Tiga Puluh Lima

1572 Words
Jam baru menunjukkan pukul enam dan aku telah berada di dapur. Semalaman aku telah berharap malas menghantui, tapi malah sebaliknya yang terjadi. Aku bangun dengan semangat membara untuk memasakkan Sam mie goreng. Ya aku pikir hati dan pikiran ini pasti sangat berterimakasih kepada Sam. Tidak heran jika keduanya begitu antusias mendorongku bergerak. "Tumben kamu memasak." Suara lembut mama memasuki pendengaran. Saat aku mengirim tatapan mama telah rapi dengan pakaian formalnya. Pasti mau menemani papa berkutat dengan tugas kantor. "Untuk siapa?" lanjut mama saat sampai di depan pantry. Wajar saja pertanyaan itu muncul. Hampir bertahun-tahun aku jarang memasak. Dalam satu tahun hanya ada dua atau tiga keajaiban saja. Keberadaanku pagi ini di dapur pasti membawa alasan penting. Tepatnya lagi untuk orang penting. Eh? Sam bukan orang penting. Kutepis pikiran itu dan membalas pertanyaan mama. "Sam." Senyum meledeknya timbul seketika. Aish, harusnya tadi aku tidak memberitahu. "Aduh-aduh, mulai belajar menjadi istri yang baik rupanya." "Cuma makanan loh, Ma." Menghindari tatapanya, aku lanjut memotong-motong sosis dan bahan campuran lainnya. "Itu langkah pertama menjadi istri yang baik, sayang. Teruskan ok. Semangat! Mama dan papa berangkat duluan. Jangan lupa sarapan." "Mama serius? Ini masih pukul enam." "Papa ada urusan penting." "Di jam segini?" Mama mengangguk. "Iya." "Tidak sarapan?" "Nanti saja. Sampai jumpa nanti, sayang." Setelah melambai manis, mama meninggalkan dapur. Papa tidak berkunjung sama sekali. Sepertinya sungguh terburu-buru ke kantor. Seperti yang sebelumnya aku katakan. Membuat mie goreng sangat mudah. Hanya dalam beberapa puluh menit sudah usai. Setelah memastikan rasanya enak aku menatanya di piring. Apa tidak masalah hanya mie goreng? Jawabannya sudah pasti tidak apa-apa. Aku yang memasak, jadi aku bebas menentukan. Hanya saja terbersit bahwa Sam pantas menerima lebih dari ini. Baiklah, buatkan saja nasi goreng lagi sebagai tambahan. "Kau memasak?" Suara yang diharapkan akhirnya datang. Penampilannya seperti yang sudah-sudah, sama sekali tidak terlihat murid sekolah melainkan preman pasar. Untung saja di seragamnya terdapat logo Neptuna, jika tidak siapapun tidak akan percaya dia seorang murid. "Begitulah. Itu mie gorengannya telah selesai. Kamu mau makan sekarang atau dibekalkan?" "Sekarang." Ia menarik kursi dan mengangkat sendok dan garpu. Berhenti sesaat untuk mengirimkan aku tatapan bingung. "Lalu, apa yang kau masak itu?" "Nasi goreng. Tidak apa, kamu makan saja dulu. Ini sudah hampir selesai." Dia setuju, segera mulai menikmati mie goreng. Oh come on, Sam. Itu hanya mie goreng. Kamu tidak perlu tampak antusias seakan aku memasakkan sesuatu yang begitu lezat. Nasi goreng telah selesai. Aku memindahkannya menuju dua piring berbeda dan menambah garnish. Mie goreng di piring Sam hampir tandas saat aku bergabung ke meja. Kugeser sepiring nasi goreng padanya. Dengan sendok yang sama untuk mengambil mie ia mengambil nasi goreng dan mencicipi. "Enak?" "Terlalu manis dari yang biasa aku makan, tapi enak." Syukurlah. Hampir aku kira itu tidak seusia cita rasa lidahnya. Meski yakin ia akan menjaga mulut untuk tidak mengatakan jujur, tapi aku pasti akan merasa bersalah. Bagaimana lagi. Dia terlalu baik. Aku jadi terpaksa melakukan yang sama sebagai balasan. "Masih ada sisa. Nanti akan aku bekalkan untukmu." "Terimakasih, sayang." "Ewww." Bukan hanya aneh di telinga, tapi juga di hati. Ini pertama kali dia memanggil aku begitu. Mana beserta nada menggoda pula. Ihh. "Kenapa? Panggilan itu terdengar manis untukmu." "Lebay sih iya." Dia tertawa kecil saja akan bibirku yang kemudian mendumel. Siapa suruh memanggil begitu. Membuat aku kesal saja. "Aku dengar minggu depan kalian akan berkemah." "Aish aku baru ingat. Formulirnya belum diisi lagi." Rencana berkemah itu muncul dengan tujuan untuk merilekskan pikiran kami sebelum ujian semester satu hadir. Tiap angkatan melaksanakannya secara terpisah. Kami kelas 11 mendapat bagian berkemah di alam. Sementara itu kelas 10 akan melakukan darmawisata ke Yogyakarta. Untuk kelas 12 aku tidak mendapatkan informasinya. "Menginap berapa lama?" "Tiga hari saja. Kamu sendiri akan kemana?" "Anak perempuan memilih Bali sebagai destinasi, tapi anak laki-laki memutuskan ingin berkemah. Alam liar sangat memicu adrenalin. Jelas lebih seru daripada sekedar liburan menikmati pantai." "Lalu?" "Hasil voting masih diperiksa." Jika voting anak laki-laki menang maka ada kemungkinan Sam dan kami ke tempat yang sama. Tidak seharusnya aku senang, tapi memikirkan dia akan berada tidak jauh dariku membawa rasa aman tersendiri. Mau bagaimana lagi. Sam memiliki aura pelindung. Siapapun pasti merasa ingin berteduh di bawah sayapnya. "Jika kalah pun kami akan tetap berkemah." Seperti yang aku duga. Sam tidak mungkin patuh penuh pada keputusan, terlebih jika itu tidak menyangkut apa yang dia inginkan. "Di mana?" Kepalanya menggeleng. "Kami belum menentukan. Kalian sendiri berkemah di hutan mana?" "Hutan pinus di Desa Bantara. Dari foto-foto di internet tempatnya sangat hijau dan bersih. Semoga saja benar seperti itu." "Paman ketigaku tinggal di sana. Aku akan memberi kartu nama dan alamatnya nanti untukmu." Apa itu perlu? Aku tidak mungkin berkunjung ke rumah pamannya. Kami berangkat dalam rombongan, tidak ada celah untuk berkeliaran. Tapi tidak salah juga aku mendapatkannya. Siapa tahu berguna di saat darurat. *** "Woa silau sekali." Senyum yang berhasil aku bawa dari rumah hingga kelas perlahan luntur. Dasar Devi perusak mood! Jarang-jarang aku merasa seceria ini menapaki kelas setelah bersama Sam. Harusnya dibiarkan sampai beberapa menit dong agar aku memiliki waktu untuk menikmatinya. "Kamu berbaikan dengan Sam?" tanya Aliya seraya membawa Mila bersama untuk mengelilingi mejaku. "Yes, Finally." Akhirnya aku bisa bernafas lega. Hubunganku dengan Ian aman. Masalah bersama Sam juga telah tuntas. Devi secara kurang ajar duduk di atas mejaku. "Apa katanya?" "Dia meminta aku menganggap saat ini tengah berselingkuh. Terdengar menyebalkan, tapi dia tidak melarang hubungan kami." "Ya Tuhan, Sammy baik sekali." Wajah Mila yang awalnya penuh kekaguman berubah masam. "Sayangnya tidak tampan." "Jika iya?" tuntut Devi. "Aku akan menikahinya." "Sinting," sembur Aliya. Wajah jutek yang sinkron darinya pun menambah buruk ekpresi di wajah Mila. "Ratu iblis." Ukuhuk, Zion sialan! Memukul punggungku dengan tenaganya. Apa dia lupa fakta bahwa aku seorang perempuan? "Bagaimana? Formulir izin sudah disisi?" "Belum." "Yah." Dia merengut. "Kenapa?" Formulirku tidak mengganggunya kan? "Aing menunggu. Enggak mau pergi sendiri." "Halah bacot." Semburan Devi menambah rengutan di wajah Zion. "Kalau cuma sama Devi sang medusa atau Kevin doang mana asik. Anyway, raja iblis pergi ke mana?" "Aku juga penasaran," sambung Mila. "Katanya kelas 12 mau ke Bali. Bener gak tuh?" "Voting perempuannya sih memang begitu. Tapi anak laki-laki maunya berkemah." Zion mengangkat kedua telapak tangannya membentuk wadah. "Ya Tuhan, semoga tidak di tempat yang sama dengan kami." Devi mencolek lengannya. "Kenapa? Takut kehilangan kesempatan nempel sama nyai ratu ya?" Dia mengangguk. "Raja iblis kejam. Masa aing gak boleh dekat-dekat sama nyai ratu, padahal kan aing tanpa nyai ratu seperti tanaman tanpa air." "Lawan dong," suruh Devi membara. "Masa takut sama raja iblis. Gak keren lo." "Lo sendiri?" tantang Zion. "Berani gak sama raja iblis?" "Berani!" Tidak perlu dipercayai. Perkataan Devi hanyalah sekedar kata. Aslinya dia akan segera menyingkir dari Sam begitu masuk ke lingkaran yang sama. *** "Dia memberikan Sam bekal?" Tanganku yang hampir sampai di knop pintu berhenti. Kenapa mereka membicarakan Sam? Lalu bekal? Pastilah 'dia' yang dimaksud adalah aku. "Kamu bercanda? Perempuan seperti dia hanya pandai merawat diri dan menghamburkan uang." "Entahlah. Aku hanya tahu sedikit dari Jason. Perempuan itu memasaknya tepat saat Sam berkunjung." "Apa itu?" "Nasi goreng dan mie goreng." "Sudah kudaga, tidak mungkin masakan hebat." Memang tidak, tapi apa dia mampu membuat yang lebih? Jika tidak maka seharusnya dia tetap tutup mulut. "Sam memakannya? Apa dia tidak takut keracunan." Hei, Mbak. Aku memasak untuk ucapan terimakasih. Tidak mungkin aku beri racun di dalamnya. Sekalipun karena alasan lain, aku tidak sejahat itu. "Hmm dia memakannya dengan senyum." Sepertinya aku menemukan benang. Adelin pasti cemburu. Oh, tentang pertengkarannya dan Sam semalam. Apa mereka sudah baikan? Lalu, apa alasannya? Sam tiba-tiba ke kelasku dan bertanya soal pipi. Mungkinkah dia marah karena itu pada Adelin? Sedikit mungkin, tapi berlebihan. Aku hanya orang baru dan Adelin sahabat kesayangannya. Terasa aneh jika dia sanggup memarahi Adelin demi aku. "Kau sering memberikannya yang sama. Dia pasti lebih kagum dengan masakanmu." "Aku tidak mau jujur, tapi Sam benar-benar bahagia memakan masakannya daripada buatanku." "Kau bilang mereka baru saja kembali berbaikan. Anggap saja dia berterimakasih. Setelah ini pasti akan kembali mengacuhkan Sam, lalu hubungan mereka pun merenggang seperti yang sudah-sudah. Pada akhirnya hanya kamu lah yang benar-benar pantas untuk Sam." "Benar. Terlebih dia tidak menyukai Sam. Sangat-sangat tidak mungkin suka mengingat tingginya standar yang dia tetapkan. Kamu aman, Del." "Sudah, jangan galau lagi. Kamu selalu nomor satu di hati Sam." "Aku juga berharap begitu. Tapi kalian menyaksikan sendiri bagaimana dia beteriak kepadaku demi perempuan sialan tersebut. Tanpa bertanya, dia mengambil kesimpulan bahwa aku yang memulai. Jelas-jelas Seria lah yang merendahkannya. Tidak salah jika aku menampar mulutnya agar sadar." "Tapi bagi Sam itu tidak salah." "Benar. Dia malah mengatakan padaku bahwa itu kebebasan Seria. Sialan, jalang itu akan semakin melunjak akan perlakuannya." Bola api melesak ke d**a. Ingin segera aku lontarkan, tapi rasannya tidak mungkin. Memang aku yang salah. Aku memulai dengan menhina Sam, namun Adelin juga tidak kalah salah. Dia ikut campur tanpa hak. Bukankah itu sangat-sangat salah dari sisi manapun? "Butuh bantuan untuk memberinya pelajaran?" "Tidak untuk sekarang. Sam masih belum memaafkanku." Jadi jika Sam sudah memaafkan dia akan maju memberiku pelajaran? Licik! Dia ingin memanfaatkan dukungan Sam sebagai pembelaan. Seperti yang pernah aku pikirkan sebelumnya. Adelin memang seburuk aura di wajahnya. Dia hanya baik kepada Sam. Sisanya hanyalah kepura-puraan yang sesekali, bahkan tidak mungkin kepada orang tertentu termasuk aku salah satunya. Kini rasanya semakin tidak pantas Sam berada di tangan Adelin. Beruntungnya Sam juga tidak menganggap Adelin lebih dari sahabat. Ah, sepertinya aku akan mendorong Nayala untuk mendekati Sam. Dia berkali-kali lipat lebih baik daripada Adelin. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD