"Maaf saya terlambat."
Sam sedikit merendahkan kepala untuk memberi hormat pada papa dan mama. Dia terlihat lebih dari biasanya. Potongan rambut baru, tatanan rapi dengan gel dan pakaian rapi.
Kaos hitam berbalut jaket kulit hitam dipasangkan dengan jeans hitam. Gaya biasa, tapi rapinya terlihat berbeda dari sebelumnya.
Ia duduk di sebelahku. Aroma maskulin dari parfumnya menusuk telinga, menggoda sekali bagi indra penciuman untuk terus merasakannya.
"Tidak apa-apa, kami juga baru mulai."
Mama melempar senyum lembut padanya. Senyum yang membuat aku berpikir bahwa itu berlebihan untuk seorang Sam Dagantara. Ada kilatan suka di mata mama, tapi bagian mana dari Sam yang bisa membangkitkan itu?
Perilaku tidak jelasnya ataukah wajah buruk rupanya?
"Ayo makan."
Masing-masing dari kami mulai menarik piring dekat, mengangkat sendok dan garpu untuk mulai menyantap. Papa mengucapkan terimakasih kepada Sam karena telah melindungi aku selama kepergiannya.
Sam membalas sopan seperti semestinya. Tapi mata pekatnya datar seperti yang sudah-sudah. Kedua orang tuaku tampaknya dia mempermasalahkan itu. Toh itu memang ciri khasnya. Pandangan datar yang kelihatan tidak antusias atau malah tidak sopan menurut beberapa orang dewasa.
Pembicara panjang kemudian mengambil topik bisnis. Aku adalah satu-satunya yang bungkam. Mama sesekali menimpali, sementara Sam dan papa terlihat saling terkait dengan mudahnya.
Keduanya terlihat bagikan rekan bisnis yang tengah rapat. Sedikit membuat keterkejutan karena kepintaran Sam begitu jelas. Apa yang dia keluarkan disambut papa dengan kebenaran, membuktikan bahwa dia ahli di dalam topik tersebut.
Pria ini bagaikan kuncup teratai yang baru mekar setelah mengarungi air kotor, mengeluarkan semua keindahan dan keistimewaan yang mempesona semua mata. Di air kotor sebelumnya dia hanyalah kuncup tidak berguna yang dipercayai berkemungkinan sekotor latarnya. Siapa sangka ketika membuka dia lebih baik dari yang diduga.
"Luar biasa. Kamu pintar, Sam. Saya yakin kamu akan menjadi besar di masa depan. Itu terdengar bagus untuk masa depan putri dan cucuku."
Papa tertawa akan kalimatnya sendiri. Kepercayaannya pada Sam terlihat bertambah. Terbukti dengan tindakannya yang mengukuhkan hubungan kami sekali lagi. Semuanya kini terasa lebih susah bagiku dan Ian. Namun harapan akan kelonggaran tetap hidup di hatiku.
Mungkin suatu hari papa akan sadar bahwa putrinya berhak memilih sendiri.
Makan malam selesai. Papa dan mama undur diri untuk istirahat di lantai ketiga. Kenyataan papa dengan santai masuk lift tanpa bertanya kenapa Kak Aera melewatkan makan malam membuat aku sesak.
Itu adalah gambaran yang terjadi jika aku berlari kepada Ian dan mengabaikan perintahnya. Aku akan dibuang dan dianggap tidak ada. Sebelum itu terjadi tubuhku sudah merinding lebih dulu disergap ketakuan yang melimpah-limpah.
Tapi aku tetap ingin mengakar pada pikiranku sendiri bahwa aku harus hidup dengan pilihanku. Sekarang tidak apa hanya menjadi angan, yang terpenting benih ini tertanam dalam. Saat waktunya tiba benih akan tumbuh subur dan berbunga.
"Apa masih ada yang mengirimkan kalimat sampah?"
Aku menggeleng kecil. Kedua manik enggan melurus kepadanya. Ini terasa menjadi aneh. Bukan ketakuan, tapi rasa malu yang tidak diprediksi. Mungkin karena aku baru sadar bahwa setiap menatap dia membawa cinta di dalamnya.
Helaan leganya mengudara. "Baguslah."
Keheningan menyambut. Dia tampak sibuk dengan ponselnya sementara aku mencoba merapikan pikiran tentangnya.
Sejak drama mengudara baru kali ini kami kembali bertemu. Kecanggungan naik tanpa diminta. Lebih mengejutkan karena ada secuil rasa bersalah di hatiku.
Apa yang Sam lakukan untuk menutup berita adalah tamparan keras baginya bahwa dia tidak dinginkan. Sebuah kenyataan yang tidak bisa ditepis. Aku sendiri bahkan pelakunya, lalu kenapa rasa bersalah ini bisa dengan pongkah-nya berdiri?
Keanehan tanpa jawaban dan aku tersiksa karena dipaksa meminta maaf. Tidak, aku akan terdengar plin-plan jika mengatakannya. Pandangan Sam pada perasaanku akan bercabang. Hal tidak diinginkan bisa-bisa mencuat ke permukaan. Lalu aku pasti yang akan pusing dibuatnya.
Diam saja. Begitu yang benar. Dia sendiri juga tidak terlihat keberatan atau tertekan.
Manik pekatnya terlihat serius akan apa yang tampil di layar ponsel. Aku merasa meringis karena itu membuat dia melupakan eksistensiku.
Jari-jarinya bergerak fasih di layar keyboard, menunggu sesaat dan kembali lagi. Itu seperti dia tengah berkirim pesan kepada seseorang. Mungkinkah Adelin? Soaalnya dia terlihat antusias.
Sesekali dahi berjerawatnya berkedut. Tak lama jari-jarinya meluncur cepat. Eksepresi serius mendominasi. Kini mulai goyah pikiranku bahwa itu adalah Adelin.
Anyway, kenapa aku membuang waktu dengan memperhatikannya yang bahkan menganggap aku hanyalah angin? Bodoh. Aku membuka ponselku sendiri.
Ian tidak mengirim pesan lagi. Aku mulai khawatir bahwa perasaannya yang tertulis kemarin adalah lelucon. Bisa saja aku mengirim lebih duluan, tapi rasa gengsi mewanti-wanti agar aku tidak terlihat murahan.
Devi sudah mengetahui perasaanku. Jadi aku bertanya padanya akan Ian. Lalu saat pembicaraan semakin dalam aku mulai lupa keberadaan Sam.
Dikatakan bahwa Ian baik-baik saja. Itu adalah kalimat yang memuaskan. Setidaknya kini aku tenang bahwa dia bukan sakit. Alasan lainnya sedikit mengiris hati.
Mungkinkah akhirnya dia menyesal dan tidak mau melanjutkan?
Aku benci pemikiran ini. Hari minggu harus segera datang. Saat itulah semuanya akan jelas.
"Robee menyukaimu."
Jari-jari lincahku berhenti. Otakku termenung akan kalimat yang baru meluncur.
"Kalimatnya di kantin terdengar sangat memprovokasi bagiku, juga begitu kurang ajar. Itu adalah alasan kenapa aku ingin dia mati. Untuk menutupi kita terkait, aku mengancamnya untuk mengatakan bahwa dia menyatakan perasaan pada Adelin. Dan ini adalah kedua kalinya aku naik untuk menutupi hubungan kita."
Maniknya melesat tajam saat aku meluruskan pandangan. Aku tidak bisa beralih, matanya memaksa aku tetap pada posisi. Itu adalah perintah tak terbantahkan.
"Cemburu. Itu adalah akar dari semua tindakanku. Kamu tidak perlu berpura-pura lagi karena memang begitu yang sebenernya. Kamu tidak perlu terkejut, kesabaranku tidak sebanyak yang kamu kira. Jadi, mulai detik ini pandai-pandailah bertindak. Jangan sampai aku akhirnya melewati batas dan menarikmu paksa ke dalam hidupku."
Benar-benar bahaya. Dia mengancamku, menjelaskan secara tidak langsung bahwa aku dan Ian tidak akan bisa sampai ke sebuah hubungan. Bukan hanya Ian, tapi juga yang lain. Tidak ada harapan bagiku untuk memilih. Dia kini seperti seorang yang tidak aku kenal sebelumnya, kejam dan pemaksa.
"Tapi kamu setuju.."
Sebelum itu sempat berlanjut kalimatnya melesat tajam bersama tatapan dinginnya yang membekukan seluruh tulang-tulangku hingga ngilu. "Hanya menyembunyikan hubungan, tidak perasaan. Kalaupun kamu memaksa aku berpura-pura mengubur perasaan, itu tidak akan terjadi. Perasaanku adalah urusanku. Aku tidak akan mentolerir siapapun yang ikut campur termasuk kamu."
Ia memutuskan pandangan. Beranjak dari sofa dengan riak amarah nyata.
"Zion, jangan menjadikan dia pelampiasanku selanjutnya."
Detak jantungku berhenti sesaat. Mencerna ulang kalimatnya yang telah membunuh harapan-harapanku.
"Kamu jahat, Sam."
Hanya itu yang bisa aku katakan. Tidak ada lagi negosiasi yang bisa terjadi. Aku naif sekali, berpikir bahwa dia yang sebelum ini bisa aku atur seenak hati. Tidak, dia hanya memanipulasi diri. Beginilah keaslian dirinya.
"Aku memang jahat. Maka berhati-hatilah untuk tidak membuat pria jahat ini melukaimu."
Ia membawa langkah tegas tanpa bersalah meninggalkan ruangan. Kemudian aku sendiri berteman ketakuan. Aku dan Ian tidak bisa kemana-mana. Sam telah mengatakan batasannya, tapi aku masih ingin menerjangnya meski saat ini ketakutanlah yang lebih mendominasi.
Dia akan menyakiti Ian. Itu hal terakhir yang aku inginkan terjadi di dunia ini. Tapi aku juga ingin egois menikmati kasih dari perasaan cintaku.
Semuanya merumit. Sam tidak lagi di pihakku. Ia pindah ke depan menjadi musuh nomor satu. Apa yang harus aku lakukan?
Bersama Ian, dibuang dari keluarga dan berhadapan dengan Sam?
Bukan-bukan. Meski awalnya adalah keinginan namun kekuatanku tidak mencukupi. Aku ketakuan akan akibatnya alih-alih semangat akan tujuan utama.
Argh, bagimana ini?
***
"Nyai."
Aku menghela nafas akan suara Zion yang menggelegar. Bisakah dia tidak membuat aku menjadi perhatian saat ini? Lagipula pasti hanya untuk hal tidak penting.
"Mau ke kantin?"
"Iya."
"Bareng ya?"
"Kalau aku usir apa kamu akan pergi?"
Dia tercengir lebar dan menggeleng. Nah kan. Kenapa tadi bertanya? Membuang-buang kalimat saja.
Aliya dan Mila hari ini sama-sama diet. Devi pula ada urusan dengan salah seorang adik kelas songong. Mau tidak mau aku pergi ke kantin seorang diri. Jika tidak dipastikan aku akan kelaparan.
Aku memesan satu cup mie goreng. I know, ini junk food. Harusnya aku menghindarinya. Namun berhubung aku dalam mood buruk aku ingin menentang aturan. Itu sedikit membuat kepuasan.
Tidak kenyang satu, aku memesan lagi. Zion yang santai kini memberikan pandangannya.
"Tumben maneh makan mie dua cup sekaligus. Tidak takut tubuhnya mengembang kah?"
Aku menggeleng, menarik lagi mie lewat garpu untuk kulahap.
"Sepertinya kamu stress."
Suara Zion berubah menjadi serius. Ini jarang sekali terjadi meski kami sering berdua saja. "Biar aku tebak. Kamu masih kesal kepada raja iblis?"
"Yes."
Aku membenarkan. Tidak mau berpura-pura akan perasaan ini kepada Sam.
"Kenapa?" Dia menopang dagu, mengabaikan mienya sendiri yang masih setengah.
"Dia selalu menyebalkan."
"Menyebalkan tentang apa?"
Kursi di depan bergeser. Aku hampir tersedak karena sosok tingginya duduk di sana, lalu menopang dagu tanpa ekspresi. Saat ditilik lebih dalam bagian putih matanya bergejolak marah.
"Apa yang membuat kamu berpikir aku menyebalkan?" Suaranya mengiris keberanian tanpa ampun.
Mataku berlari secepat kilat. Zion sendiri pura-pura sibuk dengan makanannya. Damn, dia bahkan tidak mau membantu melawan Sam.
"Sam, ayo."
Adelin mendekati meja. Di tangannya terdapat dua cup mie. Biar aku tebak, salah satunya pasti punya Sam.
"Ayo."
Demi apa? Yes, dia pergi. Aku berseru riang melihat kursi di depan bergeser. Kemudian menjadi petaka karena dia berjalan ke belakang, meletakkan kedua tangannya di sisi tubuhku dan merendahkan bibir ke telinga. Aroma tubuhnya menggetarkan semua pertahanan. Lalu ketakuan bergabung melihat seberapa kekarnya tangan Sam. "Sore ini, gudang sekolah."
Seluruh tubuhku meremang. Apa maksudnya itu? Sore, gudang sekolah, apa yang akan dia lakukan?
Sampai eksistensinya tidak terasa aku masih terpaku akan pikirnaku sendiri.
"Gudang sekolah?" Tanpa sadar aku bergumam.
"Apa?"
"Bukan apa-apa." Aku kembali makan, mencoba mengabaikan pikiranku yang kusut.
Dia tidak mungkin ingin membunuhku kan?
***