Dua Puluh Empat

1567 Words
Hari berjalan seperti biasa. Tidak ada yang istimewa sedikitpun. Aku sendiri merasa tidak mood menjalani hari. Ketika Devi, Mila dan Aliya membicarakan gosip aku hanya diam mendengarkan. Meski demikian tidak satupun masuk ke telinga. Hatiku hampa. Aneh, tidak biasanya aku seperti ini. Oh iya soal Sam semalam. Aku masih bisa membayangkan cara menatapnya. Memang datar, tapi efek dari itu berbeda benar. Seperti apa ya? Seperti membelai tapi tanpa menghilangkan kemurniannya sebagai pria buruk. Entahlah. Tidak ada kata yang benar-benar tepat untuk mendeskripsikannya. Tapi cukup membuat aku mengerti bahwa tatapan tersebut bukan tatapan merusak hati. Datarnya adalah bukti kejujuran bahwa dia mencintai tanpa perlu memanipulasi diri menjadi orang lain. Kemurnian. Sungguh benar-benar kemurnian. "Seria!" Aku terlonjak akan suara besar Zion. Kurang ajar. Dia sepertinya sengaja ingin melihat aku mati muda. "Malah diam. Tuh raja iblis nunggu di lapangan." "Lapangan?" Zion mengangguk. "Katanya minta beliin air." "Malas ah. Merepotkan." "Ya sudah. Paling-paling kamu nanti dibunuh sama dia." Kalau dipikir-pikir meskipun memiliki status buruk Sam tidak sepenuhnya begitu. Selama interaksi dekat kami, dia tidak pernah menampakkan cakar. Alih-alih demikian malah justru sisi baik yang tampil. Mengherankan karena sebelum ini dia tidak pernah bersahabat, hanya mementingkan emosi. Meski tidak pernah melihat langsung tapi hal tersebut membuat aku menjadi waspada setiap bersamanya. Aku pikir dia bisa menjadi serigala tiba-tiba jika sesuatu salah menurutnya. Cara pandangku berdasarkan kata-kata orang. Ini adalah kesalahan fatal. Kini berkat interaksi kami telah aku putuskan bahwa Sam bukan seperti itu. Dia bukan brandal yang hanya tahu cara menekan orang lain. Dia adalah seorang pria berjaket keburukan yang menyimpan kebaikan kecil di hatinya. Namun prinsipnya kemurnian, jadi dia tidak berniat merubah sedikitpun dirinya maupun cara pandang orang-orang. Mungkinkah ini yang membuat dia banyak disukai? *** Karena kehampaan hati dan mood yang rendah sekali aku memutuskan duduk di perpustakaan selama waktu istirahat. Nayala di depanku. Tengah membuat ringkasan geografi. "Nay, Sam itu banyak disukai ya?" Bola mata polosnya dibalik kacamata tersebut berkedip-kedip. Aku tahu. Pertanyaanku ini mengundang orang berpikir bahwa aku tengah cemburu. Padahal kenyataannya tidak sama sekali. Ia mengangguk. "Kamu pasti heran kenapa dia mendapatkan keistimewaan begitu kan?" Tentu saja. Aku mengangguk. "Bukannya ingin menghina. Tapi fakta bahwa penampilannya itu buruk rupa memang jelas adanya. Mungkinkah karena dia berlatarbelakang Dagantara?" "Itu benar. Kekayaan orang tuanya melimpah ruah. Selain menjalankan bisnis, Dagantara juga memilki peran penting dalam ekonomi kota. Pandangan Tuan Dagantara juga banyak dibutuhkan oleh politik. Dengan kekuasaan sebanyak itu Sam sebagai anak tertua akan mendapat banyak. Orang-orang berpikir dengan memegang Sam mereka bisa hidup dalam kelimpahan, tapi Sam adalah orang yang pelit." "Perkataan kamu yang terkahir sepertinya salah," kataku tidak setuju. "Mana ada orang pelit yang rela mengeluarkan berjuta-juta untuk seorang sahabat." "Oh Adelin. Kalau itu pengecualian. Kata orang-orang dia dan Sam sudah dekat sejak kecil. Ya mungkin memang sangat berarti hingga Sam rela mengeluarkan banyak uang untuknya. Tapi kalau kepada yang lain dia tidak seperti itu." Nah ini benar. Dia memberikan Adelin mobil mahal sedangkan aku kalung yang entah dari mana asalnya. Aih jadi kesal pula aku memikirkannya. Setelah berbincang-bincang panjang aku dan Nayala berniat kembali ke kelas. Seru juga si mata empat ini. Mudah-mudahan mulutnya tidak ember karena tadi aku terlampau banyak mengeluarkan kalimat. Di ujung lorong terdengar keributan. Itu kantor OSIS. Tunggu, aku menyipitkan mata untuk memperjelas pandangan. "Seria," panggil Nayala. Ia mungkin heran karena aku tidak ikut berbelok ke lorong kelas sebelas. "Sam?" Ia mendahului aku. Kerumunan sudah terbentuk saat kami sampai. Dia tidak bersuara, hanya deru nafas cepatnya yang terdengar bersama keriuhan juga erangan kesakitan. "Seria." Robee mencoba bangkit dari lantai. Sam memijak cepat dadanya, sang pemilik langsung mengap-mengap merasakan sesak. "Seria." Suara Robee terdengar lirih. Itu membuat perasaanku menjadi simpati. Mataku kemudian naik kepada Sam. Sorot matanya membunuh. Kobaran api berkibar jelas. Nah penyebabnya menjadi tanda tanya. Sepertinya benar-benar serius karena kepalan tangannya Terlihat begitu erat. Buku-bukunya sampai memerah dan urat-urat naik ke permukaan. "Cepat hentikan dia!" Bentakan perempuan di sebelahku membuat aku terkejut. Adelin. Ia menatapku dengan memburu. "Cepat, bego! Dia bisa semakin menjadi." Aku masih tidak mengerti sampai jerit kesakitan Robee naik ke udara. Sama menendangnya membabi-buta. Membuktikan jelas emosinya yang bergejolak kuat. Kakiku hendak maju, tapi ketakutan membelenggu. Sam sedang marah besar. Kalau aku mendekat dia mungkin akan melampiaskannya padaku. Meski kasihan akan Robee tapi aku juga tidak ingin mengancam keselamatan diri sendiri. "Bisakah kamu menjadi lebih berguna?!" Bentakan Adelin lagi. Ketika mata kami sejajar dia melempar kekesalan tajam. Itu melukai cepat relung hatiku. Kenapa dia bertindak seakan aku yang paling berdosa? Seakan yang terjadi adalah ulahku? Kenapa? Adelin menyentak kekesalanya, ia maju. Menarik lengan Sam sekuat tenaga. Robee terjatuh ke lantai dan merintih. Sam masih menatapnya bagaikan siap membunuh. Mengerikan, tatapannya sangat mengerikan. "Tenangkan dirimu." Adelin mendorong Sam ke arahku. Manik pekat yang dipenuhi kebencian menciutkan nyali. Lubang hitam di matanya seperti senjata yang siap menusuk. Lalu entah kenapa runcing senjata menusuk hatiku. Harusnya bukan begini bukan? Bukan aku yang membuat masalah. Itu adalah Robee, tapi kenapa manik Sam menyalahkan aku. Ia menabrak bahuku. Kaki ink tanpa kendali berlari mengikutinya. Langkahnya panjang dan terburu-buru. "Sam." Aku memanggil, berharap dia memelankan langkah untuk menunggu. Tapi itu tidak terjadi. Kakinya terus memburu. Dia berbelok di kelas sebelas bahasa. Itu tempat terkahir kelas sebelas yang berupa lorong loker dan mading. Ia berhenti di loker, membaca-baca setiap nama cepat lalu menarik milikku. Apa yang dia lakukan sebenarnya? Tarikan kuat mendorong isi di dalamnya terjatuh. Buket bunga dan ratusan kotak coklat jatuh. Astaga aku lupa. Hari ini 14 Februari. Setiap valentine memang hal biasa bagi lokerku kedatangan dua benda seperti itu. "Sam.." Suaraku pelan. Masih takut mengusik emosinya. Dia mengeluarkan semua buket bunga dan coklat. Jatuh berserakan di lantai. Tanpa suara ia memijak-mijaknya. "Sam.." Aku menarik tangannya. Bukannya karena aku suka akan bunga dn coklat tersebut, tapi aku menghargai pemiliknya. Mereka telah mengeluarkan uang dengan harapan besar. Akan menyakitkan jika tahu aku memperlakukannya seperti sampah begini. "Lepas." Suara dinginnya menjadikan bulu kuduku meremang. Damn! Kenapa dia menjadi seseram ini? "Biarkan." Adelin yang entah sejak kapan datang menarik tanganku. Kebebasan tersebut segera dimanfaatkan Sam untuk kembali merusak hadiah. Kerumunan terbentuk lagi. Pasti mereka penasaran akan apa yang dilakukan oleh Sam Dagantara dengan lokerku. "Mengerikan, dia merusak kado valentine Seria." "Apa dia cemburu?" "Sepertinya begitu. Tapi kan dia menyukai Adelin. Bagaimana sih?" Sam sialan! Dia menempatkan aku dalam gosip. Buku tanganku terkepal memikirkan akibat dari gosip-gosip ini. Kenyamananku akan terusik lagi. Terkutuklah kamu, Sam. "Kekanakan," cibirku seraya menghempas tangan Adelin. Kerumunan terbelah saat aku menerobos. Aku tari keputusanku pagi tadi. Sam memang seperti kata orang-orang. Emosian dan suka bermain kekerasan. Itu berarti kelembutannya dalam interaksi kami berkemungkinan hanyalah manipulasi. Sifat aslinya adalah pemberontak. Ya, itu dia. Aku tidak akan membiarkan hatiku kagum lagi. Tidak akan. *** Aku benar-benar tidak mengerti akan apa yang Sam lakukan. Dia merusak semua coklat dan bunga yang diberikan untukku. Secuil pemikiran di kepalaku mengatakan bahwa dia cemburu. Tapi sebelumnya dia tidak pernah terlihat emosi menyangkut aku. Kenapa dia seperti ini? Apa dia tidak tahu bahwa kini kepalaku sakit mendengar opini orang bahwa kami memiliki hubungan lebih? Bagimana menjelaskannya? Aku takut Ian mendengar ini dan berujung menjaga jarak. No! Aku tidak mau Ian menjauh. Argh, Sam sialan! "Kamu serius mau tetap pulang denganku?" tanya Zion setengah berbisik. Matanya sendiri tetap melurus kepada satu titik. Titik dimana Sam bertengger di atas Ninja Kawasakinya. Manik pekatnya jatuh pada kami. Masih saja memandang dengan kemarahan. Gila ya tuh cowok. Tanpa salah dia menjadikan aku pelampiasan. "Serius lah. Siapa yang mau pulang dengan pria gila seperti dia." Aku tahu maniknya terkejut saat aku mengikuti Zion ke motornya. Dia telah menunggu, itu pasti. Persetanan dengan kekecewaannya yang mungkin terbuka, aku tidak mau peduli. Zion naik ke motornya dan memasang helm. Ia lalu menyalakan mesin motor, membuat aku segera bersiap naik. Tangan besar menahanku. Jantungku berdetak cepat memikirkan si pelukannya. Saat aku memalingkan wajah itu benar-benar Sam bersama tatapan membunuhnya. Ia bergeser menatap Zion. Ada peringatan dan ancaman yang berkibar. Zion yang sadar melajukan motornya segera. "Kamu apaansih!" Kuhentak tangannya. s**t, kulitku memerah karena perbuatannya. "Ayo." Ia menjauh. Berat hati aku pun mengikuti. Ogah-ogahan kemudian aku memegang bahunya. Harusnya malah tidak sama sekali. Penyebab? Of course karena kelakuan dia tadi. Aku jadi malas benar di dekatnya. Pokoknya ingin segera sampai di rumah dan melupakan wajahnya. Itu saja keinginanku sore ini. Motor yang aku kendarai malah meluncur ke arah lain. Bibir ingin portes, tapi aku sedang melancarkan misi merajuk agar dia sadar diri. Ya sudahlah. Motor juga miliknya. Biarkan saja dia merasa bagaikan raja yang bebas melakukan sesuai kemauannya, lalu besok aku harap dia terkena karma. Berhenti di sebuah toko bunga. Dia memarkirkan motor dan pergi meninggalkan tanpa kata. Apa sih maunya nih cowok? Gak jelas benar dari tadi. Salah minum obat atau gimana? Sepuluh menit kemudian dia kembali dengan satu buket mawar super besar. Ia menarik tanganku dan meletakkannya. Gosh, lumayan berat juga. Bahkan karena besarnya itu membuat wajah Sam terlihat samar. Anyway, ini bunga hadiah valentine? Setelah menghancurkan hadiah valentineku dia memberikan ini. So, sebagai permintaan maaf atau tulus dari niatnya?" Suara mesin motor menyala. Aku naik kembali ke boncengan dengan penuh susah payah karena keberadaan buket bunga. Seakan mengerti ia mengurangi kecepatan motor. Sepoi angin kini dapat dinikmati dengan santai. Kekesalan pelan-pelan terasa mendingin. Tapi itu belum surut. Aku masih marah kepadanya. Tapi sepertinya dia tidak akan pernah sadar diri karena kini malah menghentikan motor di depan restauran. Dengan santainya ia menggenggam tanganku masuk ke dalam. Aih, benar-benar pria yang tidak punya kesadaran diri. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD