CHAPTER 11 "Saya terima nikahnya Wafa Saadan binti Muhammad Hakam Abrar dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" "Bagaimana saksi, sah?" "Sah!" "Al fatihah!" Fauzan menengadahkan tangannya begitupun Wafa dan para tamu lain. Mereka nampak serius dengan upacara sakral yang private tersebut. Setelah memanjatkan doa, Wafa bersalaman dengan Fauzan. "Kamu bisa gak, senyum sedikit gitu? Daritadi murung … mulu!" Ya, sepanjang kala Fauzan melamarnya hingga seminggu kemudian mereka naik ke jenjang pernikahan, Wafa lebih senang mengurung diri di kamar, keluar hanya untuk makan dengan selera rendah, wajahnya murung tak bersemangat bahkan terkesan pucat meski masih terlihat cantik de

