Tiga Puluh Enam

1861 Words
"Mau yang mana?" Kuangkat kepala dari layar ponsel yang menyala. "Coca cola saja." Dia meraihnya dari freezer. Menutup kembali dan beranjak. Otomatis aku bergerak mengekori. Meski begitu pandanganku hanya pada ponsel. Ian sedang bertanya rencana minggu ini. Aku mengajaknya makan ice cream. Dia setuju saja dan mengajak ke toko buku setelahnya sebagai tambahan. Tidak mungkin menolak. Membaca adalah hobinya. Sebagai pacar aku harus mendukungnya, terlebih itu menjurus ke hal baik. "Sampai kapan kau mau di sana?" Astaga, ternyata Sam telah selesai mengambil camilan. Aku tercengir lebar, membuat ia memutar malas matanya. Kami akan berada di bengkel Aero selama beberapa jam. Awalnya aku enggan ikut karena bau-bau dari oli dan karat yang mengudara. Tapi Sam menjanjikan ruangan pribadinya yang memiliki sofa dan televisi. Terdengar mantap untukku bersantai. Mungkin sambil menonton drama dan menikmati camilan akan membuatnya semakin baik. Setelah hari yang penat, aku rasa itu pantas dilakukan. *** "Ruangan nomor tiga itu," katanya memberikan aku sebuah kunci. "Ini camilannya." Kuterima kresek besar yang ia berikan. Di tangan kirinya masih tersisa satu, bagian dia dan teman-temannya. "Setelah selesai aku akan memanggil." Oke. Mari kita melihat seperti apa ruangan pribadi Sam. Nomor tiga ya? Ah itu dia. Kudorong kunci ke dalam. Bertepatan dengan itu tangan dingin menyentuh pergelangan tanganku. "Apa yang kamu lakukan?" Aelah Si Adelin lagi. Tidak bisa apa sehari saja tidak mengikuti Sam? Kulempar dagu ke arah Sam yang tengah mengambil kunci-kunci otomotif. "Tanyakan padanya." Tanganku langsung dihentaknya kesal. "Sam, apa kamu gila?" Dia berteriak, mengejutkan Sam hingga memutar leher. Alisnya tersungging pelan, bertanya 'gila' apa yang dimaksud oleh Adelin. "Kau mengizinkan dia masuk ke ruangan pribadimu." "Tidak masalah kan? Dia tunanganku." "Berhenti membodohi diri sendiri, Sam. Dia tidak menyukaimu. Keberadaannya di dalam sana bisa saja ingin mengacaukan dokumen pentingmu." Kurang ajar Si Adelin. Dia pikir aku apaan hingga mau mengacaukan dokumen Sam. "Kamu terlalu paranoid. Tunanganku tidak sejahat itu." Matanya bergeser padaku. "Benar begitu, sayang?" Terpaksa aku tersenyum dan membalas. "Benar, sayang." Baiklah, mari kita masuk sebelum Adelin meledak. Kuputar kunci dan menarik knop pelan. Ruang gelap menyambut. Kemudian melalui cahaya terang di luar tampak kulkas dua pintu berdiri kokoh di ujung sana. Tanganku bergerak meraba-raba dinding. Begitu mendapati saklar lampu, aku segera menekannya. Boom! Cahaya melahap habis kegelapan. Kini tampak jelas ruangan berukuran kecil dengan cat berwarna putih. Di dinding sisi kanan duduklah sofa abu-abu yang memiliki beberapa bantal di atasnya. Di bawahnya adalah karpet bulu abu dan di susul meja kaca di atasnya. Televisi 32 inchi ada di depan sofa untuk dinikmati. Rak-rak bagian bawah dari meja dimana televisi berada penuh buku. Bahkan di luarnya juga terdapat tumpukan buku-buku tebal. Sepertinya Sam tidak tahu harus menyimpannya di mana lagi. Kututup pelan pintu. Ketika mundur mataku terjebak dengan poster-poster di samping sisi kanan pintu. Foto-foto Sam bersama RedMan. Itu diambil setiap kemenangan sehingga mereka selalu memegang piala di setiap fotonya. Wajah Sam terlihat bahagia. Tentu saja, dia menang. Iya kan? Sudut mataku berhenti di foto Adelin. Itu hanya berdua. Dia dan Sam. Tidak ada tanda-tanda kemenangan karena tanpa piala, tapi mereka tersenyum sambil saling merangkul. Ah biarlah. Mau Sam memeluknya sekalipun itu bukan urusanku. Kusempatkan membuka kulkas. Ternyata ada banyak isinya. Mulai dari buah, aneka minuman, ice cream, makanan kaleng hingga beberapa toples kaca berisi masakan. Setelah aku periksa ternyata adalah dendeng sapi, rendang dan ikan goreng. Kuputar leher ke sisi kiri pintu dan menemukan pantry. Bahan makanan dan tempat memasak. Apa dia makan di sini? Tidakkah dia kembali ke rumah utama Dagantara? Kalau iya, tidak mungkin sampai ada bahan makanan begitu banyak seolah dia memang membutuhkannya. Dia tidak diinginkan ibunya. Sejak kecil tinggal bersama pamannya. Benarkah Sam semiris itu? Kututup kembali kulkas dan naik ke sofa. Selanjutnya aku mencoba tenggelam dalam film bersama camilan. Anehnya kepalaku tetap memikirkan Sam. Semakin aku mencoba melupakan, itu malah semakin kuat. Shit! Kubawa satu kresek camilan yang baru aku buka keluar. Sam tidak terlihat, tapi suara besi-besi beradu terdengar pelan. Ah ternyata dia berada di kolong mobil. Tunggu, kemana Si Adelin?" "Adelin dimana?" Aku duduk di mobil yang ada di depannya. "Pulang." Eh? Apa bertengkar lagi? Tapi aku tidak mendengar keributan apapun. "Kalian bertengkar lagi?" "Sepertinya begitu." Kelihatannya Sam ragu mengkategorikan itu sebagai pertengkaran. Tapi jika Adelin sampai pergi itu berati memang pertengkaran, hanya Sam yang kurang peka. Tumben. Biasanya dia selalu peka. "Aku dengar kemarin kamu sampai melempar kursi. Karena apa?" "Dia menamparmu." Kunyahanku melambat seiring kepala yang mengajak berpikir jauh. Dia marah besar kepada Adelin hanya karena aku? Simpel sekali. Malah hampir terdengar tidak mungkin. Jadi, apakah ada hal lain yang menjadi pemicu? Sejurus kemudian rasa bersalah melesak dan mengambil alih seluruh isi pikiranku. Adelin tidak pantas dibela, tapi kebenaran tetap harus dikatakan. Akan parah jika Sam mengetahuinya di belakang. Dia pasti akan merekatkan label buruk. "Memang aku yang salah. Aku merendahkanmu, Sam. Dia bermaksud membela." "Bukan benar atau salah. Tapi aku memang membenci milikku diusik. Sekalipun pantas diadili, itu hanya aku yang berhak." Miliknya? Sedalam itu dia menganggapku. Padahal sudah tahu aku tidak menyukainya loh. Apa Sam tidak mengerti bahwa ini hanya akan membuat dia semakin terluka? "Sam, aku benar-benar tidak menyukaimu." Kepala terdorong keluar. Manik coklatnya berkilat beradu dengan cahaya. "Aku berharap dicintai kembali, namun kamu tidak perlu tutup mata. Aku ini pria egois, Seria. Aku tidak butuh kamu cintai kembali, cukup aku yang mencintai kamu." Dia masuk lagi ke kolong mobil. Kalimatnya beputar di kepala. Benar, dia pria yang egois. Apalagi yang aku herankan. Meski aku tidak membalas perasaannya dia akan tetap maju. Bahan bakarnya adalah perasaannya sendiri, bukan perasaanku. Ya, dia memang egois. "Tapi kamu semakin terluka Sam." "Jangan khawatir. Aku sudah menghadapi ribuan luka sejak lama. Ah Seria." Ia mendorong lagi kepalanya keluar. "Tolong masakan aku satu cup mie." "Ada rendang di kulkas. Kenapa tidak itu saja?" "Kamu mau memasak nasi?" Kepalaku menggeleng cepat. Mana aku mengerti takarannya. Yang aku tahu hanya menghidupkan alat penanaknya saja. "Kalau begitu tolong ya?" "Iya. Eh-, kita pesan makanan saja. Aku juga mau membeli untuk makan malam. Bagaimana?" "Boleh, aku mau nasi kari." Nasi kari? Kedengarannya enak. Baiklah, aku memesan yang sama saja dengan Sam. *** "Seria, nasi karinya sudah sampai." Teriakan menggelegar Deni menarik aku untuk segera beranjak keluar. Tadi memang hanya ada kami berdua, namun tak lama beberapa pelanggan datang untuk membenahi kendaraan. Awalanya Sam mampu menangani, namun lama kelamaan semakin banyak dan dia kewalahan. Beberapa menit setelahnya Deni dan Jason datang bergabung. Geri pula katanya tengah menghadiri makan malam keluarga. "Sini." Sam menepuk lantai di sampingnya yang beralasan koran. "Tidak kotor," katanya melanjutkan seolah tahu itulah yang aku takutkan. "Beginilah keadaan bengkel kami, Bu Bos." Deni tanpa sungkan mengambil duduk di samping kiri Sam. "Masih belum mampu membeli kursi. Nanti deh kalau Ibu dan Pak Bos nikah saya sumbangkan." "Mulutmu asal sekali," tegur Sam. Lagi, dia menepuk koran di sampingnya. Bisa saja aku menolak dan memilih ruang pribadi Sam, namun rasanya tidak enak kepada Deni dan Jason. Akhirnya aku mendudukkan diri di samping Sam dengan menyampingkan kaki. Tangannya berhenti mengeksekusi kresek. Berdiri dan menarik seragamnya yang ada di bumper salah satu mobil. Aku berpikir ia ingin menutupi tubuhnya yang hanya berbalut kaos. Ternyata ia malah menebarnya di atas pahaku. Padahal hanya tempurung kaki yang tampak, tapi dia mendorong lagi kain hingga menutupi betis. "Bu Bos." Panggilan Jason membawa pandanganku melurus. "Jarang-jarang loh Pak Bos mau jadi babu untuk seorang perempuan." Aku tersenyum samar. Berusaha keras terlihat tersipu atau mungkin terharu seperti kekasih yang selayaknya. "Jangan pedulikan dia. Ini nasimu." Aku menerima box nasi kari yang telah Sam buka penutupnya. Dia memberi sendok kemudian dan membukakan sebotol air mineral. "Terimakasih." Tidak terdengar balasan. Sam mengurus box nasi miliknya sendiri dan meraih sendok. Deni dan Jason telah mulai makan. Mereka tidak menggunakan sendok, langsung dengan telapak tangan. Bukan pemandangan luar biasa mengingat ini adalah Indonesia. Hanya saja masih tabu bagiku karena pelakunya memiliki latar belakang mewah. Deni meski tampak seperti gembel nyatanya memiliki ayah yang berkedudukan tinggi di politik. Jason pula ditopang ayah seorang pengusaha dan ibunya merupakan wali kota. "Bu Bos, kenapa lihatin saya? Suka ya?" Kalimat pede Deni membuat bola mataku hampir jatuh. Ia tertawa langsung dibuatnya. "Bercanda, Bu Bos." "Makanlah." Sam meletakkan dua potong chicken katsu miliknya ke kotakku. Dia memesan porsi jumbo. Wajar jika dia membaginya. Mungkin telah memprediksi bahwa itu tidak akan habis. Masih kaku menguasai ketika aku mulai makan. Bagaimana lagi, ini pertama kalinya aku makan dengan duduk di atas lantai dan menggunakan wadah-wadah sederhana. Kesannya jauh sekali dari yang seharusnya. Belum lagi aroma karat dan oli mengganggu. Tapi itu semua perlahan sirna saat melihat ketiganya menikmati makanan dengan lahap. Bagaimana ya? Mereka seakan bertindak seolah tempat dan table manner bukan hal penting. Melainkan menikmati apa adanya anugrah yang ada di depan mata. "Den, kenapa kamu memilih hidup seperti ini?" Aku penasaran. Berhubung masih di dalam lingkaran Sam aku jadi semakin berani bertanya. Dia semacam leader bagi Deni. Karena aku memiliki jalinan dengannya, Deni pasti akan hormat. "Hidup bagimana maksudnya, Bu Bos?" Sambil membalas tangannya bekerja bersama kunci-kunci dan mesin mobil. "Ya seperti ini. Seolah jauh dari standar yang ada. Padahal kamu memiliki orang tua kaya dan berkuasa. Jalan hidup kamu seharusnya bersekolah di dunia politik atau paling tidak menjadi menonjol dengan bakat mengesankan. Berteman dengan para elit dan bersenang-senang untuk menikmati waktu dengan uang , juga tempat-tempat mewah." "Semua manusia memiliki jalan hidupnya sendiri, Bu Bos. Orang tua bahkan juga memiliki jalan mereka sendiri. Bukan lah kejahatan ketika saya memilih menjadi tidak teratur seperti ini melainkan kebebasan." "Mereka tidak menentang?" Deni tertawa kecil. "Jangan bercanda, Bu Bos. Membawa masalah dan membuat air muka mereka hilang. Tentu saja mereka menentang. Tapi sekali lagi, ini kehidupan saya. Tidak satupun berhak mengarahkan. Meski tersesat sekalipun, itu adalah jalan hidup saya. Bukan urusan mereka." Prinsip hidup yang berani sekali. Sedikit terdengar egois di telinga, namun benar di saat yang sama. "Mereka melakukannya demi kebaikan." "Benar, kebaikan untuk diri mereka sendiri. Mereka pada dasarnya tidak akan mengerti kebaikan seperti apa yang seharusnya saya terima." Deni memutar tubuhnya penuh. "Sam mengira membawa anda ke sisinya adalah sebuah kebaikan. Apa itu sama dengan yang kamu pikirkan?" Jelas tidak. Itu bukan kebaikan yang aku inginkan. "Mereka pada dasarnya tidak akan mengerti kebaikan seperti apa yang seharusnya saya terima." Kini itu terdengar sangat benar. "Awalnya memang mengiritasi." Deni melanjutkan kegiatannya. Dia barangkali mulai sadar bahwa kalimatnya membuat ia semakin larut dan berpotensi melupakan pekerjaan. "Dibenci akan pilihan hidup sendiri dan dianggap pemberontak. Kedengarannya bertahan di zona aman menjadi pilihan terbaik. Tapi sampai kapan kita akan hidup di dalam lingkaran mereka? Bagiamana dengan lingkaran kita sendiri? Ada mimpi-mimpi yang terus menghantui dan terasa begitu benar untuk diperjuangkan." "Saya mengerti harapan-harapan orangtua. Semuanya bermuara ke hal yang sama, kebaikan. Tapi mereka bukan Tuhan yang dapat membaca pikiran, perasaan dan masa depan. Hal baik yang mereka persiapkan barangkali bertentangan dengan jalan hidup anaknya. Beberapa kelonggaran harus diberikan. Jika tidak memilikinya, berusahalah dan nikmati luka yang sesaat." Satu kalimat tanya terus berputar-putar di kepalaku. Semakin kuat dan memaksa bibirku bergerak. "Apa kamu kerasukan?" Dia mendengus cepat. "Come on, Seria. Kamu tahu tingkahku sudah melebihi setan. Bagaimana bisa mereka masuk?" Gelak tawaku pecah, menyambar Deni melakukan yang sama. Di ujung sana Sam tampak menyipitkan mata. Barangkali heran aku dan Deni menjadi gila dalam beberapa detik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD