"Bagaimana dengan sekolahmu?"
Makan siang akhirnya tiba. Aku dan Sam duduk berhadapan dengan paman Ryn. Sebisa mungkin aku mengindari kontak mata pada Paman Rynn untuk menjaga ketenangan pikiran. Lagipula ini waktu bagi keduanya untuk saling berbicara akan hal-hal yang terlewati.
"Seperti biasa."
"Maksudmu dengan nilai serba pas-pasan?"
"Tidak, sedikit lebih baik. Kira-kira melampaui 3 atau 5 angka dari KKM."
"Perubahan yang lumayan."
Sepertinya aku mengerti kenapa Sam diam-diam menjadi kutu buku. Dia berjuang untuk terlihat lebih hebat di hadapan pamannya.
Tidak salah, tapi itu membuat dia masuk ke lingkaran pamannya. Bukan lingkaran miliknya sendiri. Bukankah itu akan membuat dia terluka jika akhirnya menemukan sesuatu yang ingin dia kejar? Pasti akan bertabrakan dengan keinginan pamannya.
"Aku pikir akan melanjutkan studi dengan jurusan manajemen. Bagaimana menurut paman?"
Seperti ini. Dia bahkan bertanya untuk lingkarannya? Terlihat bukan seperti Sam sama sekali. Dan hanya berlaku karena Paman Ryn. Pria tersebut sangat berharga di dalam lingkarannya.
Kini aku berpikir bagaimana bisa tetap dalam lingkaran Sam sedangkan sesuatu yang berharganya saja menolak aku.
"Bisnis berkembang pesat di dunia. Itu pilihan yang tepat. Tapi bukankah sebelum ini kamu menyukai otomotif?"
"Aku memang menyukai otomotif. Hanya saja lebih tertantang masuk ke dunia bisnis."
Paman Ryn meluruskan pandangan pada Sam. Isinya adalah keseriusan yang hangat. Berbeda dengan caranya memandangku tadi. Tentulah itu bermakna Sam juga berharga di dalam lingkarannya.
Jika aku membuat masalah mungkin aku akan benar-benar diserbu oleh peluru.
"Sam, kamu tidak perlu menjadi seperti kebanyakan orang. Ikuti jalanmu sendiri. Lagipula kamu telah membuka bengkel. Banyak laporan mengatakan usaha kamu tersebut berkembang pesat. Dan kamu bahkan membangun cabang di beberapa kota tanpa memberitahu paman. Lalu baru-baru ini ada kerjasama untuk pertandingan nasional, benar kan?"
"Ah itu..bukan apa-apa."
"Bukan apa-apa katamu? Itu pencapaian besar, Sam."
"Aku berniat menyerahkannya pada Jason. Tapi tetap saja aku akan berada di belakang untuk mengawasi."
"Jason? Ah anak itu. Kenapa tidak Geri? Dia tampaknya lebih cakap."
"Karena kecakapan itulah dia akan berada di posisi yang lebih. Orang tuanya telah mewariskan dia rumah sakit untuk diolah."
"Kalau begitu lakukanlah seperti yang seharusnya. Lalu bagaimana soal universitas?"
"Masih belum terpikirkan, paman."
"Ayolah, Sam. Kau memiliki paman. Pilih saja universitas mana yang kamu mau. Tentang biayanya tidak perlu dipikirkan."
"Bukan begitu.."
"Mereka menentang?"
"Kurasa tidak. Lagipula mereka belum mengetahuinya."
"Lalu apa?"
"Kebimbangan. Aku berpikir bagaimana jika ternyata ini bukan karir yang tepat. Terkadang itu terlintas dipikiran meski aku telah membulatkan keputusan."
"Itu hal biasa. Tidak ada kebulatan ketika kita mengambil langkah. Sama seperti ketika kamu meninggalkan tempat ini. Kamu tidak sepenuhnya siap, tapi memaksa diri untuk melakukannya. Sekarang apa masih ada kebimbangan itu?"
"Tidak."
"Jangan dianggap berat, Sam. Lakukan saja seperti yang kamu mau."
"Aku mengerti paman."
Perlahan aku merasa menyusut. Paman Sam sangat mengerti dan mendukungnya. Lebih tepatnya lagi, Sam diberikan kebebasan penuh.
Andai papa juga begitu. Tapi bahkan hanya dipikirkan saja rasanya tidak mungkin. Papa telah memiliki sikap otoriter sejak aku lahir. Dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda akan berubah.
"Apa makanannya tidak enak?"
Mataku berlarian saat menemukan bahwa bukan hanya Sam yang memperhatikanku, tapi juga Paman Ryn.
"E-enak."
Sam memisahkan daging ikan dari tulangnya dan meletakkan ke atas piringku. Dia bahkan menambahkan saus dan bakwan udang.
"Ayo makan lebih banyak."
Aku tersenyum kaku. Bukannya tidak terbiasa akan perhatian Sam, namun Paman Ryn yang tampak tidak bersahabat sejak tadi. Mungkin harusnya aku menolak datang ke sini.
"Ini, bakwan udang. Akan lezat jika dimakan bersama saus."
Sam mengoles bakwan yang telah ia potong pada saus pedas manis. Lalu seperti yang sudah-sudah, dia menyuapkannya padaku.
"Bagaimana? Enak kan?"
Apa yang tidak enak kalau dia yang memasak? Sejauh ini tidak pernah ada sama sekali.
"Iya."
Jawabanku ternyata memicu keantusiasan Sam untuk memotong bakwan lain dan mengolesnya dengan saus. Perhatian kecil saja, tapi manis benar di hati.
***
"Ian," panggilku seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh.
"Kenapa dengan suaramu? Apakah flu?"
"Bukan," rengekku. "Tapi capek."
"Istirahat lah. Tinggalkan dulu kegiatan-kegiatan yang ada."
Suaranya kini berubah mendesak. "Cepat! Jangan melakukan apa-apa lagi."
"Ini sedang rebahan."
Nafasnya terdengar menghembus lega. "Sudah makan malam?"
"Sudah. Kamu sendiri bagaimana?"
"Sudah juga."
"Oh iya. Apa yang kamu masak?"
"Aku tidak pernah memasak, Seria."
Astaga, iya. Dia bukan lah Sam. Meskipun memiliki kompor dan bahkan makanan, dia belum tentu memiliki kemampuan memasak. Lagipula telah ada kantin yang menjamin makan mereka. Sehari tiga kali dan dia bisa membeli camilan jika mau.
"Aku kira kamu memasak. Jadi, kamu makan apa? Box makanan dari kantin?"
"Tidak, aku menyeduh satu cup ramyeon saja."
"Eh, kenapa?"
"Aku bosan dengan menunya."
"Memangnya terus sama?"
"Tidak juga, tapi menurutku cita rasanya tetap sama. Jadi membosankan."
"Bisa begitu ya," gumamku tak habis pikir. Menu berbeda, tapi cita rasanya sama. Bagaimana itu?
"Kamu sendiri. Makan dengan lauk apa?"
"Ikan bakar, ati ayam saus kecap pedas, capcay dan bakwan udang."
"Kamu suka makanan seperti itu ya?"
"Kenapa, tidak boleh ya?"
"Ya ampun, bukan begitu. Dari kulit kamu yang sehat aku kira kamu sangat menjaga pola makan."
"Awalnya sih begitu, tapi kini aku semakin tidak bisa menahan diri. Makanan pedas, goreng, instan dan junk food sangat lezat. Sulit benar mengendalikan diri."
Mungkin nada suaraku terlalu berlebihan karena Ian jadi tertawa.
"Kenapa tertawa ihh? Memangnya menurut kamu tidak ya?"
"Itu benar. Makanan tidak sehat memang memiliki cita rasa lezat. Aku terkadang juga sulit mengendalikan diri. Jadi, bagaimana jika minggu depan kita jalan-jalan menikmati street food?"
"Setuju!"
Sorakanku yang terlalu antusias memicu lagi tawanya. Baguslah. Dengan begitu aku tidak perlu khawatir Ian akan ikut merasakan kesedihan atau mungkin perasaan negatif lainnya seperti yang kini aku rasakan.
Kami lanjut berbincang-bincang. Saling berbagi cerita dan tawa. Perasaan hangat mendominasi, tapi aku merasa kosong begitu panggilan terputus. Tidak ada lagi sisa kehangatan. Sepenuhnya didominasi oleh perasaan kosong.
"Adelin mengatakan sampah."
Aku menceritakannya kepada Nayala pada malam terakhir kami di perkemahan.
"Lalu?"
"Aku tidak ingin berpikir begini, tapi tidak bisa. Aku tetap ragu jika itu benar-benar sampah. Bagaimana jika nyatanya aku salah melihat?"
"Jika begitu maka itu bukan lagi sampah."
"Aku ingin berpikir begitu juga, tapi.." Suaraku dibungkam oleh rasa tidak rela yang begitu besar. Mungkin sebenarnya di dalam sana aku telah mengerti. Hanya saja berpura-pura tidak demikian agar tidak tersakiti.
"Sampah tidak berguna telah terangkat dan masuk ke dalam pikiran kamu. Apa lagi? Itu jelas bukan sampah. Tapi sesuatu yang sangat berarti."
"Mungkin hanya baunya yang berarti, bukan objeknya."
"Apa kamu yakin? Tanpa objek, baunya tidak akan muncul. Sangat salah jika kamu berpikir justru baunya yang berarti."
"Dia berarti?" Sumpit yang aku pegang berhenti di udara. Sama-sama tergantung seperti tanda tanya yang aku ajukan pada kepala."Tidak mungkin sekali. Aku hanya memikirkan namaku sendiri."
Kuseruput lagi ramyeon yang ada dengan penuh percaya diri. Kebenaran yang tidak diharapkan secara pelan merambati. Mematikan kepercayaan yang sebelumnya aku yakini dengan pongkah.
Meski segera aku tepis, tapi rasa itu begitu jelas. Namun sejak kapan?
***
Aku menguap panjang. Pegal-pegal di tubuh langsung terasa saat aku mendudukkan diri. Kucoba merenggangkan leher beberapa saat untuk mengusir pegal yang ada.
Setelah sedikit lebih enakan, aku memutuskan untuk mandi. Pakaian ganti tidak ada lagi yang tersisa, tapi semalam Sam telah mengantarkan beberapa dress berwarna pastel.
Pagi ini aku akan memakai yang ungu. Ukurannya begitu pas, bahkan mengikuti bentuk tubuhku dengan sempurna. Jika benar Sam yang memilih, maka berarti dia sangat detail memperhatikan aku.
Tidak penting, tapi ya sedikit tersentuh. Kapan lagi aku mendapatkan perhatian begitu. Benar kan?
Usai mandi aku beranjak dari kamar. Keheningan menyambut hingga sampai di depan pintu dapur. Di situ barulah terdengar tawa hangat yang bersahut-sahutan. Yang pria jelas adalah Sam. Sedangkan yang perempuan terdengar familiar, namun tidak cukup membuat aku yakin.
Kenapa dia bisa datang?
Dia kan telah memutuskan kembali ke rumah. Atau Sam sengaja mengajaknya bergabung juga?
Tidak mau berlama-lama hanya menebak, aku pun memutuskan untuk masuk. Tawa Sam langsung berhenti ketika mata kami saling bertemu.
"Sudah bangun?"
Aku mengangguk pelan, berjalan mendekatinya dengan sedikit melirik pada Adelin. Wajahnya telah penuh riasan, menunjukkan bahwa dia datang dengan sebuah persiapan. Mungkin juga tujuan khusus.
"Sini."
Sam memanggil aku agar berdiri di dekatnya. Aku hampir sampai di sana saat Adelin malah mendahului.
"Kamu bilang mau memasak sotong panggang. Sini biar aku yang membuat bumbu."
Sam langsung segera mengumpulkan bumbu, sementara Adelin memasang apron tanpa rasa bersalah. Bertindak seolah tempat dia berdiri saat ini memang miliknya. Dasar medusa! Dia benar-benar mengambil langkah serius untuk menjauhkan aku dari Sam.
"Kamu mau membuat apa?" tanyaku seraya memijak mantap di sisi kiri Sam.
"Aku mau membuat udang asam manis. Rasanya tidak kalah lezat dari masakan semalam. Kamu harus mencobanya."
"Dan Seria." Adelin mencondongkan tubuh ke depan dari sisi kanan Sam agar dapat melihat ke padaku. "Sam ini sangat menyukai makanan laut. Saat kecil dia rajin memancing dan berkarang untuk mendapatkannya."
Itu bukan informasi. Melainkan caranya untuk membanggakan diri bahwa dia jauh mengenal Sam. Berlebihan benar. Aku bahkan tidak peduli seberapa jauh dia mengenal Sam.
"Nanti jika ada waktu aku akan mengajak kamu memancing," sambut Sam ceria. "Sepertinya itu mungkin bisa dilakukan di hari minggu."
Sam menolehkan pandangan galak dan mengancungkan telunjuk sebagai peringatan. "Jadi jangan coba-coba menggunakan waktu itu untuk bertemu striker Andromeda."
Aku mencebik bibir. Baru berniat mengajak Ian jalan-jalan. Eh, tapi minggu ini dia tidak keluar. Melainkan minggu depan.
Ya sudahlah. Turuti saja ajakan Sam.
"Ikut."
Perutku rasanya mual mendengar dan menyaksikan Adelin bermanja pada Sam. Itu bukan sifatnya. Tidak juga sinkron dengan wajahnya. Jadi sangat menggelikan sekali.
"Kami bukan mau bermain-main, kami mau berkencan."
Jawaban Sam hampir membuat tawaku meledak. Apalagi saat menyaksikan wajah Adelin berubah menjadi gelap karena amarah. Tentu dia merubahnya cepat menjadi tampang merajuk untuk mendapat belas kasihan. "Aku kan juga mau memancing."
"Ya memancing saja sendiri."
Nah benar. Dia punya dua kaki untuk pergi sendiri. Lagipula tidak tahu malu sekali. Jelas-jelas mengerti bahwa dia adalah orang ketiga, kenapa segala masih memaksa diri masuk seolah berhak?
Cih membuat aku merasa sedih saja akan takdirnya.
"Kalau sendiri mana seru."
Aku menyibukkan diri dengan membuka kulkas saat mereka melanjutkan untuk beradu. Yah sedikit lebih baik daripada menjadi nyamuk.
"Ajak saja Deni, Jason atau mungkin Geri."
"Mereka tidak seru, Sam! Yang ada membuat aku terus naik darah. Belum lagi Jason dan Deni sangat berisik. Aku yakin semua ikan-ikannya langsung lari."
"Ya sudah, Aisha. Bagiamana?"
"Perempuan itu mana mungkin rela duduk berlama-lama hanya demi ikan. Ayolah, aku ikut. Aku juga tidak akan menggangu kencan kalian."
"Memang tidak secara konkret, tapi pacarku itu mungkin saja merasa cemburu."
"Sammy!" bentakku langsung menguhunus tajam matanya. Dia terkikik pelan dan melanjutkan santai. "Itu adalah kebenaran, Sayang. Tidak ada perempuan yang ingin diganggu oleh orang ketiga. Apalagi kamu yang cemburan begini."
"Hey siapa yang cemburuan?"
Dasar asal sekali. Kuhentakkan kaki kembali ke sisinya. "Sudah, kamu fokus saja memasak."
"Baiklah, sayang. Aku akan menuruti kalimatmu."
"Berhenti memanggilku begitu, Sam!"
"Maaf, aku tidak bisa." Dia masih saja terkikik. Entah bagian mana yang menyenangkan. Melihat aku marah atau karena dia berhasil menunjukkan perasaan mendalamnya?
"Oh iya, Del. Lobster, scallop dan tunanya sekalian saja dipanggang."
"Sayurnya?"
"Kita makan segar saja dengan sambal."
"Ide bagus."
Keduanya lalu mulai bekerja, menyisakan aku yang hanya menjadi penonton. Sam bergerak cekatan melebihi Adelin. Entah bagaimana membuat dia tampak keren apalagi bersama wajah serius. Jika tampan pastilah akan semakin keren.
Mungkin setelah ini aku perlu membimbingnya untuk merawat kulit.