Tiga Puluh Empat

1509 Words
"Seria!" Seruan Devi mengejutkan hampir seisi kelas. Dia mengibaskan tangan, mengusir pasang mata yang memberi atensi. "Sam dan Adelin bertengkar." Dia menyampaikannya dalam suara pelan, tapi telingaku menangkapnya jelas. Sam dan Adelin bertengkar? Seperti sebuah kemustahilan di telinga mengingat betapa eratnya persahabatan mereka. "Bertengkar?" "Yup." Mila muncul dari belakang punggung Devi dan memberikan pembenaran. "Dia sampai melempar kursi." Mataku tidak terkendali akan keterkejutan. "Apa kalian serius?" Keduanya sama-sama mengangguk. Ingin mulut bertanya apa sebabnya, tapi gerusuk murid-murid mengaburkan perhatian. Sam adalah penyebabnya. Dia berjalan masuk membawa awan panas. Devi dan Mila sontak bergerak menjauh. Anak-anak lain yang telah terciprat berita terbaru akan Sam juga segera mengamankan diri. Hampir semua bersikap seolah tidak melihat eksistensinya. Dadanya memburu seperti letupan air mendidih. Naik-turun dan tampak siap meledak. Di dalam kolam mata jernihnya menggenang jelas emosi. Lalu sebagai kendali ia mengepalkan erat tangannya, menyimpan semua kemarahan yang ada sebisa mungkin. Tentang alasannya. Apa karena aku? Jika tidak, kenapa dia datang? Tarikan kuat memaksa aku ikut tanpa penolakan. Bibirku tidak berani bertanya. Toh aku butuh ruang untuk berbicara dengannya juga. "Ada apa, Sam?" Kuhentakkan tangannya begitu ia berhenti di taman kelas IPS. Dia memutar poros ke arah lain. Punggunya terlihat naik dan kemudian turun perlahan. Oh dia mengatur nafas. Mungkin bermaksud mengurangi amarahnya. Detik berikutnya ketika ia berbalik. Semua amarah itu lenyap. Wajahnya kembali datar seperti yang seharusnya. "Pipimu, apa itu baik-baik saja?" Pipi? Kenapa jadi pipiku?Eh jangan-jangan aku salah mendengar. "Maksudmu?" "Adelin menampar pipimu. Apa itu baik-baik saja?" Tanpa sadar tanganku naik mengelus pipi. Tenaga yang dikerahkan Adelin memang kuat. Tamparan yang ia hasilkan terasa teramat nyeri. Tapi itu sudah lewat empat hari yang lalu. "Iya." Helaan kasar keluar dari bibirnya. Barangkali tidak puas akan jawaban yang aku berikan. Tapi memang begitu fakta yang sekarang terjadi. Aku baik-baik saja setelah tamparan dari Adelin. Tubuhnya hampir berputar. Seriously? Hanya ingin bertanya itu saja? "Sam.." Tubuhnya berhenti bergerak. Lehernya menyusul menoleh. Kemudian ia menukik pandangan ke tanganku yang mencekal pergelangannya. "Soal kemarin. Aku minta maaf." Kutarik kembali tanganku begitu melihat matanya berkilat heran. "Aku tidak benar-benar mengatakan bahwa aku tidak menginginkan kamu. Itu salah. Kamu adalah pria yang baik. Eksistensi kamu berharga. Hanya saja aku tidak menginginkan kamu dalam hubungan romantis." "Karena aku jelek dan bodoh?" Kini mata kami sepenuhnya saling menatap. Kularikan pandangan dari miliknya segera. Pasti akan ada luka di sana. Aku tidak mau melihatnya dan berujung merasa bersalah hingga kepala ini sakit. "Itu menjadi salah satu alasan, tapi yang utama dan terpenting adalah fakta bahwa aku memang tidak jatuh cinta pada kamu. Hanya Ian satu-satunya yang membuat aku demikian." Tangannya naik ke udara. "Cukup! Jangan mengucapkan namanya di hadapanku lagi." "Aku akan berusaha membujuk papa untuk memutus pertunangan kita. Namun itu membutuhkan waktu. Aku harap kamu tidak keberatan menunggu." Kepalanya menggeleng. "Tidak, kita akan terus dalam ikatan pertunangan." Bola matanya menghindar kesal saat aku serang dengan tatapan tidak terima. "Baiklah." Helaan kasarnya ikut bersama. Bukti bahwa dia hanya terpaksa akan keputusan yang mengikuti selanjutnya. "Anggaplah kamu sedang berselingkuh dariku. Ketika waktunya tiba, kamu harus menjadi milikku penuh." Kepalaku masih ingin beperang, mengatakan bahwa aku hanya mau selamanya bersama Ian. Tidak akan ada kesempatan untuk kembali dengannya. Tapi itu benar. Papa tidak akan luluh. Aku dan dia tetap akan menjadi satu. Lagipula sekarang terlalu dini masuk ke jenjang pernikahan ataupun pertunangan, jadi tidak masalah aku dan Ian dalam tahap pacaran saja. Kepalaku mengangguk pelan setelah mendapat persetujuan dari kepala dan hati di waktu yang sama. Lalu, tangan besarnya berlabuh di puncak kepala dan mengelus lembut sebagai hadiah. "Tapi ingat, jaga tubuhmu! Sekali dia melakukan di luar batas, aku tidak akan segan untuk mematahkan tulangnya." Aku tersenyum. Akhirnya dia kembali seperti Sam yang seharusnya. Sam yang perhatian akan duniaku. "Terimakasih, Sam." "Hmm." Tangannya menyambar lenganku. "Ayo, kamu perlu mentraktirku sebagai gantinya." "Tidak masalah." Dia pantas mendapatkan hadiah akan kebaikannya. Tapi meski begitu aku sungguh tidak bisa memberikannya cinta. Hanya Ian saja yang pantas untuk itu. Setelah ini akan terjadi banyak adegan aku dan Ian. Aku harap Sam lambat laun mengerti bahwa dia benar-benar bukan takdirku. *** Ini kali kedua aku mentraktir Sam. Yang pertama di kantin belakang dan sekarang di salah satu restauran masakan korea. Wajahnya tidak sedatar biasa, melainkan sangat cerah. Senang sekali rasanya melihat itu. Dia benar-benar telah melupakan apa yang terjadi kemarin. "Aku mau rapokki dan dakgangjoeng," katanya menutup buku menu. Kulambaikan tangan pada waiters. Setelah mengatakan pesanan Sam. Aku kemudian menambahkan japchae, gimbab dan minuman berkarbonasi. "Kamu sering makan di sini?" "Tidak sering, tapi ini tempat favoritku kalau ingin makan masakan korea." Dagunya manggut-manggut kecil. "Tentang Ian. Apa dia mengetahui hubungan kita?" Pertanyaan bagus Sam. Aku memang berniat mendiskusikan hal ini. "Dia tidak perlu tahu. Aku harap kamu juga tidak membocorkannya." "Aku tidak sedekat yang kamu pikirkan hingga bisa menyampaikan itu." Syukurlah. Dia bertindak sesuai kalimatnya tadi pagi. "Ah iya." Aku teringat jam tangan untuknya. Segera aku membuka tas. Kami memang belum pulang, langsung ke sini setelah pulang sekolah. "Semoga kamu suka." Dia membuka langsung kotak yang aku berikan. "Jam tangan mahal?" Dahinya berkerut. "Kenapa kamu membuang uang sebanyak ini?" gerutunya kemudian. "Sam, kamu ini seorang Dagantara. Tentu saja itu yang paling pantas. Tentang harganya tidak perlu menjadi masalah." Dia mengulurkan tangan dan jam di saat bersamaan. Owalah, ingin dipakaikan. "Tapi aku berharap bisa mendapatkan hadiah dari hasil tanganmu." "Hasil tangan? Maksudmu kerajinan?" Ide gila. Aku paling tidak mahir di bidang itu. Setiap ada tugas saja selalu meminta bantuan Zion atau papa. Dia berdecak. "Bukan itu. Maksudku adalah masakan. Kamu bisa memberikannya untuku." "Aku tidak pandai memasak." Ah lihat, jamnya sangat pas untuk Sam. Pilihanku memang terbaik. "Kamu bilang bisa memasak mie." Mataku berkedip. Apa dia serius? "Mie? Apa itu tidak masalah?" "Tentu saja tidak. Aku suka mie. Besok masakan aku satu porsi." Kalau hanya mie tidak mungkin aku menolak. Itu begitu mudah dibuat. Mungkin sebagai tambahan aku akan membuatkannya nasi goreng juga. Ya, semoga saja tidak keasinan. Makanan selanjutnya tersaji. Kami mulai makan dan sesekali berbincang hal tidak penting. "Ah aku baru ingat." Kalimatnya menarik mataku untuk menyerang. "Apa?" "Adelin." Pandangannya jatuh lagi pada rapokki. Mengaduk-aduknya pelan seolah bingung. "Dia hanya lepas kendali. Biasanya tidak seperti itu." Aku tersenyum miring. "Jadi, kau meminta maaf untuknya?" "Tidak juga. Hanya saja aku rasa.." Kalimatnya berhenti. Pastilah bingung bagaimana membela Adelin sebab dia tahu memang perempuan itu lepas kendali karena emosi. Mungkin yang sudah-sudah juga terbiasa seperti itu, jadi ia tidak mampu menutupinya. "Dia menyukaimu." Tangannya kaku di udara. Tidak, itu bukan keterkejutan. Lebih tepatnya malah ketidaktahuan akan bertindak apa. "Kamu sudah mengetahuinya kan?" Ia mengangkat sumpit dan langsung menyesap ramyoen dari tempatnya. Kolam matanya diisi penuh oleh kedinginan yang tak dapat aku pecahkan. "Tadi dia juga mengatakannya." Sam mengaduk lagi rapokki di mangkuk dan melanjutkan. "Dia dan kamu sama-sama dewi kecantikan. Terasa begitu aneh karena dia memiliki perasaan seperti itu untukku. Terlebih aku belajar dari kamu, bahwa rupa adalah yang utama. Aku tidak dapat menerimanya. Kami tumbuh bersama, mungkin rasa kasihan membawa perasaan itu padanya." Sumpitnya terarah padaku. "Jangan cemburu! Sekalipun dia tulus, dia tetap bukan kamu yang mampu menjungkirbalikkan duniaku." "Siapa yang cemburu," dengusku mengangkat sumpit untuk menikmati ramyoen. Pede sekali. Dan apa itu? Aku menjungkirbalikkan dunianya? Cih salah sendiri yang mau memiliki perasaan untukku. Jelas-jelas dia tahu tidak akan mendapat balasan. "Dia pantas mendapatkan yang lebih baik." Nadanya lembut benar. Aku dapat merasakan ketulusan mengikuti kalimat tersebut. "Lalu.." Kuangkat wajah dan sebisa mungkin mengumpulkan kekuatan. "Bagiamana denganku? Aku pantas mendapatkan yang lebih baik kan?" Dia mengangguk. "Kamu pantas. Jadi nikmati perselingkuhanmu selama aku membenahi diri menjadi lebih baik." Sialan, lagi-lagi dia mengatakan seolah aku salah. Mana ada perselingkuhan yang diketahui. Ini lebih terdengar dia yang berpura-pura buta dan tuli. "Seperti katamu, aku akan mencoba ke dokter kulit." "Itu bagus. Kamu perlu berubah. Oh iya, selama aku berselingkuh apa kamu tidak mau mencoba dengan perempuan lain?" "Tidak." Ia mengangkat tobokki dan mengarahkan ke padaku. Kuambil cepat dan mengunyahnya pelan. "Aku hanya menginginkan kamu." Bibirku hanya mampu tersenyum kecut. Andai saat ini aku memiliki perasaan, pastilah kalimatnya membawa kupu-kupu di perutku berterbangan atau aliran panas menjalari pipi. Sayang kalimat tulusnya terpental jauh, menarik ngilu sebagai kembalian. Harusnya Sam tidak menyukaiku. "Kenapa jadi melamun? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" "Tidak." Aku mengapit gimbab lewat sumpit dan membawanya ke mulut. Rasa pedas dari tobokki ternetralisir segera. "Seria.." "Eum?" Pipiku masih penuh gimbab ketika Sam memanggil dengan suara yang tidak biasa. Lembut dan terlalu tulus. Aku seakan terdorong ke dalam maniknya yang mempresentasikan hal sama. "Aku kalah dari striker Andromeda itu dalam semua bidang, tapi aku bisa berubah. Kamu hanya perlu mengatakannya dan aku akan menurut." Dia memberikan aku kunci untuk mengendalikan. Apa dia serius? Dia akan semakin berpotensi untuk aku permainkan. Tidakkah dia takut menjadi b***k? "Kalau begitu, aku mau kamu berpenampilan lebih baik." Aku tidak sungguh ingin mengambil kunci yang ia berikan. Hanya saja aku perlu mendorongnya ke arah yang lebih baik. Sesama manusia harus begitu, iya kan? "Aku akan berusaha." Senyum menyertai kalimat tersebut. Kesungguhan kental tidak dapat pula aku tolak keberadaannya. Sam? Kamu benar-benar memberikan aku kunci? Apa kamu mengerti konsekuensinya? Ataukah itu hanya seutas kalimat tanpa arti?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD