Empat Puluh

1856 Words
"Capek banget," keluh Zion langsung menjatuhkan diri di atas rumput. Peluh menghiasi kedua pelipisnya, beberapa tetes jatuh ke lehernya, turun ke badan dan berakhir menembus kaos hitamnya. Aku juga tidak kalah dipenuhi keringat. Perjalanan ternyata cukup jauh ketika kembali ke tenda. Alhasil dengan tenaga yang perlahan surut, keringat pun bercucuran lebat. "Nyai, air." Tangan Zion menggapai-gapai di udara. Kutepis cepat dan menjatuhkan diri di sampingnya. Ransel telah menjadi ringan saat aku membukanya. Tidak ada lagi makanan maupun minuman. Aih, terpaksa masuk dulu ke tenda. "Tangkap." Kuputar leher pada suara Devi. Ia melempar sebotol air. Secara sigap aku menangkapnya. Cepat-cepat membuka penutup dan menyesap banyak. Tenggorokan kerontangan sejak tadi. Jadi begitu air masuk, dingin menyeragap. Ah, segarnya. Setelah puas kualihkan botol pada Zion. Dalam sekejap isinya tandas. Ia melempar ke sembarang arah dan melenguh. "Panas banget sih. Ini padang masyar atau gimana?" "Elah lembek banget lo," ejek Devi ikut duduk di dekat kami. "Salahkan jalannya yang menguras emosi." "Woi, mau mandi gak lo?" teriak Kevin dari kejauhan. Ia kemudian mulai mendekat bersama peralatan mandi dan handuk. "Mandi di mana?" Seingatku tidak ada sungai di sini. Ataukah aku hanya tidak tahu faktanya? "Di sana." Dagunya mengedik ke arah selatan. "Ada mata air besar. Tapi bergantian, cowok duluan." "Ayo deh." Zion berdiri. Menyeret ranselnya malas untuk ikut bersama. "Capek," keluhku menjatuhkan kepala pda bahu Devi. "Gini mah malah bikin emosi alih-alih relaksasi." "Tahu ah. Katanya sih untuk meningkatkan daya tahan kita selama ulangan nanti." "Dangkal banget penjelasan kamu," cibir Mila. "Nih begini penjelasan Pak Robert. Kegiatan tadi adalah olahraga kecil. Nah olahraga itu dapat meningkatkan beberapa hormon seperti; hormon endorfin untuk penghilang stress, hormon dopamin untuk perasaan baik, serotonin untuk menciptakan perasaan nyaman dan senang, dan triptofan untuk pembentukan protein. Jika semua hormon tersebut dapat kita tingkatkan maka pasti akan membuat ulangan minggu depan berjalan baik. Masa begitu aja gak bisa jelasin," tandasnya dengan wajah pongkah. "Jelas kamu tahu," sambung Aliya sinis. "Bahan cari perhatian di depan Pak Robert." "Udah beristri loh, Mil," kataku memberi peringatan. "Nanti kamu diserang sama istrinya lagi." "Ya gak masalah. Akhir-akhir ini pelakor lagi ngetren. Kalau aku jadi salah satunya tinggal masuk ke kumpulan para pelakor saja untuk mendapat dukungan. Selesai, bukan?" Kugedikan dahu dari Devi pada Mila. "Dev, rukiyah gih." *** "Mil, nyalain api sana." Devi keluar dari tenda. Telah segar dengan kaos berwarna putih dan celana panjang hitam. "Kayunya mana?" "Aduh, kita juga yang harus turun tangan," keluh Zion seakan tahu apa yang selanjutnya kami perintahkan. Kevin berdiri dari posisinya. "Ayo deh, sebelum semakin gelap. Nanti ada hihihi-nya lagi." "Ngaco kamu," sembur Zion sembari ikut berdiri. "Nyai, aing nyari kayu dulu." Kuanggukkan kepala pelan. Menyesal kemudian karena itu membuat Zion melanjutkan dengan ciuman jarak jauh. "Lapar." Mila meringusut jatuh ke karpet. "Ho'o, pasti gara-gara kecapekan nih," sambut Devi setuju. "Begini ceritanya mana mungkin rileks." Iya juga. Alasan dari kegiatan ini tampaknya tidak sinkron dengan yang terjadi di lapangan. Aih, jadi menyesal pula dibuatnya. "Ser, ada camilan gak?" tanya Mila dengan binar harap. "Roti?" "Snack?" "Sebentar." Kubongkar tas untuk mencari snack. Tidak butuh waktu lama aku telah berhasil mendapatkannya. "Tangkap." Kulempar satu sncak pada Aliya di depan. Membagi juga kepada Devi dan Mila. Sama-sama lelah, jadi kami tidak membuka suara. Hanya suara gemeretak snack yang terdengar. "Kalian tidak memasak?" Arkan muncul dari belakang. Kondisinya tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Tetap tampan dan segar, namun lebih bersih dengan pakaian baru. Dia kurasa satu-satunya yang tidak kehabisan energi setelah perjalanan panjang. "Zion dan Kevin lagi mencari kayu," balas Devi. "Kami sudah memasak air. Kalau kalian mau menyeduh mie, ayo." Devi merubah posisi menjadi duduk. "Serius?" "Tentu saja." Tangannya mengusikku cepat. "Ayo, Ser." "Masa mie lagi? Semalam, tadi pagi dan siang sudah makan mie loh." Perutku rasanya mulai bosan. "Memangnya selain itu kamu membawa apa?" "Lauk pauk, tapi tidak ada nasinya." Itupun dari Ian. Jika dia tidak mengirim, dipastikan aku memang hanya memakan mie dan roti-rotian. "Sudahlah, mie saja lagi." "Tenang," sambung Mila. "Kamu tidak akan mati jika memakannya terus dalam tiga hari ini." Benar sih. Tidak ada orang yang mati karena memakan mie. Sengaja aku mengambil dua cup. Kasihan juga Zion. Wajahnya telah bergurat lelah dan perutnya pasti sangat lapar. "Untuk Zion?" Aku membenarkan pertanyaan Devi lewat anggukan. "Kamu bawa yang punya Kevin." "Keenakan dia dong." Meski menggerutu begitu Devi tetap mengambil satu cup tambahan untuk Kevin. Agak canggung saat kami sampai di tenda Arkan. Bukan hanya karena keberadaan cowok yang jarang berinteraksi dengan kami, tapi juga beberapa perempuan gatal yang sengaja duduk di sana untuk mendekati Arkan. Bahkan sebelum kaki kami mantap berpijak di depan Arkan, mata-mata mereka telah menusuk tajam. Untungnya kami membawa Devi sang medusa beraura iblis. Jadilah sedikit mampu merasa lebih angkuh. "Biar aku bantu." Arkan merebut lembut cup di tanganku. Dia lalu menepuk karpet di sampingnya. Saat aku mulai duduk, tangannya sibuk membuka penutup cup dan berlanjut dengan bumbu. "Aku punya ramyeon cup dan soba. Kalau kamu mau, ayo tukaran." Ah iya ramyoen. Harusnya aku membawa yang itu. Rasanya pasti lebih lezat. "Mau?" tawarnya membawa pandanganku dan dia bertemu. "Boleh." Dia beranjak sesaat, kembali dengan satu cup ramyeon. Seperti yang sebelumnya, dia menyiapkannya sendiri tanpa beban. Lima belas menit berakhir. Kami menerima masing-masing cup dan bersiap untuk kembali. "Terimakasih, Ar." "Sama-sama." Senyum tipis tercipta di bibir merahnya. "Besok pagi datang saja kesini kalau kamu butuh air hangat. Dan ini donat kering untuk camilan. Semoga kamu suka." Rasanya tidak mungkin karena perintah Sam. Kebaikannya ini mulai berlebihan untuk ukuran orang tidak cukup dekat sepertiku. "Terimakasih." Rasa ingin menjauh selanjutnya membumbung cepat. Dia baik, tapi entah kenapa aku tidak nyaman. Mungkin karena matanya yang tidak lepas dariku itu atau perhatiannya? Entahlah. "Enak banget nasib lo." Devi masih menunjukkan rasa irinya hingga kami kembali ke tenda. Padahal aku tidak merasa itu diperlukan. "Cuma ramyeon kali, Dev." "Tapi ramyeon spesial. Diseduh sendiri sama Arkan. Mana ditambahkan sekalian dengan telur, kimchi, daging asap dan dapat hadiah camilan lagi." Kukira dia iri akan perlakuan Arkan, eh ternyata pada ramyeon yang aku terima. Dasar Devi. "Arkan dan Sam itu tidak akur kan?" Nah begini enaknya makan bersama, sambil bergosip. Apalagi topiknya sudah dipancing oleh Mila. Kami hanya tinggal menyambungkan saja. "Dari rumornya sih begitu." Devi menyambung sebagai pihak kedua. "Bukannya sudah jelas?" tanya Aliya, bergabung menjadi pihak ketiga. "Sifat mereka bertolak belakang." "Tapi masa di sekolah sampai seolah tidak saling kenal? Berlebihan sekali." Aku mengangguki pertanyaan Mila. Arkan dan Sam tidak pernah menunjukkan jalinan mereka satu sama lain di sekolah. Persis benar seperti orang asing. Sangat berlebihan atau tepatnya keterlaluan mengingat tali mereka adalah persaudaraan. "Tidak ada yang berlebihan untuk sebuah masalah. Kalau memang harus terjadi ya tetap terjadi." Akurat juga perkataan Aliya. Masalah itu kalau sudah waktunya terjadi ya terjadi. Mau masuk akal atau berlebihan tidak akan menjadi masalah. "Loh kok udah pada makan aja?" Zion menjatuhkan ranting-ranting kayu penuh kelesuan. "Kalian sungguh membuat aing sakit hati." "Siapa suruh kelamaan," dengusku. "Nih." "Aaa nyai baik deh. Jadi semakin sayang." Segera dia mendudukkan diri di sampingku. Tentunya harus beradu mulut lebih dulu dengan Devi untuk merebutkan tempat. "Seria?" Satu nama, tapi semua orang di lingkaranku mengangkat kepala. "Tadi kamu bilang mau nasi. Kebetulan temanku ada yang membawa nasi instan." Cup nasi instan tersebut terulur. Aku sangat menginginkannya, tapi dia juga mungkin butuh. Lagipula sudah terlanjur menyantap mie. "Untuk kamu saja. Aku sudah terlanjur makan mie." "Ambilah." Dia mengulurkan lebih dekat. "Nanti perutmu malah kelaparan malam-malam." Ada benarnya, namun aku masih merasa tidak enak hati. "Ini." Tapi dia sudah mengantar. Pastilah telah melalui pertimbangan termasuk memikirkan perutnya sendiri. "Terimakasih." Hanya senyum yang ia berikan sebagai balasan. Senyum begitu manis dan lembut. Efeknya ke hati jadi terasa aneh sekali. Hangat dan um sedikit tersentuh. "Kaki tangannya raja iblis kali," bisik Zion. "Sam dan Arkan tidak sedekat itu ya," celetuk Devi langsung. "Tapi kan bisa saja dia mengancam Arkan untuk memperlakukan nyai baik." Kemungkinan dari perkataan Zion lumayan juga. Sam ahlinya mengancam. Zion sendiri sampai patuh. Mungkin juga berlaku kepada adiknya. "Sam bukan jenis orang yang suka meminta pertolongan." Suara Aliya sedingin kutub. Membekukan keraguan yang akan mengudara. "Dari mana kamu tahu?" sinis Mila. "Ya tahu lah kami kan.." Kalimatnya terputus. Kedua kelereng indahnya berlari cepat saat aku serang oleh kebingungan. "Kami?" "Maksudku kita sudah dua tahun di tempat yang sama dengannya. Wajar saja aku mengetahui sikapnya. Apalagi saat kelas 10 dia begitu mencolok. Siapapun tidak bisa berpura-pura tidak tahu." Penegasan teramat lugas. Sedikit aneh karena ia seolah mengindari sesuatu. Sama seperti yang dilakukan matanya tadi, tapi kalimat itu benar. "Benar juga. Tapi kan.." "Dia menyukai Seria," sela Kevin. "Kamu gila!" sembur Zion. " "Kenapa tidak? Seria adalah dewi kecantikan. Cowok seperti Arkan tidak mungkin tidak menyukainya. Hanya saja dia didahului oleh Sam." Penjelasan Devi membuat Zion manggut-manggut cepat. "Benar juga. Nyai aing secantik bidadari. Tidak ada yang tidak jatuh hati kecuali benda mati." "Ser, pertunangan kalian memang ditentukan ya?" Pertanyaan Kevin sarat akan keingintahuan. Meski kami berteman, tapi dia jarang masuk ke pusat lingkaran. Lebih sering tidak peduli dan berujung menjadi yang terakhir tahu. Ya seperti ini. "Iya." "Tidak bisa gitu ditukar dengan cowok lain?" tanyanya lagi. "Tidak." Tepukan menghantam bahuku. "Banyak-banyak bersabar," nasehat Zion seolah lupa dia baru saja membuat aku hampir tersedak. "Dan juga zikir," tambah Kevin. Wah, wah kompak benar kalau membully orang. Dasar duo curut. *** "Sinyal tidak ada," keluh Mila berguling-guling. "Aku ada." Dia bangkit secepat kilat. "Loh? Kok bisa?" "Entahlah. Sam mengotak-atik ponselku sebelum ini dan mengatakan aku wajib melapor padanya. Semalam tidak tampak perubahan apa-apa, tapi sepertinya kini berguna." "Beuh gila, perhatian banget tuh raja iblis." "Telepon gih cowok lo," celetuk Devi dari sudut tenda. "Nanti jadi gue yang dijerat ribuan pertanyaan lagi." Tanpa dia bilang aku memang telah berniat menelepon Ian. Dia perlu tahu sedikit kabar agar tidak gelisah. Aku sendiri juga mau melepas rindu melalui suaranya. "Seria?" Keriangan nyata berada di dalam suara Ian. Berati tepat seperti dugaanku, dia memang gelisah. "Aku baik-baik saja." "Kirimkan fotomu." Baiklah, dia memerlukan bukti. Kurapikan sedikit rambut sebelum mengarahkan kamera untuk mengambil selfie. "Cantik kan?" tanyaku setelahnya. "Sangat. Syukurlah, aku sempat berpikir yang tidak-tidak." "Kamu memikirkan aku? Apa tidak ada pekerjaan lain?" sindirku setengah terkikik. "Jangan bercanda. Sekarang kamu bagian dari hidupku. Tentu saja kamu masuk di kepalaku." Sesuatu yang tidak terkendali menarik bibirku untuk sebuah senyum. Ya ampun, begini saja rasanya sudah bahagia. Sederhana benar. "Kamu sudah makan?" "Sudah." "Makan apa?" "Mie lagi." "Mungkin aku bisa mengambil izin besok untuk mengantarkan makanan." "Sepertinya tidak usah. Akses ke tempat kemah kami buruk dan jauh dari keramaian. Kamu akan sulit menemukannya." "Ya Tuhan, kenapa kalian memilih tempat seperti itu. Apa tidak bisa sedikit di dekat keramaian?" gusar Ian. "Ini keputusan pemandu." "Ak.." Suara Ian terputus-putus. Selang beberapa lama tidak terdengar apa-apa. Tanda sinyal di atas layar juga berubah merah. "Yah sinyalnya hilang." "Aku tarik kembali pujian untuk Sam," celetuk Mila. Ya sepertinya aku juga. Eum, tadi Ian mau mengatakan apa ya? Semoga bukan keputusannya untuk tetap menyusul. Bukannya tidak senang, tapi aku tidak mau merepotkan. Dia juga masih terikat kegiatan belajar. Nanti malah mengganggu pula. Dan lagi akses ke tempat ini memang sulit. Aku tidak mau sesuatu yang tidak dinginkan terjadi padanya. Hanya tinggal satu hari juga. Kami akan kembali bertemu. Sekarang harus rela bersabar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD