"Nona, Tuan Sam sudah di depan."
Aku menyandang malas tasku. Berjalan meninggalkan meja makan tanpa gairah. Di halaman sudah ada Sam, tidak lama disusul oleh kedatangan Arkan.
"Hai," sapanya bersama seulas senyum.
Aku tersenyum tipis. Hanya agar tidak dikira jutek saja.
"Kenapa?" tanya Sam begitu aku selesai menutup pintu.
"Apanya yang kenapa?"
"Wajahmu," katanya seraya menyalakan mesin mobil.
"Memangnya kenapa dengan wajahku?" Aku bisa merasakan nada suaraku yang telah naik satu oktaf.
"Tidak ada."
Dia akhirnya memfokuskan diri mengemudi. Sementara itu aku membuka ponselku. Masih kesal setiap mengingat DM-an orang-orang.
Benar, aku berpacaran dengan Sam. Tunangan malah. Itu bukan karena keinginanku. Eh mereka seenaknya saja beropini itu karena tidak ada cowok lain yang mau denganku.
Hello! Aku ini Seria Manhataga. Cowok mana yang tidak mau denganku. Dasar mulut-mulut sampah. Sembarang saja mengatakan aku tidak laku.
***
"Ayo."
Aku menepis langsung tangan Sam yang hendak merangkul. Tanpa menunggu kalimatnya aku pun meninggalkan parkiran. Berjalan tergesa-gesa ke kelas.
"Kenapa dengan wajahmu?" Begitu menjatuhkan diri di kursi, Devi langsung menyambut.
"Kamu lihat sendiri deh." Aku memberikan ponselku. Tepatnya Dm-an yang dikirim oleh orang-orang.
"Kamu gengsi tunangan dengan Sam?"
Aku menyibakkan rambut. "Elah, Dev. Kenapa segala ditanya sih. Semua perempuan juga akan begitu jika berada di posisi aku. Dan yang membuat aku kesal itu, kenapa bisa-bisanya mereka mengatakan bahwa aku tidak laku. Hello! Mereka pikir aku siapa?"
"Gitu doang kok dipikirkan. Nih." Aliya mendaratkan satu cup mini salad. "Tadi aku ke supermarket dan menemukan ini."
"Gomawo, Liya."
Aku menyimpan cup tersebut di laci.
"Ke lapangan yuk," ajak Mila. Ia tidak segan-segan langsung menarik lenganku untuk bangkit. Jika sudah begitu maka aku pun pasrah di bawa ke lapangan basket.
Setiap pagi lapangan selalu ramai. Anak basket biasanya akan latihan di sana, sementara itu anak RedMan akan duduk di tribun untuk menonton. Anak volley juga tidak mau ketinggalan. Bisa dibilang lapangan adalah tempat berkumpul semua kelompok di pagi hari.
Aku sengaja mengajak mereka duduk jauh dari anak-anak RedMan. Sejak membaca DM semalam entah kenapa aku jadi merasa kesal pada Sam. Secara tidak langsung dia telah membuat aku malu. Lagipula kenapa sih semesta mentakdirkan aku dan dia bertunangan. Memikirkannya saja langsung membuat aku menghela kesal.
Devi meletuskan balon permen karetnya."Kenapa sih?"
"Kesal," kataku.
"DM-an itu?"
Aku mengangguk. Sudah beberapa tahun aku selalu terbiasa sempurna di mata publik. Keberadaan Sam saat ini menjadi satu-satunya yang membuat aku terlihat tidak sempurna. Mengesalkan sekali ihhh.
"Berunding sana dengan papamu."
"Cih yang ada semua ATM aku akan disita." No way! Aku tidak mau menjadi terbatas untuk membeli apapun yang aku mau.
"Ya sudah, jangan kesal lagi. Nikmati keputusanmu."
"Hei, bertunangan dengan dia itu bukan keputusanku."
"Tapi kamu kan tidak menolak. That's mean, itu keputusan kamu."
Aku memalingkan wajah dari Devi. Sama saja mengesalkannya seperti Sam.
30 menitku terbuang percuma. Aku bahkan tidak tahu pertandingan basket itu seperti apa. Mataku memang lurus, tapi pikiranku tidak di sana melainkan pada DM-an tersebut. Aih jiwa overthinking ini sulit benar dikendalikan.
Bel berbunyi nyaring tak lama kemudian. Satu persatu pun bangkit dari kursinya, tidak terkecuali kami.
"Seria."
Aku memalingkan malas leherku. Cowok bertindak itu. Di belakangnya Sam menjulang. Tatapannya begitu dingin hingga aku mungkin bisa beku jika terlalu lama menatapnya.
"Cieeeee."
Aku melotot. Apa maksud si tindik itu.
"Tidak aku sangka ternyata kamu dan Sam bertunangan."
Wajah Sam langsung terlihat malas. "Aku duluan," katanya dan langsung melengos pergi.
"Eh eh Sam, tunggu."
Si tindik segera mengejarnya.
"Itu serius?" Geri sepertinya masih tidak percaya. Atau kalau boleh aku sedikit percaya diri, dia sedikit marah karena bukan dia yang menjadi kekasihku.
"Begitulah."
Aku memutar kaki dan menjauh. Tidak ada lagi yang harus aku jelaskan. Pertanyaan ketidakpercayaan mereka juga bukan urusan aku, ya meskipun aku kesal ketika mendengarnya. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa kan?
"Ser, ke koperasi yuk." Aliya menyeret tanganku ke arah barat.
"Kami duluan," teriak Devi.
Aku memberi jempol. Membiarkan keduanya menjauh.
"Mau beli apa sih?"
Aliya membuka freezer, mengambil satu kaleng minuman dingin. "Mau beli pena lah. Pena aku kan setiap hari hilang."
"Oh." Kirain mau beli sesuatu yang wow. Tahu-tahunya hanya pena.
"Mau tidak?" Aliya mengangkat satu kaleng minuman dingin padaku.
Aku menyambarnya cepat. "Kamu yang bayar."
Dia tidak menolak. Pergi ke kasir dan meminta beberapa pena, lalu membayarnya.
"Wow, lihat siapa ini?"
Aku memutar mata malas mendengar suara manja tersebut. Dia adalah Kei, murid kelas 12 yang sok kecantikan dan suka menindas. Penampilannya memang mewah, tapi kecantikannya tidak terlihat nyata. Hanya modal make up tebal yang selalu ia poles setiap waktu.
"Cantik-cantik ternyata tidak ada yang mau." Aku tahu kemana arah pembicaraannya pergi. Kemana lagi? Tentu Sam kan? Cih! Sibuk saja mengurusi orang lain. Akan lebih bagus jika dia mempergunakan waktu untuk mengurus bulu mata palsunya yang berantakan itu.
"Sam Dagantara? Astaga, sepertinya kamu ini benar-benar tidak laku ya?"
"Bukan urusanmu."
"Sudahlah, Ser." Tangannya itu mampir di bahuku. "Ambil saja salah satu dari mantanku. Itu lebih baik daripada Sam Dagantara."
"Sorry, babe. Aku tidak suka bekas orang lain. Lebih baik buruk rupa daripada harus memakai barang bekas. Kalau kamu mungkin akan senang hati demikian. But not me." Aku melambai pada Aliya yang telah selesai membayar. "Ayo, Al."
"Sampah," gerutuku setelah keluar dari koperasi. "Bisa-bisanya dia merendahkan aku dengan menawarkan mantannya yang tidak seberapa itu."
"Sudahlah, begitu saja kok diambil hati."
"Namanya juga punya hati," sarkasku seraya menarik penutup kaleng. Menyesap sedikit air dari dalamnya membuat dadaku lebih dingin.
"Eh lihat itu Sam."
Aku mengikuti telunjuk Aliya. Sam di depan gedung seberang. Berdiri dengan satu kaki terangkat dan kedua tangan di telinga. Si tindik, Geri dan beberapa anak RedMan lainnya juga di sana.
"Kenapa dia?"
"Paling tidak membuat tugas." Aliya menyesap minumannya. "Sudah jangan dilihatin terus, nanti kamu suka loh."
Aku menarik langsung pandanganku. "Dih gak bakalan."
"Awas karma, Ser."
Aku mengedikan bahu. Tidak peduli dengan yang namanya karma.
"Tapi kan, Ser. Mata Sam itu sebenarnya bagus loh."
"Loh kok kamu sepemikiran dengan aku?"
Aku kira hanya aku saja yang menyadari itu. Ternyata Aliya demikian. Dua orang, itu berarti keindahan mata Sam sudah diakui.
"Itu memang kenyataan. Mata coklatnya bagus. Proporsi badannya juga seperti model kosmetik. Sayang saja wajahnya jerawatan."
Aku mengangguk, menyetujui pandangan Aliya.
"Kamu kan tunangannya. Suruh saja dia merawat diri."
"Aku?"
Ah rasanya tidak yakin. Dia itu selalu terlihat dingin. Pandangnya menunjukkan bahwa dia hanya akan melakukan sesuai kata hatinya, tidak mau mendengarkan orang lain dan tidak peduli.
"Iya, coba saja."
Itu percakapan terakhir kami sebelum akhirnya masuk ke dalam kelas. Pagi ini jadwal pelajaran Mrs.Sunny. Dia adalah guru bahasa Inggris yang memang berdarah Inggris langsung. Aksen Britishnya sangat kental. Jika aku lengah sedikit saja maka aku tidak bisa memahami pelajarannya.
****
"Kau tidak mau ke kantin?"
Aku menggeleng. Menarik keluar cup mini salad pemberian Aliya tadi pagi. Selain karena itu, aku juga sedang tidak mood untuk keluar kelas.
"Ayo deh." Devi dan kekuatannya seenak jidat menarik lenganku untuk berdiri.
Aku menepis tangannya. "Aku sedang tidak mood, Dev."
"Tidak mood sih tidak mood, tapi kamu kan harus makan."
Aku mengangkat cup salad. "This is enough for me me."
"Enough pala lo. Dalam sehari kita ini membutuhkan 2.000. Salad yang kamu makan paling-paling hanya 300 kalorinya. Gimana mau hidup kamu kalau begini?"
"Bawel ih." Aku membuka cup salad. "Makin badmood nih gue jadinya."
Devi mendorong pelan kepalaku. Laknat memang nih sahabat. "Yeee salah lo dikit-dikit semuanya dimasukin hati. Ayo deh, kita tinggalin nih nenek sihir biar dimakan hantu."
Ya Tuhan. Jahat banget sahabatku itu. Teganya mendoakan sahabatnya sendiri dimakan hantu. Benar-benar tidak punya perikemanusiaan.
"Bye bye."
Mila sempat melambaikan tangan. Aku ikut membalasnya.
Suasana kelas langsung sepi tanpa mereka. Tentu saja, hanya aku sendiri di dalamnya.
"Eh astaga." Aku menepuk dahi. Baru sadar bahwa Aliya membelikan salad tanpa sendoknya. Gini ceritanya mau makan pakai apa. Hadeh. Terpaksa deh ke kantin.
Aku menutup cup salad, menyakukan ponsel, lalu melangkah keluar. Ketiga perempuan itu sudah tidak terlihat lagi. Cepat banget. Jangan-jangan punya ilmu teleportasi.
Derap kaki yang ramai memasuki telingaku. Itu dari belakang. Mungkin anak IPS sebelah yang baru keluar. Aku mengedikan bahu acuh.
"Sendirian?"
Eh. Aku mengangkat kepala, melihat pada si jangkung yang kini tepat disampingku.
"Ah iya. Mereka sudah duluan tadi."
Dagunya manggut-manggut kecil. Bibirnya pula berhenti bergerak. Pendiam sekali sih.
"Kamu sendiri?"
Alis tebalnya terangkat. Aku baru tahu ternyata gestur itu merupakan kebiasaannya. Keren sih mengingat ia melakukannya sempurna. Natural dan OMG so hot.
"Baru mau ke kantin?"
"As you can see."
Ada gelak yang ingin keluar dari manik itu. Ya, aku memang bodoh. Jelas-jelas dia ke arah kantin. That's mean, dia baru mau ke kantin. Gimana sih aku? Bego banget.
Sembari merutuk diri, aku pun hanya memandangi sepatu. Berada di samping Sam itu seperti berada di dalam penjara. Tidak bisa bebas melakukan apa-apa. Matanya itu mudah mengkritik. Meskipun terlihat datar, itu justru pembuktian bahwa dia tidak menyukai satupun yang keluar dari mulutku.
Riuh kantin akhirnya membuat aku mengangkat kepala. "Mau makan apa?"
"Hah?"
Bibir yang sedikit menggelap itu menghela pelan.
"Oh.." Aku tersadar cepat akan kalimat sebelumnya. "Aku mau makan ini."
Aku mengangkat cup salad. "Tapi sendoknya tidak ada."
Bibirnya tidak berkata apa-apa, sementara itu manik cokelatnya bergelinding dari satu stand ke stand yang lain.
Nah kebodohan aku adalah mengikutinya. Meski sudah sadar aku tetap di sampingnya, mengamati bibirnya yang bergerak memesan satu lunch box dan satu botol mineral dingin.
"Mau apa?"
Ah. Aku tersentak saat maniknya sudah menusukku. "Tidak ada."
Dia memesan satu cup ice cream taro, kemudian membayar semuanya. Teman-temannya sudah berpindah ke meja di sudut kantin. Kalau aku tidak salah itu memang meja favorit mereka. Bisa dibilang milik mereka karena tidak ada orang lain yang duduk di sana.
Ia menerima pesanannya dan menatap padaku. "Mana teman-temanmu?"
Mataku berpendar. Berulang-ulang kali namun tidak menemukan satu pun dari mereka. Apa mereka tidak jadi ke kantin ya?
"Tidak ada?"
Aku menggeleng. "Mau bergabung?" tawarnnya.
Yah sepertinya aku tidak punya pilihan. Aku bergabung di meja mereka.
"Seria, annyeong." Lagi dan lagi si tindik yang menyapa lebih dulu.
Seulas senyum aku tampilan di bibirku, lalu duduk di samping Sam.
"Tumben sendiri," kata Geri. "Dimana ketiga temanmu itu?"
"Entahlah. Padahal tadi mereka bilang akan ke kantin." Aku mengambil sendok dan garpu dari tempatnya. Sebelum memakainya aku memoles lagi dengan tisu bersih.
"Higenis sekali," goda si tindik.
"Jas.." Teguran Sam membuat dia mencebik bibir.
"Sensi sekali pacarmu itu," lapornya padaku.
Apa yang bisa aku lakukan? Tentu saja hanya mengedikan bahu.
"Sammy."
Si pengganggu Kei menghampiri meja kami. Siapapun sepertinya tidak ada yang senang. Terbukti dengan tingkah mereka yang langsung berpura-pura tidak melihat eksistensi Kei.
"Tega banget kamu mengabaikan aku, Sam." Suara manjanya mengalun berbarengan dengan raut wajahnya yang berubah sendu. Ewww.
"Anyway, selamat ya."
Tangannya terulur. Sam hanya melihat tangan itu sekilas dengan tatapan malas. Jelas bukan, dia tidak akan menyambutnya.
Tepat sekali. Sam melanjutkan makan. Benar-benar seolah tidak melihat Kei di depannya. Aku menggembungkan pipi, menahan tawa yang hendak keluar.
Wajah Kei sudah memerah seperti kepiting rebus. Ketika dia mengambil kembali tangannya dia melihat ke kanan dan kiri, takut ada orang lain yang menyaksikan kebodohannya hari ini.
"Sombong banget," dengusnya kemudian. "Mentang-mentang sudah pacaran sama Seria kamu jadi sok. Cih! Seria mau sama kamu itu cuma karena kasihan. Jelas lah, siapa yang mau sama cowok jelek seperti kamu. Tidak ada!"
Serius dia mengatakan itu? Berani sekali. Aku saja meskipun setuju tetap takut mengatakannya secara langsung.
"Jangan melewati batas, Kei. I know what you do with that man last night." Matanya tetap pada kotak nasinya. Seakan dia tidak peduli, padahal kalimatnya sudah mengiris mundur semua keberanian Kei.
"Ayo."
Kei menarik mundur semua teman-temannya, membuat bibir Sam tertarik kecil.
"That man, apa maksudnya itu?"
Hoho, tentu saja aku kepo. Kapan lagi mengetahui aib Kei Canting yang sok sempurna itu.
"Something nasty. Better if you don't know what it really is."
Daguku terangkum oleh tangannya. Aku melotot ketika nasi dan potongan daging ayam meluncur masuk ke dalam mulutku kemudian.
"Cieeeee..."
Anak-anak RedMan dan wajah kejahilannya mendominasi cepat. Aku bisa merasakan bahwa aku kini menjadi pusat tontonan orang-orang.
"Apa kalian tidak bisa diam?"
Bagaikan prajurit, mereka mengatupkan bibir masing-masing. Perintah Sam ternyata seberharga itu bagi mereka. Baguslah. Aku tinggal fokus menutupi semburat panas yang menjalari pipiku saja. Dasar Sam! Suka sekali memalukan aku ketika lengah.
****