"Mana sih Sam?"
Aku menggerutu, menyusuri lorong kelas 12 yang telah sepi hingga berakhir di kelas bahasa.
Itu mereka. Sama-sama membelakangi pintu. Sam terlihat menyalin sesuatu, sedang Adelin dengan tidak sopannya duduk di sisi meja.
"Lama banget sih, Sam. Gak kasihan apa pacar kamu sudah menunggu?"
"Ad, jangan berkata seakan dia menyukaiku begitu. Dia akan sangat sedih jika mendengarnya."
"Sam! Kamu ini selalu memikirkan perasaan orang lain. Jangan begitu terus ah. Pikiran juga perasaan kamu."
"Kamu bicara apa sih?"
Aku menarik nafas. Kalau terlalu lama menguping bisa-bisa aku ketahuan. Itu akan menjadi sangat memalukan.
"Sam!"
Kuhentakkan kaki ke lantai. "Lama banget sih. Udah hampir jam lima tahu."
Kedua orang itu berbalik. Sam menutup cepat buku-bukunya, memasukkan ke dalam tas kerempengnya. "Aku duluan, Ad."
Wajahnya terlihat enggan tapi dia mengangguk. "Hati-hati."
Sam berdehem saja, segera berjalan ke arahku. "Ayo."
Aku berbalik, mendahuluinya dan menggerutu. "Kenapa lama sih? Aku kan sudah lapar."
"Maaf."
Hanya itu yang dia katakan.
"Oh iya." Aku memutar kaki, berjalan mundur ke depan. "Pertandingan Andromeda dan Neptuna sabtu ini kan?"
Dia mengangguk. "Kelihatannya kamu antusias sekali," lanjutnya. "Apa ada salah satu Andromeda yang ingin kamu temui?"
"Sok tahu!"
Aku kembali berbalik. Bisa-bisa terjatuh kalau terus berjalan mundur. Nanti malah ditertawakan Sam pula.
Tangan Sam naik mengusak-usak kepalaku. Loh dalam rangka apa nih? Aku kan tidak berbuat sesuatu yang patut mendapat apresiasi.
"Jadi, mau makan apa?"
"Green salad."
"Salad lagi." Nada suaranya terdengar malas. "Apa kamu tidak ingin mencoba yang lain?"
Aku menggeleng. "Tidak, aku sudah makan cukup banyak junk food akhir-akhir ini. Ah, sepertinya nanti aku harus olahraga."
"Padahal tubuh kamu tetap sama."
Suaranya rendah, tapi aku masih cukup mendengarnya. "Itu menurut matamu saja. Menurutku saat ini tubuhku malah sedikit gendutan."
"Mana ada begitu."
Aku tetap percaya pada pikiranku sendiri. Sam mungkin hanya berniat menghibur, bukan mengatakan kebenaran yang ada.
"Ya sudah kalau kamu tidak percaya."
Parkiran benar-benar sepi. Hanya tersisa motor Sam dan mobil Adelin saja.
"Kenapa gak bawa mobil sih, Sam? Begini ribet tahu," kataku seraya memanjat naik ke motor ninjanya.
Ia memiringkan leher ke belakang. Hah! Helaan kasar keluar dari bibirnya. "Kenapa belum kamu ganti sih roknya?" Ia melepaskan kancing seragamnya dalam ekspresi gusar. Akhirnya tersisa kaos hitam saja di badannya tersebut.
"Nih tutupi paha kamu itu."
Aku menerimanya, sedikit menghirup lebih dulu. Takut-takut tercium bau keringat yang tidak mengenakkan eh ternyata tidak sama sekali. Sedikit aroma nikotin dan woody. Gimana sih, perasaan kemarin parfumnya yang aroma vanilla. Dia benar-benar tidak konsisten sekali.
Seragam itu besar, saat aku menebarnya tentu saja membuat pahaku tertutup sempurna.
Ia kemudian menyalakan mesin motor. Hari ini dia tidak membawa helmnya, jadi saat motor melaju aku bisa melihat figurnya yang serius dari belakang.
Aku melihat ke samping, melihat bangunan-bangunan yang kami lalui dengan cepat. Sepoi angin menebarkan rambutku. Risih sekali dibuatnya. Saat turun pasti rambutku akan kusut, namun dingin yang dibawa angin membuat kekesalanku sedikit berkurang.
"Sam.." Aku memajukan wajah ke bahunya.
"Apa?" sahutnya.
"Berhenti di restauran ya. Aku lapar banget loh."
Dia tidak membalas, tapi lehernya mulai bergerak ke kanan dan kiri. Mencari restauran mana yang mungkin membuatnya terkesan untuk berhenti.
Sebuah restauran besar menjadi pemberhentian kami. Restauran dengan tingkat yang sangat tinggi. Saat kami masuk, kami memilih outdoor di lantai tiga. Dari sini kami bisa melihat pemandangan gedung-gedung di bawah sana yang beragam bentuk, tinggi, hingga warnanya.
Langit biru yang begitu cerah. Awan-awan yang berarakan dan angin sepoi adalah background yang sangat indah.
"Diam."
Aku memindahkan pandangan dari ujung langit kepadanya. Dia tengah mengarahkan ponsel padaku.
Cekrek
"Sam! Aku belum siap. Sini!"
Aku melempar tangan padanya. Pasti hasil fotonya jelek.
Ia memberikan ponselnya. Hasil tangkapannya cantik, antara background dan warna seragamku sangat serasi. Namun ekspresi aku yang terkesan melongo itu jelek sekali.
"Jangan dihapus."
Begitu katanya. Ya sudah sih. Aku menggeser gambar. Ini foto yang sebelumnya. "Nah ini baru bagus."
Foto candid aku yang tengah menatap ke langit cerah. Tanpa pikir panjang aku mengirimnya ke ponselku. Lumayan, aku bisa update i********:.
Eh
Masih saja ramai perempuan di barisan chat-nya. Tiga hingga lima dalam setiap chat, bahkan ada pesan yang sudah dua puluh kali namun Sam tidak membukanya. Dia ini jual mahal sekali. Dan perempuan-perempuan ini, kenapa kelihatannya tertarik banget dengan Sam?
Apa yang spesialnya dari dia?
Apa tidak ada cowok lain yang lebih bagus untuk dikejar?
Aneh!
"Sam, kok banyak sih perempuan yang mengirimi kamu pesan?"
Dia mengedikkan bahu.
Aku membuka salah satunya. Kali ini bukan yang bernama Aisha, tapi perempuan yang telah dua puluh kali mengirim pesan pada Sam tanpa mendapatkan balasan sedikitpun.
Dari mulai berkenalan hingga mengajak jalan. Gencar banget. Dia pasti suka kepada Sam. Dan sudah 100 persen bahwa itu benar. Terlihat jelas dari bahasa yang ia gunakan.
"Luna," gumamku.
Wajahnya cantik, dia mengenakan tank top dan menggerai rambut panjangnya yang sangat hitam. Aku mengarahkan layar pada Sam.
"Yakin nih kamu gak mau?"
Dia menggeleng. Tatapannya datar pula, tidak ada binar-binar suka atau terpesona. Padahal ini sexy loh. Jangan-jangan dia homo pula.
"Tipe kamu yang seperti apa sih?" Aku mengembalikan ponselnya dan melipat tangan di depan d**a.
"Tipe?" Ia mengerutkan dahi, tampak menggali apa yang ia inginkan dulu baru berkata, "mungkin seperti kamu."
"Aku?"
Dia mengangguk.
"Memangnya apa yang membedakan aku dan mereka?"
"Simpel saja." Ia ikut melipat tangan sementara matanya melurus tepat padaku. "Aku menyukai kamu."
"Itu bedanya?"
"Iya."
"Kenapa kamu menyukai aku? Kita kan tidak pernah berinteraksi dengan intens sebelum ini?"
"Ciuman itu memangnya bukan interaksi yang intens?"
Aku melotot. "Aku cuma iseng saat itu. Aku tidak benar-benar ingin mencium kamu."
Suara tegasku malah membuat bibirnya begerser menjadi tawa kecil. Apaan sih. Ngeselin banget.
"I know. Tapi itu membuat aku semakin menyukai kamu."
Gosh, berarti harusnya kemarin aku tidak menciumnya. Ya, itu yang paling benar. Sangat-sangat benar.
"Semakin? Berati sebelum itu juga kamu sudah menyukai aku kan? Kenapa?"
Bahunya bergedik pelan. "Entahlah. Aku juga tidak tahu kenapa aku menyukai kamu."
"Aneh."
"Kamu sendiri? Kenapa tidak menyukai aku?"
"Segala ditanya kenapa, kamu lihat dong diri kamu itu seperti apa? Acak-acakan dan tidak pernah terurus. Perempuan mana yang mau punya pasangan amburadul seperti kamu? Gak ada, Sam!"
"That a little bit hurt," katanya.
Dia manggut-manggut kemudian. "But ok."
Mungkin dia tengah mencoba mengerti akan pendapatku. Itu bagus. Semoga berbuah kesadaran dan membuat dia memperbaiki diri.
"Lagian, kamu memangnya tidak risih dengan keadaan kamu saat ini? Seragam acak-acakan, rambut juga begitu, belum lagi wajah semuanya penuh jerawat. Coba kamu rajin merawat diri, pakai facial wash atau maskeran. Pasti sedikit lebih baik."
Huh
Kan aku jadi ikutan kesal.
Makanan beberapa menit setelahnya tersaji. Aku dan Sam langsung sama-sama menikmati. Melupakan pembicaraan kami sebelumnya yang sedikit sensitif sebenarnya.
Aku memakan salad sedangkan dia menikmati beragam cake yang kelihatannya sangat enak. Aku akui porsi makannya memang sangat banyak. Bahkan rasanya malu membawa Sam ke restaurant. Orang-orang aku lihat hanya makan sedikit sedangkan dia seperti orang yang kelaparan.
"Sam! Kamu sudah makan banyak loh."
Aku akhirnya memperingatinya. "Perut kamu bisa meledak nanti kalau diteruskan."
Dia mengambil suapan terakhir dan menggeser piringnya menjauh.
"Seria!"
Suara ceria nan familiar. Oh God, please jangan dia.
"Lama tidak bertemu ya."
Nah bener. Itu Sinta dan dua dayangnya. Salah satu tim yang tidak menyukaiku saat di SMP.
"Eh, siapa?" Mata Sinta jatuh pada Sam. "Pacar kamu?
"Bukan," kataku cepat. "Dia anak sahabat papa."
"So, kenapa kalian makan berdua?"
Aku meletakkan sendok dan garpuku. Rese banget nih anak. Bikin mood makan jadi hancur saja.
"Kenapa?"
Kuhujam tajam matanya. "Memangnya ada larangan makan bersama dia? Apa harus pacaran baru bisa makan berdua? Darimana kamu mempelajari pengertian bodoh semacam itu? Makanya kalau sekolah jangan tanggung-tanggung, makan tuh sekalian kursi dan mejanya biar pintar."
"Loh kok marah sih? Aku kan cuma bertanya. Lagian siapa juga yang bakalan yakin dia pacar kamu."
Sudah tahu begitu kenapa tetap ditanya, Sinta?! Bego banget sih kamu.
"Tunggu-tunggu, aku sepertinya tidak asing dengan muka kamu. Eum..." Wajah mungilnya tampak berpikir keras. "Anak RedMan kan?"
Sam mengangguk.
Binar berkilat jelas di manik Sinta. "Sam Dagantara? Iya kan? OMG."
Secara terburu-buru ia mengeluarkan ponsel. "Minta nomor hpnya dong."
Sam menerimanya meskipun malas terlintas di maniknya. Ia mengetikkan nomor lalu mengembalikan pada Sinta.
Perempuan itu belum beranjak, dia mengetikkan sesuatu di ponselnya. Ponsel Sam kemudian menyala.
"Itu nomorku, save ya."
Ia meraih ponselnya. Menyimpan nomor Sinta. Aku bisa melihat mata besar Sinta yang memeriksa perbuatan Sam. Takut banget nomornya tidak disimpan.
"Sudah."
"Terimakasih, Sam. Seria, aku pergi ya. Dadah."
Ketiganya berbalik pergi. Atmosfir jadi serasa bersih kembali. Aku meraih sendok dan melanjutkan makan.
Sam pula terlihat tenggelam dalam ponselnya.
***
"Besok jangan lupa datang."
Pesan dari Ian.
Aku secara impulsif tersenyum.
"Oke."
Kecanggungan yang ada di antara kami saat ini telah berkurang banyak. Ia tanpa segan bertanya apa aku sudah makan. Aku pun bertanya yang sebaliknya tanpa segan.
Jawabannya tentu sudah. Dia makan dengan teratur di asrama. Sedang aku masih terkadang lupa jika perut belum beteriak.
"Nona, teman-teman anda sudah di bawah."
Ah iya. Hampir saja aku lupa bahwa malam ini aku jalan-jalan bersama sahabatku. Hitung-hitung untuk membuang suntuk.
Aku beranjak, mengambil bucket hat. Ah iya, entah sudah berapa bucket hat miliku yang jatuh ke tangan Sam. Mana tidak dia kembalikan lagi. Cih, tidak tahu terimakasih banget.
Rencananya kami akan duduk di cafe. Letaknya tidak jauh dari Neptuna jadi saat aku minta izin Sam dengan segera mengizinkan.
"Tumben kamu pakai pakaian tertutup begini. Insaf?" ledek Devi.
Aku melihat ke bawah. Ya aku memang malam ini mengenakan hoodie hitam kebesaran dan skinny jeans robek. Style yang jarang sekali. Hanya sedikit kulit yang aku ekspos. Mungkin itu yang membuat Devi mengatakan aku insaf.
"Lagi pengen aja."
Aku menutup pintu.
"Masa?"
Suara menyebalkan Aliya terdengar di belakang. "Jangan bilang kalau Sam yang mengarahkan cara berpakaian kamu?"
Aliya ini kenapa bisa tahu sih? Aku heran. Kemarin dia juga tahu bahwa Sam sebenarnya lembut. Apa dia pernah mengenal Sam sebelum ini? Dengan sangat dekat dan intens mungkin. Entahlah.
"Ogah banget aku mengikuti perintahnya."
"Woi, besok mau nonton RedMan gak?" tanya Mila.
"Ayo," ajakku langsung. "Ian akan main loh."
Devi memalingkan wajahnya. "Ian?"
Aku mengangguk. "RedMan kan mau melawan Andromeda. Ian salah satu pemain dari Andromeda."
"Serius? Demi apa? Kok aku tidak tahu tuh anak bisa main futsal?" Devi heboh sendiri. Ia terlihat meraih ponsel. Barangkali ingin bertanya langsung pada Ian.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Aliya.
"Ian yang memberitahu."
"Hoho, Seria." Kami sontak menggeram akan suara besar Mila. "Kamu diam-diam selingkuh ya?"
"Siapa yang selingkuh? Sembarangan banget mulut kamu."
"Jadi apa?" todong Devi. "Kamu diam-diam berkirim pesan sama Ian di belakang Sam. Tapi bagus sih. Aku dukung kamu kalau sama Ian. Semoga cepat-cepat jadian, nikah dan punya anak selusin. Amin."
"Lebay banget sih, Dev!" Segala sampai menikah. Ini saja kedepannya belum tahu bagaimana. Entah naik level atau malah stuck di friend zone.
"Kita sih setuju-setuju aja. Toh Ian sama kamu kelihatannya pas," ujar Mila. "Tapi kalau ketahuan Sam bagimana?"
"Ya jangan sampai ketahuan lah, bego," sambar Aliya.
"Bener," setuju Devi. "Kalau gak ada yang tahu ya aman-aman aja. Ah, pokoknya aku dukung kalian berdua titik."
Ya ya terserah kamu, Dev. Dukungan kamu juga gak akan berguna jika Ian ternyata tidak ada perasaan. Tapi lumayan lah. Penyemangat untuk lebih optimis.
***