Lima

1740 Words
Aku melempar tas ke ranjang, lalu disusul oleh tubuhku. Lelah sekali rasanya. Padahal aku hanya duduk di kelas, sedikit mencoba fokus, mencatat apa yang dipresentasikan guru, istirahat, lalu duduk di kelas lagi dan pulang. Heran sekali mengingat anak-anak pintar dikelasku tetap cerah bahkan setelah beragam materi masuk ke kepala mereka. Devi baru saja mengirimkan pesan, mengatakan bahwa tasku ada di rumahnya. Ah iya, aku hampir melupakan tasku yang itu. Aku bilang padanya ingin mengambil malam ini dan tahu apa yang mengesalkan? Dia tidak ada di rumah. Kalau begitu harusnya tadi dia tidak usah menyuruh aku mengambil tas itu sekalian. "Non.." Itu suara Bibi Felina. Dia adalah pengasuhku sejak berusia lima tahun. Kalau pengasuh Aera adalah Bibi Tina. Seperti orang yang diasuhnya, Bibi Tina memilki pandangan sinis. Pokoknya paling tidak enak untuk dilihat. "Masuk saja, Bi. Pintunya tidak dikunci." Suara pintu diputar menyusul setelahnya. "Ini bath bomb-nya, Non. Aroma lavender sudah habis. Tinggal tersisa aroma vanilla saja." "Yah.."  Aku tidak suka aroma vanila. Meskipun soft itu terlalu manis rasanya. "Akan saya masukkan ke list belanja, tapi itu pasti akan datang paling cepat dua minggu lagi. Bagaimana, Non? Mau saya belikan saja di supermarket?" "Tidak usah deh, Bi." Aku menuruni ranjang dan menerima bath bomb dari tangan Bi Feli. "Tolong suruh supir siapkan mobil saya ya. Saya mau keluar sebentar." "Baik, Non." Aku memasukkan bath bomb ke dalam bath up sebelum menyalakan kran. Seiring air yang kian memenuhi bath up, letupan-letupan bath bomb pun hadir membuat busa melimpah ke setiap sisi. Aku menyalakan TV yang terpasang di dinding. Mencari-cari siaran yang pas hingga akhirnya berakhir pada salah satu talk show Amerika. Busa di bath up sudah penuh. Aku mematikan kran dan merendamkan diri ke dalamnya. Ya, aroma vanila. Soft namun manis. Aku tidak suka aroma manis. Tapi apa boleh buat, hanya ini bath bomb yang tersisa. Sembari menonton aku memlin-milin ujung rambutku. Aku ingin mengecatnya dengan warna dark brown. Sebenarnya tidak ada peraturan sekolah yang melarang murid untuk mengecat rambut. Nah inilah enaknya sekolah di swasta. Namun untuk warna-warnanya baru dikenakan peraturan. Hanya warna gelap seperti, midnight blue, grey, dark brown, burgundy, caramel, dan warna gelap lainnya yang diizinkan. Pink, oren, merah, biru terang adalah yang paling dilarang. Alasan dilarangnya juga demi kebaikan bersama yakni karena kebanyakan yang mengecat rambut dengan warna itu terlihat tidak cocok. Ide bagus. Malam ini aku akan pergi mengecat rambut setelah mampir ke cafe. Yah, tapi aku tidak bisa mengajak Aliya. Dia mau jalan dengan kekasihnya. Mila? Perempuan jomblo itu pasti free. Eh tidak tahu jika kalau ternyata dia malah ngedrakor. *** "Bi." Aku sedikit berseru agar Bi Feli atau bibi manapun mendengarnya. "Iya, Non?" Bi Feli muncul dari arah dapur. "Sudah mau pergi, Non?" "Sudah, Bi. Saya akan pulang sekitar pukul sepuluh." "Baik, Non." Bi Feli mengantar aku hingga ke depan. Dan ternyata di ruang tamu Sam sudah duduk santai, menumpangkan kaki kirinya di atas kaki kanannya. Wajahnya itu pula ia letakkan diatas telapak yang tertopang ke paha. "Mau kemana?" "Cafe." Aku mengambil duduk di depannya. "Ngapain kamu kesini?" "Memastikan keadaan kamu saja." Cih alasan! Ini pasti karena kepala pelayan Ran melapor padanya bahwa aku ingin keluar. "Dan sepertinya kamu lupa untuk melapor padaku kemanapun kamu akan pergi." "Tidak sempat," alibiku. Lagipula apa pentingnya jika dia tahu aku dimana. Tidak ada! "Katanya mau ke cafe, ayo." Ia berdiri. "Sebelumnya aku mau mengecat rambut terlebih dahulu." Dia tidak mungkin tahan duduk berjam-jam di salon. "Oke." What? Dia setuju? Apa dia kira mengecat rambut itu hanya beberapa menit. "Mengecat rambut itu bisa memakan waktu setidaknya 3 jam. Kamu yakin mau tetap ikut?" "Iya." Jawaban yang singkat saja. "Baiklah, tunggu sebentar." Aku kembali ke kamar. Mengambil salah satu bucket hat berwarna hitam dari tempatnya. Untung malam ini Sam mengenakan kaos biasa dan celana training jadi itu akan sangat pas dipadukan dengan bucket hat. "Pakai ini." Dia sedikit mengerutkan kening ketika aku menyodorkan topi tersebut. Tidak mau menunggu lama, aku memakaikan ke kepalanya. "Nah, begini kan bagus," kataku setelah melihat hasilnya. Yang terlihat jelas hanya hidung mancungnya. Tidak akan ada yang sadar figur tegap ini memiliki wajah yang buruk. Bagus sekali. "Jangan dilepas oke." Dia berdehem pelan. Yayy dia setuju. Aku tidak perlu takut jika salah satu pengikutku menangkap dia. Toh wajahnya juga tidak kelihatan. "Kenapa masih berdiri? Ayo?" "Ayo." Aku mengekorinya keluar dari ruang tamu. Samar-samar aku mendengar suara kepala pelayan Ran kepada Bibi Felin. "Kasihan Nona Seria harus bertunangan dengan laki-laki sejelek itu. Dia pasti sangat malu." Itu benar, tapi kenapa aku sedikit ngilu ketika mereka mengatakan Sam sejelek itu. Hal tersebut memang fakta, tapi entah kenapa terasa salah di telingaku. Apaan sih. Aneh sekali. "Seatbeltnya." Peringatan dari Sam segera aku kerjakan. Ia sudah menyalakan mesin mobil, hampir menekan pedal gas ketika hidungnya mulai bergerak-gerak. "Kenapa?" heranku pasalnya tidak ada bau aneh yang masuk ke dalam hidungku. Bukannya menjawab dia malah melihat ke arahku. "Eh.." Aku memundurkan tubuh saat wajahnya menukik ke leherku. Astaga. Apa yang dia lakukan. Tuhan, jantungku. Plis, jangan sampai Sam mendengarnya. Dia pasti akan mengira aku suka padanya. Hidungnya berhenti mengendus dan dia memberikan aku tatapan dalam. "Vanilla?" Apasih, Sam. Membuat hatiku terkejut saja. Hampir saja aku berpikir dia akan menciumiku. Astaga, Seria. Pikiranmu! "Ya..tadi aku habis menggunakan bath bomb vanilla." Wajahnya kembali seperti semula. Detik berikutnya mobil sudah berjalan meninggalkan halaman. Hanya itu? Tidak ada penjelasan? Cih, Sam aneh. *** Aku sesekali mengintip Sam lewat cermin di depanku. Seperti satu jam lalu. Dia sibuk dengan ponselnya. Baguslah, daripada dia protes karena kelamaan menunggu. Kata Aliya kekasihnya suka protes begitu setiap dia mengajaknya ke salon. Devi juga mengatakan yang sama atas pengalamannya bersama beberapa mantannya di masa lalu. Tapi kenapa Sam tidak protes? Apa dia spesies pria dengan gen khusus? Mungkin saja. Terbukti dengan bibirnya yang tetap anteng. Sedikitpun tidak mendumel atau mendesah kesal. "Pacarnya ya, Sis?" Namanya Barley, tapi dia lebih suka dipanggil Dora. Dia adalah lelaki kemayu yang menjadi langganku untuk mengecat rambut. Mungkin sudah berlangsung kira-kira tiga tahun yang lalu. Kemampuannya luar biasanya lah yang membuat aku menjadi pelanggannya. Aku hanya berdehem kecil. Tidak setuju, tidak juga menolak. Netral saja. Karena aku tidak tahu bagimana harus menjawabnya dengan tepat. Sam memang tunanganku, tapi aku tidak menganggapnya demikian.  Aku tidak menganggapnya tapi aku tidak bisa menolak fakta juga. Ya begitulah. Sangat memusingkan jika orang bertanya siapa Sam itu sebenarnya bagiku. "Badannya uhu." Binar kagum tertangkap olehku di mata Dora. "Dan kamu lihat itu, kaki jenjang nan langsingnya. OMG, seperti milik idol-idol korea tahu. Lihat wajahnya dong, Sis. Pasti genteng banget." Ganteng darimananya? Gradakan dan penuh jerawat batu begitu. Belum lagi dia melihat kulit kusam Sam. Aku yakin Dia akan menatap jijik jika melihatnya membuka topi. Yakin sekali mengingat Dora ini hanya respect pada yang sempurna saja.  "Sis.." "Apaan sih, Dor. Kepo banget. Cepat nih urus rambutku." "Pelit banget," sungutnya. "Awas kuburannya nanti meledak loh." Aku memutar mata. Terserahmu, Dora. Aku tidak peduli. Tiga jam kemudian rambutku telah berubah warna menjadi dark brown. Aku suka highlight vertikal yang dihasilkan oleh teknik balayage. Apalagi ketika digelombangkan seperti ini. Rambutku menjadi sangat indah. "Bagiamana, bagus kan?" "Ya seperti biasalah." Aku bisa melihat bibir Dora yang tertekuk masam. "Canda-canda. Ini sangat bagus." Sam kemudian membayar dengan kartunya. Of course, tanggung jawabnya sebagai tunangan. "Jadi mampir ke cafe?" Aku menutup pintu mobil. "Boleh." Seperti yang sudah-sudah, tidak ada pembicaraan. Hah, Sam itu benar-benar dingin ya. Mirip sekali dengan kulkas di dapur. *** "Chocolate smoothie satu dan.." Aku membalikkan lembaran buku menu. "Tidak ada salad ya?" "Untuk saat ini tidak ada, Kak. Maaf." "Ya sudah itu saja." Aku menutup buku menu dan bertopang dagu untuk mengamati Sam. "Blue ocean moctail satu, nasi ayam geprek dan...kwetiaw." "Kamu kelaparan ya?" tanyaku setelah waiters pergi. "Mungkin." Sam menggeser buku menu ke pinggir. Tidak niat bertanya balik gitu? Hah, sepertinya tidak. Dia malah mengeluarkan ponsel dari saku celana training hitamnya. "Sam.." Aku iseng-iseng ingin mengerjainya. Ia mengangkat pandangan, tapi tidak bertanya. Astaga, Sam. Kamu ini bisu ya? "Fotoin dong. Aku mau upload di instagram." "Oke." Dia mengarahkan ponselnya padaku. Cekrek Ya Tuhan. Cahaya ilahi melintas. Mana bersuara pula. "Sam!" seruku seraya mengamati sekitar. Beberapa orang memang melihat padaku. Damn! Ini karena ulah Sam. Sudut bibirnya tertarik menjadi tawa kecil. "Ngeselin banget sih." Aku membuang wajah darinya dan memanyunkan bibir. Apa ini? Jantungku tiba-tiba berdesir tatkala merasakan telapak kasarnya mengelus suraiku. "Aku bercanda." Suaranya lembut. Oh astaga, kenapa aku baru tahu kalau Sam punya efek berbahaya jika berkata lembut. Parah-parah, ini lebih berbahaya daripada dia berkata dingin. Hei hati, diamlah! Jangan berdesir terus. Aku tidak mau jatuh cinta pada Sam. "Ayo foto lagi." "Tidak mau." Moodku sudah terlanjur jatuh. Aku pikir juga dia tidak akan membujuk lagi mengingat sifatnya yang dingin itu. Nah kan benar. Tangannya sudah turun dari kepalaku dan dia tidak mengatakan apa-apa. "Lihat." Ia menarik daguku, mengarahkan pada hasil tangkapannya di layar ponsel. "Bagus kan?" "Lumayan." Aku merebut ponselnya, mengirimkan hasil fotonya pada nomorku. Disitulah aku secara tidak sengaja melihat beberapa nomor perempuan. Ada beberapa pesan yang kelihatannya masih baru. Salah satunya bertanya keberadaan Sam dan beberapa yang lain mengajak Sam jalan. What? Mereka seantusias itu dengan Sam? Aku membuka salah satu profil mereka. Holly s**t. Tubuh bagaikan gitar spanyol dan riasan matte. Terkesan dewasa tapi aku yakin masih berusia seperti Sam. "Ini siapa?" Aku memiringkan ponsel agar Sam melihatnya. "Aisha." "Siapa?" Dahinya berkerut. "Aisha," katanya lagi. "Bukan namanya, Sam!" geramku. Nih cowok pura-pura bego atau memang bego sih?! "Jadi?" "Siapanya kamu?" Ia terlihat berpikir sesaat. "Bukan siapa-siapa," jawabnya kemudian. "Masa?" desaku lagi. "Dia murid Andromeda, sepupunya Jason. Aku beberapa kali bertemu dengannya ketika ke rumah Jason. Dia pernah beberapa kali mengajak aku jalan, tapi aku menolak. So, what should I called it?" Bukan siapa-siapa. Benar. Aku membulatkan bibir ketus. "Oh." Siapa sangka ternyata Sammy jelek ini memiliki banyak kontak perempuan. Memang tidak ada yang ia chat dengan intens, hanya beberapa perempuan yang sepertinya teman sekelasnya saja. Tapi aku bingung. Kenapa bisa perempuan-perempuan di kontak Sam cantik dan aduhai. Sam bukanlah tipe pria yang menarik sama sekali. Ya iya sih tubuhnya sangat bagus dan dia memiliki sepasang mata yang bisa membuat siapa saja jatuh cinta, tapi kan wajahnya itu jelek. Apa iya perempuan-perempuan cantik tersebut percaya diri berada di samping wajah Sam yang jerawatan? Mana dia suka berpakaian asal lagi. Kalau aku sendiri jujur sangat malu. Secara tidak langsung keberadaan Sam mengurangi kesempurnaan yang melekat pada diriku. Tapi perspektif orang memang beda-beda. Aku tidak bisa menyalakan jika mereka menyukai Sam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD