"Aku turun."
Kudorong pelan pintu mobil setelahnya.
"Seria."
Kakiku sudah hampir turun loh, Sam!
"Apa?" tanyaku tanpa menaikkan kaki lagi.
Bibirnya tidak bergerak, malah tangannya mengukung leherku. Apa-apaan dia ini? Mau menciumku ya eh..
Rantai dingin terasa menyentuh kulitku, tapi aku tidak mau mencari masalah dengan merunduk. Itu akan membuat bibirku bersentuhan dengan wajahnya.
"Jangan dilepas. Ini lucky charm," bisiknya tepat di telingaku. Sammy! Nafas hangatmu itu loh. Apa tidak bisa jauh sedikit hah?"
"Selamat malam." Tangannya mendorong lebih lebar pintu, tanpa berpikir aku segera keluar.
Tidak perlu membalas, aku langsung meninggalkannya.
Nafas hangatnya. Damn! Kuelus belakang leherku yang meremang. Aku tidak bisa mengindentifikasi perasaan apa ini, namun mungkin perasaan naluriah akan pesona maskulinnya.
Wajah itu sangat dekat. Kulitnya terasa menyentuh kulitku. Sensasinya panas, gerah tapi ah entahlah.
Ngomong-ngomong kalung apa ini. Kupegang liontinnya sembari merendahkan pandangan.
Liontin hati. Kristalnya yang berkilau berwarna ungu. Aku menyukai warna ini, tapi mengingat Adelin juga menyukai warna yang sama, aku jadi berpikir bahwa ini harusnya bukan untukku.
Mungkin malah sisa pemberiannya untuk Adelin. Jadi aku melepasnya, mengabaikan bahwa ini adalah lucky charm.
Lagian siapa yang mempercayai itu? Aku buka anak-anak lagi.
"Dari papa?"
Tanpa sadar aku telah sampai di ruang keluarga. Aera duduk di sofa panjang dengan dagu terangkat tinggi. Bibirnya tersenyum sinis." Aku dengar hari ini Sam memberikan Adelin lamborghini urus."
Tawa mengejeknya mengudara, menyelusup tajam ke telingaku. "Aku pikir dia sangat mencintai kamu. Ternyata benar. Hanya papa aneh itu yang menganggap kamu berati. Oh jangan marah. Aku mengatakan yang sebenarnya. Jadi.."
Matanya turun pada kalung di tanganku. Cemoohan ada di sana. Benar-benar memuakkan. "Itu dari papa lagi?"
"Bukan urusanmu." Aku melanjutkan langkah menuju lift. Sudah malas benar menaiki anak tangga. Tubuh ini sangat lelah.
"Dan jangan mengatakan dia aneh. Dia adalah pria yang menunjang kehedonisan kamu."
Berani benar mengatakan papa demikian seakan dia tidak butuh lagi tunjangannya. Dasar munafik! Bilang saja iri. Sudah begitu kenapa dia malah membuat aku menjadi pihak menyedihkan alih-alih membenahi diri. Gila!
***
Berita Sam yang menghadiahi Lamborgini urus pada Adelin menyebar di seluruh Neptuna. Nama dua orang tersebut menjadi trending topic. Hampir tiap orang membicarakannya. Memang istimewa. Itu lamborgini urus. Mahal dan mewah.
Tadi pagi aku melihatnya di parkiran. Adelin langsung memakainya. Entah pamer atau apa, aku sedikit malas memikirkannya.
"Perempuan begitu apa menariknya," gerutu Devi.
"Benar," sambut Aliya. "Cantik saja rupanya tapi sifatnya seperti ular berbisa. Ah, aku tidak habis pikir dengan kelakuan Sam."
Mila menepuk bahuku. "Kamu tidak ikut menggerutu eh?"
"Why should I do that?" Aku menarik keluar kalung dari saku rokku. "Tebak dari mana aku mendapatkan ini?"
Dua perempuan tersebut berbinar cepat. "Sam?"
Aku mengangguk. Lega terlihat menguasai wajah mereka. Seakan itu perasaan menang dari Adelin. Ada apa dengan kalian berdua, kawan?
Devi menggebrak meja. "Sudah aku duga. Tidak mungkin dia benar-benar menyukai ular itu."
"Ser, kenapa tidak kamu pakai?" Mata Mila sepertinya dari tadi mengawasi tanganku yang memasukkan kembali kalung ke saku rok.
"Kenapa harus aku pakai? Aku tidak menyukai kalung ini."
"Iya iya, aku tahu. Kamu hanya menyukai Ian. So, bagimana kencan kalian semalam?"
Senyum usil di bibir Devi adalah masalah. Aku terpaksa menjadi narsumber akan rasa kepo mereka. Damn!
"Seria." Zion mendaratkan satu kotak makanan di meja. "Om Sam menitipkan ini. Pesanannya, makan lah sebelum upacara."
Ah iya. Aku tadi pagi melewatkan sarapan. Malas benar melihat wajah Aera. Apalagi ada Arkan pula. Meskipun aku tersenyum padanya aku tidak menyukai kedatangannya pagi itu. Membuatku menjadi nyamuk saja.
Isi kotak bekal adalah baguette daging. Kuambil satu buah dan menggesernya pada Devi dan Alya. Keduanya sama-sama menggeleng.
"Aku tidak mau makanannya. Nanti ada sianida pula," kata Devi.
"Atau mungkin racun serangga," sambung Aliya.
"Bacot bener dah." Mila mengambil satu potong dan menemaniku mengunyah.
"Zion!"
Cowok yang tengah memilih-milih rambutku itu pun terlonjak. Lagian kenapa dia memainkan rambutku? Iya kalau tanganya bersih. Dia kan suka berbengkel bahkan di pagi buta. Takut benar ada bekas minyak oli, bensin dan segala macamnya.
"Seria! Jantung aing dag dig dug nih jadinya. Cepat tanggungjawab!"
"Jangan gila. Nih." Kusumpel satu potong baguette ke dalam mulutnya. Ia tersedak, mengeluarkan kembali potongan baguette dan mencebik bibir.
"Maneh kejam banget. Aing kan masih pengen hidup dua ribu tahun lagi."
"Berisik, Zi. Balik sana ke kandang," usir Devi.
"Cih dikira aing spesies binatang apa." Dia mencuri satu baguette lagi dan meninggalkan kami.
Suara bel yang tak lama mengudara menggerakkan kami keluar kelas, berjalan menuju lapangan upacara.
"Depan, Ser."
Mila seenak jidat mendorong aku ke depan. Cih, mentang-mentang aku tinggi mereka menjadikan aku tameng.
"Jangan dong." Zion menarik tanganku, mendorong ke belakang Mila. "Nyai aing harus dilindungi dari sinar matahari."
"Elah nyai lo kan bukan vampir."
Devi mendorong aku ke depan lagi. Sialan! Untung lagi tidak mood marah.
"Tapi bidadari yang hampir punah."
Zion menarik lagi agar aku ke belakang. "Ayo adek-adek, mari kita lindungi Seria dari kepunuhan."
"Berisik bener sih!" omel Aliya. "Sini biar aku saja di depan."
Kami bertepuk tangan, mengapresiasi niat baiknya yang luar biasa.
"Lebay!" Dia mendengus sembari memutar matanya. Ah, dia memang punya wajah sinis yang tidak main-main.
Petugas upacara hari ini adalah kelas 12 Bahasa—kelas Sam. Jangan harap cowok tinggi maskulin itu akan terlihat batang hidungnya karena itu adalah kemustahilan. Hari senin seperti ini dia pasti akan duduk di kantin belakang hingga upacara selesai.
Saat amanat pembina upacara akan berlangsung sekumpulan murid digiring ke tengah lapangan. "Ser, noh bapaknya iblis," bisik Zion di sebelah.
Tanpa berjinjit aku melihat tubuh tinggi tersebut di dalam kumpulan. Ah sepertinya mereka tertangkap.
"Ini adalah murid-murid yang tidak perlu dicontoh," kata pembina upacara. "Murid-murid tidak bermoral yang harusnya tidak berada di Neptuna."
Mereka diminta berbaris di bawah bendera. Sam tanpa malu berdiri di barisan depan, begitu mata coklat gelapnya melurus kami bertemu pandang.
Apalagi yang aku harapkan? Pasti tatapan datar saja kan?
"Sam Dagantara!" Guru BK membentaknya. "Sudah berapa kali kamu melanggar aturan? Apa kamu tidak jera? Poin kamu hampir tiga puluh hanya dalam tiga bulan ini."
Matanya tidak peduli sedikitpun. Aduh, Sam. Kamu malah menambah bensin ke dalam api.
"SAM! Saya berbicara dengan kamu."
Matanya baru lah berpindah kepada guru BK. Isinya adalah kemalasan yang full.
Guru BK berbalik, menceramahi kami dan berkoar-koar akan keburukan Sam yang tidak boleh ditiru. Si objek malah santai saja. Tidak ada eskpresi malu atau sedih barang secuil pun.
Setelah guru BK lelah berkoar, dia meminta kumpulan murid tersebut berdiri di bawah bendera dengan posisi hormat hingga pukul dua belas siang. Sepertinya aku juga pernah melihat Sam begitu sebelum ini. Ya sudah sih, tidak perlu dikasihani lagi.
"Nekat banget," celetuk Devi dalam perjalanan kami kembali ke kelas. "Nasehatin gih, Ser."
"Lah kok aku?"
"Kamu kan tuannya," sambung Zion. "Sok atuh diperintah suruh kembali ke jalan yang benar."
"Malas ah." Belum tentu juga di dengar. Kan sayang malah buang-buang tenaga. Mana takut pula dia tersinggung dan berujung berubah jadi serigala. No-no! Aku tidak mau menerima tumpahan emosinya.
***
Pukul dua belas siang tepat. Bel berbunyi nyaring dan kami berhamburan keluar kelas. Aku sudah lapar dan ingin rasanya segera makan.
"Mampir ke lapangan yuk," ajak Devi.
"Hayo kamu khawatir dengan Sam ya?" tuduhku.
"Apaan sih! Aku mau bertemu Geri, tapi sebelum itu kita ke kantin dulu. Soalnya dia nitip air."
"Baik benar," kata Aliya. "Kamu suka ya dengan dia?"
"Woi gila ya kalian semua! Baik sedikit dibilang suka. Teori macam apa itu?"
Gerutuan Devi berhenti saat Kevin dan Zion lewat. "Eits.." Ditariknya kerah Kevin. "Kamu mau ke kantin kan?"
Belum Kevin sempat menjawab Devi telah mengeluarkan uang dan menyelipkannya ke saku. "Satu botol cola dingin."
"Sekalian deh." Mila ikutan. "Lunch box A dan green smoothies."
"Aku juga." Kuberikan selembar uang pada Kevin. "Lunch box D dan lemon squezee."
Kevin berkacak pinggang. "Jadi, kalian pikir aku ini apaan hah?"
"Pembantu," jawab Devi tanpa segan. Didorongnya segera tubuh Kevin. "Sana cepat!"
"Pajak dua puluh persen ya," ujar Kevin. "Ayo, Zi."
"Adios, Seria. Mmawah."
Dasar i***t! Sempat-sempatnya dia mengirimkan kiss bye.
"Seria.."
Arkan menyapa hangat saat tubuhnya baru keluar dari kelas 11 IPS 1. Ramah benar. Kalau Aera tahu bisa habis aku dimaki olehnya.
"Hai." Kuberikan seulas senyum ramah. Ya biar bagaimanapun aku dan dia kan tidak punya konflik. Saling ramah menjadi keharusan.
"Tidak ke kantin?"
Ia berhenti dua langkah di depanku. Aroma parfumnya yang manis langsung tercium. Dibandingkan Sam, Dagantara satu ini memang berbeda jauh. Dia peduli penampilan. Dari fisik hingga aromanya.
"Sudah menitip sama Zion tadi."
Dia manggut-manggut kecil. "Kalau begitu aku duluan ya."
"Silahkan."
Bibir merahnya menekuk senyum. Tetap saja kalah manis dengan Ian. Nah kan jadi teringat dia.
Aku membuka ponsel, melihat apa ada pesan dari Ian.
Yas, ada.
Dia mengirimkan foto lunch box-nya. Ada nasi, chicken katsu, daging panggang,sosis, salad sayur dan potongan buah. Warna-warninya berpadu indah. Ah jadi semakin lapar.
"Sudah makan?" tanyanya kemudian.
"Belum." Kuberikan emoticon sedih sebagai tambahan.
Ia langsung merespon. Ouch, berati dia makan sambil bermain ponsel. Seharusnya aku tidak menganggunya kan?
"Makanlah. Ini sudah waktunya makan siang."
Aku mengiyakan perintahnya dan mengatakan selamat makan. Tangan dan hati ini masih ingin mengetik, tapi kepalaku tidak mau egois. Peraturan Andromeda ketat. Jika dia terlambat menyelesaikan makan siang maka tidak akan ada waktu tambahan.
Kasihan jika Ian sampai begitu karena meladeni pesanku. Nanti dia bisa sakit dan aku tidak bisa melihat senyum manisnya.
Argh, jadi ingin melihat wajah Ian.
***