Sembilan Belas

1607 Words
"Aku gendutan gak sih?" tanyaku seraya menatap pantulan tubuhku di cermin besar UKS. Tidak ada yang sakit. Kami sengaja main saja ke dalamnya untuk rebahan. "Bukan gendutan, Neng. Noh tapi baju kamu yang kebesaran." Mungkin Aliya benar. Kan aku memakai seragam pemberian Sam. Dia menempa ukuran XL. Yang benar saja, ukuran aku yang biasa saja L. Malah aku suka menurunkannya ke S agar lebih ngepas. "Tadi aku denger gosip." Mila menutup lipstik yang baru ia kenakan dan berbalik menatap kami. "Katanya Robbe dihajar sama Sam." "Serius?" Perasaan semalam baru saja dibantai olehnya di kantin. Kenapa lagi? "Baguslah," ujar Devi. "Tuh ketua OSIS songong sih. Selalu sok berkuasa akan jabatannya. Padahal mah cuma babu sekolah." "Diam dulu!" seru Mila. "Aku belum selesai berbicara. Dari yang aku dengar karena Si Robben nembak Adelin." Kompak kami bertiga bertanya. "Kapan?" "Dan lagi, bukannya aku mau pede. Tapi semalam konflik Sam dan Robbe bermulai di kantin saat ada aku. Kenapa jadi Adelin?" Mila mengedikan bahu. "Itu yang aku dengar." "Udah ayo keluar." Aliya bangkit dari bankar. "Aku haus nih." Aku merapikan rambutku, mencoba pede tapi tetap merasa aneh karena balutan seragam oversize ini. Ingin memaki Sam, namun aku teringat perkataannya yang melatarbelakangi hal ini. Aku harus menghargai tubuhku. Memang enak rasanya menjadi pusat perhatian, tapi itu bukan yang tubuhku inginkan. Itu hanya keinginan egoisku. Kami sengaja melewati lorong kelas 12 untuk mendapat lebih banyak informasi. Namun lorong telah sepi karena bel berbunyi beberapa menit yang lalu. "Wait-wait." Devi memundurkan tubuh. Sontak kami juga ikut menghentikan kaki, memundurkan langkah dan melihat ke arah yang sama dengannya. Sam di bawah pohon ketapang kencana. Ia membelakangi kami, tapi siapapun tahu bahwa itu adalah dia. Tinggi, tegap dan rambut hitam legam yang acak juga seragam seperti habis terkena badai. Itu dia. Yang membedakan dari yang lain adalah kaki ramping nan jenjangnya bak model tersebut. Hanya sekali melihat orang akan mengerti. Ini masih area IPS, perempuan yang dipeluknya pastilah Adelin. Terbukti saat kepala perempuan itu mengusak-usak d**a Sam, terlihat sedikit figur wajah cantik nan antagonis juga surai panjangnya yang selalu lurus. Terdengar sesenggukan. Adelin menangis. Apa alasannya? Itu yang langsung berkecamuk di kepalaku. Bukannya dia adalah preman seperti Sam? Kok bisa menangis? Tidak mungkin dia ditindas. Tangan Sam naik, menepuk-nepuk punggungnya untuk memberikan penguatan. Seperti yang dia katakan, dia memang selalu ada untuk Adelin kan? Devi mendorongku dan kami pun melanjutkan langkah. "Tipenya benar-benar Adelin," gumam Devi. Aku merasakan nada geram di dalamnya. Barangkali tidak terima karena dia ditolak untuk perempuan seperti Adelin. "Biarlah," celetuk Mila. "Toh Seria juga tidak suka padanya." Ah iya, dia belum tahu bahwa Devi pernah menyukai Sam. Dia tidak akan mengerti kekecewaan yang Devi rasakan. Mungkin Devi akan membantah saat aku menuduhnya demikian, tapi fakta tidak berbohong. Devi masih kesal karena Sam menolaknya. *** "Nih." Kakiku secara reflek mundur beberapa langkah. Sam kenapa bisa ada di perpustakaan? Apa dia tahu aku akan kesini? Pede bener dah. "Terimakasih." Nayala menunduk, memeluk erat bukunya. "Jangan terlalu menutup diri. Kamu butuh sosialisasi." Sam melewatinya kemudian. Pegangan Nayala pada buku semakin erat. Bukan kemarahan, tapi seperti kesenangan tak tertahankan. Saat dia mengangkat sedikit wajahnya, cahaya jelas memperlihatkan bibirnya tersenyum. "Sam..." Dia berbalik, memanggil dengan suara paling pelan. Sam melirik lewat bahunya. Terlihat berkerut bingung akan tindakan Nayala. "Kamu mau cari buku apalagi? Aku bisa merekomendasikan beberapa." "Manajemen hotel." "Sebentar." Nayala menuju rak, menjulurkan telunjuk pada buku-buku yang tertata dari kanan ke kiri. Matanya lalu turun ke bagian atas, bergerak hingga yang paling-paling bawah. Dia pindah ke rak lain dan melakukan yang sama. Aku pula berdiri seperti orang bodoh di rak buku pelajaran. Letaknya jauh dari Sam berdiri, tapi aku tetap tidak bisa untuk tidak takut ketahuan. Matanya kan seperti elang. Bisa saja dia melihat keberadaan aku. "Nah ini." Aku mengintip lewat ruang di atas buku yang tertata. Nayala memberikan tiga buku kepada Sam. Dia membukanya, membaca sekilas beberapa lembar di depan, tengah dan belakang. "Aku pinjam ini. Tolong masukkan di kartumu ya." "Iya." Senyum perempuan berkacamata tersebut manis benar. Seakan benar tulus bahagia karena membantu Sam. Jadi? Selama ini si brandal kemungkinan suka meminjam buku, tapi dia memakai kartu Nayala. Bagus, Sam. Kamu tidak mau membuat nama kamu bagus. Nah kan aku hampir lupa akan tujuanku sendiri. Buku fashion. Dimana ya? Saat aku keluar dari lorong rak Nayala tersentak. "S..seria?" "Yes, I am." Aku melewatinya. Mencari di bekas rak dia menemukan manajemen hotel untuk Sam. Sama-sama manajemen. Kemungkinan buku yang aku cari ada di sini. "Tenanglah. Aku tidak akan memberitahu siapa-siapa." Kentara sekali ketakutan di matanya. Dasar introvert! "Itu..aku dan Sam tidak ada hubungan apa-apa." Lah kenapa dia menjelaskan? "Sekalipun ada apa-apa aku tidak peduli. Aku dan dia tidak ada hubungan seperti yang kepala kamu duga. Dia hanya anak sahabat papa. Dan hubungan itu menurun ke kami." Sekarang wajahnya terlihat lebih lega. "Aku kira.." "Tidak ada," potongku. "Dimana buku manajemen fashion? Atau apapun yang berhubungan dengan fashion deh." "Sini." Dia mengajak aku ke lorong rak di urutan ke lima. Kumpulan buku-buku seni. Yup, aku menemukan buku tentang fashion. Aku mengambil yang fashion design. Buku yang sangat tebal. Sepertinya ada seribu lembar lebih. "Ini yang manajemen fashion." Dia kembali dari rak sebelumnya. Buku itu juga tidak kalah tebal. Gosh! Bisa kejang otakku kalau begini. Tidak apa. Demi baby step kata Ian. Aku akan membacanya sedikit demi sedikit. "Thanks ya." "Sama-sama." Kami menuju meja peminjaman. Dia membiarkan aku menempel kartu siswa lebih dulu. Setelah aku menscan buku dan berhasil dia mengambil kesempatan. "Kamu banyak sekali meminjam buku." Mataku terfokus pada data buku yang tampil di komputer. Ada banyak judul yang cukup tidak aku yakini miliknya karena itu lebih ke arah hobi pria, seperti buku novel adventure, thriller, tentang bela diri, olahraga dan juga otomotif. "Tujuh puluh persen buku ini dipinjam oleh Sam," katanya seraya mengetik. Buku yang Sam pinjam tidak bisa di scan, sebagai ganti dia harus memasukkannya manual. "Termasuk semua buku motivasi yang kamu lihat. Dia kecanduan buku-buku semacam itu sejak kelas sebelas. Sekarang dia terlihat lebih enjoy dan memiliki buku-buku edukasi dan sesekali beberapa novel." Kelas sebelas? Berati hubungan Nayala dan Sam sudah sejak satu tahun lalu. Lama juga. "Saat itu aku takut dengan tampang kriminalnya. Jadi ketika dia menyuruh aku mencatat bukunya di kartuku, aku pun setuju. Pernah beberapa kali hilang, tapi dia membayar gantinya." Nayala telah selesai menginput, kami pun berjalan keluar bersama. "Lalu setelah itu lama kelamaan kamu suka dengannya?" Nayala tertunduk dalam. "Come on, Nay. Sekalipun aku istrinya aku tidak akan marah kalau kamu jujur. Pengecualian jika kamu menjadi pelakor." Ragu-ragu akhirnya kepala Nayala mengangguk. "Dia gagah, berkharisma dan sangat mainly. Yang membuat aku tertarik lagi adalah hobinya membaca. Itu membuat perspektifku sebelumnya tentang dia yang kriminal luntur semuanya. Dia baik, hanya saja tidak mau memperlihatkannya. Dia bukan Sam yang selalu membuat masalah, tapi dia adalah Samuel yang menyembunyikan sifat baiknya." "Nay.." Matanya memohon kepadaku. "Jangan beritahu siapa-siapa ya? Tolong juga katakan kepada Devi untuk tutup mulut. Aku takut Sam akan marah jika tahu aku menyukainya." "Oke." Dia kemudian meminta izin untuk ke toilet sementara aku langsung menuju kelas. Jadi begitu ya, Sam? Kamu ternyata hantu buku. *** "Seri, aku mengantar Adelin dulu ya?" Parkiran. Sudah pulang sekolah dan Sam datang bersama Adelin. Wajah perempuan itu sudah kembali sangar. Tidak ada tanda-tanda kesedihan sedikitpun. Jadi yang tadi itu tangis beneran atu setting-an? "Lama gak?" Aku sudah lelah. Ogah benar kalau harus menunggu Sam berjam-jam. "Hanya.." "Zion!" Aku berteriak, melambai pada cowok yang hampir menancap gas keluar parkiran. Dia menurunkan kaca helmnya dan berseru. "Aya naon?" "Aku pulang sama Zion." Aku berlari kecil meninggalkan mereka. "Numpang ya," kataku pada Zion. "Bayar bensin jangan lupa." Kudorong pelan kepalanya begitu duduk sempurna di boncengan. "Jalan!" Dia menggas motornya dengan kecepatan tinggi, segera saja aku memeluk perutnya. "Zion sialan," umpatku. "Modus, nyai. Kapan lagi kan dipeluk sama orang cantik," katanya." Pandai saja menjawab. Ngomong-ngomong soal Adelin ditembak sama Robee itu benar gak sih? Kalau ditembak kenapa dia malah nangis kayak habis dizalimi. Semua hal ini membuat bingung dah. Semakin bingung lagi karena di depan gerbang rumahku ada Robee. Beberapa bekas lebam menghiasi wajah juga lengannya. Sepertinya benar, dia berduel lagi dengan Sam. "Yo, bos." Zion melambai pada Robee sementara aku menuruni motornya. "Thanks." "Sama-sama, Nyai. Bye-bye." Motornya melaju lagi, hanya sesaat sebelum berbelok ke kanan dan berhenti. Rumah kami memang sedekat itu. "Ada apa?" Tanpa basa basi aku langsung bertanya akan alasan pria berkacamata itu berada di depan gerbangku. "Aku minta maaf." "Maaf? For what? Perasaan kamu tidak pernah berbuat salah deh." "Itu hanya perasaan kamu." Dia mengulurkan satu buket tulip putih. Bunga ini simbol dari ketulusan, kemurnian, harapan dan pengampunan. Terlalu dalam sekali untuk kesalahannya yang sebenarnya tidak aku mengerti apa. "Aku minta maaf." Kalimat tulusnya menyelusup lembut ke telingaku. Berbeda benar dengan cara berbicaranya di sekolah yang terkesan keras. "Maaf aku tidak bisa menerima ini." Dia mendorong pelan buket yang hendak aku kembalikan. "Tolong terima, Seria. Setelah ini mau kamu buang atau bagimana aku tidak akan marah. Yang terpenting, tolong maafkan aku." "Tapi kamu tidak punya salah kepadaku, Robee?" "I have, kamu hanya tidak menyadarinya." Ia beranjak dari bumper mobil. "Aku pulang." "Rob.." Hampir saja dia berbalik saat itu. "Kamu menembak Adelin ya?" Terdiam beberapa saat. Bibirnya bergerak-gerak ragu sebelum akhirnya terbuka sempurna. "Iya." Entah cuma perasaanku saja atau memang nyata, Robbe tampak terpaksa akan kalimat tersebut. Tapi aku tidak punya bukti, jadi aku tidak bisa mencegah ketika dia berbalik dan mengucapkan selamat tinggal. Hingga mobil putih tersebut hilang aku masih berdiri, memikirkan apa sebab dia meminta maaf? Tunggu. Seharusnya dia meminta maaf kepada Sam kan? Apa aku ini sejenis perantara? Entahlah. Aku tidak mau stress memikiran ini. Lambat laun pasti akan terungkap sendiri atau aku bisa bertanya kepada Sam. Ide yang tepat. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD