"Yas!"
Aku berseru senang, meloncat turun dari kasur. Sisa-sisa kantuk semuanya habis begitu mengingat bahwa telah dua minggu berlalu.
Ian akan keluar dari Andromeda pagi ini. Mungkin agak sore atau malam aku bisa mengajaknya jalan.
"Non, Tuan Sam ada di bawah."
Aelah cowok itu lagi. Rajin benar setiap hari datang, apa tidak bosan ya?
"Saya mau berendam. Mungkin sekitar satu jam baru turun ke bawah. Kalau dia ada hal penting suruh saja menitip pesan," seruku.
"Baik, Non."
Hih membuat mood turun saja. Aku melempar diri ke ranjang dan menarik ponsel. Tidak ada pesan dari Ian. Pastilah dia tengah sibuk berkemas. Oke deh, aku mandi dulu.
Seperti kataku sebelumnya. Aku berendam selama tiga puluh menit. Begitu keluar keberanian sudah terkumpul jadi aku pun mengirim pesan pada Ian, mengajaknya untuk jalan-jalan ke time zone. Itu akan menjadi pengalaman baru bagi hubungan kami.
Sembari menunggu aku berpakaian dan merias wajah. Tanpa sadar satu jam berlalu. Menurut perkiraanku Sam mungkin telah pergi. Apalagi kalau hari minggu pagi dia suka banyak urusan.
"Bagaimana tidurmu semalam?"
Ternyata tebakanku salah. Sam masih ada di meja makan. Dia baru menyajikan satu piring daging pangang bersaus. Aroma sedapnya secara cepat menusuk hidung . Aih suka benar dia membuat naik selera makanku. Tidakkah dia tahu bahwa aku sedang diet?
"Seperti biasa." Aku menarik kursi.
Sam menyusul di sebelah. "Tadi aku membeli dua bungkus gado-gado. Kamu mau?" tawarnya seraya melepaskan karet pembungkus makanan.
"Tidak, aku malah tertarik dengan daging panggang saus ini. Apa kamu yang memasak?" tanyaku seraya menarik piring mendekat.
"Iya. Semalam ada resep baru yang aku lihat di TV. Karena tertarik aku mencobanya. Untuk rasa aku tidak tahu."
Ia memindahkan gado-gado ke piringnya. Begitu usai ia memotong daging menjadi beberapa bagian kecil dan memindahkannya ke piringku.
"Terimakasih." Aku menambahkan salad sayur dan satu helai roti ke piring.
Ini makanan yang biasa aku makan. Rasanya lezat, tapi kenapa gado-gado di piring Sam terasa begitu menggoda ya?
"Apa enak?"
Dia memalingkan wajah, lalu mengangguk kecil. "Kamu mau?" tawarnya langsung mengambil satu suap. "Cobalah."
Baiklah, sekali.
Aku menerimanya. Sebenarnya cukup aneh. Ya mungkin karena begitu banyak makanan yang dicampur menjadi satu. But overall, enak. Apalagi kuahnya.
Tidak-tidak. Aku tidak boleh tergoda lagi. Ini sudah kesekian kali aku tertarik makanan yang dimakan oleh Sam. Mana setiap porsi sangat besar pula. Bahaya, badanku bisa bertambah besar.
"Tidak mau lagi?"
"Tidak, aku sudah banyak memakan makanan berminyak, junk food dan memakai MSG akhir-akhir ini. Kalau diteruskan aku takut akan kecanduan. Kamu bukannya tidak tahu bahwa demi tubuh ideal kita harus berusaha. Akan sulit bagiku mengendalikan diri kalau kecanduan nanti. Kamu juga, Sam. Perhatikan lah makanan kamu. Itu akan berdampak besar bagi hidup kamu."
"Akan aku coba perhatikan mulai hari ini."
"Pilihan yang bagus."
Aku menyuap salad, mengunyahnya pelan dan teringat. "Oh iya, bagaimana hasil dari face wash yang kamu pesan kemarin?"
"Ah face wash itu ya." Ia mengunyah, terlihat berpikir di saat bersamaan. "Entahlah, menurut kamu bagaimana wajahku sekarang?"
Ia memajukan wajahnya. Nih bocah ya minta ditampol bener.
Kudorong pelan wajahnya seraya meneliti. Jerawat batunya memerah semua, ini mah semakin parah. Belum lagi area di dahi.
"Hentikan pemakaian. Ini sepertinya makin parah. Kamu mungkin sebaiknya ke dokter kulit, Sam."
"Nanti."
"Ya terserahmu. Paling-palingan wajahmu akan semakin parah."
"Apa kamu tidak menyukainya?"
"Of course, Sam. Tidak ada yang suka wajah berjerawat. Apalagi model jerawat batu seperti di wajah kamu. Mengganggu pemandangan benar."
"Begitu ya."
"Iya begitu. Harusnya kamu paham bukan malah melanjutkan makan seakan bodo amat. Gimana sih!"
Yah dia malah tertawa kecil. i***t!
"Kamu ada pekerjaan tidak setelah ini?"
"Kenapa?" sinisku. "Mau mengajak jalan?"
"Bisa dibilang begitu."
"Tidak bisa, aku mau pergi bersama teman-temanku."
"Kalau begitu setelahnya mampir ke bengkel Aero di sebelah supermarket JE."
"Ngapain?"
"Pokoknya mampir saja dulu."
"Kalau sempat."
Mudah-mudahan sih enggak. Pasalnya sangat tidak menyukai bengkel. Dalamnya terbiasa berantakan dan bau-bau dari bahan seperti oli dan minyak membuat aku mual.
***
"Ian!"
Aku menepuk pundaknya. Dia pun berbalik dan tersenyum. Ya ampun, manis benar.
"Sudah lama?" tanyaku.
"Tidak juga."
Ia berjalan menembus kerumunan. Otomatis aku mengikuti di sebelahnya. Langkah pelannya yang terkesan menunggu membuat aku tidak ketinggalan.
Hari ini pengunjung mall lebih ramai dari biasanya. Saat kami masuk ke dalam lift kondisinya penuh sesak.
Ian mendorong aku ke dinding. Awalnya aku terkejut tapi menjadi mengerti begitu melihat beberapa pria dewasa berdiri di depannya. Dia bermaksud melindungiku. What a gentelman.
Tapi posisi ini sedikit canggung. Mataku belarian kemana-mana saat dia meletakan kedua tangannya di sisi tubuhku. Aroma maskulin dari parfumnya menusuk kuat ke dalam hidung. Ditambah sesak membuat pipiku terasa menghangat. Jantung pula ikut berdebar-debar kencang
Ya Tuhan, cobaan apa ini?
Ting
Pintu lift terbuka. Kami membiarkan orang-orang keluar lebih dulu. Setelah lenggang barulah kami beranjak ke luar.
"Mau main apa?"
Ian mendekatkan jarak. Mungkin dia takut kehilangan aku di antara kerumunan ini.
"Itu."
Kutunjuk mesin capit boneka. Akan sangat romantis jika Ian mendapatkan salah satunya untukku.
"Mau yang mana?"
Aku menunjuk boneka beruang coklat dan kelinci pink. Wujudnya sangat imut benar.
"Kalau aku dapat ada hadiahnya gak nih?"
"Loh minta hadiah?"
"Tentu saja. Ini kan menguras emosi," katanya setengah tertawa.
"Ya udah terserah kamu saja." Paling-paling juga bukan permintaan aneh. Jadi turuti saja.
"Yah.."
Ia mendesah kecewa. Boneka yang hampir dapat malah kembali terjatuh. Aku malah tertawa akan ekspresinya.
Tidak mau menyerah, dia berusaha lagi. Tapi ternyata tidak mudah. Sudah berulang kali namun salah satu dari boneka yang aku minta tidak kunjung berhasil didapatkan.
"Sudahlah," kataku. Ini sudah ke-18 kali dia mencoba. Hasilnya juga masih gagal. Kalau diteruskan bisa-bisa malah menghabiskan uang saja. "Ayo kita coba permainan lain."
Kami mencoba permainan lempar bola basket. Aku berusaha keras agar masuk, namun sepertinya memang tidak berbakat. Satupun tidak masuk ke dalam keranjang. Ian juga tidak jauh berbeda. Aku jadi tertawa dibuatnya.
Dahinya tampak berkerut samar. "Kenapa kamu tertawa?"
"T-tidak." Aku menggeleng. Takut benar mengatakan jujur bahwa aku merasa dia lucu karena tidak bisa melakukan olahraga begini. Bukannya apa-apa, kebanyakan cowok aku lihat mahir dalam olahraga. Kenapa Ian tidak? Dia benar-benar sesuatu.
Tangannya tiba-tiba menarik tanganku. Karena terlalu bertenaga aku sampai tertabrak oleh dadanya. "Apa yang kamu tertawakan?" tanyanya sembari menarik daguku pelan.
Sengatan listrik entah dari mana meyentrum d**a begitu aku merasakan kulit lembutnya. "Seria?"
Aku tersentak akan suara menekannya. "I-itu, aku hanya heran saja. Kamu kan cowok kenapa tidak mahir olahraga."
"Kamu pasti menganggap aku pecundang."
Ian menarik tangannya kembali. Eh bukan begitu maksudku. Dia merunduk, mengambil bola di kakinya dan melempar kuat ke ring.
"Itu masuk. Kenapa tadi tidak?"
"Aku hanya mengalah agar kamu tidak sedih," katanya. Namun ekspresi sok serius itu membuat aku terkekeh geli.
"Bilang saja yang ini keberuntungan," ledekku. Matanya melotot cepat.
"Seria!"
Aku tertunduk, menahan tawa yang akan meledak.
"Senang benar sih mentertawakan orang," gerutunya. Meski demikian aku melihat senyum terpatri di bibirnya. "Ayo kita beli minuman. Time zona ini membuatku emosi."
"Karena kamu tidak pandai," ejeku seraya mengimbangi langkahnya.
"Kamu ya."
Tangan Ian mengusak-usak puncak kepalaku. "Ian ih! Rambutku jadi berantakan nih."
"Lalu kenapa? Masih cantik kok."
Ian! Kok kamu bisa menggombal? Aih nih bibir kenapa lagi senyum-senyum sendiri. Bikin malu satu negara saja.
Di lantai tiga kami memesan steamboat. Aku menopang dagu saja saat Ian mengambil alih untuk memasaknya. Keseriusan yang menguar di wajahnya membuat senyumku terpacu terus menerus.
Dia memiliki kulit wajah yang bersih. Warnanya putih s**u dan bertekstur halus. Alis yang menaungi manik hitamnya begitu tebal. Ia juga memiliki hidung mancung dan bibir tipis nan merah.
Pertama kali aku melihatnya ia menggunakan gaya rambut undercut, namun sekarang ia merubahnya menjadi model comma hair. Pas benar untuk wajahnya.
"Ian, Andromeda tidak punya aturan model rambut ya?"
"Kurang lebih seperti Neptuna. Dilarang mengecat rambut dengan warna-warna cerah. Untuk putri bebas mau menggunakan gaya dengan model apapun. Hal sama juga berlaku bagi murid putra."
"Ya kurang lebih memang terdengar seperti Netpuna. Hanya saja di Neptuna khusus murid laki-laki dilarang menggunakan model rambut yang messy seperti milik kamu."
Ia menoleh. "Benarkah? Aku kira Neptuna lebih bebas dari kami."
"Sepertinya salah." Aku memajukan wajah untuk melihat steamboat yang ia masak. "Apa sudah matang?"
Ian mengambil satu buah bakso dengan sumpit, ditiupnya pelan sebelum mengarahkan ke mulutku.
Aku menerimanya suka ria. Eum, enak. Kuahnya terasa menyerap dengan baik.
"Sudah menyerap kuahnya?"
"Sudah."
Ia mengambil mangkuk, memindahkan kuah dan isinya ke sana. Gerakannya lembut dan teliti. Tipe pria sabar sekali.
"Hati-hati masih panas."
Aku mengangguk, mengambil sendok dan garpu untuk mulai menyantap. Lalu sembari mengunyah aku memperhatikan dia yang mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Papa adalah pria yang keras dan mudah marah. Sejak kecil aku terbiasa mendengar kalimat bernada tinggi. Lama kelamaan aku merasa mentalku kian jatuh.
Dari situlah aku selalu mengidam-idamkan sosok pria lembut dan pandai mengontrol emosi. Ian adalah yang tepat. Dia lembut dan selalu tersenyum manis. Mungkin itu yang membuat aku kian ingin dekat dengannya. Karena dia adalah pria yang aku idamkan.
"Nah."
Ian meletakkan lagi beberapa udang ke mangkuk milikku. "Habiskan, jangan takut timbanganmu."
Kalau dia yang berkata mana berani aku menolak. Selama makan dia terus menambah makanan ke piringku. Meskipun aku ingin menolak tapi akhirnya kalah oleh senyum manis yang ia bawa bersama.
"Sudah kenyang?"
Aku mengangguk. Rekor makan steamboat terbanyak. Tiga mangkuk. Gosh, yang benar saja. Biasanya aku hanya satu mangkuk.
"Mau langsung pulang atau bagimana?" tawarnnya.
Jam di ponsel sudah menunjukkan pukul sembilan. Ternyata tidak terasa juga. Waktu habis tanpa aku sadari.
"Memangnya kamu mau mengajak kemana lagi?"
Kalau memang dia masih ada rencana mungkin aku bisa bertahan satu hingga dua jam lagi. Yang terpenting jangan melewati pukul dua belas saja. Sam dan papa bisa mengomel kepadaku.
"Dua kilometer dari sini ada pantai. Ayo kesana."
"Ayo."
Aku juga ingin menikmati suara deburan ombak dan angin sepoinya. Lumayan, itu akan membuat kepalaku lebih dingin untuk hari besok yang mungkin amburadul.
Ian membayar makanan. Begitu usai kami keluar. Dalam perjalanan panjang aku bertanya-tanya akan kegiatannya belakangan ini. Seperti biasa katanya. Fokus belajar dan mempersiapkan tes masuk universitas.
Manusia ambisius sekali. Berbeda benar dengan aku yang selau menunda-nunda. Aih, jadi malu.
Kami berdiri bersisian di pinggir pantai, ombak menerjang kaki telanjang kami. Suaranya adalah melodi indah yang menenangkan hati.
"Sudah lama aku tidak ke pantai," ujar Ian.
"Mungkin minggu depan kamu bisa ke pantai."
"Ya mungkin." Nadanya terdengar tidak yakin. Apa minggu depan dia tidak akan pulang? Aku ingin bertanya tapi terlalu malu.
Apa hakku atas pertanyaan itu? Kamu hanya berteman. Tidak pantas aku bertanya demikian.
"Ian, apa kamu tidak bosan di asrama?"
Dia terlihat senang. Jarang ada ekspresi sedih ataupun muram. Aku pikir pastilah dia menikmati waktunya di Andromeda. Tapi bagaimana bisa? Andromeda begitu mengikat murid-muridnya dengan asrama.
"Tidak."
"Kenapa bisa begitu? Kamu tidak memiliki kebebasan. Sepanjang hari ada aturan yang mengikat." Seperti aku. Papa mengikat dengan aturannya. Meskipun aku mencoba bertahan dengan modal kepercayaan namun aku tidak berbohong bahwa aku mulai bosan.
Ingin segera aku meninggalkan Sam dan bersama dengan Ian dalam hubungan lebih intens. Tapi ini tidak mungkin, aku tidak berani melawan papa.
"Karena berada di sana memang keinginanku. Bagaimana aku bisa bosan dengan keinginanku sendiri?"
"Kamu ini aneh!" dengusku. "Diikat oleh aturan begitu kenapa malah keinginan. Padahal kebebasan lebih menarik."
"Memang sangat menarik, tapi akan menuntun aku ke antah berantah. Sebaliknya ikatan tersebut membawa aku kepada impianku."
"Jangan membuat papa marah. Itu saja yang perlu kamu ingat. Sisanya, percaya lah. Semua yang papa lakukan untuk kebaikan kamu."
Aku memang bilang iya. Sedikit yakin bahwa papa memiliki alasan dibalik sikap pemaksanya, tapi aku belum sepenuhnya menerima dengan lapang d**a. Ada suara di dalam hatiku yang masih meminta kebebasan.
"Seria?"
"I-iya?"
"Kamu memikirkan apa?"
"Bukan apa-apa. Hanya beberapa hal tidak penting."
"Ini sudah semakin larut. Anginnya juga semakin dingin. Ayo pulang."
Aku mencebik bibir. "Padahal baru sebentar."
"Sudah malam, Seria."
Ia menebarkan jaket denimnya ke bahuku, menepis dingin yang menyerbu punggung. "Terimakasih," kataku sembari mengeratkan jaket untuk membungkus d**a.
Perlakuannya lembutnya, cara dia bicara dan caranya memandang. Aku menyukai ketiganya. Dia sempurna.
Setiap bersamanya aku selalu merasa begitu dicintai. Ini yang aku inginkan. Seandainya aku bertemu Ian sebelum pertunangan. Ah tetap saja tidak berhasil. Sam telah papa tentunkan menjadi pasanganku sejak lama.
Apa sebenarnya yang membuat papa memilih Sam? Dia brandal, pembuat masalah dan punya emosi tinggi. Meski dia jarang menunjukkan padaku, tapi begitulah emosinya bertindak kepada orang lain. Ada kemungkinan suatu saat dia akan memperlakukan aku sama. Maka dari itulah aku masih enggan menerima dia penuh. Sekarang malah seratus persen yakin tidak akan pernah meneirma dia. Terlebih Ian sudah ada di hatiku.