"Sam!"
Deni yang terkejut terjungkal ke belakang. "Seria!" serunya langsung. Aku tidak peduli. Salah sendiri yang duduk dengan tidak benar.
"Sam, Adelin."
Bola matanya mengerjap pelan, berlanjut kemudian dengan kerutan kecil di dahi.
"Dia mau membocorkan hubungan kita pada Ian."
Kerutan di dahinya kini semakin dalam. "Apa kamu yakin?"
"Maksudmu, aku berbohong?"
Dia bertanya keyakinanku. Secara tidak langsung adalah bukti bahwasanya dia ragu bahwa yang aku katakan adalah kebohongan. Sialan sekali.
"Tidak, bukan begitu. Hanya saja Adelin bukan jenis perempuan yang suka mencampuri urusan orang lain."
Ini yang lebih sialan. Dia menganggap Adelin perempuan baik.
"Jadi, kau tidak mempercayaiku?"
"B-bukan.."
"Sudahlah." Aku berbalik pergi. Merasa kesal karena telah datang mencarinya. Untuk apa? Dia tidak dapat diharapkan. Malah adalah musuh sebab dia berdiri di pihak Adelin.
Aku tahu mereka telah berteman lama. Ada pondasi kokoh akan pandangan satu sama lain yang tidak mudah runtuh, akan tetapi harusnya dia mengerti. Segala sesuatu dinamis, akan berubah pada saat waktunya tiba. Termasuklah sikap Adelin.
Mungkin saja dulu dia memang tidak suka ikut campur urusan orang lain. Tapi itu dulu, masa lalu. Tempat dimana hanya ada yang namanya kenangan. Yang sekarang ada pada Adelin adalah sesuatu yang baru. Mungkin juga termasuk perasaannya pada Sam yang berujung membuat dia berubah 360 derajat.
Argh, Sam bego. Masa membuat pertimbangan berdasarkan masa lalu.
***
Istirahat pertama aku dan sahabatku pergi ke kantin. Menghindari langsung tatapan Sam saat aku secara tidak sengaja menemukannya.
"Nyai, kamu mau apa?"
Aku menggeleng. Mengangkat sedikit kotak bekal yang aku bawa.
"Wah iya bawa bekal. Siapa yang buat?"
"Papa."
"Tumben," celetuk Devi.
"Papa mengira aku sakit, jadi dia memaksakan diri pagi-pagi membuat sarapan sehat dan juga bekal. Tentu saja, dia juga mewajibkan aku menghabiskan isi bekal ini."
"Baik sekali papamu," kata Mila setengah cemberut. "Papaku saja tidak pernah peduli bahkan jika aku demam. Apalagi membuatkan bekal. Huwaa, jadi iri."
Zion menyenggol lengan Devi. "Gih susuiin anak lo."
"Najis!"
Untuk menikmati makanan kami memilih meja di barisan belakang sisi kanan. Aku setuju saja, karena memang ingin menjauhi Sam.
Gimana ya. Sebenarnya dia tidak bersalah. Ini resmi karena pikiran aku yang tidak-tidak, tapi mau bagiamana? Hanya melihat wajahnya sana telah membuat kekesalanku memuncak dan tidak terkendali.
Cara terbaik daripada meledak adalah menajuh.
"Ser, suami kamu tuh dari tadi ngelihatin melulu."
Aduan Zion menggerakkan mataku ke arah Sam. Benar saja. Dia tengah menatap padaku. Cih! Segera aku menarik kembali pandangan.
"Wajahmu terlihat menahan emosi." Tebakan Aliya adalah kebenaran. Aku menahan emosi agar tidak menimpuk wajahnya dengan sepatu. Bisa-bisanya dia mengira aku berbohong. Untuk apa coba aku berbohong?
"Apa kalian bertengkar?" lanjut Devi.
"Tidak."
Aliya mengangkat sumpitnya, mengarahkan tepat ke wajahku. "Terangan baik-baik, jujur dan detail. Sam pasti akan mengerti."
Bibirku hampir terbuka ketika dia mengarahkan lagi sumpitnya. "Jangan tanya dari mana aku tahu, tapi coba lakukan itu. Ya aku harap itu benar-benar terjadi."
"Kau mengarang?" sentak Mila.
Aliya mengedikkan bahu. "Mungkin."
"Gak jelas," sembur Zion. Tangan kanannya lalu menepuk bahuku. "Nyai, mending gak usah diperhatikan. Pasti nanti dia sendiri yang akan meminta membuka diskusi. Yok jangan dipikirkan."
"Aku memang tidak memikirkannya."
Mulut sih memang berkata begitu. Pada kenyataannya Sam terus berlarian di kepalaku sepanjang siang itu. Argh, menyebalkan!
***
"Masih marah?"
Kugeser kursi menjauh. Lanjut mengaduk smoothies di dalam gelas. Kami tidak langsung pulang, melainkan mampir di salah satu cafe. Aku sebenarnya enggan, namun terlalu malas untuk mengeluarkan kalimat bantahan kepada Sam.
Ofc, aksi merajuk. Agar dia tahu aku sungguh marah karena memang benar-benar tidak bersalah.
"Aku bukan tidak percaya.."
"Jadi apa?" sergapku langsung tersulut emosi. "Jelas-jelas kamu membela dia. Secara tidak langsung kamu tidak percaya padaku. Padahal itu benar-benar terjadi. Lagipula untuk apa aku berbohong?"
"Aku tidak mengatakan kamu berbohong, sayang."
"Jangan panggil aku begitu, Sam!" desisku.
"Oke.." Dia menyandarkan tubuh pada kursi. Pandangannya turun kemudian kepadaku.
"Apa kamu takut?"
"Tentu saja." Hubungan aku dan Sam adalah nuklir yang siap meledakan perasaan Ian. Jika itu terjadi maka namaku akan terhapus dari hati Ian.
Semua impianku akan kemanisan dan kelembutan menghilang tanpa tersisa. Yang menyakitkan lagi adalah kemungkinan Ian akan membenci aku sedalam-dalamnya.
Ketika dua hati saling terkait, cemburu saja sudah sangat menyakitkan, apalagi dibenci oleh si objek yang kita cintai tersebut.
"Apakah kamu nyaman memeluknya dengan kebohongan?"
Jelas saja tidak. Setiap hari aku selalu dipeluk ketakutan, apalagi saat Ian mencurahkan kasih sayang lembutnya. Aku kerap berpikir bagaimana jika hal tersebut hilang tanpa tersisa. Aku tidak akan mendapat kasih dan kelembutannya. Hidupku akan kembali ke dalam kehambaran. Siapa yang menginginkan itu? Tidak ada!
"Nyaman." Sam tidak boleh tahu atau dia akan mengambil kesempatan untuk kian menerjang keadaan. "Dia memberikan apa yang aku mau. Tidak peduli bahkan jika aku berbohong, yang terpenting adalah dia tetap bersamaku."
"Bukankah dia akan terluka parah jika tahu? Apa itu yang kamu mau?"
"Berhenti seolah kamu mengerti, Sam! Ini urusan aku."
"Apa yang sebenarnya kamu sukai darinya? Aku bisa belajar menjadi seperti itu untukmu."
"Aku tidak butuh kamu. Aku hanya butuh Ian. Dan perlu kamu ingat, kamu adalah kamu. Ian adalah Ian. Kamu tidak akan pernah menjadi seperti dia dan dia tidak akan pernah menjadi kamu."
"Bagaimana jika aku tetap mau menjadi dia?"
"Itu membuang-buang waktu. Di saat yang sama hanya akan membuat kamu semakin berdarah. Jalan terbaiknya adalah kamu pergi ke jalan baru dan memulai kebahagiaan sendiri."
"Kamu kelihatannya selalu takut aku terluka. Kenapa? Apa aku mulai berarti?
Sialan! Kenapa aku begini? Kesannya memang seolah membuat Sam begitu berarti. Tapi dia kan tahu. Aku hanya ingin menjaga diri dengan tetap bersama raganya namun tanpa hatinya. Kalimat yang tanpa sengaja keluar tadi barangkali adalah rasa kemanusiaan saja.
"Ayo makan. Urusan Adelin aku akan menyelesaikannya setelah ini."
"Serius?"
"Iya."
Dia menarik buku menu, membukanya dan mendorong tubuh kepadaku. Jadi kami dapat melihatnya bersama.
"Steamboat?"
"Tidak, aku mau teriyaki."
"Kalau begitu aku mau..ah spaghetti carbonara saja."
Kubalikkan halaman buku menu, meletakan telunjuk pada gambar aneka dessert dan menggesernya sampai menemukan yang menarik.
"Mochi."
"Kamu suka?"
"Tidak terlalu, tapi sepertinya lagi mood untuk menikmatinya."
"Oke." Sam mengembalikan buku menu ke meja dan melambai pada waiters. "Satu porsi teriyaki, kue mochi, spaghetti carbonara dan fresh orange."
Dia menoleh kepadaku saat waiters sibuk mencacat. "Mau minuman lagi?"
"Fresh orange."
Segera dia menambahkan pesanan kepada waiters. Begitu usai tangannya menjepit pipiku.
"Ayolah jangan muram begini. Aku akan memastikan dia tidak berbuat apa-apa pada selingkuhanmu itu."
"Janji."
Kuarahkan kelingking padanya. Terlalu kekanakan, namun dengan begitu saja setidaknya aku dapat memastikan bahwa dia berjanji.
Sam menyambut kelingkingku, menautkan pelan dengan kelingkingkuya. "Iya, aku janji."
"Aku bisa saja tidak menepatinya," ujar Sam usai saling menautkan kelingking. "Karena aku bukanlah pria yang baik. Kenapa kamu memaksa diri mengulurkan kelingking?"
"Karena kamu adalah pria baik." Itu adalah pembenarannya. Hanya bibirnya yang mengatakan dirinya jahat, tidak dengan sikapnya. "Dan aku percaya akan itu."
Sam terkekeh kecil. Aku tidak tahu maksudnya. Tapi memiliki dugaan bahwa dia menganggap kalimatku adalah candaan. Bisa jadi, aku terkadang sering mengatakan dia dengan buruk saat berada pada puncak emosi. Harusnya dia tahu, itu hanya karena situasi bukan hal sebenarnya dari hati.
"Seria."
Panggilan atas namaku membawa pandangan aku dan Sam ke titik yang sama. Itu adalah teman-teman sekelasku.
Aku berusaha menarik senyum meski kaku dan melambai. "Eh hai."
"Kamu dan.."
Matanya bergeser pada Sam. Ada kecurigaan akan apa yang terjadi di dalam sana.
"Tadi kami ada pertemuan keluarga bersama."
Kusenggol kaki Sam. Segera saja kepalanya mengangguk.
"Pantas saja." Dia dan teman-temannya tampak lega. Mungkin berhasil membenarkan apa yang ada di pikiran mereka. "Kalau begitu kami duluan."
"Silahkan."
Mataku masih mengikuti mereka sampai pintu cafe kembali tertutup. Bukannya apa-apa, takut mereka mengambil foto dan menyebarkannya di internet dengan penjelasan tidak-tidak.
Syukurannya mereka langsung pergi. Berbagi tawa entah karena apa. Ya setidaknya mereka tidak mencampuri urusanku lebih jauh.
"Fiuh untung mereka tidak berpikir aneh-aneh."
"Kenapa memangnya?"
Aku melirik Sam. Kenapa katanya? Apa dia tidak mampu memutar otaknya untuk mencari jawaban?
"Jangan berpura-pura! Kamu tahu jawabannya."
Ini adalah yang paling tepat. Sam pasti berpura-pura. Tidak mungkin dia tidak tahu.
"Tapi aku ingin mendengarnya darimu."
Tuh kan!
"Aku tidak mau mereka salah paham." Kusibak pelan rambutku yang terjatuh di bahu."Apalagi mengatakan kita dalam ikatan manis. Kamu sendiri tahu, aku memiliki hati Ian untuk dijaga."
"Lalu hatiku?"
"Itu bukan milikku, Sam. Aku tidak memiliki tanggungjawab untuk menjaganya melebihi rasa kemanusiaan."
"Aku tidak dimiliki siapapun. Apakah kamu tidak memiliki rasa iba untuk menjaganya?"
"Tidak dimiliki adalah kalimat yang salah," kataku mengkoreksi kalimatnya. "Kamu punya Adelin. Dia memiliki hatimu, maksudku dia menggenggam hatimu. Aku lihat kamu cukup dekat dengannya, kenapa tidak mencoba balas menggenggam hatinya? Kalian mungkin akan jadi pasangan yang sempurna."
"Aku tidak menyukainya."
Jawaban yang lugas dan tegas. Itu membuat aku sedikit bimbang antara mempercayai hasil pikiran atau apa yang baru saja Sam katakan.
"Itu hanya apa yang kamu pikirkan, bukan yang kamu rasakan. Kamu sendiri pasti sadar seberapa berharganya Adelin di dalam hati kamu. Dia bukan teman, tapi perempuan yang sejak lama berdiri di sisimu. Meski sama seperti Jason atau mungkin Deni, tapi sisi perempuannya membawa hal berbeda ke dalam d**a kamu. Oh iya, kurasa kamu juga tidak lupa bahwa antara perempuan dan laki-laki tidak bisa ada perasaan murni pertemanan. Gelombangnya sangat berbeda dari pertemanan, hanya saja ada beberapa yang tidak terlalu kuat hingga sulit terdeteksi."
"Tidak, Seria." Sam menarik tanganku, menempelkan ke d**a kirinya. Detak jantungnya terasa cepat. "Aku hanya menyukaimu. Hatiku, ini hanya milikmu. Terlepas dari kamu menginginkannya atau tidak, aku memberikannya untukmu."
"Kamu egois, Sam. Mengabaikan hati demi kemauan sendiri yang belum pasti esensinya."
"Aku tidak mengabaikan hatiku, tapi memang hanya kamu yang aku mau."
"Tidak! Kamu tidak menginginkan aku. Kamu menginginkan Adelin. Itu yang ditunjukkan olehmu setiap berada di sekitar Adelin. Mungkin kamu tidak sadar, tapi aku melihatnya jelas."
Perlahan kutarik tanganku keluar dari genggamannya. Ketidaknyamanan akan detak jantungnya adalah sebab perbuatanku tersebut.
"Kamu mengatakan hanya aku karena saat ini tidak ada Adelin. Jika dia ada, apa kamu dapat mengatakan tegas namaku?"
"Kami hanya terlalu dekat. Batas-batasan terhancurkan tanpa sisa. Tidak heran kamu mengiranya sebagai hubungan romantis, namun itu hanya dari kacamata kamu. Pada kenyataannya kami hanya berteman. Iya, Adelin pernah mengatakan perasaannya padaku. Tapi aku tidak.."
"Tidak mengatakannya." Kutepuk pelan bahu Sam. "Hanya tidak mengatakan saja, bukan menolak kenyataan yang kamu rasakan. "Benar kan?"
Dan dia pun terdiam. Matanya terpaku pada tangannya sendiri. Kini segalanya menjadi benar, Sam hanya tidak menydari perasaannya pada Adelin.
Maaf, Sam. Sebenarnya aku tidak mau kamu menyadari perasaan tersebut mengingat bahwa Adelin terlalu kasar untukmu. Hanya saja kini aku berada di tengah kamu dan Ian. Hanya satu orang yang bisa aku tarik penuh dan itu adalah Ian. Dia yang aku inginkan dari segalanya.
Jadi, maaf. Aku terpaksa mendorong kamu kepada Adelin. Meski rantai masih mengikat kita, setidaknya untuk beberapa saat Adelin tidak akan mengusik.
"Gelombangnya terasa jelas." Dia memandangku dengan senyum tipis. "Aku menyukainya."
Perlahan-lahan senyum di bibirnya berubah menjadi garis lurus. "Namun itu kalah dari gelombang perasaanku untukmu. Aku sangat menyukai kamu."
Kalimatnya seperti beton kuat yang mendesak aku mundur, sama seperti tatapannya. Mendesak aku ke belakang, ke sebuah dinding kesadaran bahwa apa yang dia katakan adalah benar.
Tangannya membawa tangan kananku ke dalam genggaman. Dingin dari kulitnya menyerap langsung ke kulitku, menjalar ke dalam d**a untuk melahirkan sebuah perasaan dingin yang tak dapat dimengerti.
"Kamu tidak harus merasakan yang sama sepertiku. Cukup tahu saja bahwa aku mencintaimu."
Mataku turun, mengikuti sering pergerakan tangannya yang membawa naik tanganku. Kecupan lembut nan dingin menyentuh kemudian. Membekukan seluruh pikiranku yang berkecamuk.
Hati di dalam sana melonjak cepat tidak beraturan. Meledak-ledak dan hampir keluar dari jerujinya.
"Permisi."
Kami sama-sama menarik tangan. Waiters muda tersebut tampak menundukkan wajah. Barangkali merasa bersalah karena menganggu apa yang sedang berlangsung.
"Selamat menikmati."
Sam menarik sendok dan garpu dengan santai. Sama sekali tidak ada tanda-tanda ekspresi tersipu ataupun yang lainnya. Seutuhnya hanya kelempengan saja.
Tunggu, jangan bilang kalau dia tidak menganggap apa yang baru terjadi lebih dari sebuah kalimat.
"Ayo, makan."
Dia mengarahkan garpu dengan spaghetti yang tergulung rapi. Kugelengkan kepala sebagai penolakan, kemudian melanjutkan dengan menarik mangkuk teriyaki mendekat.
Kedinginan menyelimuti. Hanya denting sendok dan garpu yang terdengar saling beradu.
"Seria, katakan sesuatu."
Hah?
Leherku bergerak kepadanya tanpa diminta.
"Katakan sesuatu. Kita tidak boleh sedingin ini."
"Kenapa tidak kamu saja?"
Dia menolehkan wajah. Alhasil manik kami saling beradu. Menarik-narik satu sama lain. "Aku mencintaimu."
Sontak mataku memutar malas. Bisa-bisanya dia langsung berkata begitu setelah kedinginan yang terjadi. Maksudku, dia terlalu percaya diri sekali.
"Oh iya." Aku melihat lagi ke arahnya. "Hari minggu ini aku akan jalan-jalan bersama Ian."
"Tumben kamu mengatakannya padaku."
"Papa ada di rumah, kamu harus memanipulasi untukku."
Sam mendorong wajahnya mendekat. Deru nafas dan aroma maskulinnya terasa jelas di ujung hidung. Sedikit merusak fokus untuk tetap pada manik gelapnya. "Baiklah, jika itu yang kesayanganku inginkan. Aku akan melakukannya."
Aku berharap itu adalah candaan, tanpa binar keseriusan. Terlebih dia memang setengah tersenyum. Aku frustasi kemudian karena tidak dapat menemukannya, belum lagi kalimat tersebut telah menyerap ke hati dan memberikan desiran aneh.
Ini tidak seharusnya terjadi kan?