Nadine sampai di mejanya dan menatap sebuah kotak yang ada di atas mejanya. Ia terdiam lalu menatap sekeliling. Teman-temannya sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ia menepuk pundak seorang gadis didekatnya dan bertanya siapa yang menaruh kotak di atas mejanya.
“Keenan.” Gadis itu menjawab.
Nadine berdecak. Ia mengambil kotak itu dan berniat membuangnya di tempat sampah. Ia masih berdiri di tempatnya dan menatap kotak kecil di tangannya. Ia penasaran karena kotak itu terasa tidak begitu berat. Ia menggoyang-goyangkannya sambil mendekatkan ke telinganya dan tidak mendengar suara apapun.
Karena penasaran, ia memutuskan untuk membukanya. Ia menelan ludah sebelum akhirnya sebelah tangannya membuka kotak itu. Nadine menjerit dan kotak itu terlempar ke atas mejanya. Semua anak menatap ke arah Nadine dan ikut menjerit kala melihat gumpalan cacing tanah menggeliat dan memenuhi sebagian meja gadis itu. Orang-orang yang ada di dekat Nadine mundur secara refleks demi menghindari hewan tak bertulang itu.
Wajah Nadine memucat. Bulu kuduknya berdiri kala melihat hewan cokelat itu menggeliat di atas mejanya, sedang sebagian lagi sudah jatuh di bawah kolong mejanya.
Keenan memberikan hadiah yang bagus dan tepat karena Nadine memang jijik dengan hewan tersebut. Bibir gadis itu bergetar kala ia melihat bahwa ada satu cacing yang sudah mendekatinya dan kini berada di ujung sepatunya. Semua orang sudah mengelilingi Nadine dan tampak menikmati raut wajah Nadine yang takut bercampur geli.
Nadine menggerakkan sebelah sepatunya untuk membuat cacing-cacing yang mulai mendekati sepatunya menjauh. Nadine sedang berpikir apa yang bisa ia gunakan untuk menyingkirkan hewan itu. Ia masih berpikir saat tiba-tiba Joseph menerobos kerumunan. Nadine menengadah dan menatap Joseph yang tampak terkejut. Tatapan keduanya bersirobok.
Yang tak Nadine kira adalah, Joseph mengambil sapu tangan dari saku blazernya. Laki-laki itu maju, melapisi tangannya dengan sapu tangan dan mengambil cacing itu lalu memasukkannya kembali ke dalam kotak.
Nadine masih terdiam saat hewan invertebrata itu dimasukkan ke dalam kotak sehingga mejanya kosong. Setelah memasukkan semuanya, Joseph mengambil tisu basah yang tergeletak di salah satu meja terdekatnya dan mengelap meja Nadine hingga meja gadis itu bersih.
Anak-anak lain sudah mulai kembali ke meja masing-masing karena tontonan mereka selesai. Joseph membawa kotak itu ke tempat sampah yang ada di luar kelas. Nadine menjatuhkan diri di kursinya dan bernapas lega. Ia tidak pernah menyangka bahwa isi kotak itu adalah cacing. Nadine menebak itu adalah sinyal perang dari Keenan.
Nadine sedang mengeluarkan bukunya saat Joseph kembali dan mengempaskan bobotnya di sebelahnya.
Nadine menoleh dan melihat laki-laki itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengutak-atiknya.
“Terima kasih.” Nadine mengatakan itu dengan susah payah. Ia tahu bahwa kali ini paling tidak ia harus mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu.
“Siapa yang melakukan itu?” Joseph bertanya sambil menatap ke arah Nadine. Joseph melihat gadis itu tampak berpikir.
Gadis itu terdiam sampai akhirnya mengangkat bahu tak acuh. Nadine tahu bahwa temannya tidak akan berbohong. Ia juga yakin bahwa Keenan sanggup melakukan itu. Laki-laki itu bisa begitu baik padanya, namun bisa berbalik mengerjainya. Laki-laki itu tidak bisa ditebak. Laki-laki itu mungkin sudah lelah berbaik hati padanya.
Namun Nadine memutuskan untuk menyimpan semuanya seorang diri. Ia tahu bahwa kini Keenan akan melihatnya dengan kacamata berbeda. Laki-laki itu mungkin sudah kehilangan kesabarannya. Dan ia tidak ingin melibatkan Joseph dalam kerumitannya. Sudah cukup ia memperingatkan laki-laki itu untuk tak mencampuri urusannya.
Nadine melirik Joseph yang tengah menyiapkan buku-buku untuk mata pelajaran pertama dan tak lama suara bel menggema.
***
Di taman belakang sekolah, Keenan mengepalkan jari-jarinya. Ia menahan kesal saat mendengar dari salah satu orang terdekatnya bahwa Joseph membantu Nadine membereskan hadiah yang ia berikan. Hadiah itu ia berikan khusus untuk Nadine. Ia tidak suka orang lain membereskannya dan mencampuri urusannya dengan gadis itu. Ia sedang memberi Nadine pelajaran dan ia tidak suka laki-laki itu bertindak sok seperti pahlawan.
Ia ingin Nadine tahu bahwa jika gadis itu tidak bisa menerima perasannya, ia bisa mengubah dunia gadis itu lebih buruk lagi. Ia bisa membuat gadis itu merasa seperti hidup di neraka. Jika gadis itu tak percaya bahwa ia bisa mengubah hidupnya lebih baik, ia akan membuktikan bahwa ia bisa mengubahnya menjadi berkali-kali lipat lebih buruk dari sebelumnya.
Ia tidak tahu bagaimana perasaan Joseph pada Nadine. Ia tidak tahu apa laki-laki itu memiliki perasaan pada gadis itu atau hanya membantunya karena duduk berdekatan. Namun yang pasti, ia tahu bahwa ia akan berurusan dengan laki-laki itu lebih sering mulai sekarang.
***
Joseph menatap beberapa anak yang sudah mulai keluar kelas sesaat setelah bel istirahat berbunyi. Ia menatap Ilana yang sedang membereskan buku-bukunya. Sebelah tangan laki-laki itu merogoh tasnya dan mengeluarkan buku milik Ilana yang ia temukan di kedai kopi kemarin.
Membawa buku itu di sebelah tangannya, laki-laki itu berdiri lalu mendekati Ilana lalu menaruh buku itu di atas mejanya.
Ilana terpaku pada buku miliknya yang sejak kemarin ia cari-cari. Ia menengadah dan melihat Joseph yang berdiri di depan mejanya.
“Buku itu tertinggal di kedai kopi.” Joseph memberitahu
Ilana mengambil buku itu lalu memasukkannya ke dalam tas. Ia berdiri dari duduknya lalu pergi keluar kelas, meninggalkan Joseph yang masih berdiri di depan mejanya.
“Apa susahnya bilang terima kasih.” Joseph berkata pada dirinya sendiri saat menyadari bahwa tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Ilana. Gadis itu bahkan meninggalkannya begitu saja. Joseph berpikir bahwa seharusnya ia tidak mengembalikan buku itu supaya gadis itu terus mencarinya.
Langkah kaki Ilana membawanya ke ruang makan. Ia ikut mengantre untuk mengambil makanan. Matanya menatap punggung laki-laki yang menjulang tinggi di depannya. Hanya dari belakang saja ia tahu siapa pria itu.
“Hai Ilana…” laki-laki itu tiba-tiba membalik badan dan menyapa Ilana yang hanya terdiam. “lama tidak menyapa.” Keenan melangkah dan berdiri di samping gadis itu. Tubuhnya sedikit membungkuk untuk berbisik tepat ke sebelah telinga Ilana, “sudah berhasil menjadi yang pertama?” Keenan bertanya dengan nada mengejek.
Ilana menghela napas panjang dengan tidak ketara. Ia seharusnya sudah tidak kaget mendengar pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Pasalnya, persaingannya dengan Nadine dan obsesinya dengan peringkat satu memang sudah menjadi rahasia umum. Semua anak di sekolah itu tahu dan ia benci karena ia sampai kini belum bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Di belakangnya, orang-orang mungkin mengejeknya karena semua usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil. Tapi Ilana sudah terbiasa. Ia tidak peduli pada orang lain. Yang perlu ia lakukan adalah melindungi dirinya sendiri dan fokus pada tujuannya.
Sebelah tangan Keenan merangkul bahu gadis itu dan kembali berbisik. “menjadi peringkat dua bukan sesuatu yang buruk. Kamu hanya perlu menikmati hidupmu.”
Ilana menggerakkan bahunya, mencoba untuk mengurai setengah pelukan laki-laki itu yang kini justru semakin erat. “harus ada yang bisa kamu kenang saat sekolah.” Keenan berkata lagi.
“Shut the f**k up!” makian itu keluar dari mulut Ilana karena ia sedang tidak ingin mendengar omong kosong siapapun. Dengan susah payah, Ilana melepaskan rangkulan Keenan yang akhirnya terlepas. Keenan tertawa lalu melangkah maju, mengambil nampan dan membiarkan petugas dapur mengisi namanyanya. Ilana melakukan hal serupa dan mengekor di belakang laki-laki itu.
Ilana memindai sekeliling dan menyadari bahwa Keenan baru saja menempati meja kosong yang tersisa. Gadis itu masih berdiri saat melihat Joseph melewatinya dengan nampan di tangannya dan menjatuhkan diri di depan Emma yang baru saja ditinggalkan oleh dua temannya yang sudah menyelesaikan kegiatan makannya lebih dulu.
Ilana mengedarkan pandangan lagi, tepat saat satu persatu orang di belakangnya berhasil menempati meja dan bergabung dengan teman yang lain dalam satu meja. Satu-satunya kursi yang tersisa adalah meja yang ditempati Keenan dan meja Emma.
Ilana jelas tidak akan sudi duduk satu meja dengan Keenan. Ia tidak pernah benar-benar berurusan dengan Keenan. Namun ia tahu bahwa semua anak di sekolah itu membenci laki-laki itu, sama sepertinya. Laki-laki itu hanya tahu membuat onar dan mengganggu orang-orang yang tidak bersalah.
Langkah kaki Ilana akhirnya bergerak mendekati meja yang ditempati Emma dan Joseph. Ia duduk di samping Emma tanpa bertanya. Emma dan Joseph menatap gadis yang baru saja bergabung dengan mereka lalu saling pandang. Emma dan Joseph yang sebelumnya sedang mengobrol tiba-tiba berhenti. Keduanya fokus pada makannya dan suasana hening seketika.
Joseph sesekali melirik Ilana yang tampak memusatkan seluruh perhatiannya pada nampan di depannya. Gadis itu duduk di sebelah Emma tanpa sepatah katapun dan kini terdiam seperti orang bisu. Ia tidak mengerti apakah gadis itu memang tidak bisa bersosialisasi atau bagaimana.
Emma yang sebegitu mudahnya bergaul sama sepertinya juga tidak bisa berteman dengan Ilana. Sepertinya memang tidak ada yang bisa menembus dinding invisible yang melindungi gadis itu.
Selama beberapa saat keheningan menyelimuti meja mereka. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin dibicarakan oleh keduanya, namun keberadaan Ilana membuat keduanya memilih untuk menutup pembicaraan.
Keberadaan Ilana saja sudah cukup membuat suasana meja itu terasa canggung. Kini suasana bertambah buruk karena tiba-tiba saja sebuah nampan diletakkan di samping Joseph dan Nadine duduk di sebelahnya tanpa permisi. Emma dan Joseph menatap Nadine yang baru saja mengambil sendok lalu ke arah Ilana yang sedang menatap Nadine. Keduanya lalu saling pandang sambil menghela napas. Joseph sempat melirik sekeliling dan menyadari bahwa semua meja kursi terisi penuh, kecuali kursi di sebelahnya dan kursi di sebelah Keenan.
Ilana menatap gadis yang baru saja duduk di depannya dengan bias kebencian. Ia memindai wajah Nadine yang sedang menyuapkan sendok demi sendok berisi nasi ke dalam mulutnya dan mengunyahnya pelan.
Bagi Ilana, bertemu dengan Nadine di sekolah ini adalah hal paling buruk dalam perjalanan hidupnya. Sebelumnya, ia selalu berada di peringkat satu tanpa perlu berusaha terlalu keras. Sampai akhirnya ia dipertemukan oleh Nadine di sekolah ini. Satu-satunya yang membuatnya tidak bisa meraih peringkat pertama selama dua tahun berturut-turut di sekolah itu. Ia seharusnya tidak bertemu dengan gadis itu. Saat berada di tahun pertama, saat tahu bahwa Nadine yang ada di posisi pertama, ia masih begitu yakin bahwa ia sedang lengah dan selanjutnya, ia akan bisa mengalahkan gadis itu. Namun saat tahu bahwa gadis itu selalu mendapatkan nilai terbaik di setiap ujian, tugas esai, dan tugas lainnya, ia seharusnya tahu bahwa kini ia memang ditakdirkan untuk berada di bawah gadis itu.
Setelah obsesinya mulai memudar, ibunya kembali memantiknya. Ibunya jelas tidak terima jika anak yang selalu ia banggakan kini berada di posisi kedua. Ibunya mulai kembali memintanya untuk belajar lebih keras lagi, hingga sekarang.
Tatapan keduanya bersirobok saat Nadine menengadah untuk meminum air dalam botolnya. Keduanya bertukar pandang untuk beberapa saat. Nadine tahu bahwa Ilana membencinya. Bias kebencian dalam tatapan gadis itu sangat kental. Ia tersenyum sinis. Ia tidak mengerti kenapa gadis itu begitu membencinya hanya karena gadis itu tidak bisa mendapatkan peringkat pertama. Kenapa gadis itu melemparkan kesalahan pada orang lain. Bukankah gadis itu seharusnya mencoba lebih keras lagi.
Ini adalah kali pertama Nadine berada sangat dekat dengan Ilana. Gadis itu bahkan tidak ingin menyia-nyiakan waktu untuk menatapnya dengan tatapan kebencian yang begitu membara. Seingat Nadine, mereka berdua bahkan tidak pernah berbicara satu sama lain selama hampir tiga tahun ini. Nadine tahu bahwa kehidupan sosial Ilana sangat buruk, sama sepertinya. Mereka sama sekali tidak memiliki teman dekat. Namun Ilana jelas lebih baik karena ia tidak pernah mengganggu orang lain, tidak sepertinya. Gadis itu tidak banyak omong dan lebih sering menyendiri. Gadis itu tidak peduli pada orang disekitarnya dan sibuk dengan kesendiriannya. Sebelah tangan Nadine terulur untuk mengambil botolnya, membuka tutupnya dan menyesapnya pelan saat Ilana sudah kembali fokus pada nampan makannya.
Emma yang pertama kali menandaskan isi nampannya. Ia menyesap air dalam botolnya lalu melirik Joseph. Mengisyaratkan pada laki-laki itu bahwa ia akan pergi lebih dulu. Isi nampan Joseph yang belum habis membuat laki-laki itu tidak bisa mengikuti Emma. Ia tidak mungkin membiarkan makanannya tersisa sedangkan perutnya belum merasa kenyang hanya untuk mengindari dua gadis itu. Ia bertahan di sana dengan kecanggungan yang terasa semakin mencekam.
Ketenangan mereka bertiga dalam meja yang sama itu terusik saat tiba-tiba Keenan duduk di kursi yang semula di tempati Emma. Laki-laki itu membawa serta nampan makannya dan tersenyum pada ketiganya yang langsung menatapnya dengan tatapan tak suka. Mereka bertiga tahu bahwa meja itu fasilitas umum dan mereka tidak bisa mengusir laki-laki itu begitu saja.
“Biar kutebak, ini pasti kali pertama kalian duduk satu meja.” Keenan melirik Nadine dan Ilana secara bergantian. Keduanya tidak ada yang menjawab karena merasa itu bukan sebuah pertanyaan. Keduanya mencoba fokus pada isi nampan masing-masing, begitu juga Joseph.
Karena tidak ada yang menanggapi, Keenan kini menatap Joseph yang sedang berusaha menghabiskan isi nampannya.
“Hei, Pirang… aku yakin kamu sudah tahu bahwa kedua perempuan ini selalu bersaing untuk peringkat pertama di sekolah kita.” Keenan melihat Joseph yang menengadah dan kini menatapnya. “selama ini, Ilana selalu ada di peringkat dua, di bawah Nadine.” Keenan melanjutkan kalimatnya.
Joseph masih terdiam dan menatap Keenan yang ia tahu belum menyelesaikan kalimatnya.
“Ayo taruhan…” kata Keenan, “menurutmu, siapa yang akan ada di peringkat satu saat akhir semester?” Keenan menatap Joseph dengan sungguh-sungguh seakan benar-benar meminta jawabannya.
Joseph diam sebentar. Ia lalu melirik Ilana dan Nadine secara bergantian. Kedua perempuan itu mencoba tetap fokus pada makannya dan tidak memedulikan Keenan yang membicarakan mereka.
“Ayo tebak.” kata Keenan lagi saat melihat Joseph masih tampak berpikir. “kalau menurutku, Nadine akan tetap ada di peringkat satu.” Keenan lalu melirik Ilana, “sepertinya Ilana ditakdirkan untuk selalu ada di posisi kedua.”
Mendengar itu, Ilana menghentikan kegiatan makannya saat merasakan bahwa perkataan laki-laki itu membuatnya amarah perlahan merambat naik ke kepalanya. Ia tahu bahwa ia tidak bisa mencegah orang berpikir seperti itu. Tak hanya Keenan, ia yakin banyak orang yang berpikir seperti itu.
“Ilana.” Nama itu keluar dari mulut Joseph. Refleks, Nadine dan Ilana langsung menatap ke arah Joseph yang sudah kembali melanjutkan makannya.
Keenan tersenyum sambil memasukkan sendok berisi nasi ke mulutnya penuh-penuh. Ia melirik Nadine dan Ilana yang tampak sedikit kaget mendengar jawaban Joseph.
“Ayo kita lihat tebakan siapa yang benar.” kata Keenan. Ia menutup kegiatan makannya meski isi nampannya belum tandas. Setelah menyesap isi botolnya, ia mencurahkan fokusnya pada Nadine.
“Nadine, bagaimana dengan hadiah dariku?” tanya Keenan pada Nadine yang langsung menatapnya sinis.
Joseph menengadah dan menatap Keenan yang duduk di depannya.
“Jadi, kotak itu darimu?” Joseph yang mengatakan itu. Keenan kembali padanya dan menyeringai. Seringai itu sudah menjadi jawaban yang cukup.
“Kenapa? Itu menyusahkanmu?” tepat saat Keenan mengatakan itu, Ilana berdiri dari duduknya dan pergi dari sana dengan nampan bekas makannya, meninggalkan mereka bertiga dengan aura ketegangan yang semakin terasa.
Joseph lalu melirik Nadine yang baru saja menyelesaikan makannya. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kejadian pagi tadi tiba-tiba terlintas dalam ingatannya dan ia kebingungan dengan keadaan yang tiba-tiba berbalik itu.
“Kenapa kamu melakukan itu?” Joseph mengatakan itu karena ia tidak bisa menemukan jawabannya sendiri. Ia tahu betapa laki-laki itu selalu mencoba mencari perhatian Nadine.
“Nadine tahu jawabannya.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Keenan. Laki-laki itu tersenyum sinis ke aras Joseph lalu memutuskan untuk pergi dari sana.
Joseph menghela napas kasar lalu menoleh pada gadis di sebelahnya. Namun belum sempat ia meminta jawaban, gadis itu memilih untuk beranjak dari sana dan meninggalkannya Joseph dengan kebingungannya.
TBC
LalunaKia