Dua Puluh Enam

1560 Words
"Kenapa kau belum makan?" Terdengar suara nampan beradu dengan kayu meja nakas sebelah. Lalu sisi ranjang turun saat sosoknya duduk di sana. "Berita itu hanyalah opini. Kamu tidak perlu menyakiti otakmu seperti ini." "Mudah kamu bilang begitu." Aku bangkit. Amarah yang sedari tadi terkumpul kini siap terlontar. "Kamu tidak tahu bagaimana sakitnya menerima tatapan menghina dari ratusan murid. Kamu tidak tahu bagaimana sakitnya dituduh apa yang tidak diperbuat. Kamu tidak tahu apa yang penting bagi seseorang. Kamu tidak tahu apa-apa Sam!" Bulir air menurun membasahi kedua pipiku. Memandangnya yang masih tenang kian membuat hatiku terasa sakit. "Ini semua gara-gara kamu! Aku tahu kamu jahat dan suka seenaknya. Tapi jangan targetkan aku dan ingat perkataanmu sendiri. Kamu setuju untuk merahasiakan hubungan, tapi kenapa jadi begini?!" Pandanganku mengabur. Aku mengusap air mata untuk melihat lebih jelas, tapi percuma karena nyatanya bulir-bulir itu kian deras. Sesak nafasku di dalam sana memikirkan hinaan-hinaan semua orang. Sejak kecil aku terbiasa menuruti perkataan papa, menjadikan aku seorang anak yang hebat dan banyak disukai. Pencapaian itu membuat aku merasa senang karena dengan demikian papa akan semakin sayang padaku. Lalu tanpa aku sadari pemikiran itu tumbuh. Bahwa jika aku menjadi banyak disukai papa akan merasa bangga. Dengan demikian aku tidak perlu masuk ke ruangan gelap sumpek yang papa buat. Pemikiran tersebut pun terbawa hingga aku beranjak remaja. Bahkan kini terasa semakin kuat. Menjadi selebgram dan dikenal banyak orang adalah pencapaian yang bisa aku berikan pada papa bahwa dia berhasil membesarkan anak yang berharga. Semua orang menyukai. Itu buktinya. "Kamu jahat, Sam. Kamu jahat." Kutarik telapak tangan untuk menutupi wajah. Sam menariknya dengan sekali hentakan. Wajahnya mendekat disusul oleh kilatan marah. "Hentikan tangismu." Itu terdengar bagaikan perintah alih-alih sebuah bujukan. "Aku tidak suka melihatnya, Seria." Suaranya meninggi. Bagaimanapun kemarahanku kalah, tapi tangisku kian pecah. Dia benar-benar tidak mengerti keadaanku. Ini seribu kali lebih menyakitkan daripada cemoohan orang-orang yang aku terima. "Hei, hentikan tangismu." Ia mengangkat daguku, mengusak-usak air mata yang meluncur dengan ibu jarinya. Manik pekat tersebut redup ketika aku menemuinya. Di saat bersamaan ada kilatan kesal. Mungkinkah dia marah karena aku menangis? Tapi ini karena dia. Harusnya sadar diri alih-alih begini. Tangan besarnya membawa aku bersandar pada d**a bidangnya. Begitu erat hingga memungkinkan aku untuk menularkan beban hari ini padanya. Hatiku setuju. Kutumpahkan lebih banyak air mata kepadanya agar dia tahu seberapa sakit kini hatiku. "Jangan menangis." Suara beratnya menyapu daun telinga. Ia lantas mengecup puncak kepalaku dan meletakkan kepalanya di sana. Sesaat biarlah begini. Aku butuh dia untuk menjadi tempat pembuangan semua sakit ini. Aku butuh dia. Sesaat ini saja. *** Mataku mengerjap-ngerjap pelan. Naluri di tubuh mengatakan bahwa ini sudah saatnya aku bangun, jadi aku pun menuruni ranjang. Menyeret kaki menuju kamar mandi. s**t, sembab di wajahku jelas sekali. Gara-gara Sam sih. Ah lupakan, Seria. Kamu harus membersihkan diri dan menyelesaikan semua masalah sendiri. Menunggu Sam adalah ketidakmungkinan. Terlebih lagi dia sedikitpun tidak merasa bersalah. Cih! Selesai mandi aku mengenakan pakaian. Untuk menutupi bengkak di bawah mata aku terpaksa menggunakan cukup banyak concealer. Ketukan di pintu mengusik kegiatanku. Aku hanya berharap itu bukan si j*****m Samuel. "Masuk," seruku. Bibi Felin membawa nampan. Ada sandwich daging dan segelas s**u. Sepertinya dia tahu bahwa hari ini aku berantakan dan berkemungkinan tidak turun ke meja makan. Itu sudah jelas. Aku enggan melihat wajah bahagia Aera yang mencemooh. "Tuan Sam mengatakan dia ada sedikit pekerjaan pagi ini. Nona diminta pergi bersama supir saja." Baguslah. Aku jadi tidak perlu emosi melihat wajahnya. "Tuan besar semalam juga menelpon." "Ada apa?" "Nona tidak menjawab telepon dan pesan. Tuan besar menjadi khawatir." Astaga, aku lupa. Semalam aku sibuk menangis jadi tidak ingat sedikitpun akan pesan berkala yang papa kirim. Kekhwatirannya jangan-jangan juga karena berita semalam telah sampai ke telinganya. Aduh, bagaimana ini? Aku melewatkan sarapan untuk menelpon papa. Benar saja. Berita telah sampai padanya. Sedikitpun papa tidak menyinggung Sam. Sebaliknya ia malah menguatkan aku untuk tebal telinga. Kesimpulan yang kudapat bahwa dia memihak Sam. Itu bukan hal yang aneh. Sam terpilih menjadi pasanganku seumur hidup. Baik dan buruknya telah dimaklumi papa. Namun tetap saja mngesalkan mengetahui hal ini. Tiga puluh menit setelahnya aku telah memasuki gerbang Neptuna. Sepanjang aku berjalan tatapan menghina telah berkurang. Tanpa diminta aku terpikir mungkinkah Sam telah membuat klarifikasi? Klakson motor menggeser tubuhku ke pinggir. Pemiliknya tidak melurus, malah menghentikan motor. "Nyai, mau numpang gak?" Ternyata Zion sang manusia setengah waras. Ia tersenyum, menampilkan deretan gigi putihnya. "Gratis loh." Aku mengibaskan tangan, lanjut melangkah tanpa sepatah kata. Bibir ini terlalu malas untuk membuka. Kelas lumayan sepi saat aku masuk. Devi dan Mila yang pasti telah ada di sana. Sama-sama tengah memperbaiki riasan. "Ser, gimana? Udah lihat belum?" Pertanyaan Devi begitu membuat pikiranku terperas. "Apanya?" "Serius kamu belum tahu? Gosh, ini padahal menyangkut diri kamu." Bukannya menjawab kebingungan, pertanyaan Mila malah memperparah. Aku menarik kursiku dan mendudukkan diri. Devi dan Mila lantas bergabung. "Adelin koar-koar di sosmed. Dia marah karena murid-murid asal terjemah. Sam itu pacarnya. Dan soal kejadian loker dia bilang karena Sam emosi pada Robee yang merendahkan. Sebagai balasan dia menghancurkan hadiah Robbe untuk kamu. Tidak tahu yang mana satu jadi membuat dia menghancurkan semuanya," jelas Devi. "Adelin mengatakan itu semua?" Mila membenarkan lewat anggukan. "Sekarang kamu bisa tenang," lanjutnya. Iya sih, tapi ini terasa janggal. Kenapa Adelin mau membuat drama untuk menyelamatkan aku? Tidak mungkin karena lubuk hati terdalamnya yang ingin membantu. Sam pasti pihak utama yang meminta bantuan kepadanya. Ah terserahlah. Yang penting sekarang aku bisa tenang. "Adelin sepertinya menyayangi kamu." Mila tertawa saat mengatakannya. Dari sisi mana dia menyayangiku. Benci sih iya. "Terserah dia. Yang penting sekarang semuanya selesai." Aku akhirnya bisa bersandar lega. Tangisanku semalam terbalas sudah. Syukurlah. *** Drama Adelin berjalan baik. Ketika bertemu di kantin dia tengah bercengkrama bersama Sam. Gelak tawa melingkupi keduanya. Topik pembicaraan pastilah sangat menyenangkan. Seakan tidak melihat aku mengantri ke stand, membeli makanan dan duduk tenang di meja yang cukup jauh dari mereka. "So sweet," bisik Mila. "Aelah cuma dimanfaatkan saja bangga," sambung Devi. Senyum mengejek di bibir Aliya tercipta. Aih dia dan Devi ini kompak benar dalam urusan begini. "Seria, aing coming." Suara menggelegar Zion membuat semua mata begerak padanya. Lalu aku pun terkena imbasnya. Ia malah tidak peduli dan mendudukkan diri dengan santai. "Ciee pada ngelihatin. Aku menawan kan?" Devi berpura-pura muntah. Efeknya wajah Zion tertekuk. Sesaat saja karena dia kemudian memajukan wajah. "Raja iblis dan nenek sihir benar-benar pacaran ya?" Devi memiringkan telinga pada Zion. "Menurut lo. Apakah logis raja iblis suka sama perempuan model begitu?" "Logis-logis saja sih," kataku. "Dia cantik." "Tapi tidak secantik kamu." Zion mengakhirinya dengan memberikan cinta lewat jarinya. "Saranghaeyo." Devi menggeplak pelan kepalanya. "Dasar buaya muara!" "Buaya muara pala lo. Aku ini tulus." Tidak ada yang menganggap serius kata-kata Zion, termasuk aku. Kami malah menyibukkan diri mengulas valentine dari sudut masing-masing. Aliya mendapatkan buket merah dari Ken setelah berdebat panjang akan ramainya asrama putri di ponsel Ken. Lalu Mila mendapatkan beberapa coklat di kolong meja tanpa nama. Devi sendiri yang tidak mendapatkan apa-apa. Dia bilang mantannya sudah move on semua dan tidak ada pria yang kagum hingga rela memberikan dia hadiah valentine. Miris, tapi wajar karena Devi cenderung tomboy. Tatapan kerasnya telah melunakkan keberanian pria manapun untuk mendekat. "Nih biar gak miris-miris banget hidup lo." Oh itu Kevin. Dia mengulurkan satu kotak coklat sementara masih ada empat lagi di pelukannya. "Terimakasih, Kevin. Sayang deh." "Tiba-tiba aku jadi menyesal." Gelak tawa mengudara, menekuk bibir Devi dalam. "Kau curi darimana?" Pertanyaan Zion tidak salah. Empat kotak coklat yang Kevin peluk kualitas premium. Kalau dia membeli sendiri hanya untuk dinikmati jelas terlampau berlebihan. "Darimana lagi? Loker dewi kecantikan." Dia mendaratkan kotak coklat. Aku meraih salah satu dan membukanya. "Apa masih banyak?" Hari Valentine padahal sudah lewat. Dan lagi, apa mereka tidak takut coklatnya berakhir di kaki Sam? "Tadi saat aku menghitungnya masih ada dua belas kotak. Santai, semua telah aku amankan. Satu minggu ke depan kita tidak akan kekurangan camilan." "Good job," puji Zion. "Nanti siang kita periksa lagi. Sayang benar kan kalau berakhir di kaki raja iblis." Kurasa itu benar, ya meskipun sedikit kesal karena kini lokerku menjadi incaran mereka. Mungkin aku harus meminta loker baru atau memasang kunci kuat. "Heh buaya muara. Lo gak ikutan memberikan nyai lo hadiah valentine?" Aku menggeser tatapan dari Kevin kepada Zion. "Lah iya. Kenapa aing bisa menjadi jahat seperti ini?" "Kalau begitu." Dia mengambil salah satu kotak coklat dan mengulurkan padaku. "Selamat hari valentine, Nyai." Aku hanya bisa menggeleng malas akan sikapnya. Devi yang jemu memukul lengannya hingga berbunyi kuat. "Sakit tahu." Zion menggeser tubuh ke dekat Kevin. "Kev, kandangin noh hewan peliharaan lo." Kobaran api melintas di manik Devi. Belum sempat terimplementasi Zion telah beranjak, berlari terburu-buru ke stand untuk penyelematan. "Awas kalau kembali. Akan aku tendang kakinya." Devi memang tidak punya sisi feminim sedikitpun. Ya itu lah dia. Keheningan yang sedikit tercipta, membebaskan atensiku berkelana. Tanpa diminta jatuhnya kepada meja Sam dan Adelin. Dilihat dari aura keduanya tidak sesuai. Sama-sama bersifat keras, tapi dari sisi hubungan mereka begitu dekat. Sam rela memberikan mobil berjuta rupiah kepada Adelin. Lalu dengan perasaan mendalam ingin membantu Sam dia rela membuat drama yang menjatuhkan harga dirinya. Kecantikan dia menjadi rendah di mata orang-orang karena pernyataan langsungnya bahwa ia dan Sam pacaran. Tapi dia bukan aku. Alih-alih terbebani dia justru terlihat gembira sekali. Oh jelas, dia menyukai Sam. Apa alasannya karena ingin menjilat kekuasaan? Ataukah memang tulus dari hati? Bukan urusanku, tapi kenapa kini aku terbebani. Aneh. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD