Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam saat Nadine menyelesaikan tugasnya. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan merenggangkan ototnya yang terasa kaku. Setelah membereskan buku-bukunya dan menyiapkan jadwal untuk sekolah esok, ia keluar dari kamarnya dan turun ke lantai satu. Tepat saat ia menginjak anak tangga terakhir, rolling door ruko yang ia tempati terbuka. Sosok ibunya terlihat. Ibunya memang sudah mulai bekerja menjadi asisten rumah tangga di tempat yang ibunya pernah bicarakan kemarin. Jadi setiap hari, pagi-pagi sekali ibunya sudah sibuk membuat kue. Ibunya membuat kue apapun yang bisa ia buat. Kue-kue basah, jajanan pasar, bolu juga donat dengan berbagai toping.
“Kamu belum tidur?” Ibunya bertanya.
Nadine menggeleng. Ia pergi ke dapur, mengambil cangkir di lemari lalu membuatkan teh untuk ibunya.
“Istirahat, Ma.” Nadine mengatakan itu saat ia menaruh cangkir berisi teh yang baru saja ia buat dan melihat ibunya sedang menuangkan tepung terigu ke dalam baskom.
“Mama ada pesenan untuk besok.” Wanita itu menjawab dengan tidak menghentikan kegiatannya. Nadine duduk di kursi yang ada di sana dan melihat wanita itu sibuk dengan mixer dan adonan tepungnya untuk beberapa saat.
Nadine tidak mengerti kenapa ibunya punya tenaga yang seakan tidak ada habisnya. Ia tidak tahu kenapa wanita itu seakan tidak pernah merasa lelah meski melakukan banyak hal sejak pagi sampai malam. Atau memang wanita itu tidak pernah menampakkan kelelahannya. Wanita itu pasti tahu bahwa ia harus melakukan banyak hal demi membuat hidup mereka lebih baik.
“Nadine bisa bantu apa, Ma?” gadis itu akhirnya bertanya. Ia tahu bahwa ia tidak bisa hanya berdiam diri melihat ibunya bekerja begitu keras. Ia menyadari bahwa hari-hari biasanya, ia tidak bisa banyak membantu wanita itu. Ia berangkat sekolah pagi-pagi lalu menghabiskan banyak waktu sisanya untuk belajar. Ia tahu bahwa ibunya ingin dirinya fokus pada sekolahnya. Namun kini ia merasa bahwa ia begitu egois. Ia memikirkan dirinya sendiri sementara ia tahu bahwa ibunya mungkin butuh bantuannya.
“Nggak usah. Kamu istirahat aja.” kata Mila. Ibunya memang selalu seperti itu. Nadine tahu bahwa ibunya tidak pernah ingin meminta bantuannya.
Mila tahu bahwa kehidupan meraka pasti sangat berat bagi anaknya. Ia tahu bahwa hidup anaknya mungkin tidak bisa seperti dulu lagi. Namun ia tidak pernah ingin merampas masa muda anaknya. Ia tidak ingin gadis itu mengeluarkan energi untuk membantunya, padahal gadis itu punya banyak hal yang lebih menyenangkan untuk dilakukan. Ia telah sering memberi gadis itu uang dan meminta gadis itu untuk pergi berjalan-jalan. Namun gadis itu tak pernah mau. Gadis itu selalu bilang bahwa uangnya lebih baik disimpan untuk berjaga-jaga. Gadis itu hanya pergi keluar untuk belajar di perpustakaan umum dan selebihnya menghabiskan waktu di rumahnya.
“Nadine belum ngantuk. Nadine nggak bisa diam aja sementara ibu sibuk buat pesanan.” kata gadis itu. Nadine melihat ibunya terdiam sebentar.
“Yaudah. Kamu tolong potongin sosis sama telur rebus itu, ya.” kata Mila. Nadine mengangguk lalu melakukan yang diperintahkan ibunya.
“Pemilik rumah tempat ibu kerja, gimana orangnya?” tanya Nadine. Dulu mereka punya hampir selusin orang yang bekerja di rumah mereka. Jika ibu dan ayahnya bukan tipe majikan yang cerewet dan termasuk baik, tidak dengan dirinya. Dirinya kerap memarahi asisten rumah tangganya karena hal sepele. Ia kerap berkata kasar dan pasti membuat asisten rumah tangganya sakit hati. Ia tidak bisa membayangkan jika ibunya mendapatkan perlakuan serupa dari anak pemilik rumah. Ia tidak akan sanggup membayangkannya. Ia selalu berdoa semoga Tuhan mengampuni dosa-dosanya dan menjaga ibunya. Ia berdoa semoga tidak ada salah satu anggota pemilik rumah yang berkelakuan buruk sepertinya. Atau paling tidak, ia ingin menerima semua karma atas apa yang telah ia lakukan sendiri. Dan ibunya hanya menerima kebaikan karena wanita itu memang wanita yang sangat baik.
“Baik.” Ibunya mengatakan itu sambil berdiri di depan kompor. Wanita itu tengah membuat kulit untuk membuat risoles.
Nadine menatap ibunya yang berdiri menyamping dari tempatnya duduk. Mencoba menilik raut wajah wanita itu. Sama sepertinya, ia yakin ibunya tidak akan menceritakan hal buruk yang dialaminya. Yang bisa ia lakukan hanya terus berdoa untuk wanita itu.
Nadine menemani ibunya membuat pesanan hingga jam setengah sebelas malam. Meski tidak bisa membantu banyak dan hanya menemani ibunya mengobrol, ia tahu bahwa itu sudah cukup untuk ibunya. Nadine sudah cukup membentengi diri saat dunianya tiba-tiba jungkir balik. Ia pernah mengalami masa di mana ia menutup diri bahkan dengan ibunya sendiri. Kini ia ingin memulai semuanya dari awal. Ia tahu akhir-akhir ini ia terlalu sibuk dengan kegiatan sekolah dan tugas-tugasnya sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk mengobrol dengan ibunya. Ia akan memperbaiki semuanya. Ia akan mulai membagi waktu untuk sekolah dan ibunya. Bagaimanapun, ibunya adalah satu-satunya yang ia miliki sekarang. Ia akan menjaga miliknya satu-satunya yang tersisa.
***
Ilana masih ada di meja belajarnya dan menatap buku fisika di depannya. Ia menatap beberapa post it-post it yang tertempel di sana. Saat menyadari bahwa buku itu tak ada di ranselnya kemarin, ia kebingungan. Ia bahkan menelepon kedai kopi itu dan bertanya apa ada buku tertinggal di sana. Namun pegawai itu tidak menemukan apa yang ia maksud. Buku itu mungkin terlihat biasa, namun yang penting darinya adalah pesan-pesan yang tersemat di beberapa lembar buku itu. Pesan yang ditulis oleh orang yang sangat disayanginya. Pesan yang membuatnya ingat bahwa di antara kesakitan dalam hidup yang ia alami, mereka berdua punya mimpi besar untuk diwujudkan. Bahwa masih ada yang menginginkannya untuk hidup. Bahwa ia harus terus hidup untuk mewujudkan mimpi mereka yang sempat tertunda.
Ia tidak pernah menyangka bahwa Joseph yang menemukan buku itu. Ia tidak tahu apakah laki-laki itu melihat pesan-pesan itu atau tidak, namun ia harap tidak. Jika laki-laki itu membacanya, laki-laki itu akan tahu seberapa berat hidupnya. Sekali lagi, ia tidak suka orang tahu cerita hidupnya karena ia tidak suka dikasihani.
Lalu ingatan membawanya pada kejadian tadi siang. Saat Joseph memilih dirinya saat Keenan bertanya siapa kira-kira yang ada di posisi pertama saat semester akhir. Ia yakin cerita mengenai dirinya yang selalu ada di peringat dua pasti juga sudah didengar oleh laki-laki itu. Ia tahu bahwa pilihan laki-laki itu padanya adalah sebuah ejekan. Joseph tahu bahwa ia tidak akan mendapatkan posisi itu. Atau mungkin, laki-laki itu yang akan ada di posisi pertama. Pemikiran-pemikiran itu membuat giginya gemelutuk menahan amarah.
Suara handle pintu yang ditekan membuat Ilana langsung menutup buku itu dan memasukkannya ke dalam laci meja. Ia menoleh dan melihat ibunya masuk ke dalam kamarnya dengan segelas s**u hangat di tangannya.
“Sudah selesai?’ wanita itu bertanya lalu duduk di tepi ranjang. Ilana mengangguk lalu mengambil gelas yang diulurkan ibunya.
Helen masih ada di sana saat Ilana menyesap isi gelasnya perlahan. Wanita itu menatap meja belajar anaknya yang masih berantakan namun semua buku sudah tertutup. Ia melirik jam di kamar itu dan melihat waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.
Setelah menadaskan isi gelasnya, Ilana mendengar ibunya menyuruhnya beristirahat sebelum keluar dari kamar. Kedua tangan Ilana bergerak untuk membereskan buku-bukunya dan menyiapkan jadwal untuk besok.
Setelah selesai, gadis itu mengempaskan tubuhnya ke ranjang empuknya setelah sebelumnya mematikan lampu kamarnya dan menyalakan lampu tidur. Ia menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut dan mengambil benda pipih di atas nakas.
Sebelum tidur, ia mengutak-atik ponselnya dan berselancar di dunia maya. Ia melihat beberapa postingan temannya yang tampak menikmati hidup mereka. Tidak seperti dirinya yang selalu terkurung dalam rumah dan pengawasan ibunya. Beranda media sosialnya penuh dengan potret teman-temannya yang sedang makan di restoran, atau berkumpul di kedai kopi. Ilana tidak tahu kenapa ia selalu membuka media sosialnya ketika ia tahu bahwa itu hanya akan menimbulkan iri di hatinya. Jika Ilana bisa memilih, ia ingin hidup seperti anak seusianya yang lain. Ia ingin punya kehidupan yang wajar dan keluarga yang harmonis. Permintaan sederhana yang ia tahu tidak akan pernah bisa terwujud. Ia tidak bisa memilih ingin lahir di keluarga seperti apa dan yang bisa ia lakukan adalah melakukan semua keinginan ibunya, wanita yang sudah melahirkanya.
Ia menatap senyum-senyum bahagia dalam potret teman-temanya. Senyum yang ia tahu tidak akan bisa terlukir dibibirnya. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali ia tersenyum dan tertawa dengan bebas. Sudah bertahun-tahun Ilana mempertahankan wajah dinginnya. Wajah dengan raut yang tidak bisa ditebak. Garis bibirnya selalu datar dengan tatapan tajam tak bersahabat.
TBC
LalunaKia