Aku benar-benar datang ke gudang sekolah, mengabaikan pikiran yang mengatakan bahwa Sam mungkin akan melakukan hal jahat. Terkait peringatan Sam semalam, aku pikir dia mungkin ingin membantai Zion karena fakta kami makan berdua di kantin.
Tidak masuk akal. Itu hanya makan. Kenapa dia sampai berpikiran untuk membantai Zion?
Dan lagi, selama ini kedekatan kami tanpa hubungan romantis. Memang, saat kecil aku memanggil Zion sebagai suamiku. Itu jelas berubah saat ini. Zion sesekali mengungkit, tapi aku pikir maksudnya hanya ingin mengingat masa lalu. Terbukti sampai hari ini dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya.
"Apa kamu pikir kamu punyak hak seperti ini?"
Dua meter sebelum sampai aku sudah mendengar suara dari belakang gudang sekolah. Kakiku berhenti tanpa diminta.
Suara tadi adalah Zion. Itu berati Sam tidak main-main dengan kalimatnya. Sejurus kemudian aku merasa pusing bagimana menyelesaikan permasalahan ini.
"Seria bertunangan dengan kamu karena terpaksa. Berhenti bersikap seolah kamu berhak. Itu benar-benar membuat aku ingin muntah."
Keberanian Zion tidak pernah sampai di level ini. Biasanya dia akan menyusut akan hal berhubungan dengan Sam.
"Lalu?"
Suara Sam naik. Datar namun bisa kurasakan gelombang bahaya yang terbawa.
"Apa kamu pikir kamu lebih berhak?"
"Aku tidak mengatakan begitu. Aku bukan sepertimu yang berpura-pura merasa dicintai dan memiliki hak."
Suara tinju terdengar menghantam. Mataku melebar. Dia benar-benar menghajar Zion. Detik berikutnya aku segera muncul. Ini akan parah jika tidak segera dilerai. "Hentikan!"
Sam memutar mata malas. Zion yang tersungkur meludah, menyentuh sudut bibirnya yang berdarah sesaat.
"Kamu ini kenapa sih, Sam?"
"Kesal."
Tidak kusangka dia langsung menjawab jujur. Sorot kesal ikut turun saat dia menatap Zion. "Aku ingin menghancurkan tulang-tulangnya tanpa tersisa."
Itu bukan cuma kalimat. Ada ketajaman serius yang mengiris keberanian. Ketajaman yang juga membawa racun mematikan, menekan pula keseriusan dari kalimatnya.
"Gila!" semburku seraya menarik Zion untuk bangkit.
"Jauhkan tanganmu." Netranya berkilat marah melihat tanganku. Pastilah karena aku menggenggam Zion.
Untuk tidak membuat lebih banyak masalah aku pun menurutinya. "Ayo pulang."
Kusambar tangan Sam. Dia memutar leher ke belakang, masih terlihat enggan pergi tapi tidak melawan aku yang menyeretnya paksa.
"Akan kubuat kau mati jika berada di dekatnya lagi."
Zion tidak melawan. Dia pasti lah mengerti bahwa hal tersebut hanya akan membawa lebih banyak masalah.
***
"Kau tidak makan?"
"Tidak."
Kusandarkan tubuh pada kursi. Ia terlihat manggut-manggut, seolah mengerti namun matanya tidak sama sekali. Kabut ketidakpuasan ada di sana. Malah cenderung menjadi ketidaksukaan kemudian.
Sama-sama mencoba tidak peduli. Ia memutar sumpit di mangkuk mienya dan mengangkat beberapa helai untuk dilahap. Dari cara menikmatinya sih kelihatan enak. Saus melimpah bahkan terlihat menempel ke sudut bibirnya.
"Kau yakin tidak mau?"
Aku menggeleng. "Tidak."
Tidak ada rasa lapar di perutku. Selera juga begitu. Jadi kenapa aku harus makan?
Ia mengunyah pelan sementara netranya memburu aku tajam. "Apa kau marah karena aku menggertak Zion?"
"Tidak juga."
Aku menarik mendekat kotak ayam goreng. Lebih baik makan daripada diintrogasi olehnya. Sungguh.
"Kamu terlalu baik kepadanya. Itu menimbulkan kesalahpahaman yang memuakkan."
Terlalu baik apanya? Justru malah Zion yang begitu. Sepertinya ini akan menjadi akal-akalan Sam agar aku bersalah.
"Usir pergi kalau kau tidak suka! Dia tidak perlu menerka-nerka kemungkinan kamu mencintai."
Aku kini menatapnya malas mengetahui apa maksudnya yang sebenarnya. "Aku harus menjauhi Zion. Begitu maksud kamu?"
Kepalanya mengangguk, sedikitpun tidak mengelak tuduhan. "That's what I want."
"We're just friend."
"Aku tidak peduli. Aku tidak menyukainya."
Seketika aku merasa ingin menampar wajah egois itu. Bisa-bisanya menyuruh orang lain menjauh, berbalik masuk ke lingkarannya hanya karena dia secara pribadi tidak suka. Kekanakan benar.
Aku memutuskan lanjut memakan ayam goreng, menguapkan kalimat-kalimat mengesalkan dari Sam. Ia sendiri sesekali mengangkat wajah untuk melihatku. Tanpa sungkan aku membalasnya tanpa ekspresi. Jika tidak dia pasti akan mengira aku begitu mudah dikendalikan.
"Hari minggu papa menggelar pesta ulang tahunku."
Pernyataan yang intinya menekankan aku harus datang. Cih, memuakkan.
"Hm."
"Aku akan menemanimu membeli gaun malam ini."
Dih ogah benar. Lagian aku masih mengenakan pakaian sekolah. "Aku lelah. Mungkin besok saja atau malah tidak usah. Gaunku masih banyak di lemari."
"Gaun haram yang mengekspos banyak kulitmu?"
Aku berlari dari tuduhan matanya. "Ada beberapa yang tidak."
"Foto dan kirimkan padaku nanti."
Dia ini apa-apaan sih. Kenapa semakin menjadi menyebalkan? Apa dia tidak mempercayai pilihanku?
Sudah aku putuskan untuk lebih menghargai tubuhku dan Ian juga mendesak akan pilihan tersebut. Tanpa dia bilang aku juga kini telah tahu mana yang harus aku pilih.
"Kau mendengarkanku?"
Sialan. Kini dia memaksa aku patuh. Dan apa-apaan ini. Aku ketakutan akan ancaman dari matanya.
"Iya."
Begitu akhirnya aku kalah. Hih, tidak adil. Pria ini seenak jidat dan punya aura kuat untuk memaksa orang patuh. Sungguh sebuah keburukan.
***
Aku menghela lega melihat motor ninja menghilang dari pandangan. Sekarang waktunya istirahat.
Kakiku baru di depan daun pintu dan mata ini telah mendapati seorang laki-laki duduk di sofa tamu.
"Arkan?"
Pria yang memainkan ponsel tersebut mengangkat kepala, beberapa helai surai yang jatuh terlempar ke atas. Tampilah wajah segarnya yang tampan. Kini aku sadar kenapa banyak perempuan menggilainya.
Terlebih ia menarik lengan hoodie sebatas siku, memperlihatkan ototnya yang atletis. Tubuh sempurna, wajah tampan dan kaya. Dia paket idaman kaum hawa.
"Mencari Aera?"
Dia malah terdiam, tampak berpikir sejenak saat matanya turun meneliti wajahku. "Iya," jawabannya kemudian. "Dia akan pulang sebentar lagi. Ah iya, tadi aku membeli ini."
Karena ia membuka sebuah kotak, aku duduk di hadapannya. Itu pemberian, aku harus menghargai. Benar kan?
"Salad buah segar. Enak dan bagus untuk dietmu."
Ia menggeser kotak salad ke padaku. Wait a minute. Dia tahu aku diet dan memilih makanan hati-hati. Sepertinya sesuatu sekali.
Aku mengembangkan senyum terlepas dari dugaan yang mengudara. "Terimakasih. Buat diri kamu nyaman. Aku akan ke atas berganti baju."
Ia mengangguk sebagai balasan diringi lengkungan senyum manis.
Apa yang akan Aera lakukan jika dia tahu kekasihnya memberikan aku hadiah perhatian begini? Haruskah aku meledeknya? Itu terlalu jahat meskipun aku ingin sekali.
"Seria, apa kakakmu sudah datang?"
"Belum, Ma."
Mama tengah duduk menumpu kaki di sofa. Kaki jenjangnya itu tampak menunjukkan bahwa waktu tidak mengubah kecantikannya. Mengagumkan sekali. Tidak heran papa menyukainya.
"Kemana anak itu? Arkan sudah menunggu dari satu jam lalu."
Netraku bergeser pada papa. Ia terlihat tidak peduli. Sebaliknya memfokuskan diri pada tulisan-tulisan di buku yang ia pegang.
"Papa.."
Aku mendudukkan tubuh di sebelahnya. "Kata Sam hari minggu nanti kediaman Dagantara ada pesta. Apakah itu benar?"
"Itu benar." Papa melipat kertas, menutup bukunya kemudian. "Apa kamu sedang ingin meminta gaun baru?"
"Bukan begitu."
Papa malah tertawa. Biasanya aku memang akan begitu, meminta memastikan demi mendapatkan kesadaran papa untuk mewujudkan sesuatu. Tapi kali ini karena tidak antusias aku jadi tidak peduli .
"Seria, papa tahu kamu seperti apa."
Papa tertawa pendek lagi. Ngeselin ih. Padahal aku benar-benar tidak bermaksud minta dibelikan gaun.
"Mama tadi sudah memesan beberapa, kamu bisa melihatnya di atas."
Mama dan papa bergerak cepat sekali. Harusnya tidak perlu begini mengingat hanya ulang tahun Si Sammy kurang ajar itu. Meski demikian aku memasang senyum.
"Terimakasih, Ma. Aku akan mengeceknya."
"Jangan lupa turun untuk makan malam," kata papa sedikit berteriak.
Aku membalas cepat. "Oke, Pa."
Gaun sudah dibeli dan acaranya digelar malam minggu. Lalu esoknya aku bertemu Ian. Rasa-rasanya yang kedua lebih menarik untuk didatangi.
Tentang jawaban untuk Ian tentu saja aku akan menjawab iya, tapi bagaimana kalau Sam tahu?
Kemudian dia mengadu kepada papa, aih tidak-tidak. Hidupku akan tamat jika begini.
Alih-alih memeriksa gaun, aku malah menelepon Devi begitu sampai di kamar.
"Dev, aku butuh pendapat kamu."
Ia terdengar menghela kasar. "Pendapat tentang apaan? Aku lagi sibuk mau main game nih."
"Ian menembakku."
"APA?"
Aku menjauhkan cepat telepon dari telinga. Gila, suara Si Devi sebesar guntur deh.
"Kamu bilang apa tadi?" desaknya kemudian.
"Ian, sepupumu itu menembakku."
"Terus-terus?"
Kurebahkan tubuh di ranjang. "Tentu saja aku mau menerimanya. Dia menunggu jawaban hari minggu ini. Tapi kamu tahu kan masalahnya?"
"Sam?"
"Iya. Pria itu sedang memasuki mode gila. Meskipun di publik sudah ada klarifikasi, aku takut Sam akan mengganggu hubungan kami."
"Kalau tutupnya rapat ya tidak akan terjadi apa-apa. Terlebih sepupuku itu bukan jenis orang yang suka mengumbar kepemilikannya."
Tadinya aku juga berpikir sama seperti yang Devi katakan. Tapi aku khawatir akibatnya, bukan proses di tengah jalan yang aku gunakan untuk menutupi rahasia.
"Ser, ketakutan kamu itu hanya ilusi. Jangan mundur. Ini tentang perasaan kamu loh."
Aku mengangguk tanpa sadar. Benar, ini tentang perasaanku. Tentu saja harus diperjuangkan hingga ke titik maksimal.
"Dev, bagaimana kalau Ian tahu fakta aku dan Sam? Dia pasti akan membenciku kan?"
"Kamu ini negatif banget sih," sembur Devi galak. "Sebelum itu terjadi kamu cukup fokus dengan cara untuk menutup rahasia tersebut. Hasil akhirnya jangan dipikirkan dulu. Kalau kamu memikirkan hasilnya hubungan kalian yang sekarang akan jadi bayarannya. Kamu mau?"
"Tidak."
Daripada perang di akhir aku lebih takut di titik sekarang Ian tahu. Ya, kurasa Devi benar. Aku harus fokus di titik sekarang. Soal hasilnya abaikan dulu.
"Jadi, apa keputusan kamu?"
Aku menarik nafas dan memantapkan hati. "Aku akan menerimanya."
"Bagus, jangan sia-siakan kesempatan."
Benar. Ini kesempatan yang mungkin tidak akan datang untuk kedua kali. Jika aku tidak mengambil resiko, maka aku tidak akan mendapatkan Ian lagi.
"Sudah kan? Aku mau main game lagi."
"Iya sudah, thanks ya."
"Ah adik ipar jangan sungkan begini."
Aelah malah ngeledek nih singa. Aku mematikan panggilan, sempat terdengar tawa Devi sesaat sebelumnya. Aih, perempuan itu jahil sekali.
Hah
Aku menggulingkan tubuh ke tengah, memandangi langit-langit kamar yang luas tanpa beban. Akhirnya, aku menemukan pondasi.
Meski begitu aku benci oleh rasa bersalah di sudut hatiku. Itu untuk mengkhianati papa, bukan Sam. Tapi mau bagaimana lagi, aku juga ingin bahagia dengan merasakan perasaanku.
Seria, jangan goyah! Kamu sudah benar.
***