CHAPTER TIGA BELAS

1556 Words
“Kamu tahu kalau kotak itu dari Keenan? Kenapa kamu diam saja?” Joseph menanyakan sesuatu yang belum sempat ia tanyakan pada gadis itu kemarin. Laki-laki itu menatap Nadine yang tampak tak terganggu dan masih begitu fokusnya dengan buku biologi di atas mejanya. Lebih daripada itu, Joseph ingin tahu apa alasan Keenan memberikan kotak berisi cacing itu pada Nadine. Atau ia harus memastikan bahwa kotak itu tak salah sasaran. Tidak masuk di akalnya bagaimana mungkin Keenan memberikan kotak itu pada Nadine sedangkan semua orang tahu bagaimana perasaan laki-laki itu pada Nadine. Tapi saat mengingat pembicaraan kemarin di ruang makan sekolah, seharusnya itu memang tidak ada hubungan dengannya. Keenan secara jelas bilang bahwa memang kotak itu ditujukan untuk Nadine. Nadine menghela napas lalu menoleh dan menatap Joseph yang menatapnya dengan tatapan menuntut. Tatapan seakan-akan ia harus mendapatkan jawaban atas semua rasa penasarannya. “berapa kali ku bilang, jangan campuri urusanku.” kata gadis itu dengan nada dingin dan tenang. Ia sedang tidak ingin membicarakan apapun. Dan saat Joseph membuka pembicaraan mengenai Keenan, itu sungguh merusak moodnya. Nadine tahu bahwa ia harus mempersiapkan diri. Ia tahu bahwa kotak itu baru sebuah permulaan. Ke depannya, ia tahu bahwa Keenan akan membuat lebih banyak kejutan untuknya. Laki-laki itu tidak pernah setengah-setengah dan akan selalu melakukan banyak cara untuk bermain-main dengan orang-orang pilihannya. Nadine memastikan ia tidak akan pernah menyesal karena penolakan itu akhirnya berujung seperti ini. *** “Ruang makan penuh sekali.” Emma mengatakan itu saat Joseph menghampirinya yang baru saja menempati meja di kantin. Sebelah tangannya menaruh satu porsi sushi di atas meja yang baru saja ia beli. “Kamu seharusnya makan seperti ini setiap hari.” kata Joseph saat melihat porsi sushi itu berisi delapan potong yang sudah pasti akan mengenyangkan perut gadis itu daripada porsi biasanya. Ia tahu gadis itu pasti sangat tersiksa dengan porsi makannya. Namun gadis itu terlalu terpaku dengan penampilannya sehingga memiliki obsesi untuk tetap kurus dengan segala pengorbanannya. Joseph salut namun juga kasihan. Emma terkekeh “aku hanya akan makan dua.” Emma memberitahu dan membuat kedua mata Joseph membulat. Emma terkekeh kembali melihat ekspresi wajah laki-laki itu yang tampak lucu dalam pandangannya. “aku bisa berbagi denganmu.” Emma mendorong piring berisi sushinya ke tengah meja dan meminta Joseph membantunya menghabiskan isi piringnya. Emma mengambil sushi dengan sumpitnya saat Joseph beranjak untuk membeli minuman. Tak lama laki-laki itu kembali dengan dua buah cup berisi kopi dingin. “Aku tidak minum-minuman manis seperti ini.” Emma mengatakan itu saat Joseph mengulurkan satu cup ke arahnya. Namun Joseph memaksa dan bilang anggap saja mereka barter. Emma memberikan sushi miliknya dan ia membelikan minuman untuk gadis itu. Joseph bilang bahwa berat badan Emma tidak akan naik drastis jika hanya menghabiskan satu cup kopi itu. Sayangnya, Emma tahu bahwa Axel tak berpikiran sepertinya. Laki-laki itu sangat teliti. Laki-laki itu bahkan sering bilang bahwa ia menggendut padahal ia sama sekali tidak mengubah pola makannya. Saat Joseph baru saja memasukkan satu potong sushi ke dalam mulut dan mengunyahnya, Emma menatap cup kopi di depannya. Titik-titik air yang ada di dinding cup terasa menggodanya. Ia meneguk ludahnya sendiri, lalu menjilat bibir bawahnya saat membayangkan minuman manis nan dingin mengaliri tenggorokkannya. Emma lupa kapan terakhir kali minum-minuman manis seperti itu. Rasanya sudah lama sekali. Ia bahkan sudah lupa bagaimana rasanya. Ia selalu meminum air mineral dan menjauhi semua makanan dan minuman manis demi menjaga berat badannya. Joseph menyesap minumannya dan menatap Emma yang masih terdiam. Pandangan gadis itu terarah lurus-lurus pada cup yang ada di depannya. Ia tahu seingin apa gadis itu untuk mencobanya. Namun ia bingung kenapa gadis itu terlihat begitu ragu. Baginya naik satu atau dua kilo tidak lantas membuat gadis itu gendut. Ia tidak mengerti apa yang gadis itu khawatirkan. Emma sedang menimang. Ia pikir ia bisa mencicipi itu. Mereka ada pelajaran olahraga di jam terakhir. Ia bisa olahraga lebih dari biasanya agar masuknya gula ke dalam tubuhnya tidak berpengaruh. Joseph tersenyum saat sebelah tangan Emma mengambil cup kopi itu dan akhirnya menyesapnya pelan. Emma mengernyit karena rasanya terlalu manis di lidahnya. Mungkin karena ia sudah sangat membatasi gula dalam makanannya sehingga toleransi terhadap gula sangat rendah. Ia menyesap lagi. Rasa manis dan sedikit pahit mendominasi mulutnya. Ia menatap Joseph dan ikut tersenyum. Joseph memasukkan kembali potongan sushi ke mulutnya sedangkan Emma asik menyesap es kopinya. Gadis itu seperti anak kecil yang baru saja merasakan permen untuk pertama kalinya. “Kamu tahu kalau yang mengirim kotak pada Nadine kemarin adalah Keenan?” Joseph memulai kembali pembicaraan itu. Emma mengangguk, “aku ada di kelas saat Keenan masuk dan menaruh kotak itu di meja Nadine.” jelas Emma. “Kenapa dia melakukan itu?” Jika Joseph tak bisa mendapatkan jawaban dari Nadine, mungkin Emma bisa memberikan jawaban sesuai pemikirannya. “Tentu saja sakit hati. Apa lagi?” “Sakit hati?” Joseph mengulang jawaban gadis itu. Ia melihat Emma mengangguk sambil menyesap kembali es kopinya. “Keenan sudah mengejar-ngejar Nadine sejak tahun pertama sekolah. Dan sampai sekarang, Nadine tetap teguh pada pendiriannya. Keenan pasti sudah mulai lelah dan kini ingin membuat Nadine menyesal karena sudah menolaknya.” Dahi Joseph berkerut dalam. Sungguh, ia tidak pernah berpikir sampai ke sana. “Maksudmu, Keenan mungkin akan merisak Nadine? Kotak yang kemarin baru permulaan?” Joseph melihat Emma mengangguk lagi. Joseph terdiam. Ia berpikir, apakah Nadine benar-benar tahu bahwa ia akan berurusan lebih sering dengan Keenan. Jika tahu, bagaimana perasaan gadis itu saat tahu bahwa mungkin hari-hari berikutnya, ia akan menjadi bulan-bulanan laki-laki itu. Apa mungkin gadis itu kini sedang menyesali keputusannya. “Aku tahu kalau Keenan sanggup melakukan apapun pada Nadine meski dia menyukai gadis itu” kata Emma, ia sudah menandaskan setengah isi cupnya. “Ego laki-laki itu pasti terluka karena penolakan itu.” tambahnya. “Tapi, bagaimana mungkin ia melakukan itu pada orang yang ia sukai.” “Mungkin saja. Keenan sanggup melakukan itu.” jawab Emma. “kalau aku jadi Nadine, aku tidak akan menolak Keenan. Semua orang membencinya, menjadi orang paling dekat dengan Keenan akan membuat hidupnya di sekolah ini menjadi lebih mudah.” kata gadis itu lagi. *** “Aku bisa memberikanmu waktu lagi untuk berpikir.” Keenan mengatakan itu saat ia duduk di bangku yang ada di depan Nadine. Ia duduk menghadap Nadine yang tampak tak ingin menatapnya. Gadis itu sedang sibuk mengutak-atik ponselnya, atau mungkin berusaha terlihat sibuk agar tidak perlu meladeni laki-laki di depannya. Seharusnya laki-laki itu tidak mendatanginya dan membicarakan itu. Laki-laki itu seharusnya tahu bahwa ia tidak menyesal dengan keputusannya dan tidak akan mengubahnya karena alasan apapun. Ia tahu bahwa ia tidak ingin terlibat apapun dengan laki-laki itu. Ia yakin hidupnya akan semakin sulit jika ia menerima perasaan laki-laki itu. Keenan menghela napas saat melihat tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut gadis di depannya. Ia pikir hadiah yang ia kirimkan kemarin akan cukup untuk membuat gadis itu berpikir kembali mengenai tawarannya. Tidak ada orang sinting yang mau menjadi bulan-bulanannya sampai akhir sekolah. Namun melihat bagaimana sikap gadis itu saat ini, sepertinya gadis itu memang tidak ingin mempertimbangkan tawarannya. Gadis itu sepertinya memang sudah siap untuk menghadapinya. Sebelah tangan Keenan terulur dan merebut ponsel dari tangan Nadine dengan cepat. Gadis itu langsung menengadah dan mencoba mengambil kembali benda pipih miliknya namun gagal karena Keenan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Kembalikan.” Nadine mengatakan itu sambil berdiri. Ia menaruh kedua telapak tangannya di atas meja dan menatap Keenan dengan tatapan tajam. Ia sepertinya sudah harus memperingatkan laki-laki itu bahwa ia tidak takut dengannya. Keenan tersenyum sinis. Ia berdiri lalu duduk di meja, menjaga jarak dari Nadine. “Sejak kapan kamu suka barang murah seperti ini?” Keenan mengatakan itu sambil menatap ponsel milik Nadine dan membolak-balik benda pipih dalam tangannya. Laki-laki itu tersenyum mengejek. Benda murah seperti itu jelas tidak cocok dengan Nadine yang mencintai barang-barang mewah. Tapi itu dulu, sebelum gadis itu jatuh miskin karena ayahnya tertangkap karena korupsi dan semua asetnya ditahan. “Kembalikan.” Nadine mengatakan itu lagi lengkap dengan tatapan tajamnya. Keenan tertawa mengejek. Ia memindai sekeliling dan menyadari semua mata yang ada di kelas itu melirik ke arahnya. “Siapa yang akan menyangka jika benda murahan ini bisa ada di tanganmu.” kata Keenan. Ia masih membolak-balik ponsel murah itu di tangannya. “aku ingat kamu pernah bilang kalau kamu alergi dengan barang-barang murah.” kata laki-laki itu lagi. “kalau aku jadi kamu, aku tidak akan memilikinya daripada harus menjilat ludahku sendiri.” Jika wajah Nadine bisa lebih merah lagi, itu akan membuktikan bahwa ia sangat marah. Dadanya sudah naik turun saat melihat wajah Keenan yang tampak puas mengejeknya. Sebelah tangan Nadine sudah terulur untuk merebut ponselnya namun tangan Keenan menahannya. Laki-laki itu mencengkram pergelangan tangan Nadine hingga tatapan mengejeknya berubah menjadi tatapan marah. Nadine meringis saat merasakan cengkeraman di pergelangan tangannya semakin kuat. Ia mencoba menarik tangannya untuk mengurai cengkraman laki-laki itu namun gagal. “Aku akan membuat kamu menyesal karena sudah menolak tawaranku.” Keenan sedikit mendorong untuk melepaskan cengkramannya. Ia lalu melempar ponsel milik Nadine hingga benda itu jatuh di atas meja. Bunyi ponsel membentur meja terdengar cukup keras. Keenan berdiri dari duduknya lalu membalik badan dan menjauhi Nadine. Di depan kelas, ia melihat Joseph tengah berdiri dan menatapnya dengan tatapan dingin. Ia tahu laki-laki itu pasti melihat apa yang baru saja ia lakukan pada Nadine. Ia menyeringai lalu menyenggol bahu laki-laki itu cukup keras saat melewatinya. TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD