Tiga Puluh Tujuh

1699 Words
Kupanggil pelan namanya. "Ian." Tanpa melepas sedotan ia mengangkat pandangan. "Eum?" Bola mata jernihnya berkilat polos. Ugh, menggemaskan sekali. "Kita kan sudah pacaran," kataku memulai kalimat. "Benar." Dia melepas sedotan dan menegakkan tubuh. Tampaknya berhasil membaca keseriusan yang tampil lewat wajahku. "Apa kamu keberatan jika aku tidak mempublikasikannya di sosial media?" Sangat disayangkan sebenarnya. Aku ingin sekali membagi kemesraan bersama Ian di sosial media. Dalam pacaran hal itu sangat wajar dan beberapa mengatakannya sebagai tuntutan pembuktian hubungan. Tapi aku tidak dapat berbuat sama. Jika Ian muncul di sosial media, maka papa akan tahu. Segalanya kemudian hancur berantakan. Itu adalah hal yang paling tidak aku inginkan terjadi. Tentu saja memaksa aku setuju untuk mengindar sejak awal. Meskipun terbaca jelas Ian bukan seorang yang menganggap penting sosial media, tapi aku tetap khawatir dia berpikir lain. Tidak dianggap kekasih adalah contoh salah satunya. Hal tersebut kemudian akan menjadi memicu sebuah permasalahan yang tidak ringan. "Tidak sama sekali." Damn! Kini malah skenario-skenario negatif berkuasa. Bisa jadi dia juga enggan menunjukkan kepemilikan agar tetap bebas. Argh Seria, jaga pikiranmu! "Kenapa?" "Itu tidak terlalu penting dibandingkan dengan komitmen yang kamu buat. Menurutku pribadi sih begitu." Tuh kan. Hampir saja mengira yang lain. Kulepas senyum sebagai pujian dari kebijakannya. "Itu benar. Beberapa pasangan terlihat sangat romantis di media sosial melebihi kenyataan. Pada akhirnya memang yang lebih penting itu komitmen." Dia membalas senyumku tak kalah manis. Sendok berisi ice cream taro kemudian naik sebagai hadiah. Mana mungkin aku sia-siakan. "Apa kamu punya banyak fans di Andromeda?" Pertanyaan yang cukup beralasan. Dia tampan. Proposi badannya seperti model dan ia membawa nama Hirataga sebagai kekuasaan. Ketiga-tiganya adalah hal yang disukai kaum hawa. Sangat-sangat dan berkemungkinan memicu tindakan agresif. Ah mengeringkan benar untuk dibayangkan. "Lumayan, tapi tidak sebanding denganmu." "Aku tidak menanggapi mereka lebih dari seharusnya." Dia butuh ini kan? Penenang dan pertimbangan untuk menyerahkan kepercayaan. Itu juga merupakan fakta. Aku tidak pernah menganggapi penggemarku lebih dari batasannya. "Aku juga begitu. Beberapa memang sangat cantik untuk ditolak, tapi dibandingkan penampilan, perasaan adalah yang perlu dipedulikan. Aku tidak mungkin berpura-pura dalam hubungan hanya karena rupa. Sesaat bahagia, kemudian menjadi hambar dan berujung perpisahan." "Ini berdasarkan pengalaman." Ia melipat tangan. Di kolam jernih matanya terlihat kabut-kabut yang tidak dapat kumengerti. "Paman keduaku telah memutuskan menikahi seorang model. Dia sangat cantik seperti Dewi Yunani. Itu adalah kebanggaan luar biasa baginya. Jauh sebelum itu padahal dia telah jatuh cinta dengan seorang perempuan desa berwajah penuh bintik hitam. Fakta lainnya, dia bisu. Pamanku mengkhianati perasaannya meski tahu benar isinya." "Lalu?" tanyaku penasaran. "Sekarang dia berharap waktu dapat diputar kembali. Perempuan desa itu menghilang dan istri cantiknya telah terungkap telah lama berselingkuh dengan para elit negara. Sepanjang hari ia hanya bisa berandai-andai gadis desa itu datang kembali dan ia akan merawatnya dengan sangat baik." Itu adalah akibat mengkhianati perasaan. Penyesalan yang tidak dapat terobati. Aku bersyukur karena memilih mengikuti perasaanku meski sempat menimbulkan perang bersama Sam. Jika tidak mungkin aku akan bernasib sama seperti paman Ian, menyesal dan berharap sepanjang hari. "Perasaan sangat penting." Aku tersentak karena tangan Ian menarik tanganku untuk bersatu. "Ketika aku menyukaimu segera aku mengambil waktu untuk memastikan. Dalam beberapa kali interaksi yang terjalin esensinya terlihat jelas. Aku menyukaimu, bukan hanya karena kamu sangat pas di pandangan, tapi juga masuk ke dalam hatiku." "Apa yang kita rasakan harus segera di utarakan, namun tetap butuh waktu untuk menemukan perasaan murninya. Begitu tahu esensinya, aku ingin mengambil waktu dengan mempersiapkan diri menjadi sesuai yang kamu inginkan. Lalu cerita pamanku melesak, menyadarkan bahwa aku tidak perlu sempurna untuk mengungkapkan perasaan. Bisa saja menunggu, tapi penyesalan akan begitu dekat. Kamu sendiri, bagaimana bisa menerimaku?" "Mungkin aku seperti pamanmu. Berpikir rupa sangat penting. Jadi di pertemuan pertama aku langsung jatuh cinta padamu. Aku tidak munafik, itu mungkin alasan utamanya. Namun lambat laun seiring interaksi aku menemukan sifat lembut adalah bagian dari kamu. Itu sesuatu yang selalu aku impikan dari seorang pria." "Jadi, bagimana jika aku tidak tampan?" "Itu tidak dapat dibayangkan karena faktanya kamu memang sangat tampan." Tawa kecilnya mengalun merdu. Aku tidak tahu dimana letak kelucuannya, tapi menyaksikan tawa tersebut membuat aku senang. *** Usai menikmati ice cream kami pergi ke toko buku. Ian sibuk di rak khusus bisnis. Aku pula hanya membaca judul-judul yang terpampang tanpa berniat mengangkatnya. "Selesai." Selang beberapa menit ia mengangkat empat buku super tebal. "Mau melihat-lihat novel?" Aku tidak suka membaca, termasuk novel sekalipun. Buku pelajaran saja hanya sesekali aku sentuh jika akan ulangan. Dalam kasus ini karena Ian yang mengajak, maka aku pun tidak mampu menolak. "Aku suka novel thriller dan dark fantasy," ujarnya seraya mengulurkan tangan pada buku yang terpajang. "Bagaimana denganmu?" "Tidak suka sama sekali. Cerita-cerita buatan begitu malah menambah pusing kepalaku." "Mau coba yang ringan?" tawarnnya. "Karena kamu adalah Ian, maka aku dengan senang hati menerima." "Mulutmu manis sekali." Entah pujian atau sindiran, tapi aku senang mendengarnya. Dia merekomendasikan beberapa buku dengan janji bahwa konfliknya ringan. Bahkan beberapa dari pilihannya bergenre komedi. Hal tersebut semakin menjamin bahwa isinya tidak berat. Aku setuju, mengambil dua dari rekomendasinya. Hari semakin petang saat kami keluar dari toko buku. Matahari bergerak turun kembali ke peraduan. Cahaya jingganya perlahan bercampur kegelapan, menimbulkan perpaduan hangat dan damai yang kontras. Pandanganku meluncur pada gerobak di sebrang sana. Tidak pernah aku merasa tertarik akan makanan seperti itu sebelum bersama Sam. Pikiranku selalu negatif akannya, tapi setelah bersama Sam segalanya berubah. Memang tidak sehat, tapi bukan tidak boleh sama sekali dikonsumsi. Meski beberapa curang, tapi bukan semuanya. Lagipula selama ini Sam kerap makan makanan begituan dan tidak pernah sekalipun aku dapati sakit. "Ian, aku mau itu." Matanya biasa saja sampai dia mengikuti arah telunjukku. "Kamu serius?" Kuanggukkan kepala. Dia sempat terdiam sebelum akhirnya mengambil tanganku untuk menyebrang. Di sana tidak ada parkiran mobil, jadi kami meninggalkannya di depan toko buku. "Beli apa, Mbak?" "Saya mau bakso dan sosis bakarnya. Masing-masing 10 tusuk." "Mau pakai saus apa, Mbak? Saus tomat, pedas atau kecap?" "Kecap saja." Kulirik Ian yang tampak mengamati makanan yang disajikan di atas pemanggang. "Kamu mau apa?" "Corn dog isi sosis." "Berapa?" "Dua saja." Tidak mungkin banyak. Dia pasti takut akan makanan seperti ini. Bukan hanya karena dia tidak terbiasa, tapi gaya hidupnya memang tampak lebih berkiblat pada kasta atas. Apa seharusnya aku tidak mengajaknya ya? Setelah ini dia mungkin berpikir bahwa aku tidak sesuai kastanya. "Saat aku kecil pamanku sering mengajak kuliner di pinggir jalan begini." "Serius?" "Iya. Pamanku adalah pria bebas. Dia tidak seperti golongan elit yang seharusnya. Beberapa kali aku mendapat teguran karena mengikuti gaya hidupnya. Akhirnya kedua orangtuaku mengirim aku ke sekolah asrama untuk belajar hidup seperti elit yang seharusnya. Saat itu aku masih berusia 5 tahun." Kami hampir sama. Sejak kecil telah terikat oleh tali. Hanya saja alasan aku dan dia berbeda. Begitu pula cara kami menganggapi. Ian tampak setuju, sedang aku ingin lari berbalut ketakutan. "Kata pamanku, jika seorang perempuan sanggup menerima dia dan sikapnya termasuk yang buruk sekalipun maka perempuan itu adalah yang terbaik. Aku selalu berusaha berhati-hati di dekatmu. Takut menunjukkan jati diri sebenar yang berkiblat kepada kebebasan. Berpikir tanpa analisis bahwa hal itu mampu menjadi alasan kamu untuk menghindar." "Tindakan kamu hari ini malah membuat aku merasa bodoh. Harusnya aku tunjukan saja seperti apa aku yang sebenarnya sebagaimana yang kamu lakukan. Jika tidak begitu, maka aku tidak akan pernah menemukan yang terbaik." Tidak mungkin. Dia juga seperti Sam. Hanya saja hidup dalam ketakutan sehingga memilih berhati-hati di setiap tindakan. Menutupi kemurniannya dengan cangkang begitu tebal. Sebaliknya, Sam malah membuka cangkangnya dan menunjukkan tanpa takut. Dia benar-benar bertanggungjawab atas hidupnya. Telapak tangan Ian perlahan menarik masuk tanganku. Dia menggenggam erat kemudian, menularkan semacam syukur dan terimakasih. "Aku tidak salah, kamu memang yang terbaik." Sejurus kemudian aku merasakan panas menjalari pipi. Beberapa darinya berlanjut turun menggelitik ke perut. Sensasi aneh, tapi terasa nyaman dan kemudian berubah kian menjadi-jadi seiring senyum Ian yang berkembang. Ah, sepertinya aku benar-benar jatuh cinta. *** "Bertemu striker Andromeda?" "Iya." Aku meletakkan buku pemberian Ian ke atas meja. Mata Sam segera menyorotnya. "Buku? Kalian berkencan di toko buku? Yang benar saja. Apa dia tidak punya ide lagi?" Tawa menggelegarnya benar-benar merusak mood. Apa salahnya berkencan di toko buku? Itu berbeda dari yang lain, jadi sangat berkesan spesial. Huh dasar Sam. Bilang saja dia cemburu. "Memangnya kenapa?" semburku kian tidak tahan akan gelak Sam yang berlanjut. "Kencan di toko buku juga spesial. Lagipula sebelumnya kami telah makan ice cream bersama." "Makan ice cream tidak dapat dikategorikan sebagai kencan, sayang. Sudahlah. Lain kali kamu pergi bersamaku saja." "Cih dasar tidak tahu malu! Mengambil kesempatan setelah menjatuhkan orang lain." "Aku bukan menjatuhkan orang lain, sayang. Aku hanya mengatakan bahwa gaya kencannya membosankan." "Memangnya gaya kencan seperti apa yang tidak membosankan menurutmu? Menonton?" Kepalanya menggeleng seiring garis tawa yang mulai tandas. "Apa kamu pernah berjalan-jalan di pantai pada malam hari? Berbaring di bukit hijau menikmati bintang-bintang atau mungkin keliling kota dengan ferari diikuti similar angin malam?" Tiga-tiganya tidak pernah aku alami. Ya mau bagaimana. Ini pertama kalinya aku berkencan. Sebelum ini aku tidak pernah berada dalam hubungan dengan pria manapun sampai tahap pacaran. Namun ketiga ide yang ia bicarakan terdengar menarik. Karena setahuku kencan yang banyak diusulkan oleh kaum adam adalah makan malam bersama, menonton film, berbelanja atau menonton konser. Semuanya adalah hal biasa. Ide-ide Sam pula terdengar begitu anti mainstream. Apa otaknya sendiri yang menyarankan ataukah dia membacanya dari internet? "Ngomong-ngomong akhir bulan ini sepertinya akan ada hujan meteor. Kedengaran bagus untuk menjadi kencan pertama kita." "Siapa yang mau berkencan denganmu memangnya?" "Tidak masalah jika kau tidak mau. Aku punya dua tangan untuk menyeret paksa." Sam menyebalkan! Semenjak keputusan barunya ia berubah semakin jahil untuk menggoda. Untung saja stok sabar masih banyak berkat kebaikannya yang sebelum ini. "Sudah makan malam?" Kumiringkan leher hingga manik kami saling bersitatap. "Kenapa? Mau memesan makanan kah?" "Tidak, aku berencana memasak." "Kalau begitu sekalian salad ya." "Mau dressing apa?" "Chili lime." "Akan aku coba." Sam beranjak, bukan hanya dirinya sendiri tapi juga menarik tanganku. "Ayo bantu." "Aku tidak pandai memasak, Sam." "Ayo. Setidaknya kamu perlu belajar untuk mulai melihat keistimewaan calon suamimu ini." "Calon suami darimana lagi? Jelas-jelas pacarku adalah Ian." "Tepat, dia pacarmu dan aku suamiku." "Mana bisa begitu." "Tentu bisa. Ayo." Dia menjatuhkan lengan beratnya ke bahuku. Merangkul untuk mengikutinya ke dapur. Astaga, seberat ini. Jangan-jangan dia hobi memakan besi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD