Sepuluh

1566 Words
"Loh Seria berangkat sama Sam lagi? Bukannya Sam sudah jadian sama Adelin ya?" Banyak kali aku mendengar kalimat sejenis di sepanjang koridor. Ya, beberapa menit yang lalu aku memang turun dari motor ninja Sam. Harusnya itu hal biasa bagi kami mengingat memang perintah langsung dari papa, tapi jelas berbeda di mata murid Neptuna. Lawan jenis sering berangkat bersama, pastilah mereka berpikir sebuah keromantisan. Dan lalu sebuah kesalahan jika salah satunya telah menjadi milik seseorang. "Ser, kamu berangkat sama Sam?" Kei Canting menghadang langkahku. "Dia kan sudah jadian sama Adelin." Aku mengerutkan alis. "Terus?" "Bukannya Sam itu tunangan kamu ya?" "Oh ya?" Aku melipat tangan di dadaa, sengaja menambah volume suara. "Apa baik aku maupun Sam pernah mengatakan itu?" Dia terdiam. Aku pun tersenyum miring. Ada untungnya juga baik aku dan Sam belum pernah mempublikasikan langsung hubungan kami. "Terus, kenapa kamu berangkat sama dia?" "Tuan Dagantara dan ayahku berteman. Ayah menitipkan aku padanya selama dia berada di luar negeri. Jadi beginilah kejadiannya." Aku tersenyum penuh kemenangan. Jawaban pintar bukan? "Tapi..." "Tapi apa lagi, Kei? Sudah, aku banyak urusan." Aku melanjutkan langkah. Yes, dengan begini berita aku dan Sam bertunangan pasti akan surut. Sekalipun masih ada beberapa mereka tidak akan berpikir itu benar karena aku telah mengerahkan dua fakta. Belum ada publikasi jelas bahwa kami bertunangan sejak awal dan Tuan Dagantara dan ayah memang berteman. Dengan alasan penitipan karena ayah pergi ke luar negeri, orang-orang akan wajar melihat aku bersama Sam. Seria, kamu pintar. "Seneng banget, neng?" "ZION!" Cowok di sampingku itu terkekeh. Darimana dia datangnya coba? "Nih." Dia menyodorkan satu kotak s**u  strawberry. "Untuk aku?" "10 ribu," katanya."Aku lagi coba jualan susu." Kotak tersebut terangkat, saat kami mendongak itu Sam. Tanpa ekspresi. Tapi entah bagaimana itu malah menyeramkan berkali lipat daripada ekspresi marah. "Eh abang." Zion membuat spasi langsung denganku. Sam mengedikan dagunya. Seakan berkata "pergi". Zion menurut, segera berlari pergi. Sam dengan santai menusuk sedotan pada s**u kotak, ia lalu menyesapnya pelan. Tas kerempeng yang disandangnya, pakaian dikeluarkan, dua kancing teratas terbuka, tidak ada dasi apalagi tali pinggang. Belum lagi rambut basahnya masih jatuh di dahi. "Sam, kamu ini sebenarnya niat sekolah tidak sih?" Entah kenapa aku merasa gerah melihatnya. Dia memiringkan dagu dan menaikkan alis tebalnya. Bertanya apa yang salah (mungkin). "Seragam kamu tuh lihat. Tidak gerah apa akan kusamnya?" Gelengan adalah jawabannya. Sudahlah. Nih cowok buruk rupa memang suka menjadi bahan hujatan orang-orang. "Arkan sudah setuju." "Serius?" Sam mengangguk pelan. Ia lalu memberikan sorot lembut saat manik kami bertemu. "Jangan khawatir lagi." Memangnya dia tahu apa yang aku khawatirkan? "Aku awalnya terkejut." Ia menarik kembali pandangan menuju koridor yang kami lalui. "Untuk pertama kalinya dia setuju kepadaku tanpa membantah. Mencurigakan, bukan?" "Entahlah. Aku tidak tahu pasti, tapi kan sedari awal dia memang tidak terlihat menyukai Aera." Bibirnya berhenti bergerak bersama dengan maniknya. Ia terlihat berpikir sesaat, namun akhirnya kembali menyesap s**u kotak hasil rampasannya tersebut. Kami kemudian berhenti di depan 11 IPS 2. Aku hendak berbalik saat tangannya mencegat. Ia menyelipkan sedotan s**u kotak ke bibirku sementara tangannya yang satu menarik tanganku untuk memegang kotak tersebut. Tanpa kata, dia berbalik pergi. Aku mendengus kesal memandangi punggung tegap tersebut menghilang. Aneh sekali. Eh Aku menjauhi s**u kotak dari bibirku. Ini kan bekas bibir Sam. Kenapa aku malah main seruput. Hih. Hampir saja aku lempar ke tempat sampah, namun kalau dipikir-pikir sayang juga. Terlebih aku kan suka s**u strawberry. Ya sudah lah tinggal dibalikkan saja sedotannya. Selesai. *** Langit mulai gelap saat kami keluar dari gerbang sekolah. Angin pula semakin berhembus kencang seiring kecepatan motor yang ditambah oleh Sam. Nih cowok mau mati muda atau bagaimana sih? "Pelan-pelan, Sam." Ia menarik kaca helm full face-nya. "Apa?" Yah, malah budek. Dengan terpaksa aku menempelkan bibir ke pinggir helmnya. "Pelan-pelan. Aku tidak mau mati muda." Secara tiba-tiba kecepatan pun menurun drastis. Aku pun mengendurkan pelukanku pada perut kerasnya. Rasanya canggung karena tadi aku memeluknya begitu erat. Ya meskipun itu karena dia sendiri yang membawa motor dengan kecepatan super sih. Zrrrash Aku melotot, mengadah cepat pada langit. Tadi masih gelap saja loh. Kenapa sekarang langsung hujan? Mana butirannya semakin lama semakin besar lagi. Sam menaikkan lagi kecepatan. Aku mendengus. Sam, kamu benar-benar tidak takut mati ya? Butir-butir air hujan lama kelamaan membasahi sergamku, membuat dinginnya terasa jelas di kulit. Tapi tubuh Sam yang aku tempeli masih terasa hangat padahal bagian depannya sudah lebih dulu basah kuyup. Ia memberhentikan motor di salah satu toko terbengkalai. Aku meloncat cepat dan berlari ke terasnya. Sam mengikuti kemudian. "Damn!" Dia mengumpat kasar sembari melepas helmnya. Tubuh atasnya sudah basa kuyup, membuat otot-ototnya tercetak jelas di sana. Sementara itu aku bersyukur masih setengah kuyup karena lindungan tubuh besarnya. Meskipun demikian aku kesal akan rambutku menjadi lepek, juga wajahku yang basah. Ini gara-gara Sam. Harusnya dia membawa mobil. "Eh?" Sejak kapan dia sudah sedekat ini denganku? Berdiri hanya dengan jarak tiga atau lima centimeter dariku. Aroma parfumnya jadi terasa jelas di hidung. Saat aku mendongak, pori-pori dan jerawatnya terlihat sangat jelas. Beberapa tetes air meluncur dari hidung mancung ke dagu tegasnya. Jatuh lagi membasahi dadaanya lewat kancing atas yang terbuka, memberikan sebuah akses mudah aku melihat betapa menggoda dadaa bidangnya tersebut. Seria, apa kamu waras? Sementara aku gila dengan pikiranku ia mulai menebarkan jaket  boomber hitamnya ke punggungku. Lalu membantu memasukkan tanganku ke dalam lengan jaket tersebut dengan lembut. Aku otomatis mengangkat dagu saat dia menarik zippernya. Membuka tasnya lagi, ia lalu mengeluarkan topi hitam dan memasangkannya ke kepalaku. Aku menurunkan lebih rendah ujungnya, tidak mau ada orang lain yang melihat penampilanku dalam keadaan seperti ini. Hujan makin turun dengan lebatnya, tampias dari teras membuat aku kian merapat ke dinding. Begitu juga dengan Sam. Kami sama-sama diam, memandangi air yang turun dari langit. "Kapan selesainya?" tanyaku. "Entahlah." "Hah, aku sudah capek berdiri tahu." Tangan besarnya menariku, menumpu beban tubuhku ke dadanya. "Sam.." Aku mencoba menarik diri, tapi dia menahannya. "Tenang saja. Tidak ada yang melihat kita disini." Begitu katanya. Aku menghela pelan, mulai merelekskan tubuh dalam kehangatannya. Dia basah, tapi entah kenapa masih terasa hangat. Mungkinkah aku yang terlalu berlebihan? Aku selalu tidak menyukai hujan. Saat itu terjadi aku menjadi mudah tekena flu. Parahnya bisa sampai berhari-hari. Ya, aku memang mudah sakit karena dingin. "Sebentar lagi pasti reda." Suara hangatnya menyapu telinga. Dalam keadaan dingin begini aku menjadi ingin lebih merasakannya. "Sam, kamu dan Adelin pacaran ya?" Tidak ada salahnya aku bertanya bukan? Sebagai tunangan (palsu) aku juga perlu sedikit tahu. Tangannya mulai memilin rambutku saat nafas hangatnya mulai terasa di kulit. "Tidak." "Jadi?" Secara naluri aku memeluk erat punggungnya, membunuh semakin banyak kesejukan yang menyerang tubuhku. "Kami hanya berteman sejak kecil. Pemahaman sesama, aku rasa itu yang mendorong kami terus bersama sampai saat ini." Teman sejak kecil? Kata Mila peer group Sam sejak kecil anak-anak berlatar belakang mafia. Mungkinkah Adelin juga begitu? Sebenarnya mungkin saja mengingat bagaimana kasar dan juteknya dia bersikap. Dua jam akhirnya berlalu tanpa aku sadari. Mata terasa semakin berat dan tubuhku sudah terasa semakin nyaman dalam dekapan Sam. Aku hampir tertidur saat dia menepuk lembut punggungku. "Hujannya sudah sedikit reda." Benar. Hanya tinggal rintik-rintik. Lampu-lampu penerangan mulai dihidupkan, menyakinkan aku bahwa hari memang sudah begitu petang. "Ayo." Dia menaiki motornya yang telah terguyur hujan, mengelap sesaat bagian belakangnya dengan ujung seragamnya. "Naik," katanya. Aku pun memanjat naik motor tersebut, langsung memeluk erat perutnya. Ia menutup kaca helm full face-nya, lalu meluncurkan motor dengan kecepatan sedang. Sore ini, kenapa begini aneh sekali. Terjebak bersama dia di depan toko terbengkalai dan memaksa aku memeluk tubuhnya. Hadeh. Benar-benar jauh dari harapanku. *** Saat memasuki gerbang aku telah melihat Zion di pos satpam. Pasti menggosip tidak jelas. Itu memang kebiasaannya. Tapi dia langsung melompat, bersembunyi di bawah pembatas pos saat menyadari keberadaan kami. Tepatnya Sam. Dasar i***t. "Waduh, Non. Kenapa sampai kehujanan begini." Bibi Feli dengan heboh menghampiriku, menyuruh cepat maid lain menyiapkan air panas dan makanan hangat. Ah, dia memang selalu perhatian. Aku sendiri sudah menggigil saat menaiki anak tangga. Sam secara tanggap memegang pinggulku, menopang tubuhku penuh menuju kamar. Setelahnya dia pergi. Barangkali ke kamar tamu untuk membersihkan badan juga. Aku turun dua puluh menit kemudian dengan keadaan paling aneh. Mungkin hanya Sam satu-satunya yang akan melihat aku seperti ini. Mengenakan turtleneck tebal berbalutkan lagi jaket bulu yang tak kalah tebal. Aku menutup kepala dengan tudungnya, menyembunyikan rambutku yang belum sempat disisir. Acak-acakan seperti nenek lampir. Pucat, begitu kondisi wajahku. Tidak ada lagi Seria yang fresh, hanya Seria yang pucat seperti mayat. Hidungku memerah dan entah kenapa mataku ikutan meredup merasakan efek dingin ini. Getaran terasa jelas di seluruh tubuhku. Sam yang baru menarik kursi makan sampai mengerenyitkan dahi. Tapi dia tidak bertanya. Mungkin mengerti atau malah terlalu kasihan untuk meledekku. "Bi, suruh dokter datang kemari." Dia memerintahkan Bibi Feli memanggil dokter. Fix, benar sadar bahwa tunangan palsunya ini hampir mati kedinginan. Aku mengibaskan tangan. "Tidak perlu. Aku sudah biasa seperti ini. Setelah minum sup hangat dan tidur beberapa jam dalam balutan selimut tebal aku akan kembali normal. Benar begitu kan, Bi?" Bi Feli mengangguk, tapi dia tetap berkata. "Tapi, Non. Saya rasa tidak ada salahnya memanggil Dokter Fian seperti kata Tuan Sam." "Terserahlah." Aku menarik mangkuk di hadapanku. "Kenapa bukan sup?" "Sesekali," kata Sam. Dia mendudukkan diri di sampingku. "Sini aku bantu." Dia menarik mangkuk ke arahnya sebelum sempat aku protes, mengambil sesendok kuah mie pedas tersebut dan menyuapkannya padaku. Sudahlah terima saja. Toh tanganku terus tremor. Heran benar, selalu saja begini setiap kehujanan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD