"Seria."
Suara tegas dan kasar itu. Aku melihat maniknya melalui cermin. Papa, dia telah rapi dengan tuxedo hitamnya.
"Papa tahu kamu tidak seratus persen menerima Sammy."
Dia bahkan mengatakannya secara tegas. Ah, papa memang tidak pernah bisa berbasa-basi.
"Seperti yang papa katakan di awal. Papa tidak menerima alasan sekecil apapun jika kalian berpisah. Kamu tahu dengan jelas apa gantinya jika kamu membatalkan ini."
Daguku terjatuh, sama seperti harapanku.
"Pa.." Aku berbalik, memeluk lengannya bersama senyum ceria. "Kenapa sih papa selalu egois?"
"Papa tidak egois, Seria. Ini kewajiban kamu sebagai anak. Hal yang memang harus kamu lakukan yakni selalu menuruti setiap perintah papa."
Tangan besarnya berpindah mengelus suraiku yang sudah tertata rapi. "Kamu anak papa bukan?"
Senyum paksa itu aku tarik lagi. "Tentu saja. Aku anak papa."
"Kalau begitu jangan menanyakan lagi perintah papa, mengerti?"
Aku mengangguk.
"Cepatlah bersiap. Acara sebentar lagi akan dimulai. Hah, papa heran kenapa dua Dagantara itu enggan mengadakan pesta besar padahal mereka begitu kaya. Seria, papa tunggu di bawah."
"Baik, Pa."
Dia berbalik, menutup kembali pintu. Bahuku melemas. Harapanku untuk bebas semakin tipis saja.
Bagaimana ini? Aku tidak mau hidup bersama Sam hanya karena perjodohan gila ini. Aku menginginkan laki-laki yang benar-benar membuat hatiku berdesir.
Ian.
Benar, seperti dia.
Bahkan hanya melihat fotonya aku merasa bahagia. Berbeda benar setiap aku melihat Sam, aku selalu merasa hambar.
Tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa menentang papa. Selain aku takut dia kecewa padaku, aku juga takut akan resikonya.
Pagi ini di meja makan dia tidak lagi mau berbicara dengan Aera. Alasannya hanya karena penolakan Aera kemarin. Bahkan ternyata dia tidak lagi mengubungi Area sejak dinner pertama tersebut, dia berusaha benar tidak lagi menganggap Aera sebagai putrinya.
Aku takut dia akan memperlakukan aku seperti itu. Menganggap aku bukan lagi putrinya dan memandang penuh kebencian.
"Papa."
Aku menggapai tangannya. Berusaha membuat dia melihatku, tapi tidak sama sekali. Dia menepis tanganku dan berjalan menjauh.
"Papa, aku berhasil menang."
Aku melemparkan diri ke pangkuannya, menunjukkan piala yang aku dapatkan seperti yang dia inginkan.
Namun sedikitpun dia tidak memandang. Sebaliknya ia mendorongku pergi. "Beraninya kamu memanggil saya dengan sebutan itu setelah menolak kewajiban kamu sebagai seorang anak. Kenapa kamu begitu tidak tahu malu?"
Hah
Kutarik tangan mengusap wajah. Menghapus bayangkan kejadian silam tersebut. Papa sangat anti dilawan. Itu terjadi saat aku masih berusia enam tahun, tapi dia sudah bertingkah setegas itu. Tidak mentoleri bantahan yang aku perbuat.
"Papa."
Di hari lain aku menyambut kepulangannya dengan senyum, merentangkan tangan seperti biasa agar dia menggendongku.
"Kurung dia."
Dia memerintahkan mereka memasukkan aku ke dalam ruang gelap. Aku menangis di sudutnya sepanjang hari dan memohon padanya. Dia datang setiap malam setelah pulang dari kantor dan selalu menanyakan pertanyaan yang sama.
"Sekarang apa kamu sudah mengerti tanggungjawabmu?"
Aku selalu mengangguk setiap dia bertanya dan berlari memeluknya. Namun jauh di lubuk hatiku, aku tidak mengerti sama sekali. Aku hanya mengatakannya agar segera keluar dari tempat menakutkan tersebut.
"Katakan, apa tanggungjawabmu?"
"Tidak melawan kalimat papa."
"Lagi?"
Aku akan mengulangi kalimat tersebut hingga seratus kali setiap hari, tapi papa belum mengeluarkan aku dari ruangan gelap tersebut. 2 bulan aku berada di sana. Aku hidup dengan ketakutan dan kewaspadaan setiap malam, takut akan hantu dan kegelapnnya.
Itu adalah metode papa untuk membuatku takut kepadanya. Pada akhirnya aku akan selalu tunduk akan perintahnya dan menjadi putri yang baik.
Saat itu aku kesayangannya. Yang paling dia banggakan kepada teman-temannya sebagai putri terbaiknya, tapi aku melakukan satu kesalahan kecil. Namun labelku sebagai putri kesayangan membuat membuat aku harus menerima balasan lebih besar daripada Aera.
Aera sendiri melawan papa di usia enam tahun juga, satu tahun sebelum aku melawan papa. Dia yang lebih parah. Sedari awal tidak pernah mendengarkan kata papa, merasa besar kepala karena kakek berada di belakangnya.
"Kenapa kamu kembali?" Itu yang papa tanyakan saat akhirnya dia kembali dari rumah kakek setelah dua minggu tanpa izin disana.
"Kamu senang bukan disana? Kembalilah. Tidak usah kembali ke rumah ini selamanya."
"Papa jahat!" Aera sudah keras kepala sejak kecil. Dia menyembur langsung amarahnya, mengobarkan semakin dalam panas di d**a papa.
"Keluar!"
"Papa jahat! Aera gak mau punya papa seperti papa."
Entah darimana dia mempelajari kalimat tersebut, tapi sampai hari ini kalimat tersebut adalah pembatas hubungannya dan papa.
"Seria."
Setelah kepergian Aera papa mengangkat wajahku dari pelukannya. "Kamu anak papa kan?"
Tentu saja aku mengangguk. "Kalau begitu janji sama papa bahwa kamu tidak akan mengatakan kalimat seperti itu terlepas dari segala tanggungjawab berat kamu. Janji?"
Aku menyambut kelingking besar papa. "Seria janji."
Mana aku mengerti perjanjian seperti itu akan membuat hidupku semakin berat. Aku harus lebih baik beratus persen dalam menaati perintah daripada Aera.
Aku menggeser kursi. Bisa-bisa tidak ada sudahnya jika aku terus mengingat itu semua.
Huh
"Kenapa aku memilih papa seaneh itu?"
Tidak sopan, tapi terkadang aku memang ingin tahu jawaban dari pertanyaan tersebut. Kenapa rasanya hanya aku yang mengalaminya?
***
Sepenuhnya aku mengabaikan acara malam ini. Ucapan selamat dan harapan-harapan yang dibebankan setelah kami menukar cincin sama sekali tidak aku serap.
"Kamu sakit?"
Dia berbisik di telingaku saat pembicaraan keluarga masih berlangsung.
Aku menggeleng.
"Seria, Sam, ada apa?" tanya papa. God, cepat sekali dia sadar keanehan di sekitarnya.
"Tidak ada, Pa." Senyum manis jangan lupa.
Mama melotot. "Kalian berantem ya?"
Sam menggeleng cepat. "Tidak, tante."
"Sudah sana berduaan," usir mama. "Kalian pasti sudah jemu dengan pembicaraan orang tua,bukan?"
Aku tercengir lebar. "Mama memang paling perhatian deh."
"Tidak usah memuji. Mama tidak akan kagum."
Dasar mama!
Papa mengusak kepalaku. "Sana, istirahat lah. Nikmati juga beberapa makanannya. Akhir-akhir ini papa lihat kamu semakin kurus."
Otomatis aku melihat pinggangku. "Masa sih?"
Perasaan masih sama saja. "Turun 0,5 kg dari sebelumnya. Kamu pasti terlalu banyak pikir lagi."
Wait, papa ini kenapa selalu tahu sih?
"Bawa dia, Sam."
"Baik, Om."
Sam mengapit lenganku. Oke, drama masih berlanjut. Kami mengambil beberapa dessert dan minuman, membawanya ke salah satu meja.
Dia mengendurkan dasinya. Baru beberapa jam begini saja sudah gerah. Sepertinya dia memang hanya nyaman dengan pakaian asalnya.
"Bagaimana dengan cincinnya?"
Aku mengangkat tanganku, memandangi sesat cincin berlian bermata hati tersebut.
"Bagus."
Aku menarik gelas dan menyeruput isinya lewat sedotan. Sadar sekali aku akan dua pasang mata Sam yang masih padaku. Kenapa harus heran? Dia memang suka memandangiku. Dasar aneh!
"Hai."
Arkan menarik kursi di depan kami. Senyumnya mengembang dengan indah, tapi tidak semanis milik Ian.
Hah
Kenapa aku memikirkan dia lagi?
"Aku cukup terkejut karena kakakku tiba-tiba meminta acara ini menjadi khusus."
Matanya menggelinding dari aku ke Sam. Saat itu pula Sam mulai memakan dessert-nya. Kemalasan tampak bersarang di dalam matanya.
"Apa kalian berdua memiliki masalah?"
"Tidak ada." Aku mengaduk minumanku. "Hanya malas mempublikasikan sesuatu yang belum tentu menjadi kenyataan."
Sendoknya berhenti di udara, manik gelapnya menuskku tajam. Dia marah? Tidak juga, tapi tatapannya terlihat tidak terima.
Ya, tidak heran. Kan Sam dari awal sudah mengatakan bahwa dia mencintaiku. Namun maaf, aku tidak demikian.
"Benar." Arkan mengangguk setuju. "Menuju pernikahan masih sangat lama. Tidak ada yang tahu siapa yang akan bersama kita saat itu. Jodoh selalu misterius kan?"
"Benar," sahutku.
Jodoh selalu misterius. Bisa jadi yang bersamaku saat ini bukanlah dia yang seharusnya. Namun tidak berarti dia yang seharusnya aku mau adalah jawabannya.
Semua tentang jodoh memang cukup meribetkan.
***
Dia menutup kembali pintu. Bersandar di sana dengan kedua tangan di selipkan dalam saku celana panjangnya. "Masuklah. Ini sudah malam."
Aku mengangguk. "Selamat malam."
"Hmm."
"Sam.." Aku berbalik dan memanggilnya. Masih ada yang mengganjal di kepala. Aku tidak bisa tenang setiap pikiran itu mengudara. "Kamu tidak akan memberitahu siapa-siapa kan tentang hari ini?"
Bibirnya terbuka, namun terkatup kembali. Terlihat seperti ragu, tapi pada akhirnya dia mengangguk dan memberikan aku seulas senyum lembut.
"Kamu tenang saja. Aku tidak akan membuat kamu malu."
Itu yang aku inginkan, tapi entah kenapa terasa kasar kali di telinga. Itu bahkan membenarkan bahwa dirinya sendiri memang cukup memalukan untuk dimiliki.
"Maaf."
Aku harus mengatakannya. Bagaimanapun juga aku tidak ingin dia terluka, tapi ini harus dilakukan agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari.
"Aku tidak menyukaimu, Sam. Tidak bisa."
Dia mengangguk. "Aku mengerti. Kamu tidak perlu menjelaskannya."
Manik gelapnya meredup bagaikan kehilangan harapan. Lagipula aneh kamu Sam. Sejak kapan menyukaiku? Kita kan tidak pernah saling sapa sebelum ini.
"Aku yakin suatu hari kamu pasti bisa mendapatkan yang lebih baik."
"Ser.."
Ia meluruskan matanya padaku. "Kenapa kamu tidak menolakku sedari awal?"
Benar, dia pasti merasa kesal karenanya. Aku terlihat setuju di awal, tapi belum sampai pertengahan jalan aku sudah mengajaknya bermain drama alih-alih sekalian mundur ke belakang. Mungkin baginya aku plin plan. Karena memang begitulah faktanya. Aku masih belum tahu jalan mana yang harus aku tempuh.
"Perjodohan kita memang sudah ada sedari kita kecil," ujarnya. "Tapi bukan hal mustahil untuk ditentang saat ini."
"Itu untukmu, Sam. Aku tidak. Aku tidak bisa menentang perjodohan ini. Ayahku dan ayahmu berbeda. Ayahku otoriter. Dia tidak akan mau dibantah sekecil apapun."
"Aera?"
"Papa berusaha keras tidak menganggapnya anak sejak kejadian kemarin."
Matanya terbuka lebar. Terkejut pasti akan fakta yang aku beberkan. Mana ada seorang ayah seperti itu dipikiran dia, bukan?
"Kalau aku menentang perjodohan ini papa juga akan melakukan yang sama. Dia tidak akan menganggap aku putrinya lagi Sam," lanjutku histeris.
Aku tertunduk. Kenapa sampai kelepasan seperti itu?
"Kamu tahu? Sejak kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua. Aku tidak tahu rasanya dielus oleh seorang ibu atau perasaan cemas menunggu ayahku kembali dari kantor. Tapi aku tahu seperti apa sakitnya diabaikan orang yang telah menyayangi kita."
Ia menegakkan punggung dan berjalan mendekat. Aku diam saat telapaknya merangkum wajahku. "Aku mengerti apa yang kamu rasakan. Jadi teruslah berusaha."
Sam mengerti. Bagaimana dia bisa seperti ini? Apa dia tidak ingat bahwa dirinya akan dijadikan tumbal di sini demi kebahagiaanku? Atau... mungkinkah dia tidak peduli?
"Masuklah! Udara sudah semakin dingin."
Ia menurunkan tangannya. Masih rasa ada enggan berpaling saat aku melihat wajahnya, tapi dia benar. Udara sudah semakin dingin.
"Hati-hati di jalan."
Aku berbalik, berjalan menjauhinya dengan langkah pelan.
Dia yang sebaik itu semakin membuat aku mulai berpikir bahwa aku salah, tapi akan salah lagi jika aku berpura-pura.
Sudahlah, lanjutkan saja. Ini sudah hampir di tengah jalan.
***