Tiga Puluh

1546 Words
"Sam." Ketukan pelan bersama suara lembut terdengar. Adelin? Dia menyusul? Ah, sudah pasti. Sam telah menghilang cukup lama dari bawah. Dia pasti merasa risau. Aku berdiri. Dua sejoli ini harus bersatu. Tidak boleh menjadi nyamuk.  Tangan Sam menarik, aku kembali terduduk di kursi. "Sedikit lagi," katanya mengarahkan dagu ke piring. Iya sih. Mie goreng di piring tinggal sedikit, tapi Adelin sudah di depan. Nanti aku menjadi sasaran kemarahannya pula. "Seria." Aish, ia menekan melalui suara pula. Sudahlah, biarkan Si Adelin. Aku mengangkat sumpit, menikmati lagi mie goreng yang tersisa. Sam memiringkan tubuh, sontak membuat aku menjauh. Ia mengulurkan jempol, mengelap sudut bibirku yang berminyak. Aih kirain mau mencium. Astaga, Seria! Otakmu kotor sekali. Selesai makan aku membantu mengembalikan gelas ke wastafel. Hanya itu saja. Aku sudah cukup lama meninggalkan teman-temanku, takut mereka mulai panik dan menghilang. "Hadiahnya akan aku berikan besok," ujarku sebelum mendekati pintu dan menarik pelan knopnya. Bola mata cantik Adelin berkedip-kedip akan keterkejutan. "Seria?" "Yes, I am." Aku melewati sisi sampingnya yang kosong. Melenggang pergi tanpa perlu menjelaskan kesalahan yang ada di maniknya. Bodo amat. Aku tidak peduli pada pikirannya. *** Aku meluncur pergi dari kediaman Dagantara sebelum pesta usai. Bukan hanya jemu, tapi aku harus mencari hadiah untuk Sam. Besok tidak akan sempat karena aku ingin bertemu Ian. Ngomong-ngomong tentang hadiah. Apa yang harus aku berikan? Tentu saja bukan ninja kawasaki. Itu teramat mahal dan begitu disayangkan untuk orang seperti Sam. Apalagi dia sudah punya dua buah. Tidak istimewa jika aku memberikan lagi. Jam tangan mungkin bagus. Aku biasa memberikan itu untuk pria. Zion salah satu yang pernah menerima dalam rangka ulang tahun bilang pilihanku begitu bagus. Papa juga mengatakan yang sama. Jadi aku memutuskan berhenti di salah satu toko jam. Mengamati sesaat koleksi-koleksi yang ada, lalu pilihanku jatuh pada rolex berwarna hitam. Desainnya biasa saja. Pilihan tepat untuk Sam yang sederhana. Usai membeli jam aku langsung kembali ke rumah dan membaringkan diri. Ian. Itu yang terus berputar di kepalaku. Apa isi surat kemarin adalah keseriusan? Bukannya apa-apa. Meski Ian perhatian padaku, namun mengukur dari kemampuannya aku ini jauh dari tipe idealnya. Apa dia benar-benar serius mau memiliki kekasih sepertiku? Ya Tuhan, pikiran negatif ini kenapa tidak bisa berhenti. Mungkin kepalaku perlu diguyur air dulu. Baiklah, aku akan mandi. Sebelas lewat dua puluh aku kembali ke ranjang. Kali ini sudah segar akibat mandi. Baterai ponsel telah sekarat, jadi aku turun mencari kegiatan. Mata sedikitpun tidak meredup. Heran, ini sudah sangat malam. "Sam," aku terlonjak dan mundur. Dia yang baru di anak tangga kedua  mengusap d**a. "Seria! Apa suaramu tidak bisa lebih pelan?" "Salah sendiri tiba-tiba muncul." Ada kresek besar di lengan kanannya. Membuat curiga saja. "Apa itu?" "Pamanku membuatkan beberapa toples kue kering. Aku membaginya beberapa untukmu." "Harusnya kamu tidak perlu repot begini. Besok kan bisa," kataku seraya menuruni anak tangga. Kami berakhir di ruang tengah. Loh ternyata ada Arkan dan Aera. "Adik, sini." Aera menepuk sofa di sampingnya. Sebelum itu aku telah jijik dahulu akan kelembutan suara dan ekspresi manisnya. "Tidak perlu. Kami akan berbincang di luar." Sam tidak menolak saat aku mengajaknya duduk di teras samping. Ia merapikan toples-toples yang dibawa saat aku memandangi langit. Bulan tergantung di sana. Cahaya kuningnya begitu hangat menerangi. Perpaduan sempurna saat sepoi angin menghantam. "Kau terlihat aneh. Ada apa?" Aku menoleh, mendapati dia yang akan mengigit cookies. Tunggu, jadi dia membawa itu sebenarnya untuk aku atau dirinya sendiri? "Tentang kemarin? Bukankah gosip sudah berhenti. Aku juga tidak mengekspos kamu tadi." Dia masih memikirkannya. Aku kira sebaliknya, tidak menganggap serius sedikitpun apa yang menimpa padaku.  "Bukan." Aku menggeleng kecil, menyandarkan punggung pada kursi. Pandangan kembali naik ke langit. Tidak ada makna atau sebait puisi yang dapat tercipta, aku hanya hening menikmatinya. "Katakanlah." Ia menggeser toples berisi cookies. Aku tidak tertarik. Begitupun dengan kalimatnya. Mana mungkin dia mengerti kegelisahanku akan Ian. Karena bagaimanapun dia adalah pria seperti Ian, dia objeknya bukan seperti aku selaku subjek. Lagipula, setelah apa yang terjadi aku tidak yakin nama Ian lolos masuk ke telinganya tanpa kemarahan. Sudahlah, pendam sendiri saja. "Aku minta maaf." Kalimat bernada rendah penuh sesal mengudara, menyambar telingaku untuk terkejut. Apa yang dia katakan? Maaf? Dagunya terjatuh lemah, meredupkan sinar di manik coklatnya. Gusar kemudian berkilat saat ia mengangkat lagi pandangan. "Kalau aku tidak lepas kendali berita sialan itu tidak akan menyebar." Tangannya menarik kasar cookies dari toples. Kemudian tampak melupakan perkataannya dengan menggigit tanpa ekspresi. Yang dia katakan tidak ada yang salah. Semua ini memang bermula dari dia yang lepas kendali. Namun jika secara logis ditelaah, dia tidaklah salah. Sebagai pria dia tentu cemburu kekasihnya diidamkan oleh pria lain. Tapi cerita ini tidak logis. Hubungan aku dan dia bukan nyata seperti yang terlihat. Apa yang ia lakukan menjadi tidak logis. "Itu sudah berlalu." Hanya itu yang mampu aku berikan agar rasa bersalahnya tidak semakin dalam. Biar bagaimanapun aku tidak bisa menyalakan perasaannya. Jika diposisi yang sama pastilah aku juga berbuat sedemikian rupa, melupakan kecemburuan dengan ledakan besar kepada si subjek penyebab masalah. "Tidurlah. Ini sudah larut." Aku menggeleng. Masih ingin menikmati keindahan langit malam, juga gundah di dalam sana belum selesai. Tidak akan baik jika aku tidur dengan beban. "Kenapa? Kamu benar-benar masih memikirkan yang kemarin?" Manik Sam tampak tidak suka sama sekali dengan kalimat yang keluar. Mungkinkah ia masih merasa bersalah? Atau memang secara pribadi tidak menyukai kegundahanku? "Bukan begitu Sam. Ini tentang hal lain." Memikirkan dia akan mendesak, aku pun segera melanjutkan. "Privasi, tentang aku saja. Kamu tidak perlu ikut campur." Seperti kalimatku. Dia tidak ikut campur, lanjut menikmati cookies. Gemerutuk gigitannya menjadi pengisi hening. Aneh, aku tidak terganggu saat menutup mata. Menikmati perpaduan suara angin dan gigitannya. Hingga tanpa sadar aku terlalu nyaman, masuk suka rela kedalam ketidaksadaran. Esoknya aku terbangun sudah di atas ranjang. Selimut sampai sebatas d**a. Bukan hal biasa. Aku tidak suka selimut setinggi itu. Mataku bergeser ke nakas. Toples-toples kaca berpita ungu. Isinya adalah kue kering yang tampak lezat. Aku kira Sam telah menghabiskan semuanya. Aku meraih ponsel. Mata yang belum bersemangat melonjak akan notifikasi di bilah atas layar. Ian. "Bersiaplah. Aku akan menjemput kamu pukul sembilan." Dia tidak berbohong. Benar serius ingin meminta jawaban. Aku harusnya terlihat sangat cantik. Oke, ayo mandi. Semangat membanjiri d**a. Usai mandi hingga menunggu di depan cafe pun masih penuh. Mobil Ian berhenti beberapa menit kemudian. Aku segera masuk. Lalu tiba-tiba getaran halus terjadi di dalam d**a. Bagaimana jika akhirnya dia berubah pikiran? Aku tidak siap untuk pura-pura kuat. Dia sendiri malah terlihat dingin dari biasanya. Sedikitpun tidak melirik atau bertanya. Dalam sekejap suasana mobil persis seperti kutub utara, terlampau dingin dan membuat tubuh menggigil. Berhenti di taman. Ia mendorong pintu lebih awal sebelum aku keluar. Oh bukan, dia tidak berniat membuakkan pintu. Aku keluar, berjalan beberapa langkah di belakangnya. "Aku akan memesan minuman, kamu duduk saja lebih dulu." Tidak membantah. Aku mencari kursi taman ternyaman dan mendudukkan diri. Dia bergerak kepada salah satu penjual minuman. Tubuh tinggi, tegap dan kulit putihnya tampak sempurna dalam balutan pakaian kasual. Memang pantas aku namai pangeran, karena dia memang refleksi dari figur itu. "Silahkan." Ia memberikan aku satu cup smoothies taro. Miliknya sendiri juga sama. "Bagaimana?" Aku menggeser tubuh saat ia mengambil bagian. Bukannya apa-apa. Jantungku masih tidak stabil dan dia sendiri adalah penyebabnya. Akan bahaya jika aku mendekat lagi. "I-tu.." Keyakinan sebelumnya telah ada bersama tekad bulat, tapi entah mengapa saat ini aku tertekan oleh keberadaannya. Seria, jangan bodoh! Katakan langsung jawabanmu sebelum dia terjebak niat membatalkan. "Bernafaslah dengan tenang. Aku tidak akan memaksa jawaban." Kuturuti kalimatnya. Menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Beberapa kali hingga aku mulai merasa nyaman. Sudut mataku melirik, ia menyesap tenang minuman. Pandangannya melurus ke satu titik, kolam pancuran taman. Sesekali bulu mata indahnya berkedip. Aish, aku malah gagal fokus. "Ian, yang kemarin itu serius kan?" Lehernya bergerak cepat padaku. "Jadi, kamu pikir aku bercanda?" "B-bukan, hanya saja.." Mataku menjauhinya. Jatuh pada sepasang sepatu putih yang aku kenakan. "Kamu begitu pintar. Aku pikir kamu pasti menginginkan perempuan yang sepadan, sedangkan aku masih jauh dari kata murid baik." Tawa kecil terdengar renyah menjadi jawaban. "Seria-Seria, apa kamu pikir aku mencari murid baik? Aku kan mencari pemilik hatiku." "Ya tapi kan.." "Kamu tidak mau?" sergahnya. Cepat-cepat aku menggeleng. "Aku mau!" "Lalu?" "Aku bukan tipe yang kamu harapkan." "Memangnya kamu tahu seperti apa tipeku?" Bibirku terkatup rapat. Jawabannya sudah jelas tidak. Aku hanya membuat perkiraan dari kehebatan yang ia miliki. Tidak ada bukti nyata itu benar. Aih, mungkin aku yang terlalu berpikir jauh. Telapak tangannya terlempar pelan ke depan wajahku. "Ayo jalan-jalan." Aku menyambutnya. Getaran-getaran halus akan ketakuan tidak nyata tadi perlahan mulai surut seiring kehangatan kulitnya yang terasa. Sesekali aku menyesap minuman untuk menepis rasa canggung. Kulit kami saling beradu. Selain sensasi hangat, itu juga membuat aku berpikir dia seolah mampu merasakan apa yang aku rasakan. "Mau makan sesuatu?" Mata kami beradu, saling diam sesaat sebelum aku mengangguk. Jalinan terputus dan ia pun mengarahkan telunjuk pada salah stand kue. "Kamu mau?" "Mau." Kami menghampirinya bersama, memesan dua donat besar rasa coklat. Usai membeli kami kembali berjalan. Sebenarnya agak aneh makan sambil berjalan, terlebih tangan kami saling bertaut. Namun ia santai seperti biasa, jadi aku pun mengimbangi dan mulai sesekali menggigit donat. Dia tidak membahas apa-apa, termasuk akan surat kemarin. Aku sendiri telah lega karena berhasil mengatakan jawaban. Itu berarti aku telah melaksanakan tanggungjawab. Kini giliran dia saja menepatkan. Ingin mengukuhkan atau justru membatalkan? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD