"Mau dimasak apa?" tanyaku sembari mengusak rambut yang basah dengan handuk. Tadinya enggan turun karena tidak dalam penampilan maksimal, namun karena hanya Sam yang akan melihat aku jadi tidak peduli.
"Dipanggang?"
Jawabannya terdengar tidak yakin, malah seperti sebuah pertanyaan. Apa dia kebingungan? Tumben sekali.
"Boleh juga. Tapi ikannya sangat banyak. Apa yakin semuanya mau dipanggang?"
"Aku akan membagikannya beberapa kepada Adelin dan teman-temanku."
Adelin dan teman-teman. Secara tidak langsung dia memisah Adelin dari lingkaran pertemanan. Apa maksudnya dia sungguh menganggap Adelin lebih?
Dan lingkaran apa itu?
Romantis?
"Seria?"
"Ah iya, terserah kamu saja."
Duh kan jadi gelagapan. Gara-gara mikirin Adelin sih.
"Atau mungkin aku akan membuat sebagain menjadi ikan asam manis," gumamnya sendiri. "Menarik juga. Apa kamu mau memakannya?"
"Tergantung rasa."
Kalau lezat mana mungkin perutku menolak. Apalagi masakan buatan Sam. Perutku sungguh mengaguminya malah.
"Sam." kutarik kursi ke depan pantry. "Aku tetap mau kebebasan."
Tanpa berhenti mencuci ikan dengan air bersih yang mengalir dari kran dia menjawab. "Alasannya?"
"Aku mau hidup dengan caraku."
"Apa sekarang kamu hidup dengan cara papamu?"
"Kamu bisa melihatnya sendiri. Aku harus berakhir dengan kamu, mengikuti jurusan yang kamu pilih, lalu sejak kecil prinsip yang ada di kepalaku harus hasil pemikirannya, les yang dipilih hingga teman-teman juga diatur. Aku sepenuhnya hidup dalam lingkaran papa."
"Aku tidak pernah merasakan kehadiran seorang ayah. Jadi aku tidak dapat mengerti seutuhnya, namun setiap manusia selalu punya alasan akan apa yang ia perbuat. Baik itu secara sadar maupun tidak. Ya aku kira papamu juga sama."
"Alasan?" Papa tidak pernah sedikitpun menyinggung latar belakang dari sikap anti dibantahnya. "Karena aku putrinya. Itu yang sering papa katakan setiap dia usai mengatakan perintah. Tapi aku tidak tahu apa itu benar alasannya."
"Kalau begitu kemungkinan masalahnya ada di sana. Kamu tahu.." Sam berhenti dari kegiatannya untuk memandangiku. "Agen sosialisasi primer berperan sangat penting. Jika ada yang salah dengan sikap seseorang, yang paling dekat sebagai sumber masalah adalah agen sosialisasi primernya. Orangtua dan saudara. Mungkin itu asal sikap anti dibantah papamu."
"Maksudmu papa anti dibantah karena kemungkinan orangtua dan saudaranya bersikap begitu?"
Sam mengangguk. "Benar. Itu kemungkinan luka dalam yang tidak sembuh di hatinya, mengikuti terus hingga sekarang dan memaksa pembenaran di kepalanya bahwa sikap tersebut adalah yang seharusnya. Atau bisa jadi malah pelampiasan karena dia tidak ingin hanya sendirian merasakan luka tersebut. Terlepas dari itu, kita tidak memiliki bukti. Jadi jangan menyudutkannya."
"Aku juga tidak akan berani berbuat begitu. Bisa-bisa langsung dicoret dari KK."
"Apa papamu memang semenyeramkan itu?"
Dengan berat hati aku mengangguk. "Kalimat bantahan bagi papa adalah pelatuk untuk menghancurkan batas, sekalipun hubungan darah. Bukti nyatanya adalah Aera. Sejak dia membantah papa di masa kecil, hubungannya dengan papa menjadi sangat buruk. Papa bertindak seolah dia bukan putrinya. Mengerikan bukan?"
Sam mengangguk, setuju. "Namun kamu tenang saja. Aku tidak akan memperlakukan yang sama pada putri kita."
Putri? Dia sudah bisa memikirkannya? Gila!
"Hey santai saja. Jangan melotot begitu. Aku yakin kamu juga menginginkan seorang putri. Atau malah putra, tidak masalah. Kita bisa membuat keduanya."
Kulempar handuk ke wajahnya. Mumpung masih lembab. Jadi ada kemungkinan otak kotornya itu mendingin.
"Aku suka harum sampomu." Lihatlah si gila itu. Dia malah mengendus handukku dengan tawa kecil.
Dasar aneh!
***
"Kalian hanya makan berdua?"
Kugerakkan leher melewati bahu kiri.
"Papa? Kenapa lama sekali?"
Ini sudah pukul delapan malam dan papa baru pulang bermain golf bersama mama. Aku jadi curiga kalau mereka tidak benar-benar bermain golf.
"Papa pasti keliaran bersama mama kan?"
Papa tidak mengelak, langsung mengangguk pelan. "Sesekali," tambahnya. "Kalian juga sepertinya asik berkeliaran. Kepala pelayan mengatakan bahwa kalian baru pulang pukul enam tadi. Sembilan jam, waktu yang lama juga."
"Itu gara-gara dia," kataku sembari menunjuk wajah Sam dengan garpu. "Dia terus-menerus mengatakan sebentar lagi, namun pada akhirnya tetap lanjut memancing. Aku sampai mau mati karena kebosanan dibuatnya."
"Hanya hampir," kilah Sam. "Lagipula aku tidak mungkin mengambil tindakan tanpa mempertimbangkan keselamatan kekasihku."
Dih, menggombal lagi. Sejak kapan sih otaknya terinfeksi virus itu? Atau yang lebih penasaran lagi, darimana dia mendapatkan ilmunya?
"Wah-wah, manis sekali ya kalian berdua."
Mama mengambil duduk di samping papa. Kini kami menjadi dua pasangan yang saling berhadapan. Papa dan mama, sementara aku dan Sam.
"Kamu memasak, Sam?"
"Iya, Tante."
"Ikan asam manis. Tante sudah lama tidak memakannya."
Mama secara antusias mengisi piringnya dengan ikan asam manis. Aku sendiri yang telah menikmatinya menjamin bahwa rasanya sangat sedap. Ikan filet tersebut dipotong menjadi dadu ukuran sedang, setelahnya Sam membalur dengan tepung maizena. Lalu merendamnya dalam saus merah nan pedas dan juga manis. Ketika masuk ke mulut rasanya sangat segar. Harusnya ini menjadi menu makan siang.
"Eum lezat sekali." Mama sampai menyuapkan pada papa untuk ikut merasakannya.
Papa yang masih mengunyah saja sudah langsung mengangguk, membenarkan bahwa masakan Sam memang lezat .
"Kamu belajar masak dari siapa, Sam?" tanya Mama. Pasti kebingungan, karena bahkan skill memasak mama kalah jauh dari Sam.
"Tidak dari siapa-siapa, Tante. Saya belajar memasak sendiri."
Mata mama menyipit curiga. Ya di era modern ini sulit percaya bahwa laki-laki akan memasak sendiri, meski sebenarnya itu bukan hal mustahil juga sih.
"Sejak kecil saya tinggal bersama paman. Dia adalah pria yang sibuk. Ketika saya lapar di waktu selain jam makan utama, maka tidak ada pilihan selain memasak sendiri. Lama-kelamaan saya terbiasa dan beginilah."
Sorot mata mama tampak meredup. Memang sulit tidak kasihan akan nasib Sam.
"Tapi saya bersyukur karena sepertinya skill memasak itu disukai oleh banyak orang. Salah satunya adalah kekasih saya."
Sam aku lagi kasihan akan masa kecilmu loh. Segala diganggu dengan gombalan pula. Sinting kamu!
"Seria.."
Panggilan tegas papa mengejutkan aku. Kenapa dia seolah marah? Aku kan tidak berkata apa-apa.
"Iya, Pa?"
"Belajarlah memasak. Sam nantinya adalah kepala keluarga dan kamu adalah ibu rumah tangga. Jangan memperlakukan dia dengan dua tanggungjawab."
"Aku tidak akan.." Kuhunus manik Sam saat dia menoleh, memandang dengan senyum puas. Sialan! Dia memancing papa membebani aku tugas.
"Kelas muay thai, psikologi dan memasak. Kamu akan mulai belajar ketiganya minggu depan."
"Yah papa, kenapa kelas memasak juga?"
"Seria!"
Aku menciut akan pelototan tajam papa. "Sebagi istri nantinya memasak adalah tugas kamu. Meskipun papa yakin kalian akan memiliki beberapa maid atau koki khusus, tapi skill itu adalah hal wajib bagi kamu selaku istri dan seorang ibu."
"Benar," sambung mama. Aih, kenapa jadi aku disudutkan begini. "Sebagai perempuan kamu wajib bisa memasak, meski tidak akan memasak. Yang mama maksud adalah kamu setidaknya bisa menunjukkan kelayakan kamu selaku istri dan ibu di saat genting seperti koki tidak dapat memasak karena sakit. Dan lagi, anak-anak dan suami lebih merasa dicintai dengan masakan hasil tangan kamu sendiri. Jika kamu ingin dicintai mereka, maka kamu juga harus menunjukkan cinta kepada mereka yang mana salah satunya melalui masakan. Pokoknya belajar masak yang benar. Masakan Indonesia, westren, pastry, camilan, pelajari semuanya."
"Gara-gara kamu tuh," kataku mendorong lengan Sam. Pemiliknya menaikkan alis dengan santai. Bersikap seolah tidak mempunyai salah sama sekali. Cih, menyebalkan!
"Seria, kamu membantah papa?"
Aku menggeleng secepat kilat. "Tidak, Pa. Aku akan belajar memasak."
"Bagus, kamu memang putri papa."
Telapak besar dan hangat menimpa tanganku. Sam?
Dia mengulas senyum tipis. Senyum yang seolah membujuk aku untuk baik-baik saja akan keadaan yang ada. Kemudian itu tidak dapat dikontrol, aku merasa sungguh baik-baik saja.
Kenapa imbas dari perbuatan Sam selalu terasa begini. Cepat menyerap ke dalam hati dan positif sekali.
"Pa." Kami telah selesai makan malam. Sam juga telah pamit untuk pulang. Lalu penasaran akan kalimat Sam tadi membuat aku memaksa diri datang ke ruang kerja papa meskipun hari telah larut.
"Kenapa kamu belum tidur?"
"Ada yang mengganjal di kepala, Pa. Tidak dapat berhenti dan membuat kepalaku sakit. Itu sungguh menganggu."
Aku mendudukkan diri di kursi hadapan papa. Sementara itu, papa sibuk membaca kertas di tangannya. Ini padahal waktunya beristirahat, namun papa masih saja bekerja. Hah, papa memang pekerja keras.
"Katakanlah, papa akan mendengarkan."
Kalimat yang telah aku siapkan tiba-tiba tertahan di ujung lidah. Keraguan menyeragap sekujur tubuh. Tentu karena sama-sama telah mengerti bahaya dari langkah yang akan diambil. Namun di dalam sana ada pusaran rasa ingin tahu yang semakin besar dan besar. Jadi aku harus bagaimana? Timbangannya kini sama rata. Antara ragu dan ingin tahu.
"Seria?"
"I-itu..."
Ujung-ujungnya aku menggaruk tengkuk karena tidak tahu harus mengambil langkah yang mana satu.
"Itu?"
Sepenuhnya papa tidak memperhatikan aku. Namun dari tanggapannya yang terus ada, aku kira dia memang bersedia mendengarkan.
"Loh Seria, kenapa belum tidur?"
Yah malah mama datang. Sudahlah, sepertinya ini memang bukan waktu yang tepat.
"Katanya ada yang mengganjal di kepalanya."
Kerutan sama di dahi mama kian jelas seiring sosoknya yang mendekat. "Maksudnya, kamu sakit?"
Brakk
Debaman meja membuat aku dan mama sama-sama mengelus d**a.
"Kamu sakit?"
Kekhwatiran mengental di dalam manik papa. Sangat berbeda dari tatapannya ketika tadi membaca dokumen.
"T-tidak, Pa. Aku sehat."
Bukannya percaya, papa malah mendorong tubuh, lalu mengulurkan tangan ke dahiku. "Tidak panas."
Tentu saja. Aku memang tidak sakit.
"Tapi mungkin ada yang sakit dengan psikologis kamu. Jelas sekali, kamu bilang ada yang mengganjal di kepala, bukan?" lanjut papa membuat aku menyesal telah mengatakan kalimat sebelumnya.
Papa menarik tangan dan mengangkat telepon ke telinga. Tangan kanannya menekan angka-angka secara cepat.
"Papa mau menelpon siapa?"
Alih-alih menjawab papa malah menempelkan telunjuk ke bibirnya untuk mengisyaratkan diam. "Halo, Rich. Tolong datang kemari."
Ya Tuhan. Aku lupa bahwa papa sangat paranoid akan sakit. Ringan maupun berat, baginya itu sama-sama menakutkan.
Lalu aku pula si bodoh. Berkata berbelit-belit hingga papa jadi salah menafsirkan. Hadeh!
***
06:45
Hari ini aku datang lebih lambat dari biasanya. Jangan ditanya, ini karena papa. Dia tidak akan mengizinkan aku sekolah kecuali telah menghabiskan sarapan empat sehat lima sempurna dan meminum vitamin.
Yang menyebalkannya papa sampai memerintahkan aku memakai jaket bulu tebal dan kaos kaki panjang untuk menjaga kehangatan tubuh. Oh jangan lupakan juga, bekal sehat yang harus dihabiskan bersama vitamin.
Argh, papa menyebalkan. Aku hanya mengatakan ada sesuatu yang mengganjal di kepala. Eh papa malah mengira ada yang bermasalah akan psikologisku. Itu belum seberapa sampai papa menyuruh Dokter Rickard untuk memeriksa kepalaku, katanya takut ada luka di dalam sana.
Ayolah, aku hanya bermaksud menanyakan masa kecil papa. Apa benar orangtuanya memperlakukan dia sama seperti dia memperlakukan aku. Hanya itu.
"Seria."
Otomatis kakiku berhenti karena panggilan tersebut. Begitu menoleh ternyata adalah Adelin dan dayang-dayangnya.
Jangan bilang mau membuat masalah. Come on, aku masih kesal akan papa loh. Tidak baik jika dia ternyata juga ingin menorehkan kekesalan.
"Lihat apa yang aku dapat?"
Dia mengayunkan ponsel di tangannya. Ada apa dengan itu? Apa yang dia dapat?
"Sini, lihatlah."
Inginnya sih tidak, tapi rasa penasaran membabi-buta. Akhirnya aku mendekat, menarik ponselnya.
Sialan! Dia mengubungi Ian. Masih sebatas perkenalan saja. Namun karena Adelin si medusa ini menggilai Sam, aku jadi berpikir dia mungkin saja akan membocorkan fakta kepada Ian sebagai serangan.
Kukembalikan kasar ponselnya. "Apa maumu?"
"Tidak ada, hanya menyapa saja."
Tidak mungkin. Wajahnya saja menunjukkan tawa miring. Jelas ada maksud jahat di baliknya.
"Kau mau memberitahunya hubungan aku dan Sam, bukan?"
Telapaknya naik ke bibir. Yang menyebalkan lagi ekspresi terkejut yang dibuat-buat olehnya. "Ups, ketahuan."
Sialan! Dia benar-benar mau mencari masalah.
"Apa kamu berpikir itu akan membuat kamu mendapatkan Sam?" Aku berdecih. "Cih, tidak akan. Sam tidak menyukai kamu, Adelin. Berhenti bertingkah murahan begini. Aku takut Sam malah semakin tidak menyukai kamu."
"Jadi maksudmu hanya kamu yang disukai oleh Sam?"
Sengaja kusibak rambut panjangku. "Tentu saja. Dia hanya menyukai aku. Kamu bahkan dapat melihatnya jelas dari cara Sam memperlakukan aku. Sepenuhnya itu berbeda dari caranya memperlakukan kamu."
"Brengsek."
Sosoknya langsung tepat di depan mata, mendorong tubuhku hingga menghantam dinding yang dingin. Damn! Tulangku ngilu dibuatnya.
"Kamu hanya alat. Berhenti seolah lebih tinggi dariku, sialan! Itu membuat perutku sangat mual hingga ingin muntah di atas wajahmu menjijikkanmu ini."
"Cobalah," tantangku. "Aku yakin Sam akan semakin tidak menyukaimu. Jelas saja, kamu kasar dan tidak punya akhlak. Jauh berbeda dari aku sekali."
Cengkramanya di kedua sisi tubuhku mengencang. Beruntung aku menggunakan jaket bulu tebal, jika tidak maka dapat dipastikan akan ada bekas kemerahan dari kuku panjangnya tersebut.
"Aku memang berbeda darimu. Sangat-sangat berbeda. Karena aku adalah Sam. Sam adalah aku. Kami berbeda darimu. Bukankah itu jadi membuat kami cocok? Lalu kamu? Sam bahkan tidak pernah menunjukkan kenormalannya sebagai laki-laki padamu. Bukan hanya karena kau tidak cocok baginya, tapi dia juga tidak tertarik! Kau resmi hanya sebuah alat."
"Kau berkata seolah Sam pernah menyentuhmu. Menjijikkan benar."
"Ya itu sangat menjijikkan dan juga kenyataan."
Adelin mendorong bibirnya ke telingaku. Hembusan nafas tidak beraturannya terasa jelas dan panas. "Dia menyukai eksistensiku, tubuhku dan jiwaku. Sepenuhnya, dia menyukaiku sepenuhnya."
Saat ia kembali menarik tubuh seulas senyum miring tercipta angkuh. "Sekarang kamu tahu kan kenapa dia tidak pernah melarang aku masuk di antara kalian?"
Adelin menyibak rambut hitamnya yang hari ini sengaja dibuat bergelombang. "Aku seperti berlian di hatinya. Sangat-sangat berharga. Kamu juga tidak mungkin lupa bagaimana dia rela mengeluarkan banyak uang demi hadiah ulang tahunku, bukan?"
Ya aku tidak lupa. Itu awal yang mempertegas keyakinanku bahwa Sam memang menganggap Adelin begitu berarti.
Adelin menarik tangannya dan menepuk-nepuk pelan seolah di sana adalah virus menjijikkan yang harus segera disingkirkan. Benar-benar sialan. Dia sengaja memancing emosiku.
"Dengar, Seria."
Tatapannya berubah normal saat mata kami bertemu. Jika begini, maka aku khawatir akan hanyut ke dalam kalimatnya.
"Kamu memang memiliki dua tangan, tapi kamu tidak dapat menggunakannya untuk memeluk dua orang secara penuh. Tanya pada hatimu, mana yang kamu cintai dan mana yang membuat kamu merasa dicintai. Keduanya adalah hal yang berbeda. Persamaannya hanya sama-sama sulit dilepaskan. Yang satu adalah keinginan dan yang satu adalah kenyamanan. Kamu tidak dapat memiliki keduanya, maka lepaskan sesuatu yang harus dilepaskan. Biarkan dia terbang pada kebahagiaannya."
"Aku mengerti mana yang ingin aku miliki. Tapi aku tidak bisa melepaskan Sam." Sungguh, aku tidak bisa melepaskan Sam. Dia adalah kunci hidup nyamanku saat ini. Jika aku melepasnya semua akan menjadi huru-hara. "Aku tidak bisa, Del."
"Jika kamu tidak bisa melakukannya." Tatapannya berubah menjadi runcingan es yang siap menusuk. "Aku yang akan melakukannya! Dia tidak pantas hanya menjadi alat untuk perempuan egois seperti kamu. Ayolah, apa kamu tidak merasa bersalah menumbalkan perasaan orang lain untuk kebahagiaan kamu?"
Tentu aku merasa bersalah. Di saat yang sama baru mengerti bahwa justru akulah yang memperlakukan Sam seperti sebuah alat. Namun mau bagaimana, aku masih hidup dalam ketakutan. Belum ada keberanian untuk melakukan pemberontakan.
Tangan Adelin mendorong tubuhku menghantam dinding. "Jauhi Sam!" tekannya tajam. "Jika tidak, maka jangan salahkan jika aku akan memaksa Ian yang memutuskan rantai kalian berdua."
Tanganku terkepal erat menahan panas di dalam d**a yang akan meledak. Awas saja jika dia benar-benar melakukannya, apalagi sampai aku dan Ian berantakan. Maka tidak ada lagi kata segan dariku untuk menghajarnya.
"Ayo."
Dia memutar tubuh, membawa dayang-dayangnya kembali melangkah.
Aku pula hanya terdiam dengan kepalan yang masih erat. Dia tidak boleh menghancurkan aku dan Ian. Juga tidak boleh memutuskan rantai aku dan Sam. Terlepas dari kegeoisanku, aku akan segera mencari solusinya. Namun untuk saat ini aku ingin Adelin menjauhi lingkaran maupaun irisan kami bertiga. Dia tidak boleh campur tangan.
Tidak boleh!
Karena Sam adalah intinya, maka aku akan menekannya dari sana.
Baiklah, mari kita cari dimana inti Adelin tersebut untuk menyelesaikan masalah.
***