Tiga Puluh Sembilan

1836 Words
Kami sampai di hutan saat matahari hampir masuk ke peraduan. Mau bagaimana lagi. Meski kami berusaha cepat nyatanya perjalanan cukup jauh. Masing-masing wali kelas memberikan perintah untuk segera mendirikan tenda. Anak-anak cowok dipaksa lebih cepat agar dapat membantu kami para perempuan. Jadi aku, Mila dan Aliya enggan bergerak. Toh selain akan dibantu, kami juga tidak tahu cara mendirikan tenda. Devi yang memiliki sedikit skill pula berjuang sendirian. "Semangat, Dev. Kami bantu doa," teriak Mila memberi semangat. "Mending gak usah sama sekali," balasnya tajam. Kami cekikikan akan emosinya. "Yee malah jadi beban." Zion setan! Datang-datang main menjitak saja. "Kev, cepat bantu!" Tekanan paksa dalam kalimat Devi menjadikan wajah Kevin mendengus masam. "Minta tolong kayak perintah jendral kompeni." "Siapa yang minta tolong?" tanya Devi dengan tengilnya. Owalah, suka benar menciptakan keributan. "Oh bukan minta tolong. Ya udah." Kevin duduk di samping Zion. Kekesalan meluap-luap naik ke wajah Devi. "Kevin!" Dengan santai dia menopang dagu. "Apa, sayang?" "Ewww, menjijikkan." Pertengkaran-pertengkaran kecil mereka berlanjut beberapa saat. Selesai kemudian dengan kekalahan di tangan Kevin. Dia tidak tahan akan suara paksaan Devi yang tidak berkesudahan. "Tuh selesai." Kevin mendudukkan diri di samping kami selang beberapa puluh menit. "Apalagi?" sentaknya. "Kemasi barang-barang kalian." Devi menendang bekas kaleng minuman ke pada Kevin. "Santai aja kali." "Dasar mengantropus! Zi, balik yuk." "Gih pergi jauh-jauh." Dua orang ini lama kelamaan sepertinya harus dicomblangkan. Kalau bersatu pasti seru sebab perang selalu berkemungkinan terjadi. Tontonan yang menyenangkan. "Ser, ayo." Aku beranjak, mengekori Mila masuk ke dalam tenda. Sumpek terasa kental. Barangkali karena baru masih bersama gerah sisa perjalanan. "Seria." Devi menerobos masuk membawa suara besarnya. Syukur telinga ini telah terbiasa. Jika tidak aku pasti akan budek. "Nih dari Ian." Beberapa toples dia letakkan di depanku. Dari kaca jernihnya aku dapat melihat bahwa isinya adalah lauk pauk dan kue kering. "Gara-gara kamu tas aku jadi seberat batu," keluh Devi kemudian. "Yee salah sendiri. Kenapa tidak dari tadi memberitahu. Kan aku bisa membantu." "Apalagi? Semua karena kekasihmu itu. Dia memaksa aku membawakan agar kamu tidak kesulitan." Ya ampun. Ian perhatian sekali. Jadi makin sayang deh. "Begitu mendengar kamu akan pergi berkemah dia kalang kabut sendiri. Kemudian segera memerintahkan koki membuat makanan. Ah, kapan aku akan mendapat perhatian semacam itu?" "Makanya pacaran!" suruh Mila. "Tuh sama Kevin. Mumpung dia masih belum digembok oleh perempuan lain." "Kevin sang manusia bego itu? Cih! Lebih baik tidak sama sekali." "Eh jangan begitu, nanti kena karma loh." Kusambung kalimat Mila, "nanti malah bucin setengah mati. Kan malu sama harga diri." "Kalian berdua sepertinya mau terkena pukulan ya?" Kompak kami menggeleng dan menahan tawa yang hendak melesak keluar. *** Hari kedua ini pula kami akan pergi menjelajah. Menyenangkan rasanya melihat kehijauan di setiap sisi. Belum lagi hembusan angin segar memasuki hidung. Pernafasan terasa begitu nyaman benar. Imbas lainnya pikiran menjadi teramat lenggang. Ide tepat sebelum dibombardir oleh ulangan minggu depan. "Nay, kamu tidak ada niat gitu mendekati Sam?" Perempuan berkacamata di sampingku itu tersentak dari pandangannya pada pepohonan yang menjulang tinggi. "Maksudku, mengejar dia." Kepalanya menggeleng kecil. "Dia terlalu jauh." "Justru itu, kamu harus mendekat agar bisa memiliki dia." Dia masih menggeleng. "Tidak, Seria. Dia sangat-sangat jauh. Pertama, aku harus menyeimbangi sikap dan emosi sesuai kepribadiannya. Kedua, aku harus siap mendapat imbas dari jalinan yang ada. Dia bukan pria baik-baik. Begitu masuk ke lingkarannya akan ada banyak hal besar yang dapat terjadi. Ketiga, setidaknya aku wajib memiliki beberapa nomor dari list tipe perempuan yang dia inginkan. Ini cukup berat mengingat Sam adalah pria kompleks dari segi emosi maupun kekuasaan. Dan terakhir, ada Adelin di pusat lingkarannya. Dia tidak akan membiarkan rumput seperti aku masuk apalagi sampai menjadi bunga yang dikagumi oleh Sam." "Ya ampun, kenapa juga perempuan seperti dia harus ditakuti." "Seria, ini bukan soal ketakutan." Ada kekesalan yang melesak dari matanya saat kami bersitatap. "Jadi?" "Kekuasaan. Dia memiliki hak istimewa itu di dalam lingkaran Sam. Bukan hal tabu juga bagi para perempuan kalau Adelin akan menghadang mereka mendekati Sam baik dengan niat tulus maupun sekedar menggerogoti harta. Pokoknya aku dan Sam benar-benar jauh." "Pesimis sekali sih. Kamu kan bisa mendekati langsung ke pusat, tidak perlu bersinggungan dengan Adelin." "Masalahnya Adelin telah berada di pusat juga, Seria!" Jawabnya kali ini lebih terdengar geram. Loh jangan salahkan aku. Aku hanya ingin dia mengejar perasaannya. Malah sebaliknya, dia harus merasa senang karena aku mendukung. "Berjuang dulu! Ayolah, ini demi perasaan kamu." "Aku rasa perasaanku tidak sedalam yang seharusnya. Barangkali ini hanya karena kagum. Itu sebabnya tidak ada dorongan menggebu seperti remaja perempuan lain ketika menyukai seseorang. Rasa meluap-luap untuk dibalas, keinginan mengejar dan mendapatkan perhatian. Aku tidak memilikinya Seria." Pandangannya jatuh pada tanah yang kami pijak. "Kadang aku memaksa diri mengakui bahwa aku mencintai Sam. Namun terlepas dari itu aku hanya terus berdiam di tempat. Aku tidak benar-benar mencintainya, Seria." "Baiklah, jangan bersedih begitu. Aku hanya merasa tidak suka Adelin di dalam lingkaran Sam. Ya kupikir kamu bisa masuk." Kepala Nayala memiring padaku. Pupil matanya tampak sedikit melebar dari yang biasa. "Kamu cemburu?" "Bukan!" tepisku tegas. "Aku hanya merasa Sam pantas mendapatkan yang lebih baik. Kamu sendiri juga tahu seperti apa Adelin. Dia bermuka dua dan arogan. Itu akan bertabrakan dengan sifat Sam. Kalau meledak bagaimana? Dia juga yang akan mendapatkan goresan panjang." "Apa kamu merasa kasihan?" Itu terlalu kasar, meski kepalaku mengerti hal itulah yang seharusnya. Bukan-bukan! Aku sungguh ingin Sam mendapatkan yang terbaik agar matanya tidak semakin dipenuhi luka. Terkadang memang hanya ketidakpedulian yang tampil. Tapi di lain waktu aku menyadari adanya luka di dalam manik Sam yang berbaur bersama kesepian dan keinginan kasih sayang. Aku tidak tahu sejak kapan jadi semengerti ini akan Sam, tapi begitulah yang aku tahu. Dia hampa. Ingin sebuah kebahagiaan. "Atau mungkin kamu merasa bersalah karena berpaling dari Sam?" Sejak kejadian di perpustakaan aku memang menjalin hubungan bersama Nayala. Aku yang paling mendominasi dengan keluh kesah, tapi Nayala tidak keberatan dan malah membantu menyemangati. Kupikir sejak itu Nayala resmi masuk ke dalam lingkaran. Kemudian tentang pertanyaannya. Itu kemustahilan. Kenapa aku merasa bersalah berpaling? Hatiku memang sejak awal tidak terisi namanya. "Tidak. Aku tidak merasa bersalah untuk itu." "Lalu?" "Entahlah. Mungkin perasaan kemanusiaan. Dia pria yang baik, jadi pantas mendapatkan yang lebih baik pula." "Ya, dia pantas. Tapi aku benar-benar tidak dapat membantu. Perasaanku dangkal. Takutnya malah menjadi sebab Sam terluka kemudian hari ketika menyelam." Nayala benar. Dia tidak bisa maju. Itu hanya akan membuat Sam lebih terluka lagi. Jadi siapa? Tidak mungkin Devi. Jelas-jelas sifatnya berlawanan dengan Sam. Ataukah Mila? Aih, dia mah pencinta kesempurnaan. Sam akan semakin terluka bersamanya. "Seria, aku rasa bukan itu yang tepat untuk kamu urus." "Jadi apa?" "Menjauh lah dari Sam." Lidahku tiba-tiba terasa sulit bergerak. Ada bantahan bergejolak di dalam d**a, namun terkalahkan oleh kebenaran yang kemudian diangkat Nayala. "Kamu tahu jelas dia menyukaimu. Mengerti juga bahwa perasaan kamu hanya untuk Ian. Tapi kenapa kamu masih berpijak di lingkarannya?" "Ikatan kami." Itu alasannya. Ikatan erat yang tidak dapat diputus dengan mudah. "Itu adalah masalah kamu sendiri. Kenapa kamu melibatkan Sam? Bukankah jadi jelas bahwa di sini kamu yang paling berpotensi memberikan Sam luka mendalam?" Dingin menyerang lidah, membekukan pula gejolak pembantahan di hati. Isi kepalaku yang sempat terdengar berperang, kini membisu. Akulah yang paling jahat. Kenapa malah melabeli Adelin? Dia malah yang terbaik. Meski caranya didominasi oleh kekasaran, nyatanya dia hanya bermaksud melindungi Sam dari kesalahpahaman menyakitkan. Brukk Kebekuan mencair cepat, berganti dengan keterkejutan yang kemudian berakhir nyeri. "Seria." Arkan tergopoh-gopoh mendekati. "Apa kamu baik-baik saja." Mataku terangkat pada Nayala yang berhiaskan kekhawatiran. "Ya, aku baik-baik saja." "Nyai" Zion dari barisan depan berlari. Begitu sampai segera berjongkok dan memegang kedua bahuku. "Mana yang sakit?" Kutepis tangannya. "Sakit apanya? Aku cuma tersandung akar." "Ya ampun, Nyai. Makanya kalau jalan itu jangan sambil memikirkan aku." Pedenya ya ampun. Ngapain juga aku memikirkan dia. Tidak berguna sama sekali. "Ayo berdiri." Dia menarik tanganku. Argh, lututku nyeri sekali. "Lututmu terluka. Tunggu sebentar." Arkan menurunkan ranselnya. Tanpa peduli kerumunan yang melingkar dia mengobrak-abrik isinya. "Tahan sebentar," katanya saat mulai mengelap darah yang sedikit mengalir dengan kapas berteteskan alkohol. "Kalau sakit, peluk aja aing." Zion gila! Dih malah tercengir lebar pula. "Selesai." Arkan mengakhiri aksinya dengan menempelkan plaster. Gara-gara Sam nih. Main berkeliaran di kepala segala. Aku jadi hilang fokus dibuatnya. "Terimakasih." "Bukan apa-apa." Dia mengemasi lagi isi ranselnya. Duh jadi tidak enak hati. "Ayo." Zion memegangi bahuku untuk berjalan. Sedikit aku melirik pada Arkan. "Aku duluan." Dia tidak menjawab, tapi berbalik dan mengulas senyum. Terlalu manis hingga membuat beberapa opini burukku akan dia memudar. Mungkin dia memang player. Tapi di saat yang sama juga pria yang masih memiliki hati nurani untuk berbuat baik. *** "Nyai, mau sosis tidak?" Kudorong kotak makanan pada Zion. Belum sampai malah didahului oleh Kevin. "Jangan salah prioritas. Aing teman sepergoblokan kamu. Harus diprioritaskan lebih dulu." "Eww," celetuk Devi. Kevin menusuk sosis dari kotak makan Zion dan menyumpal langsung ke mulut Devi. "Gih modar sana!" Dalam tekanan batin ia mengunyah. Begitu selesai langsung memukul punggung Kevin hingga pemiliknya meringis. "Gila ya lo! Perempuan tapi gak ada kalem-kalemnya." "Gue cowok. Kenapa?" sentakan Devi menyusutkan Kevin ke pinggir. Cara aman mungkin menurutnya untuk memperkecil kecelakaan. "Nih nyai, makan yang banyak. Biar pipinya jadi bapau." Bukan hanya dua buah sosis yang Zion pindahkan ke kotak makananku, tapi juga mie dan telur rebus. "Zion ihh. Mienya jadi semakin banyak." Kukembalikan mie ke kotak makanannya. Dia tidak protes. Beralih membuka toples lauk Ian yang aku titipkan. Isinya adalah daging sapi lada hitam. "Harusnya kemarin membawa nasi instan," gumamku. "Ribet, Ser." Itu mah pendapat Kevin. Sesuai benar dengan dia yang anti ribet. "Lagipula cuma tiga hari. Makan mie begini mah cukup." "Itu karena maneh alien. Nyai aing mah beda." Kevin memutar malas matanya. Lagipula Zion memang berlebihan. "Udah cepat makan. Nanti keburu tamat waktunya." Waktu istirahat hanya empat puluh menit. Sudah habis sekitar 17 menit. Aku memang wajib cepat jika masih ingin bersantai sebelum lanjut memulai perjalanan. "Nih minumannya." Zion bahkan membukakan botol air untukku. Cukup bermanfaat lah untuk ukuran orang aneh sepertinya. "Seria, ini dari Arkan." Kedatangan seorang murid IPS 1 menyebabkan keributan bukan hanya di kelompok kami, tapi juga beberapa yang lain. Aku menerima kotak bundar sedang yang terulur. "Katakan terimakasih padanya." Dia mengangguk. Segera melangkah pergi kemudian. "Coba sini aku lihat." Zion hendak merebut, namun aku mengamankannya. "Jangan dikasih, Ser. Nanti malah masuk ke perutnya sendiri pula." Bukan seperti perkataan Kevin yang aku takutkan, tapi masalahnya aku menyukai isinya. Dari plastik transparan wadah terlihat jelas di dalamnya potongan buah bercampur yoghurt. Pasti lezat untuk dinikmati. "Yee si g****k sembarangan banget mulutnya." Tangan Zion masih berniat merebut. "Nyai, sini. Aing mau memeriksa. Takutnya ada merkuri lagi." "Bilang aja mau," sungutku seraya meletakkan kotak makan ke pinggir. Setelahnya aku membuka pemberian Arkan, mengambil sendok dan menyuapkannya ke mulut Zion. "Eum.." Dia mengunyah sembari sok berpikir keras. "Gimana?" tanyaku. "Oke, lulus dan mendapatkan akreditasi A." Sengklek! Ngomong-ngomong, semakin kesini kenapa Arkan semakin baik? Jangan-jangan benar kata Devi. Dia menyukai aku. Ah tidak-tidak. Dia memiliki banyak perempuan. Kebaikan seperti ini hanyalah hal kecil. Namun yang jadi masalah, kini beberapa orang mulai mengeluarkan opini yang sama. Matilah aku kalau ini sampai ke telinga Aera.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD