Tiga Puluh Satu

1519 Words
"Seria." Suara lembutnya menyelusup ke telinga saat tanganku hampir mendorong pintu mobil. "Iya?" balasaku seraya memberikannya semua atensi. Ia menghela pelan. Menjulurkan tangan kemudian untuk mengusap lembut kepalaku. "Terimakasih sudah mau menerimaku." Senyum manis tercipta di bibirnya. Membawa kelembutan bersama yang dapat menyentuh hati. "Terimakasih," katanya lagi. Aku membalasnya dengan senyum yang sama. Kata itu sebenarnya tidak perlu. Jawabanku adalah refleksi asli isi hati. Aku mengungkapkannya tanpa harapan terimakasih, hanya ingin hatiku terungkap. Tangannya tertarik kembali, berlabuh di lehernya. Ia melepaskan kalung yang ada di sana, membuat aku bertanya-tanya sejak kapan itu ada. Tubuhnya maju sementara tangannya menukik ke leherku. Memasangkan kalung berliontin bulat dengan ukiran bulan dan bintang. "The sign," bisiknya tepat di telingaku. Panas melesak ke dalam kepala, ikut membakar kulitku hingga memerah. Nafas hangatnya masih terasa, menambah panas semakin tinggi. Ian! How dare you! Kepalaku tertunduk bersama jemari yang meraih liontin. Biasa saja, namun ukiran bulan dan bintang yang melengkapi terlihat bermakna. "Terimakasih," balasaku. Ian masih belum menarik tubuh menjauh, tangannya malah terbaring di belakang kursiku. Dengan jarak dekat begitu aroma maskulin parfumnya terasa pekat. Alih-alih muak, malah nyaman meningkat. Jika tidak dapat mengendalikan diri sudah pasti aku memeluk tubuhnya dan menghirup dalam. Aku kira akan ada kalimat yang keluar, tapi ternyata hingga menit berlalu cukup lama dia masih diam. Mataku mulai tidak nyaman akan tatapan intensnya. Meski begitu aku enggan pergi. Aneh. "Tidak mau pulang?" "Ah iya." Mengindari tatapannya, aku mendorong pintu. Lagi, masih di depan cafe. Kali ini aku bilang bahwa aku akan kerja kelompok. Ian tampaknya tidak peduli. Terbukti dengannya yang tidak bertanya lanjut akan rumahku. "Hati-hati," katanya seraya menahan pintu. "Beritahu aku jika kamu telah sampai di rumah." Kepalaku mengangguk pelan. Ia menarik pintu, masih melirik beberapakali sebelum akhirnya menyalakan mesin dan menekan klakson perpisahan. Kakiku masih menetap. Hal wajib karena aku perlu tahu apa mobilnya telah benar-benar menghilang. 10 menit setelah memastikan aman aku meminta supir datang menjemput. Namun kesialan datang. Sebelum supir sampai motor Sam dari arah barat muncul. Tidak perlu ditebak lagi. Tentu saja dia menghentikan motornya di sampingku, kemudian menaikkan kaca helm full face-nya. "Kenapa disini?" Ugh, suara sinisnya mengiris. Cih seakan dia berperan penting saja. "Habis nongkrong," alibiku. "Kamu sendiri darimana?" Sama sekali tdak peduli. Itu hanya pembatas untuk menutup pertanyaan selanjutnya yang berkemungkinan berisi interogasi. "Nongkrong." Matanya bergedik dariku menuju boncengan. "Naik." Tidak mungkin membantah. Aku memanjat naik ke atas boncengan. Ia kemudian memutar motor ke arah lain. Lah, tadi bukannya mau ke arah rumahku ya? "Sam, mau kemana?" "Kamu bilang apa?" Inilah akibat ia mengenakan helm. Budek dadakan. "Mau kemana?" tanyaku lagi dengan suara sedikit tinggi. "Rahasia." What? Rahasia? Sok misterius banget. Untung saja aku perlu menutupi kecurigaan, jadi aku menurut. Motor melaju dengan kecepatan standar ke pinggiran kota, berhenti di samping laut. Matahari di ujung barat tampak mulai kembali ke peraduan. Kami hanya mendapat sedikit sisa sunset. Tidak mau melewatkan kesempatan. Aku mengambil beberapa foto dengan background cahaya kuning hangat sunset. Sam sendiri baru melepaskan helm dan meletakkannya ke pinggir pembatas beton. Kutekuk bibir karena menemukan matanya yang tampak mengamati dalam. Apa-apaan sih? Seperti tidak pernah melihat manusia saja. "Sudah?" tanyanya mendudukkan tubuh di atas pagar pembatas jalan dan laut. Aku berdehem pelan, ikut duduk di sampingnya sembari menyortir foto terbaik. Beberapa segera saja aku rilis ke i********:. Tubuh tinggi Sam menutupi cahaya, membuat kepalaku dengan terpaksa terangkat. "Mau batagor?" "Batagor? Mau beli dimana?" "Itu." Dagunya bergerak ke sebrang jalan. Lah iya. Memang ada gerobak-gerobak pedagang makanan di sana, bahkan beberapa meter dari kami juga. "Tidak." Gerobaknya saja tidak terlihat bersih, bagimana aku bisa tenang memakan makanannya? Lagipula, perut ini tidak merasa lapar. "Oke." Dia beranjak, melirik kanan dan kiri sesaat sebelum akhirnya menyebrangi jalan. Postur tegap, punggung lebar dan kaki jenjangnya memukau mata sekali. Andai profil depannya juga begitu, pastilah ia naik menjadi dewa ketampanan. Tring Ian mengirim pesan. Hanya dari bar notifikasi aku sudah sulit menelan saliva. "Gak jadi kerja kelompok?" Shit! Kenapa aku tidak tahu bahwa dia mengetahui akun instagramku. Detik berikutnya notifikasi lain masuk. Ian.H, mengikuti anda. Tidak dapat lari. Aku membuka pesan dan mengatakan bahwa terjadi perubahan jadwal pengerjaan tugas karena beberapa orang tidak dapat datang. Dia segera maklum, disinilah rasa bersalahku membumbung tinggi. Baru juga jadian, tapi aku sudah berbohong. Memikirkan jika Ian tahu berserta reaksinya membuat aku langsung takut. Tidak mungkin dia langsung minta putus kan? Aih, kamu sih, Ser. Sudah tahu taken masih saja tidak berhati-hati. Jemari ingin bergerak membatalkan postingan yang baru meluncur. Oh tidak, Ian akan semakin curiga. Akhirnya aku mematikan ponsel dan melupakan ketakutan yang menyerang. Sam kembali, membawa dua cup minuman dan satu kresek sedang. "Sam, makan di rumah aja ya?" Pertanyaan itu malah bernada memohon. Karena jujur aku merasa semakin takut Ian ada di sekitar sini dan memantau. Aku tidak mau diputuskan. Hubungan kami baru saja bermulai. Untuk itu aku harus menjaga diri agar tidak mendekat dengan lawan jenis lainnya. Sam pengecualian meksipun tetap harus dihindari dalam beberapa interaksi. "Kenapa?" Ia justru duduk dengan santai, menggeser satu cup minuman padaku sementara ia menyesap miliknya sendiri. "Capek, mau tidur." Aku menekuk bibir bersama agar ia peka. Oh s**t. Yang selanjutnya terjadi dia malah mengesekusi isi kresek. "Sebentar lagi. Suasananya lagi bagus ini." "Tapi aku lelah," kataku setengah berteriak. Ketakutan akan diputuskan Ian makin terasa pekat, menambah intensitas jumlah voting untuk segera menghindari Sam. Tidak ada balasan. Ia meletakkan cup minuman dan mengambil plastik telur gulung sebagai ganti. "Sam.." Terpaksa aku merengek. Siapa tahu mempan untuk membuatnya luluh. Ia menyunggingkan alis tebalnya. "Apa?" Aih malah sok polos. Jelas-jelas dia tahu apa yang aku mau. Menguji emosi benar sih. "Ayo pulang." Sengaja aku berdiri agar dia kian merasa risih. Ternyata malah berbanding terbalik dengan yang terjadi. Ia mengigit telur gulung di tangannya. "Sebentar," lanjutnya dengan mulut mengunyah. Hish! Kutinggal di menuju motornya. Awalannya hanya bersandar dan memberikan tatapan tajam. Bukannya terintimidasi, dia justru semakin nyaman memberikan aku tatapan tanpa ekspresi. Alhasil aku yang mundur, memakai helm dan naik ke motor ninjanya. Ternyata begini sensasi duduk di kemudi ninja. Ada perasaan keren tersendiri, mungkin akan bertambah jika aku membawanya. Sayang tidak pernah punya skill membawa motor. Kutolehkan kepala. Dia masih saja menatap sembari menikmati makanan. "Sam! Ayo pulang!" Ia mengangkat plastik makanan, mengisyaratkan bahwa ia masih butuh waktu untuk menghabiskannya. Cih! Terpaksa aku berdiam di atas motornya sembari bermain ponsel. Menit-menit berlalu, menghilangkan jemu akhirnya karena aku terjebak oleh sosial media. "Ayo." Buru-buru kakiku memijak kuat aspal. Naiknya ia ke boncengan membawa guncangan kuat. Sesuai benar akan tubuh besarnya. Jika tadi aku tidak segera menguatkan pertahanan maka dapat dipastikan kini kami terjatuh menghantam aspal. Tangan kanannya kemudian melewati lengan bawahku, memasangkan kunci pada tempatnya dan memutar. Motor tak lama menyala. Loh-loh, kenapa dia justru membawa tangan aku kepada stang kemudi? "Sam?" Ia menjatuhkan kepalanya ke bahu sementara tangan kirinya bergerak menarik tas dan ponselku ke belakang. Aku secara pribadi memang penasaran bagaimana cara membawa motor, jadi tidak lagi menolak saat ia membantu aku menaikkan gas. Motor berjalan dengan kecepatan pelan. Agak meribetkan karena ternyata banyak yang dikotak-katik dalam perjalanan. Untung Sam ada, jika tidak maka pastilah motor akan berhenti. Keseimbangan sendiri tidak perlu dipermasalahkan. Ketika akhirnya motor sampai di depan pekarangan rumah maka kesimpulan yang dapat aku tarik ialah, ternyata membawa motor tidak sekeren yang terlihat. Lebih asik membawa mobil. Kulepas helm, menukarnya dengan tas yang Sam pegang. "Bagaimana? Mau lagi?" "Gak ah. Lebih enak membawa mobil." Kami berjalan beriringan menuju ruang tengah. Arkan ada di sana seorang diri. "Dimana Aera?" tanyaku heran. "Pergi hangout bersama teman-temannya." Lantas? Kenapa dia datang? Aneh benar. "Tadi aku membeli kue. Yang kotak merah punya Aera dan yang hijau punya kamu." "Terimakasih." Aku mengambil duduk di sampingnya dan memanggil maid untuk membawa kotak milik Aera ke dapur. "Sam!" teriaku cepat saat tubuh besarnya membelah jarak aku dan Arkan. Jelas-jelas tidak ada spasi, tapi dia memaksa masuk. Tentulah tanganku dan Arkan tertimpa oleh berat tubuhnya. "Kue apa?" Kepalanya memiring pada tanganku. Ya, aku memang berniat melihat isi kotak kue. "Kue taro." Mataku bergerak menuju Arkan yang berusaha berdiri. "Aku dengar dari Aera kamu menyukai rasa taro." Senyum menyambung kemudian. "Aku pulang." Apa aku tidak salah lihat? Dia memberikan ekspresi semanis itu kepadaku yang hanya adik iparnya. Mencurigakan. "Taro ya?" Perkataan Sam menarik aku dari pikiran lain. Di dalam kotak itu ada kue berukuran sedang dengan warna ungu. Indah benar. Aroma taronya yang lezat segera merebak ke hidung, membangkitkan keinginan untuk segera menikmati. Tangan Sam mendahului. Bukan memotong atau mengambil sebagian. Ia mengangkat bagian penuh dan melahapnya dalam tiga kali gigitan. Pipinya sontak menggembung seperti marmut. "Sammmy!" Kupukul serta merta d**a bidangnya. Ia terbatuk beberapa kali, namun tetap lanjut mengunyah. Ini pertama kalinya aku mendapat kue taro dari seorang pria selain papa. Bukan keistimewaan itu saja yang membuat aku kesal, tapi fakta bahwa kini tidak jadi menikmati rasa taronya. Sam sialan! "Mau?" Dengan santainya ia mengarahkan jempol yang terpoles sisa krim ungu dan putih padaku. "Gak!" Kutarik diri dari sofa sebelum amarah meledak. Parahnya nanti aku jadi mencakar dia dan berujung dimaki. Hell no! Lebih baik aku mengumpat sendiri di kamar. "Sorry." Tawa kecil menyertai kata tersebut. Cih! Sudah bersalah pun tidak mau meminta maaf dengan tulus. Sam benar-benar sialan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD