"Devi!" seruku girang.
Dia yang tengah menyalin tugas melirik malas. "Apa?"
"Ciee masih marah," godaku.
"Siapa yang marah?" Ia menarik bukunya mendekat dan menyalin lagi.
"Lihat apa yang aku dapat."
Aku mengarahkan layar ponsel padanya. Matanya terlihat malas pada awalnya namun berbuah menjadi pelototan tidak percaya setelahnya.
"Darimana kamu mendapatkannya?"
"Ada deh." Aku menyembunyikan cepat ponselku ke saku rok. "Kamu serius nih suka sama dia?"
Kelas masih sepi. Hanya ada aku, Devi, Nayala yang sibuk di mejanya sendiri juga Zion dan Kevin yang main game di pojok belakang.
"Dulu." Devi melipat tangannya, memberi sorot kesal. "Saat otakku masih setengah. Lagian kok bisa kamu tahu ah iya. Aku lupa kamu kan tunangannya."
"Tunangan palsu." Aku menarik kursi di depannya dan mendudukkan diri. "So, sekarang gimana? Kamu masih suka sama dia?"
"Ya enggaklah. Ngapain juga aku masih menyukai cowok hati batu seperti dia. Sudah jelek, sok jual mahal lagi. Menjijikkan sekali."
"Menjijikkan begitu tapi pernah suka," ledekku.
"Itu karena aku masih labil, Seria!"
"Anyway." Aku menopang siku ke meja dan meletakkan wajah di atasnya. "Apa sih yang membuat kamu suka sama dia? Kayak kehabisan cowok saja kamu."
"Ya siapa sih yang gak suka sama cowok mainly, gagah dan berkharisma seperti dia. Meskipun jelek tapi aura dia itu kuat. Ditambah lagi sifatnya yang enggak murahan. Lihat cewek cantik pakai pakaian bolong-bolong saja tetap datar. Saking datarnya sampai satupun perempuan tidak menarik di matanya."
"Termasuk kamu," lanjutku dan tergelak.
"Kamu juga," ujar Devi. "Sepertinya cuma Adelin yang berhasil. Kalau dengan perempuan itu ditempeli bagiamanapun dia tidak akan gerah. Hah, entah apa yang hebatnya perempuan muka dua itu?"
Mata Devi turun padaku lagi. "Sekarang kamu puas?" serunya galak.
"Kenapa harus puas?" tanyaku pura-pura tidak mengerti.
"Puas karena kamu tahu seberapa gilanya aku menyukai dia. Jadi, bagimana kamu tahu? Dia yang memberi tahu?"
"Tidak, aku membuka hpnya dan melihat pesan kamu. Enam bulan lalu dong dan belum dibaca olehnya sama sekali." Aku pun tergelak lagi dibuatnya.
"Dia tidak membukanya?"
Aku mengangguk akan ketidakpercayaan Devi.
"Pantas saja. Dasar sialan!"
"So, Dev. Itu alasan kamu membenci dia?"
Dia mengangguk langsung. "Bayangkan saja kalau kamu yang ada di posisiku," lanjutnya malas. "Pasti kesal bukan main. Pengen rasanya menyantet dia sekalian agar mati."
"Eh, Ser sini." Devi melambai agar aku mendekat. Aku menurut, mendekatkan telinga kepadanya.
"Tuh anak juga suka sama dia."
Mataku mengikuti arah pandang Devi. Nayala?
"Serius?"
Devi menjauhkan tubuh dan mengangguk sebagai pembenaran.
Damn! Sam, kenapa kamu laku keras? Kamu pakai pelet ya?
Ini Nayala loh. Si perempuan otak brilian. Dia bisa mengerjakan semua soal matematika hots, tapi kenapa tidak bisa memilih pasangan yang lebih baik? Sumpah aku bingung sekali.
"Eh aku ada rencana."
Kulambai agar Devi mendekat. Ia menurut cepat dan aku langsung membisikkan kepadanya.
"Memangnya dia suka sama tipe yang begituan?" tanya Devi tanpa sedikitpun rasa yakin.
"Coba saja dulu. Siapa tahu dia juga suka."
"Oke deh. Nanti istirahat aku bawa dia."
Aku mengancungkan jempol. Eh Ian belum membalas pesanku semalam. Dia kemana ya?
Aku kembali ke kursiku. Nah sudah dibalas sama dia.
"Maaf, semalam aku ketiduran."
Ya tidak apa-apa. Dia pasti kelelahan karena pertandingan.
Sebelumnya aku ingin meminta bantuan untuk mengerjakan tugas matematika. Karena dia tidak membalas aku suruh saja Sam yang mengerjakan. Itu anak brandal kan jenius. Jadi manfaatkan saja.
***
"Sam!"
Aku beteriak, melambai padanya yang hampir memanjat pagar tinggi. Nih berandal apa tidak takut ketangkap guru BK dan berujung dipasung ya? Baru juga istirahat pertama.
"Apa?" serunya enggan mendekat.
"Kamu mau kemana?"
"Merokok."
"Bandel bener. Kantin yuk."
Terpaksa aku yang mendatanginya. "Ayo," paksaku.
Matanya begerak ragu antara ke arahku dan pagar tinggi. Ia melompat, tubuh tinggi tersebut dengan mudah sampai di atas pagar. "Kalian duluan saja. Aku menyusul sebentar lagi," katanya.
Terdengar gaduh sesaat antara kekesalan dan gerutuan, tapi akhirnya mereka terdengar setuju. Sam pun meloncat kembali ke bawah.
"Ayo."
Aku mengikuti langkahnya.
"Sam, di kelasku ada yang menyukai kamu loh."
Manik coklat gelapnya tidak berbinar atau sedikit pun terkejut. Datar saja seperti biasa. Cih, dasar manusia kulkas.
"Orangnya cantik dan pintar. Aku yakin kamu pasti suka."
Dia berdehem. Hanya itu. Tidak lebih ataupun kurang. Nadanya tidak bernyawa pula. Sama sekali tidak ada rasa gembira sedikitpun di matanya.
"Please deh Sam. Ada yang suka sama kamu loh. Bahagia atau minimal tersipu dong. Gak manusiawi banget kamu ini."
"Begini." Ia menoleh, menarik senyum yang terlihat sangat terpaksa. Itu benar-benar menyiksa mata.
"Tahu ah." Aku mendahuluinya.
Suasana kantin telah ramai. Meja-meja hampir penuh dan banyak orang berlalu lalang. Aku tanpa sengaja tertabrak seorang cowok.
"Damn!"
Secara implusif aku mundur. Punggungku tertabrak lagi oleh badan Sam. Jika tangannya tidak segera menahan pinggangku maka sudah pasti aku akan tersungkur ke depan. Lagian badan kok sekeras batu.
"Maaf-maaf."
Perempuan yang sepertinya adik kelas tersebut menunduk cepat. Tebakanku pasti takut dengan wajah Sam yang seperti kriminal.
"Tidak apa-apa."
Toh aku juga yang tidak melihat ke depan. Argh, seragamku jadi basah. Mana tepat di depan d**a lagi.
Tangan besar menarik aku untuk beputar. Tanpa bicara ia melepaskan seragamnya, langsung memasangkan kepadaku.
Saat aku mulai mengancing seragam pemberian Sam, ketua Osis terlihat kehadirannya, aku segera berbalik. Mengancingkan cepat seragam.
"Samuel!"
Teriakan besar menghebohkan kantin. Saat aku telah selesai telinga Sam telah ditarik oleh laki-laki berwajah antagonis tersebut.
"Dimana seragam kamu?"
"I know you see it."
Matanya melempar kepadaku. Memahami situasi Robbe melepaskan telinga Sam. "Seria, kenapa kamu memakai seragam Sam?"
"Seragamnya tertumpah oleh air." Sam yang mewakili jawabanku.
"Mana? Coba aku lihat. Jangan-jangan kamu hanya membuat cerita."
Brugh
Aku belum sempat beraksi saat suara riuh mengudara.
"Apa-apaan kau ini?" teriak Robbe. Urat-urat lehernya terlihat jelas bersama wajahnya yang memerah. Aku kira hanya dia yang begitu marah ternyata Sam juga tidak kalah.
Ia merunduk, menarik kerah Robbe dan memukulnya tanpa ampun.
"Sam." Aku menarik lengannya. Bisa bahaya jika BK atau anggota OSIS lainya melihat ini. Dia akan terkena poin yang aku yakin tidak sedikit karena memang dia yang menyerang duluan.
Jakunnya naik turun saat dia berbalik, namun bibirnya tetap diam. Aku jadi bingung akan apa yang ada dipikirannya.
"Ayo."
Ia menarik aku ke stand kantin, mengabaikan sepenuhnya tatapan merendahkan orang-orang yang melabelinya selaku berandal.
"Coca cola satu," pesannya.
"Satu roti bakar dan green juice."
Sam membayar, kami lalu pergi ke meja Devi. Di sana selain ada Aliya dan Mila ternyata telah ada Nayala.
"Sam, ini Nayala."
Aku segera menunjuk Nayala.
Ia tersenyum tipis. Sangat-sangat tipis hingga siapapun percaya itu bukan senyum tulus.
Nayala membenahi kacamatanya. Ah dia pasti canggung.
"Ak..aku permisi dulu."
Dia menggeser kursi. Belum sempat tangan Devi menggapai langkahnya sudah menjauh dengan lebar.
Sam? Tentu saja dia malah membuka botol colanya tanpa peduli.
Hati batu!
Devi yang tomboy dan sexy ditolak. Nayala yang kalem dan pintar juga. So, tipenya benar-benar cuma Adelin kah?
Memang sih Adelin lebih cantik daripada Nayala dan Devi.
Saat pulang sekolah aku tidak bisa menahan diri lagi. Jadi aku tanya langsung kepada Sam.
"Sam, kamu suka sama Adelin ya?"
Dia menoleh sesat. Terdiam kemudian dengan mata melurus pada jalanan. Hari ini dia membawa mobil. Entah apa alasannya aku pun tidak mengerti.
"Kami tumbuh di lingkungan yang sama. Saat yang lain pergi memenuhi jalan hidup masing-masing hanya tertinggal kami berdua. Ikatan jadi begitu kuat. Dia selalu ada untukku dan aku juga sebaliknya. Tapi kami bukan apa-apa."
Bibirku terkatup rapat untuk bertanya lanjut. Pasalnya cara Sam menatap tidak lagi bersahabat. Seperti ada kekesalan yang tidak bisa diucapkan di sana. Aku takut mengusiknya. Apalagi dia terlihat masih emosi sejak kejadian tadi.
Mobil berhenti di salah satu toko pakaian. Masih tidak jauh dari Neptuna. "Ayo."
Dia mendorong pintu. Aku positif saja. Mungkin dia ingin membeli pakaian.
Aku mengekorinya ke stand sweater. Ia mengambil warna lilac dan mematutkannya kepadaku. "Sana ganti."
Ia memberikannya kepadaku. Awalnya ingin bilang enggan lalu teringat bahwa kaos dalamanku masih lembab karena kejadian siang tadi. Akhirnya aku setuju pergi ke fitting room.
Aku memasukkan seragam Sam dan milikku ke tas, lalu keluar. Dia duduk di sofa dan meminta aku untuk menunggu sebentar.
Ya sudah lah turuti saja.
Aku sensitif terhadap kekerasan. Saat melihat Sam seperti tadi siang secara otomatis ada benteng tinggi bernama takut di dalam diriku untuk melawannya. Sedari awal aku mengenal dia, ini juga yang aku takutkan. Kekasaran dari dalam dirinya yang tidak bisa dibantah.
Setelah hampir satu jam menunggu dalam diam akhirnya ia beranjak, otomatis membuat aku melakukan yang sama.
"Ini."
Paperbag besar diberikan kepadanya oleh salah satu pegawai. Dia berjalan ke kasir, membayarnya lalu menyerahkan paperbag kepadaku saat kami sampai di dalam mobil.
Aku membukanya. Ini semua seragam putri sekolah Neptuna. Aku menarik salah satunya, benar kok. Ini seragam Neptuna. Jadi tadi dia menempa seragam untukku. Dalam rangka apa?
"Seragam kamu sudah hampir seperti seragam SD."
Dia menggerutu. Meskipun tidak melihat ekspresinya aku bisa menebak lewat suaranya seberapa sebal wajah tersebut.
Aku memeriksa rokku. Memang telah di atas paha, tapi ini belum cukup dikatakan melewati batas. Dia saja yang salah perspektif.
Tapi baguslah. Aku jadi tidak perlu menempa seragam lagi hehehe.
***
"Sudah mengerti?"
Aku membaca sekilas semua soal yang aku kerjakan. "Aku sudah paham yang model satu dan dua, tapi soal model cerita ini ribet sekali. Tiap cerita caranya berbeda."
"Jadi soal cerita ya." Dia di sana membuka lembar selanjutnya. "Kita latihan saja lagi. Lama kelamaan kamu pasti akan mengerti polanya."
Aku meraih pena, siap untuk mencatat soal yang akan ia bacakan. Besok akan ada ulangan harian matematika. Meskipun tidak berharap tinggi, aku berusaha keras untuk dapat yang terbaik. Semisal saja di atas 75.
Ketika aku meminta bantuan Ian tanpa berkelit ia langsung setuju. Senang sekali, selain bisa belajar untuk ulangan harian aku bisa lebih dekat dengannya. Sekali mendayung dua, tiga pula terlampaui hihi.
"Sekarang mengerti?"
Aku mengangguk setelah satu jam lebih kami belajar. "Terimakasih ya, Ian. Maaf jadi mengganggu waktu belajar kamu."
"Santai saja. Hitung-hitung aku sekalian mereview pelajaran untuk seleksi tahun depan."
Senyum manisnya mengembang. Penat dari belajar terasa menguap dibuatnya. Ia membuat aku merasa positif, juga mendorong pada rasa senang tanpa sebab.
"Sudah?"
"Ah iya." Malah melamun pula. Entah seperti apa tadi wajahku saat menatapnya. Aduh, malu sekali.
"Tidurlah. Ini sudah larut."
"Kamu juga." Aku bersiap mengakhiri panggilan video, tapi rasa enggan masih berkecamuk. Dia sendiri menunggu dengan senyum yang masih on di bibirnya. Baiklah.
"Aku matikan ya?"
Dia mengangguk.
"Selamat malam." Aku mengakhiri panggilan. Hih, kenapa dia tidak mengucapkan selamat malam kembali? Malah tersenyum saja. Apa maksudnya itu?
Argh
Aku melirik jam. Sudah pukul 10. Kalau tidak salah Sam tadi masih di bawah. Dia menginap lagi atau bagaimana? Coba cek ah.
"Bi, dimana Sam?"
"Sudah pulang, Non. Tadi katanya mau ngumpul sama teman-temannya. Itu makanan yang di bawa Tuan ada di kulkas."
Saat aku belajar dia memang datang mengetuk, menawarkan makanan yang langsung aku tolak tanpa bertanya.
"Memangnya makanan apa, Bi?"
"Salad karage ayam, Non."
"Salad karage?" Eum, aku jarang makan salad jenis ini. Mungkin enak kali ya. Eh tapi ini sudah malam. Lemak akan mudah bertambah jika aku memakannya.
Tapi...
Kalau untuk pagi mungkin sudah terasa berbeda.
"Bawa ke sini, Bi."
Bibi Felin terlihat terkejut, tapi ia menutup cepat dengan wajah datarnya. "Baik, Nona."
Lagi dan lagi Si Sam. Kalau sudah urusan makanan aku tidak bisa menolaknya.
***