Tiga Puluh Dua

1408 Words
"Masih ngambek?" Kubuang pandangan ke luar jendela. Ya kali orang ngambek mau mengaku. Bisa tentram dunia dibuatnya dan itu bukanlah hal seru yang mungkin terjadi. "Kuenya juga gak enak." Gak enak tapi langsung ditelan. Sekalipun tidak, aku berhak mencicipi sedikit. Sudahlah, dia memang tidak mau mengakui kesalahan. Dia menarik dashboard. Suara yang ditimbulkan memicu mata untuk sedikit melirik. Ya mau bagaimana lagi. Biarpun marah, rasa ingin tahuku masih ada. Ternyata kotak bertuliskan cupcake taro. Oh masih ada niat ganti rugi juga. Aku kira benar-benar tidak tahu diri. "Ini cupcake taro." Aku memiringkan sepenuhnya pandangan ke luar jendela. Kesal masih bercokol di d**a, mengalahkan rasa haru akan dia yang berniat menebus kesalahan. "Ayolah. Tanganku hampir pegel." Baru juga beberapa detik. Lebay sekali. "Seria.." Cih mulai membawa nada mengancam pula. Jangan pikir aku akan mengalah. Dalam kasus ini dia yang lebih dulu mencari masalah, jadi dialah yang harus mengalah. Bukan aku. "Seria." Untuk kedua kalinya dia memanggil. Nada mengancamnya kian dalam. "Aku sudah kenyang." "Disimpan untuk istirahat pertama nanti." Ujung kotak terdorong menyentuh lenganku. "Ambil." "Untuk kamu saja." "Aku tidak suka taro." "Tapi semalam dimakan," dengusku rendah. Siapa sangka ia mendengar dan membalas lugas. "Itu karena punya Arkan." Gimana-gimana? Kok aku gak paham ya. Ah bodo amat. Intinya dia mengambil bagianku. "Siapa tahu ada peletnya," lanjutnya seraya mengembalikan kotak ke dalam dashboard. "Aneh kamu. Adik sendiri kok dituduh begitu." "Lebih aneh dia yang memberi kamu kue. Dalam rangka apa coba?" Owalah ternyata cemburu. Pantas saja rela menelan kue dalam tiga gigitan. Atmosfir menghening setelahnya. Ada kabut amarah yang berkumpul di dalam manik jernih Sam. Loh, dia sendiri yang membuat dugaan eh dia juga yang termakan emosi. Aneh. Sampai mobil berhenti di parkiran dia masih tampak menahan kesal. Tidak perlu diperdulikan. Aku mendorong langsung pintu mobil agar keluar. "Tunggu." Ia menahan tanganku. "Kamu mau apa?" Segera saja aku mundur mendapati tubuhnya yang bergerak maju. Tangannya meraih kalung di d**a. "Siapa yang memberikan ini?" Astaga-astaga. Darimana dia tahu ini pemberian? Jangan-jangan kemarin dia mengikuti lagi. Aish malah memikiran itu. Kugelengkan kepala kuat. "Bukan dari siapa-siapa. Aku membelinya sendiri." "Ini ditempa." Manik gelapnya berkilat saat meneliti liontin. "Satu-satunya orang yang pernah menggunakan ini adalah striker Andromeda." Gila! Darimana datangnya ketelitiannya ini? Apa dia memperhatikan Ian sejak lama? Mungkin saja. Terbukti bukan dengan tindakannya yang segera sadar kalung di leherku sebagai milik Ian? "Kamu berpikir ini dari striker Andromeda?" Aku tertawa renyah. "Pikiranmu aneh tahu. Jelas-jelas ini milikku." "Tidak." Kepalanya bergerak kanan dan kiri, menghadapiku tajam kemudian. "Ini punya striker Andromeda." Ia mengangkat liontin bintang dan bulan yang aman dalam lingkaran besi. Membalikkannya sekali. Mataku melesak terkejut akan tulisan di sepanjang sisi lingkaran. Ian Hirataga. Ya Tuhan, ternyata ada nama pemiliknya. Kenapa aku tidak sadar sebelumnya? Aih, tahu begitu akan aku simpan saja daripada berakhir begini. "Ada hubungan apa kamu dan dia?" "Tidak ada." Ini adalah pilihan utama yang memungkinkan aku selamat. Jadi tanpa sungkan aku mengatakannya dengan tegas. "Jangan berbohong! Dia sepupu Devi, sahabatmu. Sebelumnya kamu pergi ke pestanya. Apa itu awal ceritanya?" Damn! Dia mengerti alur segera. Bagaimana bisa? Aku dan Ian baru seumur jagung. Belum lagi sempat mengumbar kemesraan namun ia telah lebih dulu tahu. "Seria!" Aku terlonjak akan suara tingginya. "Apa hubungan kamu dan dia?" "T-tidak ada." "Jangan berbohong! Kalung itu telah ada di lehernya sejak pertama kali aku melihatnya waktu kelas 10. Jelas berharga. Kenapa berakhir di lehermu?" Kutarik pandangan dari matanya ke arah lain. Bagimana ini? Apa aku harus jujur? Kalau bisa sih enggak soalnya dia pasti akan meledak. Nanti Ian terkena imbasnya dan hubungan kami berakhir retak. "Seria!" Tanpa sadar tanganku mengepal kuat. Beraninya dia berteriak di depanku. Semakin dibiarkan malah semakin menjadi. "Iya! Ini milik Ian Hirataga. Aku menyukainya. Sangat-sangat dan kami telah berpacaran. Dia memberikan kalung ini sebagai tanda. Sekarang kamu puas?" Manik kami beradu lagi. Sama-sama kuat akan perlawanan. "Berpacaran? Apa kau sadar dengan ucapannmu?" "Sangat sadar. Sam, lihat diri kamu sendiri. Apa ada yang bisa membuat aku jatuh cinta? Tidak ada! Jangan salahkan kami bersatu karena memang kamu tidak bisa mengikatku." "Pertunangan kita," sergapnya cepat. "Itu yang mengikatmu padaku." "Jangan bodoh, Sam. Kamu tahu alasanku memilih bertunangan dengamu. Keterpaksaan. Itu dia, alasan aku dan kamu terikat. Oh, tahan emosimu. Kamu sendiri yang menyanggupinya saat aku meminta menyembunyikan hubungan. Detik itu kamu tahu aku tidak memiliki rasa. Kenapa tidak mundur?" Dia memundurkan tubuhnya. Kembali duduk sempurna di kemudi. "Putuskan dia." "Tidak mau. Aku mencintainya." "Kau sangat patuh pada ayahmu kan? Baik, sebagai ganti aku akan membocorkan hal ini padanya." "Sam! Ingat dimana tempatmu. Jangan menggunakan pertunangan sialan ini sebagai alasan. Kamu dan aku tidak ada apa-apa." Dada ini begermeuruh seperti nafasnya. Sesaat aku merasa ingin mundur akan tatapan terluka juga tajam di dalam bola matanya. "Aku tahu, ini kesalahanku. Kita sama-sama mundur saja. " "Kenapa?" lirih suaranya terdengar memilukan. "Karena dia memiliki wajah lebih bagus dariku?" "Iya! Karena dia lebih baik daripada kamu. Dari sisi otak, penampilan hingga sifat dia yang terbaik. Yang utama lagi, aku menginginkannya." "Lalu bagimana dengan aku?" *** Bel pulang berbunyi nyaring. Aku berlari terburu-buru menuju parkiran. Kejadian tadi pagi adalah keretakan. Bisa jadi Sam menggunakannya sebagai alasan untuk meninggalkan aku. Tidak masalah sih. Masih ada supir yang bisa menjemput. Namun entah mengapa kakiku memburu ingin segera berada di depannya. Di ujung perlahan-lahan aku melihat jelas sosoknya dan Adelin bertukar cerita. Sam bersandar pada bumper mobil sedangkan Adelin menjulang di depan. Spasi sangat tipis. Mereka jelas terlihat intim melebihi teman. "Sam," seruku. Bola mata coklat gelapnya bergerak pelan. Tidak ada lagi tatapan luka atau kemarahan di manik jernihnya. Aneh, aku malah merasa ganjil dibuatnya. Tidak sampai disitu saja, rasa bersalah pelan-pelan merambat naik dan membelenggu. Loh, kenapa jadi aku yang meras bersalah? Jelas-jelas dia yang bersikap salah. "Aku pulang." Ia menepuk bahu Adelin sebelum mengitari mobil untuk masuk ke kursi kemudi. Segera aku menyusul di sebelahnya. Kecepatan tinggi membawa kami menjauh dari Neptuna. Untuk pertama kalinya ia memberhentikan aku di depan gerbang saja. "Terimakasih." Jangankan membalas, menoleh saja tidak. Mobilnya langsung melaju cepat meninggalkanku di detik berikutnya. Tidak perlu dipikirkan. Dia pasti merajuk. Salah sendiri sok posesif. Padahal dalam hatinya dia telah tahu bahwa aku tidak menyukainya. Tepatnya lagi bukan miliknya. Kami sama-sama salah. Menerima terikat di saat belum ada kepastian dan kesanggupan. Aku, tidak menyanggupi mencintai Sam karena memang dia tidak mampu masuk ke hatiku. Lalu Sam, dia menyanggupi hubungan tapi tidak mengetahui kepastian apapun bahwa dia benar-benar diharapakan. Di saat yang sama, dia tidak sanggup membuat aku jatuh cinta. Hubungan kami sepenuhnya kesalahan. Mungkin benar kata orang, membangun hubungan adalah tentang kesiapan. Bukan kepasrahan seperti kami hanya karena tuntutan orang tua. "Sudah pulang?" Pesan dari Ian tidak lagi membangkitkan rasa bahagia. Sebaliknya aku khawatir akan nasib Ian setelah ini. Zion saja langsung mendapat ancaman dari Sam, pastilah Ian juga. Malah mungkin lebih parah karena dia berada di level lebih intim akan kedekatan bersamaku. Meski rasa khawatir berputar-putar di kepala. Aku tetap membalas setiap pesan Ian sembari berbaring di sofa. Sesekali dia mulai menggoda, berusaha menunjukkan bahwa dia memang pacar sesungguhnya. Lumayan garing, tapi membuat aku tersenyum kecil. Terdengar hebat bukan? Dia mampu menuntaskan kekhawatiran di hatiku hanya lewat kata. Semakin hebat karena pesan suara yang kemudian dia kirim membuat perasaanku tenang. "Seria." Aku mengusak-usak mata. Sosok mama menjulang di depan dalam balutan pakaian kerja. "Loh sudah pulang, Ma?" "Ya iyalah. Ini sudah hampir pukul enam." "Pukul enam?" Sontak aku mendudukkan diri dan memungut ponsel. Terakhir kali pesan Ian pukul lima. Ah iya. Aku ketiduran. "Mandi sana. Setelah ini bantu mama mempersiapkan makan malam." Kupungut tas dan menyandangnya untuk berjalan bersama mama. "Papa mana?" tanyaku pasalnya tidak mendapati sosok papa di ruang keluarga. Mama sudah pulang. Harusnya papa juga kan? "Sudah naik ke kamar. Moodnya lagi tidak bagus." Yah. Padahal aku ingin mengajak berdiskusi. *** Hanya dentingan sendok yang memecah keheningan. Suasana terasa mengerikan apalagi ditambah wajah-wajah dingin papa dan Aera. "Pa." Kuberanikan mengangkat suara. Keadaan benar-benar darurat. Aku ingin segera memutus hubungan dengan Sam sebelum segalanya semakin merumit. Dia akan terluka lebih jauh dan aku benci perasaan bersalah yang muncul sesudahnya. "Seria." Malah suara mama yang sarat peringatan menjadi jawaban. Kuluruskan pandangan pada papa sebagai jalan satu-satunya. "Ada apa?" Nyaliku turun drastis akan nada papa yang mengiris tajam. Aku hanya ingin mengatakan sepatah kalimat, tapi dia menolak secara tidak langsung untuk menerima. "Tidak ada." Akhirnya aku memilih diam, menghabiskan cepat-cepat makanan di piringku dan kembali ke kamar bersama perasaan kesal. Apa gunanya aku mengatakan ingin memutus pertunangan? Papa pasti tidak akan mendengar. Dia malah membenciku sebagai bonus tambahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD