnya tetap mempertahankan senyum segaris, tepatnya berusaha tersenyum bahagia.
Cesa tersenyum tipis, tetapi manisnya tak pernah habis. “Aku bahagia karena akhirnya bisa memulai pengabdian yang nyata, Kan. Tapi berat rasanya jika harus jauh darimu." Menatap sahabatnya sangat dalam. Sedalam palung di lautan lepas, sedalam sumur lubang buaya yang menyimpan nestapa.
Menghela napas panjang. “Seorang prajurit akan berjanji untuk hidup mati membela NKRI, rela meninggalkan sanak family, senantiasa mematuhi pimpinan, siap ditugaskan dimana saja dia dibutuhkan. Aku tidak bisa terus berada didekatmu dalam waktu yang lama. Berat sekali.” Semakin dalam tatapan yang tajam.
Iya, itu juga termasuk apa yang membuat Kanya sedih di saat seharusnya bahagia. Dekat saja tidak membuat Cesa jatuh cinta, apalagi jauh. Mungkin dia akan melupakan Kanya suatu saat nanti, karena tak ada waktu untuk saling mengingat lagi.
“Kanya, kamu jangan ke mana-mana selama aku tidak di sampingmu. Tetaplah di Karanganyar dan aku akan datang kembali. Semarang memang kota kelahiranku, tetapi sejarahku terukir di Karanganyar, kamu juga di Karanganyar. Tunggu aku karena Karanganyar adalah tempatku pulang nantinya.”
Cesa tak main-main dengan permainan katanya.
“Aku tidak akan kemana-mana, Cesa. Cukup berjalanlah dengan tenang, negara membutuhkan pengabdianmu, maka jangan pernah mengkhawatirkan hal lain. Jika sahabatmu ini pergi dari Karanganyar, Tuhan pasti mempertemukan kita jika memang sudah takdirnya,” ujarnya menahan sesak. “Lagi pula, yang terpenting adalah bagaimana perempuan yang kamu cintai mampu bertahan untukmu.”
Laki-laki di hadapan Kanya hanya tersenyum. “Dia sudah mengatakannya, dia akan bertahan dan menetap, Kanya. Jangan kahwatirkan soal itu. Masih ada waktu singkat yang bisa kita nikmati, sebelum aku memulai pendidikan. Jadi, ayo nikmati waktu yang ada hanya berdua. Mau ke pantai?”
Kanya tersenyum. “Jemput aku jam enam pagi. Mama dan Papa kemungkinan ada di rumah, pastikan mendapat izin dari mereka,” titah Kanya.
“Siap, calon Ibu...” Terhenti. “Calon Ibu, iya, calon Ibu.” Seperti menyembunyikan sesautu. Pandangan matanya juga tak beraturan, sedetikpun tidak berani memandang Kanya.
“Aku bingung, Cesa. Harus bahagia atau tidak untuk kamu. Kamu adalah sahabat terbaikku, sudah memasuki gerbang impian yang kamu cita-citakan. Aku bahagia untuk itu. Tapi Cesa, gerbang itulah yang akhirnya menjauhkan,” jelasnya. Tertegun sendiri karena dia mampu mengucapkan apa yang ada di dalam batinya selama ini. Tinggal bagaimana cinta menyeruak keluar dan mengatakan semuanya. Sekarang, cinta masih tertahan.
“Itulah yang aku takutkan, Kanya. Jarak dan waktu akhirnya menjauhkan. Tapi percayalah, dimanapun aku, di masa apapun aku.” Meraih jari-jemariku. “Aku tetap sahabatmu.” Menekan begitu dalam. Sayangnya tak membuat Kanya melambung atau merasa bahagia. Justru memukulnya keras. Ya, hanya seorang sahabat.
Cinta memang tak sekadar kata memiliki, tetapi cinta adalah soal seberapa bahagia kamu bersamanya dan seberapa bahagia dia bersamamu. Kanya sudah cukup bahagia bila memang hanya mampu sedekat ini—sebagai sahabat. Karena cinta juga soal mengikhlaskan untuk merasa bahagia.
Sekarang, fokus saja pada kata sahabat itu seperti satu tahun yang lalu. Lupakan perasaan cinta bila bersamanya saja sudah membahagiakan. Toh, definisi bahagia itu hanya sederhana. Duduk di dekat Cesa, melihat senyumnya, menyaksikan kesuksesan karir militernya. Selamanya akan seperti itu, bahkan sampai dia berhasil meminang perempuan yang dia cintai. Pikir Kanya semacam itu.
Nikmati matahari yang berjalan menyingsing, dengan makanan ala kadarnya, lalu lalang sepeda berbagai merk, mobil berbagai warna dan pedagang kaki lima yang mulai membuka lapaknya. Menjadi pemandangan indah nan sederhana di Indonesia, wajah asli Indonesia.
Bahagia atau tidak bahagia. Itu semua tergantung bagaimana kamu memeluk luka, mensyukuri luka, dan menghadapi luka. Maka, bahagia adalah dirimu sendiri bukan orang lain. Jangan mencari alibi bahwa, "bahagiaku karena kamu," itu salah besar. Karena bahagia adalah dirimu sendiri. Percuma punya cinta terbalas jika tidak mampu mensyukurinya. Percuma punya teman yang lucu tetapi tidak bisa mensyukurinya. Tetapi tak pernah percuma jika cinta tak terbalas tetapi mensyukuri perasaan itu.
Kanya sedang bertekad untuk itu. Meski tak terbalas tetapi dia harus mensyukuri kondisi ini, di mana Cesa adalah sahabat terbaik yang begitu peduli dengannya. Kanya yakin akan bahagia dengan itu. Meski tak seyakin seorang Raisa menerima pinangan Hamis Daud.