Enam Belas

2156 Words
"Hayo, lagi ngapain?" "Zion!" Suka banget sih ngejutin. Untung gak lompat nih jantung keluar. Eh orangnya malah tertawa bahagia. Laknat banget. "Maneh makanya jangan melamun." "Siapa yang melamun." Aku berhenti mengaduk-aduk smoothies di gelas. "Terserah kamu deh. Aing mau mesan dulu." "Zi, chocolate ice," seru Kevin. "Darimana kalian tahu kita disini?" sinis Devi. "Perasaan kami tidak memberitahu deh." "Lokasi lo kan hidup, neng." Devi memeriksa cepat ponselnya. Ia mencebik kemudian. Berati benar, dia lupa mematikan lokasi di ponselnya. "Niat banget untuk diikutin kayaknya," ledek Kevin. "Mulut lo jangan sembarangan, Kev. Gue tabok nih?" Walan, Devi sadis bener. Baru juga nanya sudah mau ditabok. "Eh, Ser." Aliya mengambil alih atensi. "Jadi, sejak kapan kamu saling kirim pesan sama Ian?" "Sejak pulang dari pesta kemarin." "Kamu atau dia yang duluan?" tanya Mila kemudian. "Dia, awalannya cuma bilang terimakasih. Terus, yang kemarin aku jalan sama dia..." "WHAT?" Devi menggebrak meja. Sumpah, nih perempuan bar-bar banget sih. "Kamu jalan sama Ian?" "Gara-gara kamu tuh." Mila menyenggol lengan Devi. "Nyuruh Ian jemput tapi malah pulang sendiri. Kasihan dia, untung akhirnya jadi nganterin Seria. Jadi beruntung deh." "Oh yang waktu itu. Aku pengen ngerjain dia. Siapa sangka malah jadi nganterin Seria pulang ya? Hoki banget kamu, Ser." "Ian-Ian, saha sih yang kalian bahas?" heran Kevin. Devi kemudian menjelaskan akan sepupunya itu panjang kali lebar. Sampai kedatangan Zion bahkan belum juga selesai. Lumayan lah aku sedikit kecipratan informasi terbaru akan Ian, seperti asal sekolahnya sebelum ini atau apa hobinya. Selain bola ternyata dia suka menanam. Wow, jarang sekali. Aku kira game atau biliard. "Maneh suka sama Ian-Ian itu?" Aku mengangguki pertanyaan Zion. "Terus, nasib si raja iblis gimana?" Aku menggoyangkan bahu. Tidak tahu. Benar sekali. Aku tidak tahu akan bagimana nasib Sam, tapi dia kan sudah tahu bahwa aku memang tidak menyukainya. Ya mungkin tidak akan terlalu terkejut. "Kasihan banget." Mila cemberut. "Dia pasti patah hati." "Ya bodo amat lah," sambar Devi. "Namanya juga enggak suka. Mau bagaimanpun tidak akan bisa dipaksakan." Benar sekali. Aku setuju dengan kalimat Devi. Ya meskipun cara dia mengatakan terkesan menindas Sam sih. Jujur, sebenarnya aku penasaran. Apa Devi punya masalah dengan Sam ya? "Ser, lanjut dong," suruh Aliya. Aku pun menceritakan hubungan aku dan Ian yang sebenarnya masih dalam level 2 ini. Mereka antusias mendengarkan, tidak menyela sedikitpun. *** Hari sabtu akhirnya tiba. Para siswa Neptuna dengan bersemangat berangkat ke Andromeda. Kali ini memang Andromeda yang akan menjadi tuan rumah. "Nyai, ayo." Aku akan pergi bersama Zion. Mau bagaimana lagi, Sam tidak bisa mengantar. Sedari pagi dia bilang dia sudah berada di Andromeda. Devi pula sudah di sana juga. Aliya dan Mila yang sedari pagi bolos akan datang pukul sembilan tepat saat pertandingan dimulai. Ya sudah, dengan terpaksa aku berangkat bersama Zion. "Pegangan." Aku meletakkan tangan ke perut Zion. Tidak berani memeluk erat karena takut orang-orang berpikir berlebihan. Malas sekali masuk ke dalam gosip. Andromeda lumayan jauh dari Neptuna, sekitar 5 km. Aku memaki Zion saat turun karena rambutku sudah menjadi berantakan. "Seria." Kugerakkan leher ke sumber suara. Sam berjalan mendekat tanpa ekspresi.  Dia telah memakai seragam kebanggaan RedMan yang berwarna merah. Rambutnya telah dipotong pendek dan ditata ke atas dengan gel. Nah begini kan jadi sedikit lebih ganteng. Tangannya turun merapikan rambutku. Ah iya, jadi teringat akan rambutku. "Berantakan banget ya?" Dia menggeleng. "Sedikit saja." Ia merapikan lagi. Apapun itu, tapi aku percaya dia benar-benar merapikan rambutku. "Ayo masuk." Ia menarik tanganku, secara otomatis aku menarik tangan Zion. Andromeda ini besar. Kalau ditinggal oleh Sam setidaknya ada Zion. Tribun sudah ramai. Sisi kanan dipenuhi oleh warna biru muda, sementara sisi kiri oleh warna merah. Sam membawa aku ke tribun paling depan. Tempat yang dekat dengan di mana anak-anak RedMan berkumpul. "Terimakasih." Aku dan Zion duduk di tribun. Sam melengos pergi. Saat aku sibuk-sibuk mencari wajah Ian dia kembali. Memasangkan topi merah dan menyelipkan tisu ke tanganku. Sam? Kamu kenapa perhatian sekali. Ia bergabung ke kumpulannya. Tak lama sorak Sorai terdengar bising. Sekumpulan pemain Andromeda ternyata baru memasuki lapangan. Itu Ian. Matanya juga begerak kemana-mana. Ingin aku langsung berteriak, tapi takut keburu di hujat. Ini kandang mereka, kami yang orang luar tidak bisa seenak jidat. "Seria!" Seruan keras dari belakang membuat aku menoleh. Itu Devi. Ia sudah bersama Mila dan Aliya. Ketiganya memakai aksesoris biru. Bagus mereka berada di pihak musuh tapi duduk di pihak pendukung. Hadeh. "Itu." Devi mencengkram daguku, melempar ke depan. Ian di sana tengah menatap ke arahku. Dia tersenyum. Damn! Bibirku tanpa kendali langsung membalasnya. "Cieeee." Suara besar dan senggolan Zion kurang ajar sekali. "Jauh sana," usirku seraya menggeser diri ke samping. Devi mengambilnya. Duduk menjadi pembatas antara aku dan Zion. Drum terdengar ditabuh, tidak lama cheerleader tampil di lapangan. Setelah usai wasit memasuki lapangan dan permainan langsung bermulai di detik berikutnya. Ian sebagi striker langsung bergerak terus ke depan, mencari celah untuk merebut bola dari RedMan. Aku mengigit jari, ketampanannya naik drastis saat ia memasang wajah serius seperti itu.  Mataku tidak berhenti mengikuti pergerakannya. Hanya dia yang aku perhatikan, sementara itu pemain lain menurutku sama sekali tidak penting jika tidak berinteraksi dengan Ian. Suara ledekan ketiga temanku juga Zion mantul begitu saja. Aku tidak peduli, yang terpenting saat ini adalah Ian. GOL! Aku melebarkan mulut tak percaya. Neptuna berseru kegirangan sementara Andromeda berbisik-bisik kesal. Sam di sana. Dia memandang ke arahku dan melempar senyum. Bukankah tadi dia jauh dari bola, bagaimana bisa langsung mencetak gol? Apa aku melewatkan sesuatu? "Go Sammy, Go Sammy Go!" seru Mila membara. Aku memutar mata. Nih anak sebenarnya di tim siapa sih? Beberapa menit yang lalu dia menyuarakan Ian loh. Peluit terdengar. Permainan pun berlanjut, Andromeda langsung terlihat agresif menyerang. Ian sendiri semakin menggila bergerak ke setiap pemain RedMan. Sam dari arah berlawanan menggiring bola, mengindari setiap pemain Andromeda apalagi Ian selaku striker. "Ian kalahkan Sam," teriak Devi kencang. "Gak bakalan." "Al, kamu mendukung siapa sih?" tanyaku heran. "Sam lah." Jawaban yang mantap sekali. Langsung nama lagi, bukan tim. Berarti dia khusus mendukung Sam. Kenapa teman-temanku jadi aneh ya? Sam menggiring bola lebih ke depan, namun di hadang oleh Ian. Ia mengopernya ke belakang, membuat wajah Ian terlihat kesal. Dalam sekejap entah bagaimana bola telah kembali kepada Sam. Dia maju secepatnya begitupun dengan beberapa anggotanya. Mereka saling mengoper. Sangat terorganisir sekali. Oh tidak, itu hampir ke gawang lagi. Ian cepat! Dia berlari sekuat tenaga. Saat bola melesat dia berhasil menghentikannya. Sam mengusak rambutnya, membuat tatanan rapi tadi berubah menjadi acak kembali. "Ayo taruhan," ajak Zion. "Ayo," sambut Devi. "Kalau Andromeda menang kamu harus mentraktir aku. Kalau kalah, aku yang traktir kamu." "Deal," kata Zion bersama Aliya dan Mila. "Aku Sam," kata Aliya. Matanya lari cepat kesana-kemari saat aku serang. "Maksudku Neptuna. Kamu apa, Mil?" "Neptuna." "Kalau begitu kenapa kamu pakai aksesoris biru, neng?" sindirku dan dia pun tercengir lebar. "Aing juga neptuna," ujar Zion. "Maneh apa, Ser?" Ian memang terlihat hebat, tapi kalah hebat dari Sam. Aku benci mengakuinya tapi begitulah kenyataan lapangannya. Sam lincah mencari kesempatan dan mengindari benturan. "Neptuna." Devi melotot. "Kok jadi Neptuna? Kan cowok yang kamu sukai di Andromeda." "Ini bukan siapa yang aku sukai, Dev. Tapi siapa yang aku yakini memang lebih hebat." "Maksudmu Ian tidak hebat? Begitu?" bentak Devi. Aku mengerutkan alis. "Kenapa kamu jadi marah?" Ia malah membuang wajah kembali ke lapangan. Kenapa sih? "PMS," bisik Zion. Bisa jadi. Aku tidak mau peduli. Tertinggal beberapa menit membuat mataku sedikit kesulitan mencari Ian. Itu dia, terus mengejar Sam. Tapi entah bagaimana Sam selalu berhasil menjauhkan bola darinya. Tanpa peduli keringat yang telah bercucuran atau rambutnya yang berantakan dia terus maju, kaki jenjangnya terlihat sempurna sekali. GOL Lagi. Serius, Sam? Dia berbalik ke arahku bahkan saat teman-temannya mengerubungi dia. Senyum, dia melemparnya lagi. Sebahagia itu kamu ya. Eh, apa yang aku lakukan? Kenapa aku ikut tersenyum? Eror banget dah. "Apa aku bilang," kata Aliya. "Sam pasti menang." "Ini belum berakhir ya," sindir Devi. Kelihatannya mood dia menjadi buruk sekali. Peluit dua kali pendek yang diikuti panjang berbunyi. Pertandingan babak pertama selesai. Masing-masing tim beristirahat. Andromeda di pihak yang kalah pada babak ini terlihat berunding serius. RedMan pula memfokuskan diri menyesap mineral seraya berbincang biasa. Sam tepat di depanku. Ia berbalik. "Tangkap," katanya melempar satu botol minuman dingin yang baru ia dapat dari cheerleader. Aku menangkap dan melihat botolnya. Prisa buah lemon. Ya, kebetulan aku haus. Aku telah membukanya dan siap meneguk, namun Devi mengambilnya cepat. Ia menyesap banyak, alih-alih mengembalikan malah memberi kepada Mila. Perempuan ini kenapa sih? Aku kan juga haus. Sam sepertinya sadar. Ia berjalan menghampiri, menyodorkan botol bekasnya yang masih lumayan isinya. Aku menerimanya dan langsung meneguk hingga hampir tandas. Sesaat sebelum berbalik aku melihat manik Sam melesat tajam kepada Devi. Mereka ada konflik apa sih? Permainan babak dua berlanjut. Tidak peduli seberapa agresif Andromeda bermain tetap RedMan yang akhirnya menang. Ian keluar dari barisannya. Aku pun ikut bangkit. Dia pasti merasa sedih, aku harus memberinya sedikit semangat. "Ian!" Dia berhenti, melihat lewat bahunya. "Seria?" Aku memberikan senyuman dan berjalan lebih dekat. "Selamat." Aku mengulurkan tangan. "Come on, Ser. Aku kalah." "Tapi kamu sudah berhasil menyelesaikan pertandingannya." Ia tersenyum, membalas jabatanku. Entah karena tangannya yang lembut atau hal lain, dadaku terasa berdesir aneh. Desiran yang terasa nyaman di d**a dan membuat aku ingin terus bertahan dengannya. "Terimakasih." "Sama-sama." Oh iya. Aku membuka tisu yang aku pegang. "Maaf..." Aku sedikit berjinjit, mengelap keringat yang bercucuran di pelipisnya. Damn! Jantungku berdentum-dentum kencang. Sebisa mungkin aku berpura-pura tidak melihat matanya yang intens padaku. Saat aku ingin menyudahi, dia mengangkat dagunya. Memberi kode bahwa lehernya juga perlu dilap. Aku membuang tisu yang sebelumnya. Mengambil yang baru dan mengelap ke kulit lehernya. Kulitnya yang berkilau akan keringat ini entah kenapa menjadi begitu hot sekali. Apalagi ditambah oleh aroma parfumnya yang maskulin. Seria, kontrol pikiranmu! "Terimakasih." Aku tersenyum saja sebagai balasan. Kubuang tisu bekas ke tempat sampah. "Ayo duduk di kantin," ajaknya. "Ayo." Aku mengekorinya, sesaat saja karena dia akhirnya mensejajarkan langkah. "Kamu dan striker RedMan itu dekat ya?" "Hah? Ah itu ..." Dia berati benar-benar memperhatikanku. Buktinya sampai tahu bahwa Sam dekat kepadaku. "Keluarganya dan ayahku berteman. Kamu pasti tahu lah seperti apa jadinya." "I know. I have one too." "Oh ya? Siapa itu?" "Ada deh. Sekarang dia sudah berada di Amsterdam. Seperti kalian, kami juga dekat karena hubungan keluarga saja." Syukurlah dia mengerti. Aku takut dia tidak mengerti dan berujung menjauhiku karena berpikir bahwa dia tidak punya tempat lagi. "Mau ice cream?" Saat ini kami telah sampai di kantin Andromeda. Luas sekali. Sama mewahnya dengan milik Neptuna, hanya saja disini sistem pembayaran menggunakan kartu siswa. Tidak ada transaksi tunai. "Mau." "Rasa apa?" "Taro." Dia memesan dua cup. Setelah pesanan jadi ia membawanya ke salah satu meja di pojokan. "Aku kira kamu akan suka strawberry." "Sometimes." Aku menarik cup ice cream mendekat dan mengambil satu suap. "Kamu sendiri suka taro juga?" Dia mengangguk. Mataku lari sebisa mungkin saat maniknya menyerang tanpa kata. Ini sungguh menyeramkan daripada dia yang berbicara. Ia menjulurkan tangan, membuat aku langsung bertanya-tanya apa yang dia mau. Ternyata ia menarik topi yang aku kenakan dan meletakkannya ke samping. "Agar kamu tidak kepanasan." Begitu alasannya. Ya bener sih. Pakai topi di dalam ruangan begini akan membuat gerah dan lagi peluh dari keadaan panas tadi sudah berkumpul di kulit kepalaku. "Kemarin kamu bertanya soal jurusan business fashion. Apa kamu menyukainya?" "Iya. Aku sangat menyukai fashion dan disaat bersamaan bisnis adalah karier yang menjanjikan saat ini. Karena kamu dari sekolah bisnis aku kira kamu tahu sedikit akan gambarannya." "Aku benar-benar hanya tahu sedikit. Jurusan itu mengatur bisnis dalam dunia fashion dan perilaku konsumen pada trend fashion saat ini. Hanya itu yang aku tahu." "Kamu sendiri setelah ini mau melanjutkan ke jurusan apa?" "Tetap sama, manajemen bisnis. Aku ingin mendalami yang ranah internasionalnya agar lebih mudah mengembangkan usaha ke depannya. Mungkin aku akan mengambil universitas luar negri." Aku tersenyum kecut akan kesempatan kami ke depan yang akan sempit. "Kamu pintar. Aku yakin kamu bisa masuk di universitas impian kamu." "Apa yang kamu katakan. Aku tidak sepintar itu." "Rendah hati sekali sih. Padahal kamu selalu ranking paralel satu," dengusku. Senyumnya mengembang tipis. "Kalau kamu rajin belajar aku yakin kamu juga bisa seperti itu." "Sayangnya aku malas belajar." Aku mengambil satu suap ice cream saat dia tersenyum lagi. "Terkadang memang tidak ada salahnya mengikuti alur masa muda kita yang hanya ingin bersenang-senang. Tapi kamu harus berpikir akan nasib kamu 5-10 tahun ke depan jika kamu tidak memulai langkah. Baby step saja. Kamu suka fashion, mulai membaca apa-apa saja trend fashion dari masa ke masa." "I did that." "Itu bagus. Kamu bisa melanjutkan dengan langkah kecil lainnya seperti mulai belajar membuat desain." "Aku tidak pandai menggambar." "Makanya belajar, Seria. Kamu pasti bisa. Take the step. A little everyday. Soon you'll find yourself being a master of it." "Sudah aku duga. Kamu memang sangat-sangat pintar." Seperti tebakan kalian. Dia tersenyum lagi. Manis sekali. Ingin rasanya aku mencubit pipinya dan bertanya kenapa dia sering tersenyum. Apa tidak bosan ya? Mana senyumnya candu pula. Aih. Bahaya benar untuk kesehatan hati. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD