Empat Puluh Tiga

2924 Words
"Kamu sudah pulang?" Suara lembutnya menyentuh telinga. Begitu nyaman di dengar apalagi untuk dirasakan oleh hati. Terlebih untuk aku yang kerap mendambakan kelembutan semacam itu. "Dalam perjalanan." Mataku menatap ke luar jendela, mengukir senyum kecil akan bayangan Ian yang menari-nari di benak. "Maaf, aku tidak bisa menjemput kamu." Ada helaan tak berdaya dalam suaranya. Barangkali yang dia gadaikan dariku adalah hal tidak kalah penting. "Aku mengerti. Kamu masih di sekolah kan?" "Iya, ini lagi persiapan untuk praktek." Tuh kan. Beneran ada hal tidak kalah penting dari aku. Apalagi kalau bukan urusan sekolah. Dasar Ian! "Semangat," ujarku menguatkan. "Kamu pasti bisa." Ada pecahan tawa kecil yang kemudian terdengar. Sangat singkat sekali dan berlanjut oleh kekhwatiran. "Apa kamu sungguh baik-baik saja?" "Tentu, aku baik-baik saja." "Tidak demam?" Aih dia benar-benar khawatir. Padahal aku telah mengatakannya dengan suara tegas loh. "Tidak, aku sehat." "Syukurlah." Suara keributan muncul setelah kelegaannya tersebut. Beberapa memanggil-manggil Ian untuk maju. Oh mungkin prakteknya akan dimulai. "Telepon aku saat kamu telah sampai ya." "Iya." "Ah Seria.." "Apa?" "Jangan lupa makan siang. Minum vitamin juga. Tubuh kamu pasti kelelahan atas kegiatan tiga hari tersebut." "Aku akan melakukannya. Kamu juga jangan lupa makan siang." "Tentu, kalau begitu aku matikan. Hati-hati." Sambungan terputus sebelum aku sempat membalas. Hal yang sedikit tertangkap adalah panggilan namanya berulang kali. Dia sepertinya sungguh dikejar kegiatan praktek. "Kita mampir ke rumah pamanku dulu. Waktu pertunangan kemarin dia tidak dapat hadir." Kumiringkan kepala pada Sam setelah menyelipkan ponsel ke dalam tas. "Benarkah? Aku kira semuanya hadir." "Tidak." Matanya terfokus pada jalanan yang terbentang. Lalu lalang tidak ramai seperti di kota kami. Wajar ini adalah desa. Tapi tampaknya kepribadian Sam tetap membawa dia fokus seolah semua di depannya penuh ancaman. "Ngomong-ngomong.." Kalimat yang hampir sampai di tenggorokanku mendadak berhenti. Pantaskah itu dipertanyakan? Sebelum ini aku telah menyakini ucapan Adelin adalah sampah, tapi entah kenapa masih ada rasa ragu yang memaksa untuk mencari kepastian. Bisa saja aku melakukannya sekarang. Sayang kemudian terpikir olehku bahwa hal tersebut akan menjadi sebab keretakan Sam dan Adelin. Kegiatan jahat begitu pastinya tidak pantas dilakukan. Belum lagi rasa bersalah dan karma yang kemudian menyusul. "Apa?" Dia bahkan sampai menolehkan pandangan. Lidahku bergerak-gerak ragu. Iya atau tidak? Tidak atau iya? "Tidak, bukan apa-apa." Pada akhirnya itu keputusanku. Kembali lagi pada kepercayaan awal. Kalimat Adelin adalah sampah. Sam tidak mungkin menganggap aku hanya sebuah alat. Bahkan bukan sekali atau dua kali dia mengatakan perasaannya. Namun telah berulangkali. Sikap-sikap yang ditunjukkannya pun terkesan lebih berarti dari sekedar niat untuk memperalat. Itu malah terlihat dalam dan lebih bermakna. "Memang begitu yang sengaja dia tanamkan. Agar kamu mengakar di tangannya dan pijakannya menguat. Lalu dia akan mudah mengontrol kamu sebagaimana seharusnya sebuah alat." Ini masuk akal juga. Untuk memanfaatkan dia juga harus mengerahkan perasannya secara penuh. Hal tersebut harus sinkron dengan sikapnya. Jadi? Mungkinkah ketika dia memelukku saat hujan lebat itu hanyalah sebuah drama. Bisa jadi kan? Dia tahu jelas aku tidak menyukainya, bahkan aku juga telah mengatakannya terus terang. Dia bisa harusnya sedikit sakit hati. Mungkin juga benci padaku. Namun alih-alih begitu dia malah tetap bertahan. Kenapa? Karena dia punya alasan kuat. Dan rasanya memperalat aku terdengar cukup masuk akal. "Seria, katakan saja. Aku tidak akan marah." "Bukan begitu," cecarku cepat sebelum dia berpikir semakin aneh. "Aku hanya baru tersadar bahwa hal itu tidak penting." Pandangannya ke arahku lagi setelah tadi sempat berpaling pada jalanan. "Aku tidak masalah mendengar hal seperti itu." Senyum yang begitu lembut seakan menjanjikan aku keamanan sekalipun mengucapakan kesalahan. Pupil matanya di saat yang sama tampak siap menerima. Namun meskipun begitu aku masih terjebak ragu. Bagaimana jika yang aku katakan salah? Sam akan mengira aku tidak mempercayainya. Lalu dia terluka karena berpikir aku juga bukti dia tidak diterima oleh siapapun. "Jadi kita makan siang di sana?" Kualihkan topik sebagai pilihan terakhir. Menekan penasaran kental agar dia melupakan keraguan yang sebelumnya menghiasai wajahku. "Iya, aku akan memasaknya sendiri. Ikan bakar, ati ayam saus kecap pedas, capcay dan bakwan udang. Aku sudah lama tidak memakannya. Pasti sangat lezat." Matanya berbinar ketika mengatakannya. Menunjukkan secara tidak langsung bahwa makanan itu adalah bagian menyenangkan dari masa lalunya. "Apa ini paman.." "Paman Ryn," sambarnya antusias. " Dia adalah orang yang merawatku sejak bayi. Aku tumbuh seiring perkembangannya. Mulai dari tanpa apa-apa hingga kini masuk menjadi salah satu bilionaire dunia. Dia pria yang hebat. Ah iya, dia adalah seorang mafia." Sam benar-benar seperti yang dikatakan publik. Tidak pernah menjadi bagian keluarganya sejak awal. Dia tumbuh dan berkembang bersama pamannya. Agen sosialisasinya bukan kedua orangtuanya, tidak heran nilai-nilai yang dia miliki begitu berbeda. "Kenapa kamu tidak tinggal bersama orangtuamu?" Harusnya aku tidak perlu bertanya. Sudah jelas bahwa mereka tidak menginginkan Sam. Namun aku ingin dia menjelaskannya, mencari bukti apa hal tersebut sama dengan perspektifnya. "Kamu tidak dengar? Mereka tidak menginginkan aku." Tidak ada sedih yang tergurat di wajahnya atau tersirat di matanya. Berbanding terbalik benar akan apa yang sempat aku pikirkan. "Aku tidak seharusnya ada. Saat itu ibu dan ayahku belum resmi dalam ikatan pernikahan. Ketika aku lahir mereka memberikan aku pada pengasuh. Lalu kata paman aku kerap menangis dan menjadi alasan mereka bertengkar." Ia tersenyum remeh. Hal sama seperti yang ingin aku lakukan. Itu tidak dapat menjadi alasan dia dibuang dari lingkaran. Sebaliknya hanya akal-akalan bagi mereka berdua agar memiliki alasan di publik. Cih, orangtua macam apaaan mereka itu? "Sejak aku dapat melihat dunia hanya ada Paman Ryn dan anak buahnya. Jelas sebagai bayi aku sangat merepotkan, tapi semua bawahan paman mengatakan dia sedikitpun tidak pernah merasa kesal. Bahkan ketika aku kerap membuat masalah dari sekolah, dia tetap tidak pernah menyesal telah membesarkan aku. Lalu di sela-sela kesibukannya, entah bagaimana dia selalu berhasil menyisakan waktu untukku. Baik sekedar makan malam, mengajaku berbicara akan dunia, menamakan nilai-nilai atau mengajari bela diri. Dia memberikan aku waktunya. Totally, he gives me everything. Menunjukkan benar bahwa aku seorang anak yang berharga." Pamannya memilki arti yang sangat mendalam. Mendominasi hampir seluruh hati Sam. Lalu secara tidak langsung menampilkan seakan orangtuanya lah yang paling dangkal di hatinya. Sikap sama juga ditunjukkan oleh kedua orangtuanya akan keberadaan Sam. Rasa itu bisa jadi melahirkan keinginan Sam untuk dianggap. Karena biar bagaimanapun ikatan keluarga adalah yang paling erat. Wajar jika kata Adelin dia rela memperalat aku untuk menunjukkan kepatuhan sebagai putra berbakti. Dengan demikian dia sedikit masuk lebih dalam ke lingkaran yang ada. Mungkin orangtuanya tidak sedangkal yang Sam kira. "Apa kau membenci orangtuamu?" "Aku ingin, tapi rasanya mereka tidak seberarti itu sampai-sampai perlu mengambil bagian dari hatiku." Ini bukan lagi benci. Tapi sangat benci. Pikiranku yang baru mengudara terhapus semua. Sam tidak memperalat aku. Itu yang paling penting. Sebabnya jelas, Sam ternyata sangat membenci kedua orangtuanya. Tidak ada niatnya masuk ke dalam lingkaran. Bahkan menganggapnya saja tidak. Tunggu, bukankah ini juga berarti bahwa perasaannya untukku adalah murni? Asli dari hatinya, bukan keinginan memperalat. "Saat sekolah dasar aku baru mengetahui bahwa aku memiliki seorang adik. Dia sering muncul di televisi dan majalah. Diagung-agungkan sebagai penerus Dagantara. Sedih, marah dan keputusasaan bercampur satu. Aku selalu berusaha keras membohongi diri sejak SD bahwa keduanya memiliki alasan baik, tapi ternyata tidak. Aku memang tidak dinginkan. Bukankah jelas? Jangankan berkunjung, mereka bahkan tidak pernah mengirim pesan pada paman. Kami berdua adalah orang asing." "Sejak itu aku menjadi brutal. Paman tidak pernah marah. Dia benar-benar mengerti perasaanku. Semakin lama aku akhirnya sadar bahwa orangtua tidak selamanya diperlukan. Aku telah memiliki paman. Dia adalah kiriman Tuhan yang bukan hanya mengganti mereka, tapi jauh lebih berharga." "Lalu bagaimana sekarang? Apa kamu masih membenci mereka?" Waktu berubah. Aku kira hatinya mungkin juga demikian. Meski secuil, bisa jadi perasaannya kini menginginkan mereka. "Sudah aku katakan. Aku tidak peduli. Mau dianggap atau tidak, aku tidak peduli." "Lalu kenapa kamu menerima pertunangan kita? Bukankah kamu ingin menunjukkan kepatuhan sebagai putra? Kamu masih ingin dianggap. Benar kan?" "Pamanku, dia yang mendorong aku maju untuk mendapatkan nama. Aku tidak tahan melihat matanya meredup setiap kali aku disudutkan. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membantunya lebih bahagia. Jadi aku memaksa diri masuk ke lingkaran asing tersebut untuknya." "Mungkin setelah lama akhirnya kamu akan tinggal. Mereka juga akan berubah dan hati kamu pasti lambat laun menginginkannya." Itu bukan kemustahilan, tapi sebuah kemungkinan. "Sejak hari dimana aku memutuskan, tali kami telah terputus. Dunia mereka dan aku bukan hanya tidak berdekatan, tapi aku sendiri telah menghilangkan duniaku dari jangkauan mereka. Tidak akan pernah ada kesempatan terbuka lagi. Satu-satunya mimpiku sekarang yang berkembang dari itu adalah membangun keluarga denganmu. Kita akan memiliki dua putra dan satu putri yang tangguh. Tidak ada perbedaan, kita akan merawat dalam kasih sayang yang sama. Dengan begitu tidak lagi ada lagi anak semenyedihan aku." Ia menekan pedal rem. Disitulah aku baru sadar bahwa kami kini di depan sebuah supermarket. "Ayo turun. Kita perlu membeli beberapa bahan." *** "Selamat kembali, Tuan." Puluhan pria berjas dan maid membungkuk saat kami melangkah masuk. Sam berhenti di depan salah satunya yang tampak lebih tua darinya yang lain. "Dimana paman?" "Di ruang baca, Tuan. Silahkan." Tangan kanannya memberi izin. "Kami bisa sendiri." Aku hampir menabrak punggung Sam karena dia berhenti lagi? "Tolong bawa barang-barang di mobil saya ke dapur." "Baik, Tuan." Setelahnya barulah ia melanjutkan langkah. Aku menjaga langkah beberapa centimeter di belakang Sam. Berjaga-jaga jika dia berhenti lagi secara tiba-tiba. Ruangan besar dengan langit-langit tinggi menyambut. Interiornya bertema kerajaan klasik. Suasananya jadi berbeda sekali karena sebelum ini aku hanya familiar dengan rumah bergaya Eropa, Asia atau Amerika. Warna beige yang dipilih menambah kesan luas dan kenyamanan. Pilihan pamannya ini sungguh bagus. Saat kepalaku mendongak, aku dapat menyaksikan empat tingkat ruangan lagi di atas sana. Tinggi yang dipatok untuk tiap lantai tidak main-main, tentu saja itu menambah kesan mewah rumah ini. Perisis sekali untuk dikatakan sebagai istana. Terlebih detail dekorasinya sangat dalam. "Besar sekali." "Dulu rumah kami hanya petak kecil. Barang-barang menyumpal dimana-mana. Berantakan dan sumpek. Ketika bisnis paman berjalan lancar dia membangun istana ini." "Pamanmu seorang mafia. Apa bisnisnya.." "Iya, bisnisnya gelap." Dia menyambut sebelum aku selesai. Tapi bagus, karena jujur aku sedikit canggung untuk mempertanyakannya. "Senjata dan narkoba. Kadang aku berpikir itu salah, tapi ini lingkarannya." "Yang terpenting lagi kamu jangan sampai menjadi mafia juga." "Kenapa?" Semburat usil tertarik di bibirnya. "Apa kau takut aku menjadi kejam dan melukaimu?" "Bukan begitu, Sammy!" "Tenanglah, aku memang tertarik dunia mafia. Tapi lebih tertarik lagi pada kehidupan sederhana. Rumah yang tidak besar. Akan sering terjadi interaksi yang hangat. Saat aku pulang, suara anak-anak yang menonton langsung terdengar dan aroma masakan buatan kamu dari dapur juga menyambut. Menyenangkan sekali." Ya ampun, bagimana bisa dia membayangkan itu dengan senyuman penuh? Seolah dia sungguh melihat kenyataan dari kalimatnya yang mana padahal itu sungguh hanyalah pikiran saja. "Sam, berhentilah berandai-andai. Itu masih sangat lama." "Itu kebahagiaanku sekarang. Sebuah harapan yang menjadi lentera dari kegelapan. Kamu sendiri, nikmatilah permainan cinta itu. Jika lukanya parah kamu bisa datang kepadaku." Itu tidak akan terjadi. Aku dan Ian akan baik-baik saja. Tidak pernah terluka. Lalu sekalipun iya aku tidak akan datang padanya. Tidak akan! *** Kami berakhir di sebuah pintu besar berwarna coklat. Tanpa mengetuk Sam mendorong knopnya. Aroma rokok adalah yang paling pertama melesak ke hidung. Tak lama disusul oleh pemandangan ruangan luas dengan rak buku tinggi di sisi kiri dan kanan. Meja kerja yang tepat di depan kami kosong. Kuikuti pandangan Sam pada sofa hitam di tengah ruangan. Seorang pria paruh baya tampan duduk menyilangkan kaki di sana. Keangkuhan dan kejahatan bersinar di matanya. Sesuai sekali akan profesinya sebagai mafia. "Bagaimana kabar, Paman?" Sam mengambil duduk di sisi kanan. Aku mengikutinya tanpa melepas pandangan akan jalinan mata keduanya. Paman Ryn menarik rokoknya. "Seperti biasa," lanjutnya sembari menggesek ujung rokok yang menyala pada asbak. Tidak keantusiasan dalam geraknya. Membawa aku untuk berpikir bahwa mungkin hubungan Sam dan Paman Ryn tidak sebaik yang dia katakan. Mata Paman Rynn kemudian jatuh padaku. Tidak ada keramahan sama sekali, tapi berlandaskan cerita Sam membuat aku berpikir mungkin itu hanya cover-nya saja. "Ini tunanganmu?" "Benar, Paman." Sam menarik tanganku ke dalam genggamannya. Paman Ryn mengangguk kecil. Entah bermaksud setuju atau apa. Aku tidak dapat mengerti. "Aku sudah lama tidak memakan masakanmu." Sam sepertinya teringat akan niatnya. Dia melepaskan tanganku dan beranjak. "Aku akan memasaknya segera. Ayo, Seria." "Aku perlu berbincang beberapa hal dengannya." Mata Sam awalnya terlihat tidak setuju, namun berubah setuju saat bertemu manik pamannya. Mungkin dia berhasil mengerti maksud pamannya bukanlah ke arah yang jahat. "Kalau begitu aku akan turun." Diam-diam aku memijat jari di atas paha saat tubuh Sam menghilang. Tidak ada lagi perlindungan. Kini sepenuhnya aku bebas untuk diterjang bahaya. "Santai saja. Saya tidak mungkin melukai berlian keponakan sendiri." Kalimatnya sama sekali tidak sinkron dengan raut wajahnya. Aku jadi curiga apakah dia benar-benar akan bertindak sesuai kalimatnya atau justru sebaliknya. "Bagaimana dengan perkemahannya?" Harusnya ada sedikit nada perhatian yang terseret. Tapi ini tidak ada sama sekali. Penuh dengan kedinginan nyata. "Menyenangkan, Paman." Aku mengusahakan senyum di akhir sapaan. Berharap itu mampu meluluhkan kebekuan hatinya di dalam sana akan namaku. "5 tahun." Paman Ryn menyandarkan punggung pada sofa. Matanya melurus padaku, namun isi di dalam sana adalah hal lain yang jelas penting. Terbukti karena selanjutnya aku hanya ketiadaan di pandangannya tersebut. "Saat itu saya telah mengatakan kebenaran yang ada. Bola matanya yang dipenuhi cahaya meredup seketika. Dinding-dinding es naik melapisi. Lalu dia menjadi begitu dingin. Minatnya akan dunia tandas sepenuhnya." " Dia menjalani hari seperti mayat hidup. Sesekali tampak bernyawa oleh harapan, lalu di lain hari terlihat ingin mati. Saya bersyukur karena akhirnya dia memilih memutuskan jalinan. Sejak itu hingga kini dia tidak perlu takut terombang-ambing saat hatinya perlahan meleleh. " Aku menahan lidah yang ingin memaki keputusannya. Pantas Sam jadi seperti ini. Ternyata dia adalah akarnya. "Saya tidak pernah kasihan padanya. Setiap saya merasakan kebenaran, saya akan mengatakannya terus terang sekalipun dia terluka." Egois! Sialannya menurun pula kepada Sam. Dia juga egois. Sama bukan seperti agen sosialisasinya ini? "Tapi saya sedikit menyesal." Binar jahat di matanya berubah layu."Jika hal itu tidak terjadi, dia kini dapat hidup seperti remaja lainnya. Hanya tahu bersenang-senang tanpa peduli batasan." "Dia memang terlihat baik-baik saja. Tapi kamu dan saya pasti tahu bahwa ada runcingan es di dalam matanya. Dia masih menyimpan ketakuan. Jadi dia membentengi diri dengan mencoba membekukan apapun yang mengusiknya. Lalu di saat yang sama dia membuat ancaman agar tidak seorangpun dapat masuk dalam hatinya." Mungkin Paman Ryn tidak sepenuhnya egois. Sebab dari setiap kalimatnya, dia terlihat mengerti benar seperti apa Sam baik di luar maupun dalam. Mungkin yang benar adalah dia terpaksa menusuk Sam lebih awal agar tidak terkejut akan takdir hidupnya yang miris. "Dia bukan hanya menyedihkan dengan bongkahan masa lalunya, tapi juga wajahnya. Saya tidak yakin ada perempuan yang mampu memberikan dia kasih sayang berdasarkan dua hal tersebut. Mungkin juga termasuk kamu." Binar jahat kembali menguasai matanya saat melihatku. "Apa saya benar?" Apa yang dia berikan kemudian menciptakan ancaman. Dari situ ketakutan pekat melingkupi. Tapi aku tidak dapat lari. "Sudah saya katakan padanya agar tidak melukai diri dengan memasuki lingkaran mewah, tapi dia kukuh untuk bertahan. Entah apa alasannya. Padahal dulu saya kira dia dan Adelin sudah begitu cocok." Ketakutan pekat itu memudar perlahan. Berganti oleh keterkejutan akan dukungan Paman Ryn untuk Adelin. Tampaknya perempuan medusa itu benar-benar bermakna besar di lingkaran Sam. "Perempuan itu bukan hanya tangguh, tapi dia mampu menerima penuh kecacatan Sam dan melimpahkan perhatian tulus. Sam sendiri juga tampak bahagia. Tapi entah kenapa dia menerima kamu. Mungkinkah dia mau masuk kembali ke dalam keluarga sialan itu?" Tatapannya yang menuntut jawaban tidak mampu aku balas. Sebab aku juga tidak mengerti akan keputusan Sam tersebut. "Kamu hanya alat." Petir seolah menyambar hatiku. Meledakkan keterkejutan yang tak lama berlanjut oleh nyeri. "Kamu tidak mungkin menerima Sam dan dia juga tidak pernah menerima perempuan seperti kamu." Kalimat terakhir selalu menjadi harapanku, tapi kenapa terasa ngilu ketika Paman Ryn mengatakannya? Mungkin karena dia sama seperti Adelin. Mengirimkan aku ke tempat terjauh bernama ketidakpantasan. "Adelin adalah satu-satunya perempuan yang dia terima. Terlepas dari dia menyatakan cinta atau tidak, tapi semua orang tahu bahwa hanya Adelin yang paling dia terima. Matanya membuktikan itu dengan jelas." Baiklah, dia tidak perlu mengatakannya lagi. Aku juga telah mengerti itu dari interaksi-interaksi Sam dan Adelin yang terhampar di depan mata. "Saya permisi. Sam di dapur sendirian." Aku telah berdiri dan memutar tubuh, siap sepenuhnya untuk melangkah pergi. "Seria, kamu tidak menginginkan Sam. Pahami kalimat itu dan mundur menjauh. Saya tidak akan segan menembus otak kamu dengan peluru jika sesuatu terjadi pada Sam." Ketakutan kembali melingkupi, menggetarkan pertahan yang telah aku coba bangun. Getar-getaran halus tak terelakkan muncul begitu aku menyentuh knop pintu. Itu adalah titik dimana aku menyadari bahwa aku sungguh harus menjauhi Sam. *** "Sudah selesai?" Dia mengangkat kepala dari kegiatannya untuk melihat kedatanganku. Harusnya tidak perlu begitu. Dia semakin membuat aku merasa salah karena telah membuat hatinya terjerat. "Sudah." Aku berhenti di sisi kanannya. "Apa yang kamu masak?" "Aku sudah mengatakannya, bukan? Ikan bakar, ati ayam saus kecap pedas, capcay.." "Bakwan udang," selaku kembali teringat kalimatnya di perjalanan tadi. "Jadi apa yang sudah?" "Ikan bakar sudah masuk di dalam oven dan ini ati ayamnnya." Dia mengaduk isi teflon. Aroma lezat menyeruak ke hidung. Aih dia ini sungguh pandai membuat perutku berselera. "Kalau begitu aku akan memotong sayur untuk capcaynya." Tanpa menunggu arahan aku mengambil sayur-sayuran yang telah Sam letakkan di wastafel. "Istri yang baik." "Sam!" Bibirnya tersungging kecil. Cih, suka sekali menjahili. "Pamanku bermulut tajam, tapi dia bukan pria jahat." Bahkan tanpa aku ceritakan dia sudah mengerti sedikit akan apa yang pamannya katakan. Benar, itu adalah kalimat tajam. Mengoyak-ngoyah hati dan membuat kepala sakit. Pamannya benar-benar seorang pria jahat. Mungkin Sam juga tahu, tapi dia enggan menganggap demikian berkat apa yang telah pamannya berikan selama ini. Jelas, pria itu sangat berharga bagi Sam sebelum Adelin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD