Tiga Puluh Tiga

1429 Words
Meja makan pagi ini mencekam. Hanya denting sendok dan garpu yang sesekali terdengar beradu. Aku menyadari papa dan mama mulai saling pandang. Aera yang malas bergabung dalam lingkaran mencekam ini telah memutuskan pergi beberapa menit lalu. "Kalian bertengkar?" "Tidak," ujarku mewakili. Mata mama bergeser pada Sam. Si objek yang dipandangi menikmati sarapan dengan ketenangan seperti biasa. Hanya ekspresinya saja yang sedikit gelap. "Sam, apa kamu dan Seria bertengkar?" "Tidak, Tante. Kami tidak bertengkar. Saya hanya memiliki beberapa masalah pribadi." Penjelasan lengkap yang hanya karangan itu tampaknya dipercaya mama dan papa, terbukti keduanya tidak lagi menatap kami curiga. Sarapan berakhir. Aku memanjat naik ke motor. Sialan, aku baru sadar mengenakan rok yang salah. Pahaku alhasil lumayan terekspos. Kuluruskan pandangan untuk melihat reaksi Sam. Hanya datar saja yang terpantul saat matanya melirik lewat spion. Motor menyala, segera melaju begitu aku naik. Di luar kendali. Aku merasa tercubit memikirkan tatapan datarnya yang syarat akan ketidakpedulian. Tidak lagi ada perhatian di sana bahkan secuilpun. Alhasil aku terpaksa berjuang sendiri menjaga kain rok agar tidak tertiup angin. Meribetkan karena di saat bersamaan Sam terus menambah kecepatan, memaksa aku untuk memeluk perutnya. Sampai di parkiran. Dia turun mendahului, tidak melepas helm dan segera melengos pergi. Cih, masih merajuk rupanya. Itu berlanjut hingga beberapa hari. Sam menatapku tidak peduli, di saat tertentu berisi kebencian pekat yang menekan aku untuk menundukkan pandangan. Rasa bersalah yang tidak pantas menggunung begitu saja. Sialan, aku dikalahkan olehnya. Meski demikian, jangan harap permintaan maaf akan muncul sebelum dia membuka mulut lebih dulu. "Apa yang kamu lakukan pada Sam?" Adelin menahan pergelangan tanganku saat berpas-pasan di koridor. Segera aku menepisnya. "Tidak ada." "Jangan berbohong!" tekannya disertai tatapan mengintimidasi. Dasar ratu iblis. Sama saja seperti Sam, suka mengintimidasi. "Aku cuma mengatakan kepadanya agar tidak ikut campur urusan cintaku. Apa yang salah? Tidak ada kan? Toh aku juga tidak pernah melarang dia bersama kamu." "Bi*ch, are you insane with your word?" Adelin sialan. Berani-beraninya mengatakan aku begitu di saat dirinya malah lebih tepat. "Sangat sadar. And let me give you some advice." Kudorong wajah ke dekat telinganya. "Jangan ikut campur urusan orang lain. Itu membuang-buang waktumu." Dadaku terdorong kuat ke belakang. Damn! Tenaganya bukan main-main. Hampir setara seperti milik Sam. Kilatan melintas di matanya. "Perempuan sialan! Kau memilih yang lain dalam lingkaran bersama Sam. Kenapa tidak sedari awal kau menolaknya? Di sini hatinya yang kau permainkan. Apa maksudnya itu hah?" Tubuhku di dorong lagi ke belakang. Berkali-kali hingga aku tertabrak dinding dingin. "Hati Sam yang aku permainkan. Kenapa malah kamu yang marah? Apa kamu cemburu? Berguna kah itu? Sam hanya menganggap kamu teman. Jadi jangan melewati batas." Bunyi nyaring menyusul. Pipiku berakhir terlempar ke samping. Rasa panas menjalar cepat bersama nyeri. Dia melakukannya sekuat tenaga. Tamparan lain aku rasakan di pipi kiri. Tidak sampai di sana, ia menarik kerahku kuat. Membawa manik kami saling menyapa. Aku yang terkejut dan dia yang menggila penuh kemarahan. "Adelin." Secepat suara itu mengudara, secepat itu jari jemarinya melemah. Pengaruh besar sekali. Ia menghempas kasar aku ke belakang dan berbalik pergi. Persetanan dengan penjelasan, aku sudah cukup bersyukur lepas dari cengkramanya. "Sam pernah ditolak." Penasaran membara membawa pandanganku menuju Geri. Secercah iba menggenangi matanya. "Bentakan dan kata-kata merendahkan di depan umum. Meski dia terlihat kuat atau sekalipun cuek kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam hatinya. Itu luka berdarah, Ser. Kelahirannya tidak diinginkan. Ia mendapat penolakan pertama kali dan kata-kata merendahkan dari ibunya. Luka itu masih membekas, berdarah setiap kali ada pemicu yang sama." Pemicu yang sama? Kelahirannya tidak diinginkan. Penolakan pertama dari ibunya. Kata-kata merendahkan di depan umum. Itu semua berputra memenuhi kepalaku sepanjang hari. "Iya! Karena dia lebih baik daripada kamu. Dari sisi otak, penampilan hingga sifat dia yang terbaik. Yang utama lagi, aku menginginkannya." "Lalu bagimana dengan aku?" "Mungkinkah yang itu?" Kutarik tangan mengusap wajah, berharap benang kusut di dalam sana ikut menjadi rapi. Kamu tidak menginginkan aku, bukan? Mungkin itu yang akan melanjuti kalimat Sam. Dia menahan diri. Barangkali telah menemukan jawabannya dari pengalaman sebelum. Dia tidak dinginkan. Tidak yang aku maksud dalam kalimatku bukan merujuk pada keseluruhan eksistensinya. Melainkan hanya tentang hati. Aku tidak menyukainya. Hanya Ian yang ingin aku ikat dalam hubungan atau dalam artian lain aku tidak menginginkan Sam mengambil posisi Ian. Tapi itu bukan berarti aku tidak menginginkan Sam di sekitarku. Dia teman yang baik. Meski terkadang menunjukkan emosi tidak wajar, namun secara keseluruhan dia adalah orang yang pantas di lingkaran perempuan mana pun. Caranya menghargai perempuan, bukankah itu sangat kuat untuk menjadi pertimbangan? "Silahkan, Mas." Kunaikan pandangan pada perempuan paruh baya yang menyajikan makanan pada Sam. Dia hanya memesan satu porsi besar mie goreng dan segelas es teh. Tidak mau pede. Tapi sudah menjadi kebiasaan baginya menyuapi aku dari sendok dan piring yang sama. Jadi aku menunggu, memperhatikan dia yang terus makan tanpa meninggalkan pandangan dari piring. Hampir setengah tapi dia tidak kunjung merangkum daguku atau sekedar bertanya. Aku sendiri sudah merasa semakin ingin akan mie di piringnya. Ah, sepertinya tidak ada lagi harapan. Aku melambai pada penjual, memesan satu piring mie goreng dan es teh. Manik dinginnya tampak melirik sesaat tanpa nyawa. "Apa?" Kuberanikan bertanya, tapi dia langsung kembali memberi atensi pada piringnya. Keengganan berbicara denganku sangat pekat terlihat. Ya kupikir itu wajar akan kalimatku sebelum ini. Dia dikenal dengan label brandal. Jadi pikiranku memilih memerangi dengan kata-kata menyakitkan untuk menang.Aku kira memang begitu cara melawannya. Tapi ternyata salah besar. Sebab dibalik label brandal dia memiliki luka. Alih-alih menggunakan kalimat menyakitkan untuk menusuknya, aku malah seharusnya membujuk dia secara halus. *** Di hari yang sama kami berhenti di bangkelnya. Dia tidak menjelaskan apa yang akan dia kerjakan dan berapa lama. Bibirku juga malas bertanya, jadi kubiarkan diri menunggu di atas bumper mobil sembari bermain ponsel. Sam sendiri mulai sibuk membenahi mobil rusak bersama tiga temannya. "Sam." Ah Si Adelin lagi. Kalau memanggil Sam suaranya lembut bukan main. Giliran memanggil orang lain penuh ancaman. Cih, bermuka dua. "Widih, bawa apaan tuh?" Jason menyempatkan diri meninggalkan pekerjaannya demi memeriksa kresek hitam yang Adelin lettakan di atas meja kecil tempat beberapa botol minuman mereka berada. "Aku kira kalian belum makan malam. Jadi aku membeli nasi padang, beberapa gorengan, sosis bakar dan corn dog." "Aduh-aduh perhatiannya," puji Deni. "Cocok benar jadi istri aing." Tawa meledak memenuhi atmosfir. Tawa yang mengisyaratkan bahwa kalimat Deni adalah kesia-siaan. Tentu saja, Adelin hanya menyukai Sam. Semua orang mengetahui itu. Selanjutnya mereka mulai makan bersama, mengabaikan aku dan Sam. Cowok itu bilang masih ingin mengerjakan sesuatu, jadi dia meminta mereka mendahului. Ya iyalah, dia kan tadi juga sudah makan satu porsi besar mie goreng. Aku yakin sampai beberapa jam ke depan perutnya masih aman. "Aku pulang." Dua jam lebih akhirnya Sam mengatakan sesuatu yang telah aku tunggu-tunggu. "Tidak mau makan dulu?" tawar Adelin. Sam menggeleng. "Aku harus cepat. Ini sudah larut. Kamu juga sebaiknya segera pulang." Meski kecewa menggenangi matanya, Adelin tersenyum setuju. "Kalau begitu aku duluan." Sam memungut ponselnya dari meja, segera aku menarik diri dari bumper untuk mengikutinya keluar. Langkahnya benar-benar cepat atau tepatnya terkesan enggan sejajar denganku. Terpaksa kakiku menyesuaikan, melupakan bahwa jalan itu harus berhati-hati. Bruk Kakiku tersandung dan langsung jatuh sebelum sempat menguatkan pertahanan. Sudut mataku terasa sangat panas. Bulir-bulir air mata jatuh dengan deras membasahi pipi. Sama seperti pertahan di dalam sana. Aku akhirnya runtuh. Tidak kuat lagi mengingat perlakuan Sam yang dingin, juga akan rasa malu. Bagaimana bisa aku tersungkur? Memalukan benar. Isak tangis semakin tinggi. Karena begitulah caraku mengeluarkan semua sakit yang terasa. Aku tidak peduli lagi jika Sam pergi, karena kini aku hanya ingin menangis. Tanganku ditarik cepat agar berdiri. Alhasil wajahku menabrak d**a bidangnya. "Cuma tersandung kecil. Kenapa jadi menangis sih?!" Dia mengusak langsung surai-suraiku. Aku juga tidak tahu kenapa, namun rasanya ingin menangis saja. Memang, lututku terasa tergores, tapi bukan itu yang sakit melainkan hatiku. Kengiluan nyata akan ketidakpedulian Sam menjadikan pikiran ini menarik kesimpulan bahwa aku tidak diinginkan. Perasaan itu sangat tidak enak. "Sudah-sudah." Tangannya yang mengusak semakin cepat. "Berhenti menangis. Aku tidak suka mendengarnya." Bukannya berhenti, air mataku malah kian deras. Desahan kesal Sam menghasilkan sedikit rasa takut. Anehnya tangisku semakin menjadi-jadi. Ya ampun, kenapa aku jadi seperti ini? "Seria.." Alaram keras lewat suara dinginnya berhasil membungkam air mataku. Kususut ingus seraya menarik tubuh. Untuk kedua kalinya aku berakhir memalukan. Untung saja keadaan depan bengkelnya tidak ramai, jika iya maka aku memutuskan untuk tidak akan pernah berkunjung lagi. Tanpa kata tubuhnya berlalu, mengambil motor dan membawa ke hadapanku. Jadi dia masih marah? Aku kira setelah membujuk tangisku berhenti dia telah melupakannya. Aish Kapan kami akan seperti semula? Aku membenci sikapnya yang dingin. Mana di saat yang sama rasa bersalah terus menggunung pula. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD