"Apa lagi yang belum?"
Mataku berpaling dari Sam pada tas. Di dalamnya telah ada empat setel pakaian santai, satu pakaian tidur dan dua buah hoodie. Aku juga menambahkan sweater untuk berjaga-jaga dari kedinginan malam. Sepatu cadangan tidak lupa aku masukkan.
Pakaian dalam, skincare dan make up tidak mungkin ketinggalan. Untuk bahan makan pula aku akan membawanya dengan tas jinjing.
"Charger, selimut, obat-obatan?"
Benda-benda yang Sam sebutkan segera aku periksa eksistensinya di dalam tas. Charger ada di tas bagian depan bersama kamera. Selimut ternyata juga telah ada.
"Obat-obatan belum. Memang perlu ya?"
"Suhu udara di sana lebih rendah. Waktu kemarin kamu terkena hujan saja begitu, jika terkena setengah suhu dingin pasti berpengaruh. Kan sama-sama merubah suhu asli kamu."
"Iya juga."
Aku beranjak membuka laci obat, menarik beberapa yang sering aku gunakan untuk di selipkan ke dalam tas.
"Aku akan berkemah di hutan belakang vila keluarga Deni."
"Loh jadi berkemah?"
Dia menggeleng. "Voting terbanyak ke Bali. Seperti yang aku katakan. Aku malas ke sana."
"Ya terserahmu saja."
Aku kembali di depan tas dan memasukkan obat-obatan. Setelah dikunci hasilnya begitu tebal dan lumayan berat. Punggung dipastikan akan sakit jika berlama-lama membawanya.
"Bagi dua. Letakkan di tas tangan," kata Sam menyarankan.
"Tas tangan untuk makanan."
"Dua-duanya?"
"Iya."
Bagaimana ini? Aku telah mengurangi jumlah pakaian. Jika semakin dikurangi maka dalam tiga hari tidak akan cukup. Tidak mungkin aku memakai pakaian sama mengingat telah mendapat bocoran bahwa aktifitasnya mengeluarkan banyak keringat.
"Sebentar."
Bukannya memberi saran lain dia malah sibuk dengan ponselnya. Tidak mau membuang waktu, aku mengambil kesempatan untuk mengemas makanan.
Yang paling mudah tentu saja makanan dalam cup. Aih, semenjak kenal dengan Sam aku semakin hobi makan instan, junk food dan makanan berminyak. Sejauh ini kulitku tidak menunjukkan masalah apapun, tapi ketakutan itu mengikuti. Sayangnya perasaan tersebut kerap melemah ketika rasa laparku menguasai.
Mungkin sebaiknya aku membawa beberapa saja dan memperbanyak sereal, oat, roti dan buah kering.
"Bagi dua."
"Terus, siapa yang membawa?"
"Zion."
Apa telingaku tidak salah dengar? Sam menyuruh Zion? Bukankah dia tidak suka interaksi antara aku dan bocah itu ya.
Suara notifikasi dari ponselku terdengar. Ah ternyata aduan Zion akan Sam yang menyuruhnya membawa sebagain barang.
"Ingat untuk selalu berada dalam rombongan dan simpan ini."
Dia menarik keluar kalung berliontin hati dari sakunya. "Ada pelacak lokasi di dalam liontin ini."
Pelacak lokasi? Yang benar saja?
Kubuka liontinnya. Jika biasanya orang-orang mengisi dengan foto. Ini justru berisi semacam kabel dan besi kecil yang mungkin benar seperti kata Sam, untuk melacak lokasi.
"Tidakkah ini terlihat berlebihan?"
"Jangan pikirkan itu, tapi manfaatnya. Aku tidak ada di sana. Bisa saja kamu menghilang dan tidak ada orang pintar yang mampu mencari solusi. Dengan ini aku dapat mengetahui di mana saja kamu berada."
Masuk akal juga. Aku tidak tahu kapan ada bahaya. Saat menghilang dari peredaran begitu belum tentu semua orang dapat menemukan aku. Keberadaan benda ini akan menjadi sangat bermanfaat.
"Baiklah."
Aku memasangnya. Mata Sam tidak berpindah dari leherku. Tak lama tampak muncul kerutan samar di dahinya. "Dimana lucky charm-mu?"
Ternyata gara-gara itu. Apa dia baru sadar? Sejak dia memberikannya kan aku telah berhenti memakainya.
"Aku menyimpannya."
Lebih halus daripada mengatakan tidak memakainya. Dia bisa berkemungkinan kecewa. Hal tersebut kemudian memicu kemarahan besar. Aih, membayangkan wajah Sam mengetat saja telah membuat aku merinding.
"Kau tahu?" Dia meletakkan kedua tangannya sedikit ke belakang di sisi tubuh. d**a bidangnya jadi tedorong ke depan. "Aku membeli itu dengan jerih payah."
Loh aku kira sisa hadiah untuk Adelin? Memang terdengar tidak masuk akal. Kenapa juga sisa? Itu adalah kalung. Tidak dapat dibagi dua. Kalau sedari awal untuk Adelin, pastilah Sam telah memberikannya. Lebih-lebih Adelin sahabat kesayangannya.
"Itu terlihat cantik di leher jenjangmu. Butuh beberapa bulan bagiku untuk mendapatkannya. Jujur, aku sedikit sakit hati saat tahu kamu tidak menyukainya."
"B-bukan begitu. Hanya saja kalung itu tidak mungkin selalu sinkron dengan outfit yang aku kenakan. Jadi aku.."
"Seria, apa menurutmu aku terlihat begitu bodoh hingga membuat kamu percaya diri membuat kebohongan begini?"
Bibirku terkatup erat. Bukan bermaksud setuju akan pernyataan Sam bahwa aku menganggapnya begitu bodoh untuk dibohongi, melainkan kebuntuan otakku menemukan jawaban tepat agar hatinya tidak terluka.
Eh, kenapa aku jadi peduli akan perasaannya?
"Iya! Aku memang tidak menyukainya. Puas?"
Kuberikan punggung padanya, lanjut mengemasi makanan ke dalam tas. Dia sendiri yang merendahkan diri. Kenapa jadi aku yang harus repot membersihkan luka dari hal tersebut?
"Kenapa jadi kamu yang marah?"
"Siapa yang marah?" sungutku kian kesal. "Kamu membuat luka untuk diri sendiri. Mana pantas aku marah. Toh kamu yang bermasalah."
"Maksudmu?"
"Sudahlah, Sam!" Dibahas juga dia tidak mengerti. Yang ada aku kian emosi dan masalah semakin melebar.
"Sensi sekali. Kamu datang bulan atau bagaimana?"
"Sammy!" teriaku.
"Iya-iya, aku keluar. Mau corn dog tidak?"
Sudah makan malam sih. Tapi bayangan corn dog menari-nari di kepala. Dalam sekejap perutku mengirim sinyal mau.
"Mau," kataku pada akhirnya.
***
Hari ini kami akan berangkat ke hutan untuk berkemah. Zion di sampingku masih merutuki Sam yang memaksanya membantu membawa barang. Bukan itu yang mengesalkan katanya, melainkan ancaman dari pria tersebut.
"Seria, dari Ian."
Aku menerima sweater yang diulurkan oleh Devi. Begitu sampai di tangan aroma parfum Ian menyeruak masuk ke penciuman. Loh ini miliknya?
Masih ada waktu, jadi aku menjauhi mereka dan menelepon Ian. Di jam delapan begini dia mungkin telah berada di kelas. Meski begitu aku tetap mencoba meneleponnya.
"Halo?"
Ternyata diangkat. Syukurlah. Aku tidak bisa yakin di hutan sana dapat menghubunginya sebab sinyal mungkin terganggu.
"Sudah masuk kelas?"
"Sudah, tapi aku masih di kantor OSIS."
"Ada urusan?"
"Menunggu telepon darimu."
Lembut suaranya sampai di hati. Menghasilkan desiran aneh yang menjalar ke bibir. Semakin kuat dan akhirnya berhasil menarik kedua sudut bibirku untuk melengkung.
"Bagaimana, dia sudah memberikan sweaternya?
"Sudah, ini mau langsung aku pakai."
"Aku tidak bisa menyusul. Jadi aku berharap kamu bisa melindungi diri sendiri. Jangan berpisah dari rombongan."
"Aku mengerti."
"Apa kamu membawa obat-obatan?"
"Iya."
"Ah di sana mungkin tidak ada sinyal."
Helaan berat Ian di sebrang sana yang sarat akan kekhwatiran menambah kesenangan di hati. Akan tetapi aku enggan dia larut di dalamnya. Kepergianku hanya 3 hari dan itu bukan hal yang perlu menjadi bahan kesedihan mendalam.
"Aku akan baik-baik saja."
Tidak ada jawaban darinya. Mungkin masih tidak dapat percaya mengingat tempat tujuanku cukup jauh dari keberadaannya saat ini. Dia juga mungkin khawatir tidak mampu mencapai aku ketika sesuatu terjadi.
"Ian?"
"Berusahalah memberikan kabar. Kalau kesulitan bergantung saja pada Devi."
Aku setuju akan kalimatnya. Meski begitu dia masih mendesah berat dan mengatakan kekhawatirannya. Itu menular padaku. Hanya sesaat sebelum aku tersadar bahwa ada begitu banyak orang yang ikut. Membalikkan situasi, aku mengatakan sederetan kalimat penenang.
Tidak dapat membasmi semua rasa khawatirnya, namun dia setuju untuk percaya. Panggilan akhirnya berakhir. Nomor lain menyusul masuk.
Nama Sam tertera.
Ada apa lagi? Dia sudah sejak semalam merecoki aku dengan ragam perintah dan larangan. Begini dan begitu. Semuanya menuju satu arti, aku harus baik-baik saja. Jangankan dia, aku sendiri juga tahu.
Kunaikan ponsel ke telinga sementara mata melurus pada sosok Sam di sebrang sana. Dia bersandar pada mobilnya dan menyesap rokok.
"Ada apa?"
Ia menarik rokoknya dan menghembuskan asap sesaat ke udara. "Jangan melepas kalung itu."
"Ya Tuhan, Sam. Kamu telah mengatakan itu hampir lima puluh kali loh."
Bukannya menanggapi, ia malah melanjutkan kalimat sarat perintah. "Selalu pakai sweater tebal. Perkiraan cuaca di hari ketiga begitu buruk. Aku akan berusaha menyusul meski agak terlambat."
Ya terserah dia mau menyusul atau tidak. Itu adalah haknya.
"Kau mendengarkan?"
"Iya!" balasku setengah kesal. "Sudah, aku matikan. Ini sudah waktunya berangkat."
"Hati-hati. Untuk sementara ini bergantung saja pada Zion. Jika dia tidak mau, paksa!"
Akhirnya Zion berguna juga bagi Sam. Meski ketidaksukaan masih jelas terpancar, tapi setidaknya mereka mulai berubah menjadi relasi.
"Nyai, cepat!"
Teriakan Zion memburu tanganku untuk memutus panggilan.Memang guru pemandu telah memberikan pengumuman untuk segera masuk ke dalam bus. Jadi tidak ada lagi waktu bagiku untuk meladeni Sam yang tampak terus mengintimidasi di sana.
"Kenapa dia berdiri di sana?" tanya Devi begitu aku mengambil duduk di sampingnya.
"Seperti janjinya. Dia bukan hanya tidak melarang aku dan Ian berpacaran, tapi juga menjaga jarak di keramaian."
"Penurut sekali."
"Ya aku harap juga begitu seterusnya."
Suara Aliya terdengar antara yakin dan tidak membuat bibirku menipis. Terbayang langsung akan saat Sam kembali memecah aku dan Ian.
Tidak-tidak! Jangan dipikirkan. Itu tidak akan terjadi lagi.
"Hai."
Sapaan lembut berhasil mengusir pikiran negatif yang tengah melayang-layang di kepala. Arkan duduk tepat di depanku dan kini ia tengah menoleh bersama seulas senyum.
Tunggu. Bus ini khusus kelas kami kan? Kenapa dia bisa masuk?"
"Tidak ada yang tertinggal?"
Mataku berkedip beberapa kali. "Apa?"
"Tidak ada yang tertinggal?" ulangnya tanpa melunturkan keramahan yang terpampang di wajahnya.
"Tidak ada."
"Bagus."
Dia kembali menatap ke depan. Kucolek lengan Devi dan mengedikan mata sedikit pada Arkan sebagai kode.
"Dagantara itu bebas," bisik Devi.
Aku lupa. Itu adalah kenyataan. Dagantara merupakan salah satu keluarga besar di kota ini. Pengaruhnya di setiap tempat terasa jelas. Terlebih lagi Dagantara sama seperti keluargaku, menyumbang cukup dana di Neptuna.
"Atau mungkin dia mengincarmu," bisik Devi lagi.
Ngawur! Sekalipun hubungannya dan Aera tidak baik dia memiliki perempuan lain.