"Pagi, sayang."
Mama menarik kursi. Duduk segera bersebelahan dengan papa.
"Tidak ke kantor, Pa?"
Meskipun hari minggu, biasanya papa juga akan ke kantor untuk mengurus job desk pribadi atau menemui rekan bisnisnya di luar. Sangat aneh jadinya karena pagi ini papa malah duduk dengan pakaian kasual.
"Tidak. Papa dan mama mau main golf. Mau ikut?"
Aku menggeleng. "Sam telah mengajak pergi memancing. Ada ancamannya pula kalau aku tidak mau ikut. Jadi aku tidak akan mengambil resiko."
Senyum meledek terulas di bibir papa. "Sekarang sudah dekat ya."
"Dekat apanya?" sungutku. "Kami masih seperti orang asing."
Benar kan? Sam masih lebih berpihak pada Adelin. Bukannya cemburu atau bagaimana. Tapi itu memanglah kenyataan. Meskipun saat ini perlakuan Sam padaku melewati batas orang asing atau pertemanan, nyatanya itu masih kalah dengan porsinya untuk Adelin.
"Seperti orang asing? Sam tidak menganggap kamu?"
"Bukan begitu, Pa. Hanya saja belum ada tanda-tanda kedekatan kami seperti sepasang kekasih yang seharusnya. Bahkan kecocokan juga begitu. Ya mungkin kami benar-benar tidak cocok."
Aku menarik piring dan mengisinya demi pengalihan. Kalimatku itu sedikit mengandung nuklir. Kalau papa merasakannya, dia mungkin saja akan meledak. Jadi aku berpura-pura tidak bersalah agar dia berpikir bahwa yang aku katakan memanglah ketidaksengajaan.
"Tapi dia tidak kasar kepada kamu kan?"
"Tidak, Pa. Namun dia memang begitu kepada orang lain. Emosinya suka meledak-ledak. Terkadang aku jadi merasa takut."
Bukan bermaksud menyudutkan Sam, namun sifat pemarah memang bagian darinya. Papa sendiri jelas tahu aku tidak menyukai itu. Lalu bonus lainya dari kalimat tersebut, papa mungkin mulai berpikir Sam tidak pantas untuk aku.
"Setidaknya dia tidak melakukan yang sama kepada kamu. Bukankah itu jadi menunjukkan kamu berbeda daripada yang lain di hatinya?"
Kilatan gusar melintas di mata papa. Mungkin dia berhasil berpikir bahwa aku membantah. Kenyataannya memang iya. Aku mencoba menumbangkan perintahnya dengan cara halus. Dan sangat mengerikan karena cara halus itu tetap memicu kemarahannya.
"Belajarlah menerima. Tidak ada orang yang benar-benar seperti yang kamu harapkan."
Kini semuanya malah menjadi begitu jauh. Memang sebaiknya aku tidak menyinggung papa bahkan sekecil apapun.
"Papa mengerti bahwa kerusakan mental kamu telah menciptakan trauma terhadap kekerasan. Jika kamu berpikir bahwa dengan memiliki pria lembut adalah jalan untuk mengatasi, maka kamu salah. Ketakutan harus dihadapi. Bukan dengan terus bersembunyi di zona nyaman. Hal lain yang perlu kamu tahu, hidup adalah ketidakadilan. Kesedihan dan penuh kekerasan. Yang bisa kamu lakukan untuk tetap bernafas nyaman adalah menerimanya, lalu bergerak menghadapai."
"Ya ampun, Papa. Pagi-pagi kok udah emosi."
Telapak tangan mama naik mengelus-elus punggung papa. Aih, aku jadi membuat suasana sarapan menjadi berantakan. Seharusnya tadi aku memilih menuruti alur pembicaraan yang papa inginkan saja.
"Bukan begitu, Ma. Seria perlu tahu. Dia didominasi oleh kehidupan fiksi yang serba menyenangkan. Itu jelas hanya ada di kepala saja. Sementara di luar sana, kekerasan dan ketidakadilan merajalela. Tidak mungkin dapat hilang dua atau bahkan sepuluh tahun ke depan. Yang bisa Seria lakukan hannyalah belajar menerima dan menyesuaikan diri."
Kutarik senyum tipis. "Aku mengerti, Pa." Keadaan harus segera dikembalikan sebelum semakin mengerikan. Tentunya aku harus mengikuti alur jawban yang papa inginkan. "Seperti kebanyakan orang. Aku memang selalu mengidam-idamkan kehidupan yang nyaman dan jauh dari segala kerusuhan. Tapi papa benar, di hidup ini penuh dengan kekerasan dan ketidakadilan. Jika aku tidak pandai beradaptasi dari sekarang tentunya aku akan terkejut di masa depan."
"Bagus kalau kamu mengerti." Senyum yang tercipta di bibir papa membuat atmosfer berubah lenggang. Mama bahkan ikut tersenyum.
"Begitu saja tidak tahu."
Dasar Aera! Bilang saja dia iri karena papa menunjukkan perhatian. Memang terkesan galak, tapi isinya adalah kekhwatiran akan nasibku jika tidak dapat menerima kenyataan dunia yang ada. Ya papa memang baik. Hanya terkadang begitu egois demi melaksanakan kebaikannya.
"Wajar saja. Kamu kan anak manja."
Terserahmu. Aku tidak peduli.
"Eum.." Papa mengunyah makanannya saat memandangku. Kelihatannya ingin mengeluarkan kata, namun masih menunggu isi mulutnya berkurang. Jadi aku pun menunggu sembari memotong daging chicken katsu.
"Bagaimana jika kamu mengambil kelas bela diri?"
"Papa serius?" Itu sangat jauh dari mintaku loh.
"Kenapa tidak? Kamu ini terlalu soft. Di dunia keras seperti ini pasti akan sulit bertahan."
"Tapi aku kan tidak selemah itu, Pa."
"Jangan membantah, Seria," sergap papa langsung. Aku pun hanya bisa mengerutkan bibir pasrah. "Ini demi kebaikan kamu. Nanti soal pendaftaran biar papa yang mengurus. Mungkin sebaiknya Sam juga mendaftar. Dia perlu bela diri untuk menjaga kamu."
"Sam tidak memerlukan itu, Pa. Dia sudah pandai menghajar orang tanpa ampun."
"Bagus."
"Papa mah aneh. Orang kasar begitu dibilang bagus."
"Papa tidak mengatakan bagus untuk maksud selain agar dia bisa melindungi dirinya sendiri dan kamu."
"Kalau begitu aku muay thai saja ya, Pa?"
Dahi papa berkerut halus. "Muay thai?"
Aku mengangguk mantap. "Itu terdengar lebih menarik daripada jenis taekwondo atau karate."
"Taekwondo dan muay thai."
"Loh kok jadi dua, Pa?"
"Iya, agar kamu semakin tangguh."
Papa mengakhirinya dengan senyum. Pembantahan yang akan keluar pun berakhir di ujung lidah. Keputusan papa tidak boleh diusik, apalagi di saat papa menyukainya seperti ini.
Dentingan sendok kasar menarik leherku untuk melihat ke arah Aera.
"Apa?" katanya seolah tidak mengerti apa yang baru saja dia perbuat. Itu memang hanya dentingan kasar, tapi maknanya bisa kemana-mana. Contohnya bagi aku hal tersebut barangkali bukti ketidaksukaan Area akan apa yang aku dapat dari papa. Lalu bagi papa mungkin dia berpikir Aera tidak menyetujui keputusannya. Bisa dibilang Aera ini kerap berbuat tanpa mengetahui maknanya. Kalau dia terkena masalah, nanti aku juga yang sedikit tidaknya menjadi kambing hitam.
"Selesaikan makan kamu."
Tuh kan. Papa langsung membatasi aku dan Aera. Pastilah karena dia telah berpikir bahwa Aera sungguh tidak ada di pihaknya. Lebih kasarnya lagi, mungkin berpikir Aera sungguh bukan putrinya. Lalu demi membuat Area merasakan hal tersebut dia pun menarik aku menjauh. Menciptakan kesepian atau mungkin perasaan diacuhkan.
"Aera, apa kamu mau ikut kelas bela diri juga?"
Suara mama sangat lembut. Sebagai ibu dia pasti tidak mau melihat putrinya diabaikan, ya sekalipun tahu bahwa kesalahan memang datang dari putrinya tersebut. Dan memang begitu yang selama ini mama lakukan. Dia tetap berusaha membela Aera halus, meski selalu tidak berbuah manis.
Aku terkadang ingin melakukan yang sama, namun sirna segera saat teringat sikap sinis Aera. Dia sejak awal tidak menganggap aku sebagai saudarinya. Kata Bibi Feli itu dikarenakan aku mengambil perhatian papa dan mama darinya. Pemikiran yang dangkal benar.
Sebagai anak yang lebih muda tentu aku membutuhkan lebih banyak perhatian darinya, tapi itu tidak berarti perhatiannya hilang semua. Terbukti meski papa dan mama menyayangiku, mereka tetap tidak lupa memperhatikan Aera. Sayang dia egois. Mengira perhatian harus penuh untuknya seorang saja. Alhasil dia mencarinya dari kakek dan mengkhianati papa.
"Untuk apa? Bela diri hanya melindungi fisik. Dibandingkan hal itu lebih baik aku mengasah otak agar mampu bersaing secara dalam. Bukan hanya melindungi fisik, namun juga mental dan pikiran."
Aku tidak mau melihat lebih lanjut tatapan papa. Itu telah berubah menjadi kilatan emosi. Dasar Aera! Suka benar menyiram bensin ke dalam api. Padahal dia sendiri telah mengerti seberapa menyakitkannya ketika terbakar.
"Aku benar bukan, Ma?"
Astaga dia masih melanjutkan. Sengaja benar ya membuat papa meledak?
"Di dunia ini bukan hanya kekerasan dan ketidakadilan. Tapi ada juga tentang kelicikan. Itu malah yang lebih banyak dan juga sulit diatasi. Hampir setiap orang bersembunyi dibalik topeng, bermain puluhan drama manipulatif, melancarkan kata-kata manis yang dibaluri kental oleh kelicikan. Jika kita tidak memiliki kecerdasan mumpuni, bukan hanya fisik yang terluka. Tapi juga pikiran hingga mental. Lalu, untuk apa fisik terlindungi jika inti di dalam sana dimanipulasi?"
Kudorong segera pandangan lembut pada papa. "Sepertinya yang Kakak Aera katakan juga ada benarnya. Mungkin selain belajar bela diri aku juga perlu mengasah kecerdasan. Karena aku belum sampai ke kelas dua belas, ada banyak waktu luang yang terbuka. Jadi aku pikir aku juga mau masuk ke kelas psikologi untuk lebih mengenali diri, lalu juga kelas matematika untuk berpikir rasional dan juga kelas bahasa asing dan public speaking untuk menambah skill berinteraksi. Bagimana menurut papa?"
Papa mengangguk kecil bersama senyum tipis. Syukurlah. Aku khawatir papa akan meledak. Masalahnya bukan hanya Aera yang terkena imbas, namun juga mentalku sendiri.
"Ide bagus. Anak papa memang pintar. Nanti akan coba papa carikan tempat yang berkualitas. Tapi karena bulan ini kamu akan mulai belajar muay thai, papa pikir kamu cukup mengambil kelas psikologi dahulu. Bahasa asing dan public speaking di bulan berikutnya. Jadi kamu akan tetap merasa santai."
"Aku setuju."
Mama melempar senyum lembut. Berterimakasih karena aku berhasil mengendurkan kepanasan atmosfer yang hampir terjadi. Aera sih. Ngomong tanpa berpikir. Sudah tahu papa emosian, malah dipancing segala.
***
"Sam, masa papa menyuruh aku belajar taekwondo."
"Itu bagus," balasnya tanpa melepas pandangan dari apa yang ia kerjakan. Kami baru sampai di sebuah dermaga beberapa detik yang lalu dan dia langsung bergegas memasang umpan. Sungguh antuasias sekali.
"Kamu bisa melindungi diri ketika berhadapan dengan penjahat."
Ia melemparkan kail pancingan ke tengah. Riak air bergelombang kecil. Perlahan merembet hingga ke tepian. Jika dilihat sekilas memang ada ikan yang berkeliaran di dalam sana. Ya semoga saja Sam bisa mendapatkan salah satunya.
"Bukankah itu jadi terdengar sangat keren?"
"Iya sih. Tapi taekwondo kan ribet."
"Memang sudah pernah mencoba?"
"Belum." Dan aku pun jadi tercengir lebar saat Sam melempar tatapan malas.
"Coba dulu. Nanti baru kamu tahu sebenarnya itu memang ribet atau malah pikiran kamu saja yang ribet."
Iya juga. Jangan-jangan malah pikiranku saja yang ribet. "Oh iya. Kata papa kamu juga harus latihan bela diri."
Lehernya bergerak cepat. "Aku?"
"Iya. Katanya kamu juga perlu tahu cara melindungi diri sendiri.."
"Dan kamu?" potongnya.
"Ck, giliran soal ini kamu cepat paham."
Dia tertawa kecil. "Jelas aku paham. Papa kamu itu sangat menyayangi kamu."
Kuayunkan kaki di bawah sana yang tergantung. "Sayang apanya? Papa tidak pernah memberikan aku kebebasan untuk mengurus sendiri lingkaran yang aku punya. Itu tidak dapat dikategorikan sebagi afeksi. Yang benar adalah keabsolutan."
"Namun alasannya baik, demi kebahagiaan kamu. Benar kan?"
"Aku juga terkadang berpikir yang sama. Tapi, itu hanya tentang apa yang papa inginkan. Maksudku, aku memang ingin bahagia. Namun kebahagiaan yang aku maksud adalah hal berbeda dari apa yang papa pikirkan."
Kumiringkan pandangan menuju Sam. Bola matanya yang serius menyerap perkataaanku sedikit membantu kelegaan. Setidaknya ada yang tahu isi hatiku sebenarnya. "Aku ingin seperti kamu. Bermain bebas di dalam lingkaran untuk menciptakan masa depan yang sepenuhnya tentang aku."
"Jadi menurutmu itu terdengar menyenangkan?" Dia menggeleng kecil setelahnya bersama seulas senyum kecil. "Kebebasan itu penuh resiko, Seria. Tidak akan ada tangan yang terulur saat kamu terjatuh atau hati yang mampu menerima sepenuhnya. Kenapa? Karena bahkan kamu jelas tahu bahwa kebebasan adalah kesalahan. Lalu ada hari tertentu dimana kamu harus terus beradu dengan rasa ingin dianggap seperti orang lain atau tetap egois. Ada juga hari dimana kamu kehilangan kompas dan tidak seorangpun pemandu muncul. Kamu tersesat, berjalan dengan harapan seolah itu yang terbaik namun nyatanya yang terjadi adalah sebaliknya. Semakin tersesat dan bingung."
"Tidak semua orang mampu dengan kebebasan. Tapi pikiran kamu jelas akan selalu berkata begitu. Karena yang ada di sana hanyalah keindahannya saja, tidak dengan resiko."
"Aku sebenarnya sama seperti Deni." Pandanganku teralih pada riak air laut. Namun pikiranku sungguh tidak ada di sana. "Aku mengerti harapan-harapan papa. Semuanya bermuara ke hal yang sama, kebaikan. Tapi papa memang bukan Tuhan yang dapat membaca pikiran, perasaan dan masa depan. Hal baik yang mereka persiapkan barangkali bertentangan dengan jalan hidup aku yang sesungguhnya. Dengan demikian maka aku memang sungguh butuh kebebasan. Karena ini adalah tentang aku, bukan papa."
"Kalau begitu apa kamu siap dianggap pemberontak seperti aku? Menerima tatapan merendahkan sepanjang waktu? Lalu bagaimana jika kamu tersesat? Apa kamu siap putus asa karena tidak memiliki siapa-siapa?Yang lebih penting lagi, apa kamu yakin kebebasan yang kamu ambil adalah yang paling terbaik? Bagaimana jika akhirnya yang kamu usahkan dengan keras tersebut adalah yang terburuk? Kamu siap kah menyesal?"
Pertanyaan-pertanyaan Sam seperti busur panah. Terus menusuk dan menusuk, padahal tadi aku sudah sangat yakin benar akan jawabanku.
"Jika kamu siap dengan semua konsekuensinya seperti aku, maka ambilah jalan tersebut. Tapi perlu aku ingatkan sekali lagi, kebebasan bukan tempat bermain. Melainkan tempat dimana kamu akan kehilangan segalanya yang bernama kasih sayang. Memang kamu dalam perjalanan pencariannya lagi, tapi beberapa orang malah justru tidak dapat menemukannya. Sebaliknya, mereka terendam dalam dunia hitam yang lengket dan pekat."
"Seperti pamanku. Dia memilih kebebasan dengan siap. Jadi kini saat dia terjebak dalam dunia gelap atau tepatnya kita katakan dia hidup dalam kesalahan, hatinya tidak sakit. Namun sebaliknya, dia menerimanya penuh bahagia. Karena itu adalah konsekuensi. Sekalipun dia kehilangan keluarga atau melukai banyak orang, dia tidak menyesal."
Tangan Sam menepuk pelan bahuku. "Aku mengerti perasaan yang kamu simpan di dalam sana. Tapi ini hanya tentang kemampuan pikiran kamu yang siap, tidak dengan kamu seutuhnya."
Kuanggukkan kepala pelan. Bahkan Sam juga mengerti. Aku memang selalu mendamba-dambakan kebebasan. Dimana aku dapat melakukan segalanya sesuka hati dan berpikir itu adalah kebahagiaan hakiki. Sam benar, itu hanya yang pikiran aku katakan bukan realita sebenarnya.
Sedari kecil aku sebenarnya telah telah mengerti. Bahwa sekali aku terbang bebas, maka aku tidak dapat kembali pada papa. Tidak mendapatkan kasih sayang, perlindungan dan petunjuk arah. Aku akan sendiri di dalam lingkaran hitam tanpa lentera. Berjuang mati-matian tanpa bisa mendapat hadiah kecuali dari diri sendiri. Itu adalah realita asli kebebasan. Sebuah padang gersang yang harus aku kelolah susah payah. Harus siap pula jika seandainya nanti malah tidak ada hasil sama sekali. Tempatnya sungguh berbeda dengan yang aku pikirkan.
"Dapat." Sorakan Sam serta tubuhnya yang langsung menjulang sedikit mengejutkan. Gurat bahagia menghiasai wajahnya seiring tangannya yang terus memutar katrol pancing.
Begitu sampai di darat, aku benar-benar melihat ikan tersangkut di kail. Cukup besar untuk dua orang.
"Wah beneran dapat. Aku kira kita akan pulang dengan tangan kosong."
"Itu tidak mungkin terjadi. Aku adalah rajanya memancing."
Pongkahnya. Baru juga satu ekor yang dapat.
"Seria, tolong tempatnya."
Aku menggeser box es di sisiku kepada Sam. Dia kemudian memasukkan ikan tersebut ke dalamnya. Tentu saja setelahnya lanjut memancing. Aku yang tertelan bosan memilih bermain ponsel dan mengunyah snack. Sesekali Sam mendorong wajahnya ke arahku untuk mendapatkan suapan.
"Dapat."
Aku memutar mata malas. Ini telah kali kesembilan Sam mendapatkan ikan. Mana ukurannya selalu memuaskan pula. Ck, sepertinya dia memang raja memancing. Tapi masalahnya setiap aku ajak beranjak dia selalu menolak. Mengatakan satu lagi, namun akhirnya sampai juga beberapa kali. Cih! Aku sudah lelah tahu di bawah terik begini.
"Bagaimana kalau kita memancing ke tengah."
Aku mendongakkan kepala padanya, masih mengunyah keripik kentang di saat yang sama.
"Aku akan menyeawa boat."
Dia beranjak pergi. Kuikuti punggung tegapnya hingga berhenti di sebuah bangunan sederhana berdinding kayu. Ia berbincang-bincang sesaat, tak lama langsung menaiki sebuah boat warna silver.
"Ayo naik," katanya begitu berhenti di sampingku.
Yah sepertinya itu lebih menarik. Aku mengirimkan lebih dulu box es, kresek penuh camilan dan minuman, juga pancingan Sam. Setelahnya aku melompat pelan ke dalam boatnya.
"Aku tidak tahu kalu kamu ternyata bisa membawa boat," kataku begitu duduk di sampingnya.
"Sekarang kamu tahu bahwa tunangan kamu ini memang sangat hebat. Bagaimana? Terpesona?"
"Tidak sama sekali."
Gelakan kecil yang manis muncul menghias bibirnya. Juga bersama guratan bahagia tanpa cela. Aku salah melihat atau memang nyata, dia berbeda dari saat semalam tertawa bersama Adelin. Padahal momen itu terlihat lebih bahagia daripada saat ini.
"Kamu tunggu di sini saja."
Dia mematikan mesin dan beranjak ke sisi belakang boat yang tidak memiliki atap.
"Aku juga tidak berminat di bawah panas seperti kamu."
"Benarkah? Aku kira kamu akan datang karena rindu."
"Eww, untuk apa aku merindukan kamu?" Apalagi jaraknya hanya dua meter saja. Memang gila pikirannya tersebut.
"Tentu saja untuk mencintaiku."
Gimana-gimana? Rindu untuk mencintaku. Kok gak maksud ya? Ah sudahlah, dia kan memang aneh. Segala dipikirkan pula.
Kusanandarkan tubuh pada punggung kursi dan menarik camilan baru. Ian msih masih berurusan dengan praktik kemarin, jadi dia tidak dapat menanggapi pesanku untuk sementara waktu. Ya begini jadinya, aku mendengarkan lagu dan makan camilan sambil memandangi Sam.
Berulang kali dia berhasil mendapatkan ikan. Sorakan bahagia tentu saja akan mengudara begitu ia merasakan pancingnya ditarik. Melihat dia yang terlampau bahagia ini membuat aku seperti melihat sosok lain dari dirinya.
Bukan sosok Sam yang biasa dipenuhi tatapan ketidakantusiasan, namun sosok Sam yang seharusnya. Bahagia dan melepas tawa. Dia pantas mendapatkannya setelah begitu banyak daftar kemirisan hidup sejak kecil.
"Seria, air."
Suaranya mengalun manja. Sungguh sisi Sam yang lain. Kulemparkan sekaleng cola dari box es. Agak amis karena telah bergabung dengan ikan.
"Terimakasih, sayang."
Lihat! Dia juga semakin suka menggoda. Ini jelas bukan sosok Sam yang lama.
Langit biru semakin cerah. Awan putih berarakan bersama angin. Lembut menerpa wajah dan sedikit membuat aku merasa tidak terlalu gerah.
Ngomong soal langit cerah, background itu segera aku manfaatkan untuk mengambil beberapa foto. Setelah usai aku memeriksanya, kemudian terpikir untuk mengambil foto Sam diam-diam. Pasti hasilnya akan sangat candid.
Aku benar-benar melakukannya. Menjepret beberapa foto Sam. Punggung tegapnya mempesona benar. Aku dibuat seolah melihat punggung pangeran kerajaan. Eum, tapi tidak menyenangkan karena wajahnya tidak terlihat.
"Sam."
Dia memutar tubuh. Alisnya berkerut bingung. Cekrek. Aku tersenyum melihat hasilnya. Seperti orang kebingungan, tapi tidak membuat dia terlihat buruk.
"Diam-diam kamu mau menyimpan fotoku ya?"
Sam mendekat, mendudukkan diri di sampingku. Tangannya merebut ponsel dan mengarahkan kamera depan pada kami. "Cepat, biar sekalian aku simpan nanti."
Kudorong kepala sedikit ke arahnya dan tersenyum. Sam juga melakukan yang sama hingga foto berhasil tertangkap.
"Kirimkan padaku nanti."
"Tidak mau," tolaku sembari menjulurkan lidah.
Siapa sangka malah membuat kepala aku mendapat hadiah berupa jitakan Sam. Aish, kan sakit.
"Sama selingkuhan baiknya bukan main, tapi sama tunangan durhaka."
Kurengutkan bibir karena Sam melanjutkan dengan mendorong pelan pelipisku. "Sakit tahu."
"Ulululu."
Di luar ekspektasi benar. Dia mengalungkan tangannya ke leherku dan membawa aku masuk ke dadanya. "Sayang-sayang, jangan nangis ya."
"Aku bukan anak kecil, Sam!"
Cih malah tertawa. Dasar Sam gak jelas. Tapi entah mengapa, ketidakjelasan ini justru hangat di hati. Berbeda benar dengan kejelasan yang aku jalani bersama Ian.
Tidak mungkin!
Aku hanya terbawa suasana. Benar, aku hanya terbawa suasana. Aku tidak mungkin menyukai ketidakjelasan ini. Tidak mungkin!