Tujuh Belas

1489 Words
"Sudah sepi ya." Aku mengangguk setuju. Lapangan sudah benar-benar sepi. Yang tertinggal hanya beberapa petugas kebersihan saja. "Kamu pulang sama siapa?" Tentu bukan Sam maupun yang lain. Mereka pasti telah pulang lebih dulu. "Supir saja. Sebentar ya, aku mau menelepon dulu." Segera aku berbalik, menelepon kepada supir untuk menjemput secepatnya. Setelah mendapat jawaban setuju aku pun memutuskan panggilan. "Sudah. Aku ke depan ya." "Ayo aku antar." "Tidak perlu. Kamu kembali saja, Ian." "Baiklah, aku memang harus ke majelis dulu. Hati-hati ya." "Siap." "Traktirannya minggu depan oke." "Oke, aku pulang." Dia mengangguk bersama senyumnya. Masih belum beranjak saat aku begerak. Ingin rasanya berbalik dan memastikan apa dia tetap di sana saat langkahku semakin jauh, tapi aku terlalu malu untuk melakukan itu. Gerbang depan Andromeda juga telah sepi. Aku duduk di haltenya dan mengedik-ngedikkan kaki. Akhirnya bisa berduaan dengan Ian. Seru sekali. Selain kalimatnya berwawasan, dia juga penuh vibes positif. Pokoknya menyenangkan deh. Aku tidak sabar menunggu minggu depan. Kami akan pergi makan seafood bersama. Mungkin saat itu pembicaraan kami akan naik ke level yang lebih intens lagi. Deru suara motor secara otomatis mengambil perhatianku. Motor ninja hitam tersebut berhenti. Pemiliknya menurunkan kaca helm full face yang dikenakannya. "Sam?" "Kamu kemana tadi?" Matanya berkilat kesal, tapi nadanya berusaha tetap lembut. Itu tidak membantu, aku masih merasakan nadanya yang geram. "Ada deh." Aku memanjat naik ke motornya. Sebelum memeluk perutnya aku mengirim pesan kepada supir agar tidak perlu menjemput lagi. *** Aku membuka topi, meletakkannya ke meja dan merebahkan diri di sofa. Lelah juga rasanya. Pasti karena lumayan lama berada di bawah panas matahari tadi. "Bi, air." Bibi Felina datang beberapa detik kemudian. "Mau air apa, Non?" "Mineral dingin saja. Untuk makan siang tolong buatkan salad buah ya, Bi." "Baik, Non. Tuan Sam, mau minum apa?" Sudut mataku begerak ke samping. Loh tidak pulang? "Mineral dingin saja, Bi." Bibi Felina lalu meninggalkan ruang keluarga. Sam mengambil duduk di hadapanku. Ia kemudian melepas jaket boombernya. Pasti gerah. Ya iyalah siang ini panas sekali. "Lain kali jangan berkeliaran sendirian, apalagi tanpa memberitahu." Sok banget. Mentang-mentang dikasih kekuasaan sama papa dia merasa jadi besar kepala. Aku keliaran juga bukan ke tempat berbahaya, hanya di lingkungan Andromeda yang pastinya aman. "Seri, kamu mendengarkanku?" "Iya-iya." Aku bukan budek kali. "Dimana tas kamu?" "Di loker sekolah." "Tidak mau diambil?" "Tidak perlu. Lagian isinya cuma satu buku saja. Kan tadi tidak belajar." Ia tidak bersuara setelahnya. Aku pun menenggelamkan diri pada ponsel. Ingin mengirim pesan pada Ian, tapi tadi kami baru saja bertemu. Apa yang akan dia katakan? Aku pasti akan terlihat sangat mengejar. Dia bisa risih dan berujung ilfeel. Ya sudah lah aku mengecek sosmed saja. Tring "Sudah dijemput?" Ups, sepertinya malah dia yang mengejar. Ya ampun, pede sekali. Mungkin dia cuma merasa bersalah karena menjadi alasan aku tertinggal yang lain. Ya mungkin cuma itu. "Ini sudah sampai di rumah." "Baguslah." Pembicaraan pun berhenti begitu saja. Untuk level dua memang begini yang seharusnya kan? Tapi aku mau lebih. Aku mau dia bertanya lanjut apa aku baik-baik saja dan sebagainya. Egois banget dah. Hubungan kami kan baru seumur jagung. Suara sepatu yang berderap menjauh membuat aku mendongak. Dia pergi kemana? Ponselnya kenapa ditinggal? Eum, aku mainkan saja deh. Kuambil ponselnya. Yah terkunci. Secara asal dan entah bagiamana aku memasukkan namaku. Seria. Terbuka. Serius? Dia menjadikan nama aku kunci ponselnya? Bodo amat. Semenjak dua kali melihat banyaknya pesan perempuan di ponselnya aku jadi tertarik untuk membuka ke tiga kali. Melihat apa masih ada yang mengirimnya pesan. Ternyata masih. Banyak malah. Karena tidak satupun diarsipkan aku lelah menggeser ke bawah. Tidak ada habisnya. Seriusan nih si Sam sedikitpun tidak membalas? Yang cantik dan sexy banyak loh. Wait.. Ini kan fotonya Devi. Dia juga mengirim pesan kepada Sam. Untuk apa? Mana ada dua puluh dan belum terbaca sama sekali lagi. Tanggalnya sudah berasal dari enam bulan yang lalu. Gila bener si Sam. Sedikitpun tidak menggubris. Kalau hal penting bagimana? Awalanya Devi hanya meminta Sam untuk menyimpan nomornya. Lalu dua hari setelahnya dia bertanya apa yang Sam lakukan. Tentunya tidak mendapat balasan. What? "You looks amzing today." Pujian entah dalam rangka apa Devi kirimkan beberapa hari setelahnya. Satu yang membuat aku terpelongo adalah pesanannya di bulan kemudian. "Sam, ada film baru hari ini. Mau nonton bersama?" Dia mengajak Sam kencan? Serius? Ini Devi asli atau KW sih? "Aku tahu kamu sibuk. Tapi apa sulitnya membalas iya atau tidak sih?" Hoho, Devi merajuk. Tetap saja tidak digubris oleh Sam. "Sam, aku menyukai kamu. Aku tidak peduli bahkan jika wajah kamu seperti itu. Ini serius. Ayo pacaran." DEVI! Kamu memang super berani ya? Bisa-bisanya menembak Sam duluan. Sudahlah objeknya Sam dan kamu seberani ini pula. Gila! Kamu gila, Dev. "Apa yang kamu lihat?" "Itu.." Aku menyembunyikan ponselnya ke arah d**a. "Aku cuma melihat-lihat foto di galeri kamu." "Oh." Ia meletakkan nampan berisi satu piring besar nasi dan dua gelas air mineral dingin ke meja, lalu dia meraih tasnya. Satu kotak makanan ia keluarkan dari sana. "Kamu bawa bekal?" "Tidak. Tadi pamanku mengantarkannya." "Paman kamu yang mafia itu?" Matanya segera menyerangku. "Aku dengar dari mereka sih begitu," kataku menjelaskan. "Gak tahu aslinya." Dia mengangguk. "Pamanku memang mafia. Tapi ini pamanku yang lain. Dia suka memasak, jadi sering mengirimkan aku makanan." "Memangnya dia tinggal dimana sampai mau repot-repot mengantarkan kamu makanan?" "Di ujung kota, dekat daerah dermaga." "Nelayan?" tebakku. "Bukan. Dia bekerja di pabrik elektronik." "Oh." Aku kembali menatap layar ponsel, membiarkan dia memindahkan makanan ke piring. "Duduklah biar aku suap," katanya tiba-tiba sudah di sampingku. Rese ih. Aku pun duduk, menyelamatkan layar ponselnya agar tidak ketahuan. "Memangnya apa itu?" tanyaku dengan fokus pada isi pesan Devi. "Kari daging dan chicken katsu. Ayo coba." Sendok sudah tersodor. Aroma karinya lezat sekali. Begini mah imanku bisa luntur. "Aaa." Aku membuka mulut, menerima suapan yang ia berikan. Kuah karinya kental, aroma rempah terasa tajam dan rasanya manis berpadu sedikit pedas. Enak. Aku ini kenapa sih? Setiap makanan yang Sam suapkan pasti suka. Gila sepertinya lidah ini. "Sam.." Aku mengarahkan layar ponsel padanya. "Devi menyukai kamu." "Devi?" Dahinya malah berkedut. Nih cowok memang sok jual mahal apa bagimana. Masa tidak tahu sedikitpun pesan Devi ini. Ya memang sih belum dia baca sama sekali. But seriously? Devi itu hot dan tegas. Mungkin tipe yang pas untuk Sam. "Devi Cantika?" "Bukan Sam! Devi Dashia Hirataga, temannku yang rambut bob dan tomboy itu." "Oh dia. Sepertinya kelas sebelas aku pernah menerima coklat darinya." "Serius?" Fix, Devi pernah tergila-gila padanya. Perempuan itu gengsian kalau soal perasaan. Jika kepada Sam dia bisa seperti ini maka jawabannya sudah pasti dan tidak lain bahwa dia sangat menyukai Sam. Kok bisa dia suka kepada Sam ya? Jelek begini loh. Tuh wajahnya penuh jerawatan. Mana sok cold boy lagi. Parah sih. Devi menyukai orang yang salah. Anyway, apa sekarang dia masih menyukai Sam? Eits, I know. Jangan-jangan sikap tidak sukanya yang yang kental kepada Sam karena dia ditolak? Sudah aku duga. Dia pasti ada apa-apanya dengan Sam. Karena memang aneh jika dia membenci Sam tanpa asal usul. Oke-oke, besok aku akan meledeknya hihi. "Kenapa dengan wajahmu?" "Hah? Enggak." "Aaa." Satu suapan besar ia sodorkan lagi. Aku melahapnya. 100 poin untuk pamannya. Masakan ini lezat sekali. Aku sampai tidak peduli lemak yang akan tertambah karena daging atau santannya. Toh nanti tinggal olahraga saja. "Oh, Devi si kurang ajar yang merebut minuman kamu tadi?" Lah dia baru sadar. Lambat banget dah. "Iya." "Cewek jadi-jadian begitu siapa yang mau." "Lah kamu sendiri. Cowok jadi-jadian. Siapa yang mau?" "Dia." Cih, pandai saja membalas. "Sam, kenapa kamu tidak membalas mereka? Kasihan tahu. Tadi ada yang sudah sampai dua puluh pesannya. Dan Devi, dia sudah mengirim pesan enam bulan lalu sama kamu. Setidaknya kamu baca saja atau hapus deh." "Malas." "Malas sih malas, tapi kan.." "Kalau aku balas apa untungnya?" "Kamu jadi punya banyak teman." Benar bukan? "Plus, siapa tahu salah satunya bisa kamu pacari." "Tidak penting sekali." "Dikasih tahu bandel banget. Kamu ini jelek Sam. Sangat-sangat jelek! Kamu bisa melihat sendiri seperti apa wajah kamu di kaca. Bersyukur dong kalau ada yang suka. Dimanfaatkan langsung keadaannya. Jangan menolak pemberian Tuhan." Bukannya membalas dia malah menyuapi aku lagi. Bandel bener. Jadi jomblo seumur hidup baru tahu rasa. *** "Nih, Sam." Aku memiringkan ponsel kepadanya. Dia yang tengah mengerjakan tugas matematikaku pun menoleh. "Ampuh katanya untuk menghilangkan jerawat batu. Coba kamu beli." "Dimana?" "Ya di olshop-nya lah." "Kalau begitu tolong pesankan." "Ngeribetin." Mulut bilang begitu tapi tangan suka rela membuat pesanan. Sam ini baik. Aku harap jika aku membantunya dia akan berubah. Dengan demikian akan banyak eh sebenarnya sudah banyak sih perempuan yang suka dengannya. Tinggal otaknya nih yang perlu dicuci biar suka pada seseorang. Kalau kami sama-sama punya orang lain pasti ujung-ujungnya bisa berpisah. Memang aku tidak berharap pisahnya sekarang karena aku masih belum tahu cara membujuk papa. Mustahil sih, tapi aku masih berharap papa di kemudian hari berubah pikiran. Bisa dibilang saat ini kami main drama saja. Saat aku punya cukup keberanian dan hati papa sedikit terbuka aku akan pergi darinya. Baiklah, itu rencananya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD