Tiga

1710 Words
Pukul sebelas lewat lima menit akhirnya aku keluar dari rumah Devi. Aku sama sekali tidak berharap dan menyangka Sam berdiri di sebrang jalan, bersandar pada mobil dengan rokok terselip diantara jari-jarinya. Astaga, cowok itu benar-benar nekat. "Ciee dijemput," goda Mila. Aku hanya memutar mata. "Apaan sih." "Mana nih Devi?" Aliya menoleh kembali ke daun pintu. Tadi kata perempuan itu kalau mau pulang izin dulu padanya, tapi ketika kami cari dia entah kemana. Meribetkan. "Aku duluan deh," kataku semakin tidak enak hati pada Sam. Ketika tadi dia menelepon baru pukul sembilan lewat belasan menit dan sekarang telah pukul sebelas lewat lima menit. Jika dia benar-benar menunggu, itu berarti dia sudah hampir 2 jam di sana. Oh God, tidak bisa aku bayangkan betapa emosinya dia berdiri di sana selama itu. "Ya sudah, hati-hati." Setelah mendapat izin dari Mila aku pun melangkah meninggalkan halaman Hirataga. Sam mengenakan sweater hitam rajut dengan sedikit warna merah di lengan atas hingga ke sikunya. Di dadanya tercetak lambang Redman dengan warna merah. Sebagai bawahan dia mengenakan ripped jeans hitam yang memperlihatkan sempurna kaki jenjangnya nan langsing itu. Sebenarnya dia punya postur bagus, hanya saja terlalu maras mengurus diri. Ketika hampir sampai di depan wajahnya aku sudah bisa melihat rambut acak-acakanya. Yah, seperti biasa. Dia tidak terawat kan? "Sudah lama?" tanyaku berbasa-basi. Manik coklat gelap itu sedikitpun tidak terlihat senang. Cuek saja ketika ia mengangkat alisnya. "Menurutmu?" Aku tercengir lebar. Yakin sekali dia sudah lama menunggu. Hidungnya menghembuskan asap putih, mengepul hingga ke depan wajahku. Sesaat ia masih memandangku dengan tatapan datar sebelum akhirnya melempar puntung rokok tersebut ke sembarang arah. Berbalik dan menarik pintu untukku. What a gentleman. Setelah aku duduk di kursi, ia menutup kembali pintu dan berputar untuk masuk ke kursi kemudi. Perjalanan panjang kami lalui dengan keheningan. Sesekali aku menoleh, berharap bibirnya mengeluarkan kalimat. Tapi tidak ada. Bibirnya terkatup rapat, sedikitpun tidak bergerak. Manik dinginnya lurus pada keramaian jalan. Huh, cuek sekali. "Sam.." Aku pun memberanikan diri untuk memanggil. Perjalanan masih jauh. Tentu tidak enak hanya dengan keheningan. "Ya?" Ia menoleh sekilas sembari menarik alis tebalnya ke atas. Owh, what a hot gesture. Di bawah tatapan itu aku pun menjadi canggung. "Ituu..aku mau memutar lagu. Boleh kah?" Ia mengangguk kecil. "Sure." Masih ada sedikit kecanggungan ketika aku menyambungkan bluetooth ponsel ke mobil. Apalagi ketika lagu yang aku pilih sudah terputar. Aku takut Sam tidak menyukainya. Tapi sepertinya tidak. Dia tetap fokus pada jalanan. Sebegitu menariknya jalanan daripada aku sampai-sampai sedikitpun tidak mau melirik. Mataku menembus keluar jendela. Meskipun sudah pukul sebelas tapi toko-toko masih banyak yang beroperasi. "Sam, makan yuk," ajakku. "Dimana?" Aku mendengus dalam hati. Datar banget nadanya. Jangan-jangan dia marah karena terlalu lama menungguku. "Dimana ya?" Aku terus menatap ke luar jendela. Mencari mana restauran yang masih buka. "Sam, itu." Aku menunjuk salah satu restauran. Segera saja kecepatan mobil yang kami kendarai berkurang. Restauran itu telah sepi ketika kami masuk. Wajar saja. Ini sudah pukul sebelas lewat. "Fruit salad and green smoothies," pesanku pada waiters. Aku memindahkan tatapan pada Sam, bermaksud bertanya apa dia juga ingin memesan. Tapi dia secara pelan menggeleng. "Baik saya ulangi. Satu porsi fruit salad dan green smoothies.  Apa masih ada yang lain?" "Tidak, terimakasih," kataku seraya memberi senyuman tipis. Setelah waiters itu pergi aku menumpu siku pada meja dan meletakkan dagu diatasnya. "Kamu tidak lapar?" Sam menggeleng, membuat rambut hitam legamnya bergerak. Beberapa untaian jatuh di dahinya. Aku jamin senin depan dia pasti akan dihukum karena itu. Aku manggut-manggut kecil. Rasanya dia seperti seorang cowok yang tengah merajuk. Hanya diam terus dan menatap dingin. Atau cuma perasaan aku saja. Toh dia juga biasanya seperti itu. Cuek dan dingin. Aku mengintip ponselku yang berkedip dan meraihnya. Nomor tidak dikenal masuk mengirim pesan. Siapa? Terimakasih untuk yang tadi. Ini aku Ian, save ya. Oh cowok titisan pangeran itu. Aku menyimpan langsung nomornya dan membalas singkat. Oke. Aku mengembalikan ponsel ke meja. Bosan sedikit melingkupi. Sam sih tidak mau mengajak berbicara. Dan bisa-bisanya dia bersandar santai di kursi dengan tatapan tetap padaku tanpa sedikitpun kecanggungan. "Sam, kamu yakin tidak mau makan?" Dia menggeleng. "Yakin?" tanyaku kali ini sedikit mendesak. Dia mengangguk. Angguk, geleng, menjawab singkat, fix ini mah tandanya dia merajuk. "Kamu merajuk ya?" tuduhku sudah tidak tahan lagi. Alis tebalnya saling bertaut. Kebingungan pasti bersarang di dalam kepalanya. "Kamu sedari tadi menjawab singkat saja. Kamu merajuk kan?" Dia menggeleng kecil, membiarkan telapak tangannya jatuh ke meja dan dia kemudian menegakkan punggung. "Aku lelah," ungkapnya. "Lelah?" "Kami baru selesai latihan untuk pertandingan minggu depan." "RedMan mau bertanding? Dengan siapa?" "Andromeda." "Tunggu-tunggu, Andromeda sekolah bisnis itu kan?" "Iya." Dia menyatukan telapak tangannya. Dua manik coklatnya masih seperti tadi, lurus pada maniku. Sepertinya dia punya hobi menatap manik orang. Tidak sopan sekali. "Kok bisa?" Bahunya mengedik acuh. Ya sudah sih kalau tidak mau memberi tahu. Aku juga tidak terlalu ingin tahu. "Silahkan." Aku menarik tangan dari meja ketika waiters itu mulai menyajikan makanan dan minuman yang aku pesan. Saat mengangkat sendok dan garpu, aku bertanya lagi. "Kamu yakin tidak lapar?" "Tidak." "Oke." Aku menyuap potongan apel ke dalam mulut. Aku memang lapar, tapi aku tidak seperti orang kebanyakan yang mengisi lapar dengan nasi. Aku lebih suka mengisinya dengan salad buah maupun salad sayur. Selain demi menjaga tubuh, itu juga sudah menjadi kebiasaanku sejak berusia 12 tahun. Jadi jangan tanya kenapa tubuhku lebih bagus dari Aera. Tentu saja karena cara makan kami juga berbeda. Dia itu hobi makan junk food sedangkan aku bisa menghitung beberapa kali makan junk food dalam sebulan. Tidak pernah lebih dari sepuluh kali. Bahkan aku selalu berusaha mengkonsumsi di bawahnya lagi. Setelah selesai, Sam membayar makanan dan kami keluar. Aku menyadarkan kepala dengan santai ke kursi, menikmati lagu yang mengalun dari speaker mobil. Setidaknya begitulah yang aku lakukan selama beberapa puluh menit sebelum akhirnya mobil terasa berhenti. Ketika aku menoleh ke luar jendela ternyata mobil berada di depan warung mie ayam. Suara pintu terbuka membuat aku memalingkan wajah. "Sam?" "Ayo," katanya langsung turun. Mau tidak mau aku pun mengikutinya. Tempat itu lumayan kumuh. Gerobak yang digunakan untuk menempatkan makanan terlihat memiliki bercak-bercak makanan. Apa dia tidak membersihkannya sebelum menjual? Penjorok sekali. "Pak, mie ayamnya satu." Dengan santai Sam menepuk bahu si penjual. Oke, aku rasa dia sudah akrab dengan pria paruh baya itu. "Siap, Mas. Eh tumben sama cewek. Siapanya nih, Mas? Pacar ya?" Bibir Sam terkekeh kecil seraya mengangguk. "Wah-wah, langgeng terus ya, Mas, Mbak." Aku yang mendapat senyuman pun ikut membalas tipis. "Sini." Sam menarik kursi plastik lain ke sampingnya. Aku pun mendudukkan diri diatasnya. "Katanya tidak lapar," sindirku. "Itu tadi. Sekarang aku lapar." Aku mendengus pelan. Beberapa menit kemudian satu porsi mie ayam telah jadi. Sam secara antuasias memakannya. Apa seenak itu ya? Sampai-sampai dia hanya fokus pada mangkuknya saja. Sedikitpun tidak menyadari aku yang tengah memperhatikannya.  "Mau?" Aku tersentak saat garpu berisi gulungan mie tersodor. "En.. enggak." Kepalaku bergerak kanan dan kiri. "Aku sudah kenyang," lanjutku. Matanya tidak beralih, begitupula dengan sendoknya. Baiklah. Aku memajukan mulut, melahap mie tersebut. Dengan begitu dia kembali pada mangkuknya. Dasar aneh! Eh tapi enak juga mienya. Terasa kenyal dan memilki aroma bumbu yang khas. "Mau lagi?" tawar Sam. Aku menggeleng, tapi dia tetap mengarahkan garpunya ke mulutku. Sungguh, aku jadi bertanya apa fungsinya pertanyaan tadi. Belum siap aku mengunyah, Sam sudah menyodorkan kuah dengan beberapa potong daging ayam diatasnya. Lagi, aku menerimanya saja. Aku baru tahu mie ayam ternyata seenak ini. Saat SD aku juga kerap menikmatinya, namun rasanya berbeda. Mungkinkah karena aku telah lama tidak menikmatinya, jadi lidah ini terkejut akan rasanya.  Aku menerima terus suapan dari Sam, secara penuh mengabaikan bahwa baru pertamakali ini aku makan dengan sendok yang sama dengan seorang cowok. Sam sendiri tidak terlihat keberatan sama sekali. Sebaliknya ia terlihat antuasias. Jari-jarinya naik ke bibirku, mengelap sisa kuah berminyak di sana dengan tisu. Sentuhan kulit dinginnya mengejutkan, melebarkan mata akan ketidakpercayaan dan membuat d**a terasa berdesir aneh. "Ayo," katanya langsung menarik tangan. Oh, ternyata sudah selesai.  Ia membayar mie ayam. Sengaja memberikan lebih malah. Dermawan sekali. Aku kira dari sifat dinginnya dia juga berhati dingin. Ternyata tidak. Rasanya benar, dont judge book by its cover. "Kamu sering makan disitu?" tanyaku ketika mobil kembali berjalan. "Iya." "Tapi tempatnya kotor loh." "Hanya karena sekeliling kamu kotor, apakah itu menjadikan kamu juga kotor?" Tentu saja iya. Tapi karena pertanyaan itu terdengar tajam dari Sam, aku pun memilih diam. "Tidak semuanya begitu. Aku sudah mengenal Pak Man sejak lama. Dia selalu membuat makanan dengan bersih, tapi dia tidak punya cukup uang untuk membeli tempat yang layak. Bisa dibilang makanannya dilabeli kotor karena tempatnya saja." Aku tidak tahu harus berkomentar apa, jadi aku pun hanya diam. Dia terlihat begitu tersindir. Itu membuat aku semakin takut membuka mulut. "Penampilan itu hanya sampul kepalsuan nyata. Kalau kamu ingin melihat kebaikan,  menyelam lah ke dalamnya." Kata-kata dengan nada serius. Apa dia sedang mengatakan untuk dirinya sendiri?                                                                                       *** "Hati-hati." Aku menutup kembali pintu mobil. Sam tidak membalas, tapi manik gelap itu masih terasa mengawasi punggungku hingga aku masuk ke dalam rumah. "Cieee habis jalan sama si buruk rupa." Ya, itu kakakku yang tidak tahu diri. Dia sudah mengenakan pakaian tidur tapi masih duduk di sofa ruang tamu. Sepertinya sengaja menunggu aku pulang. Of course dengan tujuan mem-bully. Hal biasa yang cukup memuakkan. "Lihat." Ia mengangkat tangannya, memamerkan cincin berlian yang mengisi jari manisnya. "Arkan membelikan aku cincin tunangan ini." "Kamu pikir aku peduli?" "Aelah, bilang saja kamu iri." Astaga, berapa sih IQ-nya? Kenapa tidak bisa memahami dengan baik apa yang aku katakan?  Dasar bodoh! "Tidak ada gunanya aku iri denganmu." Aku meninggalkan ruang tamu, langsung masuk ke dalam kotak lift untuk menuju ke kamar. Aku mencampakkan asal heels yang aku kenakan .  Kemudian pergi membersihkan make up dan berganti baju. Setelahnya aku merebahkan diri ke kasur dan membuka ponsel. Sudah pukul 12 lewat. Tapi aku belum mengecek i********: dari beberapa jam yang lalu. Aku terkejut karena jumlah orang yang men-DM naik drastis. Aku membuka salah satunya. Ada foto yang dikirim. Berisikan foto Sam yang tidak perlu ditanya seberapa buruknya. "Apa ini pacarmu?" Begitu katanya. Astaga, darimana mereka tahu. "Demi apapun, masa sih kamu berpacaran dengan cowok sejelek ini. Apa tidak ada cowok lain yang menginginkan kamu?" Aku mematikan ponselku. Sudah, ini sudah cukup membuat aku malu. Benar. Sam terlalu jelek untuk berada di sampingku. Parahnya aku jadi dikira tidak laku.  Damn!                                                                             ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD