"Gila kamu, Ser."
Pagi-pagi aku telah mendapat semburan dari Mila. Semalam meski dia telah tahu, tapi dia dikalahkan oleh kantuk. Kini saat kesadarannya penuh, dia jadi bersemangat memarahi.
"Aku hanya bercanda loh. Sam saja yang berlebihan."
Benar kan? Dia memiliki pilihan untuk mengabaikan. Toh tahu jelas aku tidak menyukainya. Kenapa dia peduli pada orang yang tidak menyukainya kembali? Yes, Iknow, dia mencintaiku. Tapi masa sampai rela berbuat ini itu meski tahu tidak terbalas.
Ah dia memang bodoh.
"Ya ampun, masih saja menyalahkan. Berterimakasih dong!Dia benar-benar peduli pada kamu."
Suara tinggi Mila menganggu benar. Mana langsung ditanggapi lagi oleh hatiku untuk merasa bersalah. Aih!
"Aku tidak berharap untuk itu."
"Yee!"
Dia menjitak kepalaku kuat. "Dasar manusia tidak tahu diri!"
Siku Devi menyenggol pelan. "Ser, suruh lagi dong."
"Ogah, nanti dia jadi berpikir aku perempuan merepotkan pula."
"Eh kenapa kamu peduli pandangan dia?"
Bukan hanya kalimat dan nada suara. Kini wajah Devi juga menyebalkan.
"Hey! We are human. Hal biasa bagi kita peduli akan pendapat orang lain. Kamu sendiri pasti peduli akan pendapat Kevin akan wajah kamu," semburku menggebu. Enak saja aku dibilang peduli pandangan Sam.
Siapa dia? Hanya tunangan yang tidak seharusnya. Mau pandangannya buruk sekalipun aku tidak akan peduli. Untungnya dia manusia, jadi mau bagimana pun aku secara naluri tetap peduli akan pandangannya. Apalagi menyangkut ke arah yang buruk.
"Tidak tuh."
"Yakin? Dibilang medusa saja kamu langsung berubah. Kenapa? Karena kamu tidak mau dia berpikir demikian kan?"
"Y-a ya itu beda." Dia juga menyembur marah. Nah kan! Suka menyudutkan, tapi saat dibalas malah marah-marah tidak terima.
"Beda gimana?" pancingku kian ingin melihat dia menerima yang sama. Siapa suruh memulai.
"Pokoknya beda." Dia beranjak. "Aku mau membersihkan wajah."
"Elah kenapa jadi perang?"
Kugedikan bahu akan pertanyaan Mila. Sebenarnya bukan perang. Hanya emosi kami yang sama-sama tidak dapat tertahan. Setelah reda nanti pasti akan kembali seperti semula.
"Nyai, Sam di tenda Adelin."
Laporan tersebut Zion sampaikan bersama sekaleng minuman.
"Ngapain dia di sini?"
"Pasti khawatir tuh sama kamu," ledek Mila.
Eh baru ingat.
"Jangan asal! Dia memang bilang mau berkunjung di hari ketiga karena cuacanya buruk."
"Untuk apa? Melindungi kamu kan?"
Payah ih kalau ngomong sama Mila.
"Nah itu orangnya."
Mataku mengikuti arah pandang Mila. Sam melangkah ke arahku bersama ketenangan. Rambut hitamnya yang berantakan tertiup angin, beberapa jatuh ke menimpah dahinya yang dipenuhi oleh jerawat.
Lalu sebagai atasan ia mengenakan kaus putih yang dibalut lagi oleh jaket denim hitam. Warna jaket tersebut senada dengan celana dan sepatunya. Penampilan biasa. Tidak ada yang istimewa kecuali binar dari manik gelapnya.
"Senyum dikit dong."
Aih Si Mila masih saja menggoda. Awas saja kalau nanti masih begitu. Akan aku sembur dia habis-habisan seperti Devi.
Sepatunya berhenti sekitar 4-5 cm dariku. Kantong hitam kemudian terulur ke depan wajah. Apa maksudnya? Untukku?
"Apa?"
"Untuk makan siang," begitu katanya tanpa memutus pandangan.
Tunangan yang baik. Dia mengerti cara merawat kekasihnya termasuk urusan perut.
"Ambil."
Kali ini dia mendorongnya lebih dekat. Kuterima dengan senang hati dan segera membuka untuk melihat isinya. 6 kotak makanan.
"Banyak sekali."
"Bagi-bagi."
Dia bilang apa? Bagi-bagi? Kepada Mila, Devi dan yang lain? Dermawan benar. Rasanya bukan sikap Sam yang biasa. Tapi bagus juga.
"Terimakasih," kataku sebelum mulai membagikan kotak makanan. Aliya dan Zion tampak tidak peduli. Tepatnya tidak senang akan pemberian Sam.
Eum, kenapa ya?
Pikiranku yang hampir berlanjut terhenti karena Sam mengibaskan tangan pada Mila. Perempuan itu tidak membantah, segera memberikan Sam kesempatan duduk di sampingku.
Lalu entah karena apa, Aliya, Zion, Kevin dan Mila beranjak pergi. Apa mereka pikir aku dan Sam akan membicarakan hal penting? Aih yang paling benar mungkin mereka berpikir aneh-aneh. Meski belum tahu benar apa itu, tapi kepalaku langsung tidak nyaman.
"Kata kamu cuacanya buruk." Ini yang paling ingin aku keluhkan. Sebab dari perkataan Sam kemarin, aku jadi merasa waspada sejak pagi. Bahkan meminta papa mengirim supir lebih awal untuk berjaga-jaga.
"Begitu kata ramalan cuaca." Pandangannya naik ke langit biru cerah. "Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain. Mungkinkah ingin melihat kita menikmati alam bersama?"
Darimana pikirannya itu datang? Aneh benar.
"Lain kali lebih baik kamu tidak pergi pada kegiatan seperti ini, jika berakhir kelaparan seperti semalam."
Nah akhirnya hal ini naik juga ke udara. Iya juga sih. Tidak mungkin Sam melupakannya. Biar bagaimanapun candaan aku berhasil mengusik hatinya. Ketika pagi datang pasti dia telah bersiap untuk membuat perhitungan.
"Aku hanya bercanda tahu. Kamu saja yang serius menanggapi."
Mataku ikut naik ke langit cerah. Pilihan bagus daripada menemukan sesuatu yang mengerikan dari manik Sam. Dia bisa saja menusuk runcingan es sebagai implementasi kekesalanya akan fakta yang baru naik ke udara ini.
"Kamu tidak kelaparan?"
Serius? Tidak ada nada menanjak atau semburan api? Apa dia bercanda? Aku telah menipunya loh.
Ragu-ragu aku menurunkan pandangan padanya. "Tidak."
"Syukurlah." Dia ikut menurunkan pandangan. Menghela lega seraya menutup mata. Hanya sesaat, detik berikutnya maniknya kembali berkilau. "Aku hampir bingung bagaimana caranya mengirimkan makanan. Tidak enak kabur dari perkemahan karena semua RedMan bergabung. Terlebih aku juga salah satu pelopor kegiatan tersebut."
"Sam, kamu ini pura-pura bodoh atau memang tidak mengerti sih?" semburku seraya menahan kepalan. Berharap itu dapat menekan emosi berlebihan lainnya ke dalam agar tidak menjadi bumerang.
"Maksudmu?"
Dia benar-benar menoleh bersama tampang polos. Tidak-tidak, itu lebih tepat dikatakan sebagai tampang bodoh.
Dia pasti tahu. Hanya saja memilih tidak tahu, karena berpikir jawabanku mungkin berubah. Itu tidak akan terjadi. Semuanya masih sama.
"Aku tidak menyukai kamu, Sam. Mengertilah itu. Aku tidak akan pernah membalas perasaan dan semua perjuangan yang kamu kerahkan. Hal seperti semalam sangat sia-sia. Kamu malah semakin terluka."
"Oh.." Suara menyebalkannya naik bersama senyum kecil. Sungguh sangat menyebalkan." Kamu peduli padaku."
Astaga, ini jauh lebih menyebalkan. Kenapa jadi begitu yang ada di kepalanya?
"Bukan begitu!"
"Jadi?"
"Kita sama-sama manusia. Di hati kita ada yang namanya nurani kemanusiaan. Aku jelas memilikinya. Berkat itulah aku enggan melihat kamu melakukan hal yang bodoh."
"Memangnya tidak mengapa jika semalam aku tidak bertindak?"
Eh
"Y-a tidak apa-apa. Seperti perkataan kamu. Ada Zion, juga sahabatku dan yang lain. Tidak akan masalah jika kamu tidak bertindak. Malah tindakan yang kamu ambil membuat aku merasa bersalah."
Kutarik pandangan darinya. Lalu kekesalan yang menguasai memaksa aku menekuk bibir pada pemandangan di depan.
"Jangan begitu. Aku melakukannya karena sangat khawatir. Murni juga karena dorongan hatiku. Kamu tidak perlu bersalah sama sekali."
"Sam! Berhentilah terlalu baik."
Aku sampai terdengar memelas demi dia. Ya ampun, apa-apaan coba. Semakin hari interaksi kami semakin penuh komplikasi.
Dan dia malah terlihat sengaja. Sangat-sangat sengaja. Ingin aku semakin bersalah agar rasa iba muncul untuk mempelopori penerimaan.
Telapak dinginnya menarik tanganku. Jantungku terperanjat dari tempatnya. Tidak berhenti bahkan sampai dia membawa tanganku menyentuh d**a kirinya.
Mata kami saling menjalin tali. Sangat mudah karena aku benar-benar tertarik oleh pusaran hitam di dalam matanya.
"Mintalah dia berhenti."
Lidahku tidak bergerak. Bungkam karena detakan dadanya terasa nyata. Cepat dan menggebu. Menunjukkan jelas namaku ada di hatinya.
Sosok Ian spontan muncul di benakku. Senyum manis dan tatapan lembutnya.
Benar. Aku memiliki Ian. Tidak peduli bahkan jika jantung di dalam sana telah berisi namaku. Aku tidak dapat menerimanya.
Kutarik cepat tangan dan memutuskan menatap kembali hamparan hutan yang tersaji.
"Aku akan mentraktir kamu sebagai ganti. Setelahnya kita impas."
Terdengar tawa kecil pecah. Ada sedikit penasaran akan wujudnya, tapi aku menahan diri. Ini akan membuat aku semakin terjebak ke dalam lingkaran Sam. Jelas sebuah hal yang tidak boleh terjadi.
"Tidak, aku mau masakan kamu."
"Jangan berpura-pura tidak tahu. Aku payah dalam memasak."
"Belajarlah." Tangannya naik ke puncak kepala."Saat kau menjadi istriku. Aku hanya ingin makan dari masakan kamu."
"Apaan sih!" Kusingkiran tangannya sekalian menepis gejolak di hati. "Istri segala. Itu belum tentu terjadi."
"Oh sepertinya kamu lupa akan perjanjian kita."
"Aku ingat!" sambutku cepat bersama kesadaran bahwa dia dapat memutus tali antara aku dan Ian.
"Sudah jangan marah-marah. Apa kegiatan setelah makan siang?"
"Bebas, semuanya boleh bersantai."
Sam menarik diri untuk berdiri. Tubuhnya segera menjulang, menghalangi cahaya matahari terpapar ke wajahku.
"Aku mau membangun tenda."
"Kamu tidak dimarahi Pak Lintang?"
"Kenapa harus begitu? Aku ikut membayar iuran dan tidak menimbulkan masalah."
"Benar juga. " Kukibaskan tangan di udara. "Ya sudah, sana."
"Panggil aku jika membutuhkan sesuatu."
Kepalaku mengangguk, meski dalam hati segera berniat menguatkan benteng agar Sam tidak perlu turun tangan. Bukannya apa-apa. Semakin banyak yang ia beri, semakin aku tersiksa.
***
Makan siang berjalan lancar. Tentu saja. Makanan yang Sam beri sangat lezat, meski lumayan berlemak untuk tubuh. Nasi putih dengan kuah kari kentang dan chicken katsu. Ditambah kemudian dengan sambal bola-bola daging, nugget dan salad segar. Ketika berpadu rasanya sangat memanjakan lidah. Pilihan Sam memang selalu begitu kan?
Heran benar, karena jika aku yang memilih efeknya tidak seperti ini. Mungkinkah ini yang dimaksud bakat? Dia dapat melakukannya mudah, namun tidak dengan orang lain.
"Oi, mau kemana?"
Suara Kevin menyentak pikiranku.
"Tenda Sam," balasku kemudian.
Pemiliknya itu sendiri tengah rebahan di karpet bersama beberapa snack sembari menatap layar ponsel.
"Awas diterkam," celetuknya.
Dikira Sam serigala apa?
Karena dia dan teman-temannya adalah tamu tidak diundang, maka tendanya dibangun di belakang milik 11 bahasa. Posisi paling jauh dan tentunya dekat dengan hutan lebat. Jika malam datang mereka yang paling mudah diterkam hewan buas. Untungnya di hutan ini tidak ada hewan begituan.
"Sebaiknya kamu mundur jika sungguh tidak menginginkan Sam."
Tubuhku tertarik ke belakang. Hal sama terjadi pada pikiranku, tertarik untuk masuk ke dalam kalimat yang dia ucapkan.
Hempasan tangannya kemudian berhasil mengembalikan aku dari kalimatnya.
"Kamu kenapa ikut campur sekali sih?" semburku seraya memijat bahu penuh kesal. Tarikannya bukan main-main. Sangat bertenaga dan membuat kuku tajamnya menggores kulit leher. Sialan. "Status kamu hanya sahabat Sam. Bertindak sebagaimana mestinya. Jangan membuat diri kamu menyedihkan begini di depanku."
"Karena aku sahabatnya makanya aku bertindak." Dia langsung membalas tanpa terlihat kilatan bersalah akan goresan kukunya di leherku. Benar-benar Medusa. "Bukan seperti kamu yang berkedok tunangan, tapi bertindak sebagai penjahat. Tidak sinkron dan sangat menjijikkan!"
Kebencian mengental di suaranya. Perpaduan nyata bersama tatapannya.
"Itu urusan kami. Bukan urusan kamu."
Aku benar, bukan? Kalaupun aku salah, tetap saja dia bukan siapa-siapa.
"Urusan Sam adalah urusanku."
"Oh ya? Jadi kamu mau aku menjauhi Sam? Memutus pertunangan, begitu?"
"Tepat sekali. Perempuan yang hanya ingin mengambil intisari seperti kamu adalah benalu. Tidak pantas berada di dekat Sam."
"Benarkah?" Senyum miring tertarik di bibirku. Perkataannya yang sarat kebencian sangatlah lucu. "Lalu bagaimana jika pohon itu sendiri yang menginginkan si benalu?"
"Kamu sepertinya semakin pongkah karena perlakuan Sam." Tawa pendek menyusul kemudian. Sialan, dia mengikuti caraku mengejek. "Astaga, Seria. Jangan salah paham begini. Aku jadi semakin ingin muntah."
"Oh silahkan."
Aku benar-benar tidak peduli akan pendapatnya. Itu ternyata menyulut Adelin untuk menusuk mataku.
"Dengar, dia hanya bertindak untuk keuntungannya sendiri. Sejak kecil semua orang tahu bahwa Sam tidak pernah diterima dalam keluarganya. Lalu perintah datang berembel-embel kesempatan masuk sebagai salah satu Dagantara. Menurutmu apa dia tidak mau maju? Dia juga seperti pria normal lainya, mendambakan kasih sayang dan kehangatan keluarga."
Senyum mengejek terukir di bibir merahnya. Terlihat sangat bahagia akan kalimat yang telah mengudara atau mungkin pada hatiku yang sedikit berdarah. "Seria-Seria, kamu hanyalah sebuah alat Sam masuk ke dalam Dagantara seutuhnya."
Tanganku terkepal cepat. Itu adalah keinginan hati yang menolak membenarkan kalimat Adelin. "Sam tidak sejahat itu!"
"Memang begitu yang sengaja dia tanamkan. Agar kamu mengakar di tangannya dan pijakannya menguat. Lalu dia akan mudah mengontrol kamu sebagaimana seharusnya sebuah alat." Tangannya naik ke bahuku. Menepuk-nepuk pelan bersama wajah mendukung dibuat-buat. Menjijikkan. Dia seperti bangkai. "Belajarlah untuk berhenti salah paham. Kesakitan akan mendatangi kamu."
Senyum menyudahi kalimatnya. Tentu, dia pasti puas apalagi tahu hatiku benar-benar berdarah.
Telah berapa kali aku katakan bahwa aku tidak menyukai Sam. Namun memikirkan bahwa dia hanya menganggap aku sebuah alat membuat hatiku terasa begitu ngilu. Aku memang tidak cukup berharga bagi semua orang, termasuk Sam. Tapi bukan berarti harus dianggap sebatas alat. Aku mampu lebih berharga dari itu untuk orang lain.
"Seria, apa kamu baik-baik saja?"
Suara Nayala yang lembut menarik aku kembali pada kenyataan. Adelin sudah tidak ada di depan wajah. Ketika aku menoleh pun tetap tidak ada.
Kemana dia?
"Apa yang Adelin katakan?"
Mataku melurus pada Nayala. Ada kekhawatiran di matanya. Jelas begitu, dia sendiri telah mengerti seperti apa seorang Adelin.
Ratunya mengintimidasi dan iblis yang senang akan penderitaan orang lain. Baginya tidak ada yang lebih berharga dari isi kepala dan hatinya. Em mungkin juga Sam. Hanya itu. Sisanya adalah sampah tidak berharga yang dapat ia pijak seenaknya. Lalu aku termasuk ke dalam salah satu sampah tersebut.
Hah, sialan sekali.
"Seria?"
Aku mengualas senyum tipis saat mengingat kembali pertanyaan yang diutarakan oleh Nayala.
"Bukan apa-apa, hanya sampah."
Perkataan Adelin adalah tentang apa yang pikirannya katakan, bukan pikiran apalagi isi hati Sam.
Sungguh sampah.