Dua Puluh Tiga

1661 Words
Aku menghela pelan. Memandang sekali lagi lampu neon ungu bertuliskan Aero yang terpasang di atas pintu gedung. Baiklah, palingan hanya sebentar. Aku tidak berani masuk, hanya menjulurkan kepala untuk melihat keadaan di dalam. Ada counter depan, namun tidak ada orangnya. Di sisi lainnya banyak motor dan mobil yang rusak. Dimana Sam? "Seria?" Kumundurkan langkah. Ketika berbalik disuguhi langsung oleh Adelin. Ia mengikat rambutnya satu, mengenakan jeans robek dan kaos hitam biasa. Kenapa dia disini? Apa diajak oleh Sam juga? Pria b*****h! Dia mengajak aku, tapi juga Adelin di saat bersamaan. Apa maksudnya coba? Tahu begini lebih baik tadi aku langsung pulang. "Sam ada di dalam." Sinis matanya saat mengatakan kalimat tersebut. Kenapa sih nih nenek lampir? Kalau tidak suka aku datang ya bilang saja. Toh aku juga bukan niat-niat banget disini. Tanpa memperdulikan dia aku melangkah ke dalam. Sengaja kuangkat dagu angkuh. Sini! Biar aku tunjukkan bahwa bukan kau saja yang bisa angkuh. Melewati mobil-mobil yang rusak. Aroma oli dan karat mendominasi. Sumpek benar jadinya udara yang masuk ke d**a. "Seria!" Itu Geri. Dia melambai dari atas bumper mobil. "Aww." Nah itu baru suara Sam. Ia keluar dari bawah mobil, mengelus-elus dahinya. "Antusias sih antusias pak bos, tapi perhatikan kepala dong," ledek Jason dari sebrang. "Kalau geger otak kan bahaya pak bos," lanjut Deni setengah terikik. Sam yang masih mengelus dahi hanya melempar tatapan tajam. Itu malah membuat kedua temannya semakin tergelak. "Siapa?" Seorang perempuan muncul dari arah lain, membawa beberapa kaleng minuman dingin. Aisha. Ini dia. Tubuhnya berlekuk seperti gitar spanyol. Dengan crop top merah ia menampakkan perut ratanya. Lalu denim pendeknya mempertontonkan paha mulusnya yang putih. Perempuan ini tipe sexy yang laki-laki idamkan. Sam tidak waras benar sampai rela menolaknya. "Istri pak bos," sahut Jason. "Nah karena udah tahu, mending lo pulang sebelum gue diteror sama bokap lo." "Istri apaan sih?" Aisha merengut kesal menuju Sam. Ia memberikannya sekaleng minuman. "Sam..," rengekeknya kemudian meminta penjelasan. "As I told before, I have a girlfriend." Dia menghentakkan kaki. "Bohong banget. Buktinya kamu saja masih sering sendirian. Kalaupun berduaan cuma sama Adelin." "Terserah lo deh." Sam tampaknya telah malas berurusan. Mungkin saja Aisha sudah seperti ini sejak lama. Parah sih. Dia yang aduhai ini terjebak cinta pada Sam si buruk rupa yang berhati batu. "Kata kepala pelayan Ran kamu belum pulang ke manison. Jalan-jalan kemana?" "Ke, ke mall sama Devi dan Mila." "Mall?" Dahinya tampak berkerut. Sembari demikian ia membuka kaleng soda dan menyesap sedikit. Suara tegukannya sensual benar. Apalagi keringat ikut menghiasi kulitnya. Terlihat mengkilat dan menggoda. Ah sayang wajahnya tidak bersih. "Tadi sepertinya aku melihat ketiga temanmu di tempat berbeda." "Sembarangan," semburku. "Jelas-jelas tadi kami bertiga ke mall." "Mungkin aku salah lihat." Ia menyodorkan kaleng sodanya. Aku melirik bergantian antara kaleng tersebut dan wajah tanpa ekspresinya. "Untuk?" "Minum, sayang," tekannya dalam. Aliran panas menjalar cepat ke pipiku. "Apaan sih, Sam!" Ia tertawa kecil. Cih, senang sekali menjadikan aku bahan ledekan. Nih bibir juga kenapa sih tidak bisa berhenti senyum? "Ambillah, aku akan siap beberapa menit lagi." Kusambar cepat kaleng sodanya. "So, kamu meminta aku datang kesini untuk menunggu?" Buang-buang waktu. Memang kesalahan besar aku datang kesini. "Kami akan makan malam bersama setelah ini." Makan malam? Kusipitkan mata untuk mencari kebohongan dari maniknya. "Dalam rangka apa?" "Sam ulang tahun." Adelin menyandarkan diri ke bumper mobil di belakangku. Saat aku melihatnya, dia mengeluarkan tatapan tidak senang. Nih perempuan cari masalah benget sih. "Katanya pacar Sam," sindir Aisha tanpa melihat ke arahku. "Kok ulang tahun pacarnya sendiri tidak tahu?" "Aku bukan Tuhan," sambutku. "It's normal for some of cases if I dont know." Sam menarik tanganku, membawa ke mobil ungu di samping Adelin. "Tunggu disini." "Iya!" "Jangan cemberut begitu." Tangannya mengusak-usak rambutku. Damn! "Sam! Tangan kamu kotor!" "Maaf, aku lupa." Hih, ngeselin banget. Rambutku pasti kini berbau karat atau mungkin oli. Jelas-jelas tadi tangan kanan Sam berminyak dan hitam. *** "Sa.." Sam menarik tanganku. Suara ini tercekat cepat karena ia melepaskan jaket boomber toscanya, memasangkan langsung kepadaku. Nih cowok sifat inisatifnya super tinggi deh. "Aku bisa sendiri." Ia menahan tanganku yang ingin memberontak. God, tenaganya kuat benar. Pantas saja orang-orang yang ia bantai babak belurnya bukan main. "Ayo pak bos. Jangan uwu-uwu terus. Disini masih ada kaum jomblo yang perlu dilindungi loh." Deni melewati kami bersama wajah tengilnya. Hal itu kemudian diikuti oleh yang lain. "Ayo." Jemari Sam menggenggam tanganku. Segera ingin kutarik tapi lagi-lagi tenaganya memaksa aku untuk patuh. "Sam mau numpang tidak?" tawar Aisha setelah Sam selesai mengunci gerbang. So, kesimpulannya nih bengkel punya dia? "Aku bawa motor." Sam menariku menuju motor ninjanya. Ia memakai helmnya ketika Aisha mendekat. "Naik mobilku saja yuk." Ternyata masih nekat ingin Sam bersamanya. Aisha-Aisha, aku heran sama isi kepala kamu. Kalau dia berusaha pasti akan ada banyak pria tampan dan kaya di luar sana yang maju. Tentu pilihan lebih baik daripada Sam, bukan? "Tidak perlu." Sam naik ke motornya. Aku sontak mundur karena Aisha maju, menarik cepat kaos putih Sam. "Kalau begitu aku ikut ya." Sam menoleh, mengangkat kaca helm full face-nya. Sorot mata yang ia berikan adalah kekesalan yang kental. "Are you deaf?" Ditatap seperti itu membuat Aisha tertunduk, pelan-pelan jemarinya yang memegang kaos Sam melemah. "Bahkan ulang tahun kamu saja dia tidak tahu. Bagiamana bisa kamu suka dengan perempuan seperti itu? Perempuan yang tidak peduli akan momen hidup kamu. Aku juga tidak yakin kalau dia menerima kamu seperti aku." "Kamu menerima aku setelah tahu kekayaan dan kekuasaan yang aku punya. Bukankah itu lebih menjijikkan, Aisha?" "T-tapi.." Sam menepis kasar tangan Aisha. Ia kemudian memberi kode aku untuk naik lewat matanya. Maaf, Aisha. Bukan aku yang memilih Sam, tapi dia yang memilihku. Lagipula kalau memang kamu mendekati Sam karena uang dan kekuasaannya, maka aku juga tidak akan rela. Lebih baik dia bersama Devi atau mungkin Nayala. Itu sungguh lebih baik lagi. *** Makan malam bersama ternyata digelar di tepi pantai. Aku tidak tahu siapa dalangnya, tapi saat kami datang sudah ada karpet dan meja beserta hidangan lezat. Lilin-lilin yang dinyalakan untuk penerangan membuat suasana kian manis. "Aku sudah makan," kataku saat Sam hendak meletakkan sepiring steak di hadapanku. 3 mangkuk steamboat masih membuat perutku penuh. Aku tidak mau mengambil resiko dengan mengisi perut lagi. "Makan apa?" Sebagai ganti ia meletakkan piring itu di hadapannya dan mulai memotong kecil daging. "3 mangkuk steamboat." "Tumben banyak." Ia menggeser segelas coctail padaku. "Lagi pengen." Padahal karena Ian. Coba bukan karena dia terus menambah makanan ke mangkukku pastilah aku sudah berhenti. "Pak bos happy birthday." Deni dan Adelin datang dari belakang membawa kue ulang tahun. Ukurannya besar dan berwarna hitam putih. Kreatif sekali pemilihan warnanya. Lilin di atasnya adalah angka sembilan belas. Raut Sam biasa saja. Malah ia memutar malas matanya saat teman-temannya menyanyikan lagu ulang tahun. Ya ampun, Sam. Terharu sedikit dong. Teman-temanmu sudah berusaha loh. Selesai berfoto-foto Sam memotong kue. Ia meletakkan sepotong kecil ke piring dan memberikannya kepadaku bersama sendok. Kupotong lebih kecil, lalu kusuap ke dalam mulutnya. "Happy birthday." Sudut bibirnya tertarik sebelum mulai mengunyah pelan. Adelin dan yang lain menyusul menyuapi Sam. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Aku hanya menonton pembicaraan mereka. Tidak sefrekuensi benar. Topik yang mereka angkat seputar otomotif dan sejenis geng. Adelin dan Aisha membaur sempurna, semakin menyudutkan aku bahwa tidak seharusnya ikut bergabung. Sam menarik daguku. Sentuhan lembut meski kasar tangannya terasa. Ia menyuapakan sepotong daging steak berlumur saus. Nih cowok sepertinya memang sengaja. Jelas-jelas aku sudah bilang bahwa aku telah makan 3 mangkuk steambot. Masih saja kukuh ingin menawarkan makanan. Kalau perut ini meledak gimana? Malam semakin larut. Mataku tinggal beberapa watt saja tapi pembicaraan mereka terus berlanjut. Aku mengusak-usak kelopak mata, berharap dengan demikian menjadi lebih terjaga. Apanya yang terjaga. Pemandangan yang tersaji semakin redup. Tanpa tersadar kepalaku terjatuh ke pinggir. Tangan besar menahan cepat, sentuhan kulit kasarnya mengejutkan aku. "Ayo pulang." Helaan kasar terdengar keluar dari bibir Aisha. Dia tidak terima acara ini usai padahal hari sudah semakin malam. Apa dia pikir Sam tidak butuh istirahat heh? Kalau masih enggan ya sudah, duduk saja sendiri di situ sampai subuh. "Hati-hati, Sam." Adelin lebih mengerti, meski di matanya juga ada ketidakrelaan yang nyata. Imbasnya adalah tatapan tidak suka kepadaku. Loh bukan salahku. Sam sendiri yang setuju untuk pulang. *** Kantukku terasa kian berat. Sam yang mengemudi kini menurunkan tangan kirinya untuk menjaga pelukanku. Itu bagus, jadi aku tidak perlu khawatir akan terjatuh saat pelukan tiba-tiba terlepas. Punggung tegap dan lebarnya senyaman kasur. Aroma maskulin yang menguar darinya pula terasa hangat di hati. Akibatnya kenyamanan bertambah tinggi dan aku terbawa ke dalam mimpi bersamanya. Saat aku membuka mata, motor telah sampai di teras rumah. Sepertinya tadi aku tertidur. Dalam keadaan setengah sadar aku mencoba turun, tapi Sam menahan tanganku sementara ia bergerak turun. Berbalik, ia mengangkat aku ke depan tubuhnya. Hembusan nafas hangat terasa menyapu wajahku. Tidak, ini terlalu dekat. Aku memundurkan wajah saat manik gelapnya turun memaku manikku. Lubang gelap di matanya menyorot datar tapi itu justru membuat aku tersedot masuk ke dalamnya. Ada kastil gelap di sana. Pintunya terbuka seakan memberi aku izin untuk masuk. Dalam keluasan hanya cahaya sederhana lilin yang memancar. Aneh, cahaya temaramnya memberikan kehangatan yang terasa begitu tulus. Hatiku bergetar Kamar gelap menyambut. Perabotannya bukan mewah. Dekorasinya hanyalah kemuraman yang mengerikan. Tapi bukan itu yang terasa. Sebaliknya kenyamanan luar biasa. Di sudut lain ada jendela dimana aku bisa melihat taman gelap di bawah sana. Ranting pohon menjulur ke langit gelap. Mengejutkan karena saat mataku turun ada keindahan bunga-bunga mekar di bawahnya. Amat indah dan memanjakan mata. Mungkinkah itu yang aku dapatkan dari Sam. Ratu kegelapan hidupnya yang hanya bisa ia manjakan dengan kehangatan sederhana dan kenyamanan luar biasa. Tidak mewah tapi hanya melihatnya saja aku merasa terjamin. Aduh apa yang aku pikirkan sih?! "Aku bisa sendiri." Kucoba melepaskan tangannya,tapi pegangan erat tersebut tidak terlepas. Ia malah mengangkat pandangan, melurus dan membawa langkah masuk ke dalam rumah. "Selamat kembali, Tuan." Ya ampun ada kepala pelayan Ran. Dia pasti berpikir aneh akan kejadian ini. Aih di saat begini kenapa mataku semakin berat. Sudahlah, biarkan saja. Yang terpenting aku segera sampai di kamar. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD