"Sam."
Dia yang tengah tergelak itu pun memalingkan wajah. Tawa di bibirnya pelan-pelan menghilang, berganti menjadi ekspresi datar.
"Apa?"
Aku menarik tangannya. Memaksa kakinya untuk beranjak. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mempercepat semuanya.
Aku membawanya jauh dari kantin, menuju belakang gudang sekolah yang sepi. Cepat-cepat aku menarik tangan begitu kami sampai. Dia menyandar punggung pada dinding dan menarik alis tebalnya.
"Itu.." Mataku berlari kesana-kemari. Matanya begitu tajam. Aku takut sekali dia akan mengunus begitu kalimat yang aku katakan meluncur sempurna.
Jangan takut Seria. Kamu hanya perlu mengatakannya dengan lembut. Oke, tarik nafas dulu.
"Bisakah kita menyembunyikan pertunangan yang akan diadakan malam minggu ini?"
Aku menaikkan pandangan, berharap dia luluh akan kekhwatiran yang ada di mataku.
"Apa kamu malu?"
"Bukan begitu." Entah kenapa aku membantah cepat. Padahal memang itu yang aku rasakan. Entahlah, melihat maniknya meredup membuat aku merasa begitu bersalah. Tidak-tidak, aku tidak boleh begitu. Aku tidak menyukainya. Jangan plin-plan, katakan sejujurnya. Ya, begitu seharusnya.
"Jadi?"
Tetap saja bibirku terlalu kaku untuk bergerak. Kepalaku pun akhirnya hanya bisa tertunduk. Pasrah akan jawaban Sam yang mungkin berisi kemarahan.
"Aku mengerti."
Aku merasakan kelembutan mengusak puncak kepalaku. Itu tangan Sam. Dia tidak marah? Apakah ini nyata? Dia tidak masalah jika aku menyembunyikan namanya? Apakah dia serius?
Daguku terangkat saat tangannya turun.
"Aku akan meminta acara ini khsus untuk keluarga saja. Mungkin Arkan tidak akan setuju, tapi aku akan mencoba."
Bibirnya tersenyum tipis. Senyum hambar yang tidak bisa aku rasakan ketulusannya sedikitpun.
"Kembalilah ke kelas. Sebentar lagi mungkin bel akan berbunyi."
Dia berbalik pergi. Aku masih berdiri di tempat, menonton punggung tegapnya menghilang. Kasihan juga Sam itu. Tidak ada yang mencintainya tulus. Salah satunya adalah aku. Tapi kan dia punya Aisha dan Adelin. Mungkin diantara dua perempuan itu ada yang menyukainya secara tulus.
Maaf, Sam. Aku tidak bisa masuk menjadi salah satunya. Aku tidak menyukaimu. Lebih baik dari sekarang aku jujur daripada kamu akan patah di kemudian hari.
***
"Dia setuju?"
Aku membenarkan pertanyaan Mila.
"Apa aku bilang," sambung Aliya dengan kemenangan nyata lewat senyum di bibirnya. "Sam itu mudah dibujuk."
"Kamu benar," kataku baru setuju. "Aku kira dia akan marah karena merasa direndahkan. Eh siapa sangka malah setuju begitu saja. Syukurlah, aku jadi lega sekarang."
"Jelas lah dia tidak menyukai kamu."
Hoho, kenapa perkataan Devi membuat aku sedikit kesal ya?
"Adelin Setiaha." lanjut Devi. "Dia satu-satunya yang pernah dirumorkan sebagai perempuan yang ditaksir oleh Sam. Dia kan suka tipe perempuan tegas begitu. Kalau kamu mah lewat doang, Ser."
"Masa sih?" tanyaku tidak yakin. Tipe Sam perempuan tegas? Apa iya? Jangan-jangan Devi mengarang bebas.
"Dengar-dengar sih begitu."
Nah kan! Dia saja belum yakin akan kalimatnya.
"Tapi kan sudah terbukti. Sesekali Sam akan mengantar Adelin pulang."
"Kapan?" Rasa penasaran sungguh semakin menggerogotiku. Pasalnya sebelum ini aku tidak pernah menangkap Sam dan Adelin bersama.
"Terkahir sih awal kelas 12. Kalau sekarang aku tidak tahu."
"Beralih haluan kali," timpal Mila. "Kan Seria lebih cantik daripada Adelin."
"Sudah aku katakan tadi bukan? Sam itu lebih suka perempuan tegas, Mila!"
Ya biarkan saja keduanya berdebat. Aku tidak mau ikut campur. Jika memang Sam menyukai Adelin ikut akan sangat-sangat bagus.
Mataku memendar ke meja kantin paling sudut. Masih kosong. Dimana dia? Padahal bel sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu.
Astaga, kenapa aku jadi memikirkannya. Nih kepala suka banget bertindak tanpa persetujuan.
Riuh rendah mengambil perhatian kami. Itu anak-anak RedMan. Tunggu, pipi Sam kenapa memerah begitu? Di bawah hidungnya pula ada bercak darah.
Dia mimisan kah?
Seragamnya lagi, berantakan seperti habis perang. Jangan-jangan dia berkelahi.
"Pergi!" Dia mengusir pemilik meja di tengah kantin.
Aku bisa melihat wajah itu menjadi pucat pasi. Bersama tremor mereka cepat-cepat berdiri, membiarkan mejanya diambil alih oleh RedMan.
"Tumben dia berantem lagi," ucap Aliya. "Aku kira sudah insaf."
"Namanya juga brandal. Insafnya ya sesaat saja," celetuk Devi. Cuma perasaan aku saja atau sebenarnya Devi memang tidak menyukai Sam ya?
"Tahu gak sih?" Mila menarik semua atensi kami. Dia memajukan sedikit wajahnya dan mulai berkata pelan. "Agen sosialisasi dia kan memang buruk. Wajar saja kalau dia selalu seperti itu."
"Yee semua orang juga udah tahu itu kali," sambar Devi.
"Agen sosialisasi apaan?" Aku tidak mengerti sama sekali. "Maksud kalian didikan orang tuanya buruk?"
"Loh kamu tidak tahu." Aku menyusut dibawah tatapan tidak percaya Aliya.
"Nih denger ya, Ser. Sam itu sejak kecil tinggal bersama pamannya. Nah pamannya itu seorang mafia. Jadi alih-alih agen sosialisasi pertamanya orang tua, kalau dia justru malah pamannya. Peer group-nya juga anak-anak mafia. Kekerasan itu dipelajari dia sejak kecil, tapi untung sih penyimpangan dia sampai hari ini belum sampai pembunuhan."
"Tapi radikalisme, ganja, nonkonformitas, gak ada untung-untungnya sama sekali," sosor Devi.
Aliya tertegun sesaat sembari merapikan poninya. "Ngomong-ngomong soal nonkonformitas, aku jadi teringat akan tugas sosiologi kemarin. Kalian sudah siap?"
Sosiologi? Rasanya aku tidak pernah mendengar ada tugas untuk mata pelajaran itu.
"Memang ada ya?" tanya Mila mewakili.
Devi menggebrak meja. "Ada, g****k. Astaga, mana aku belum kerjain sama sekali lagi."
Tunggu-tunggu, sepertinya aku sudah ingat. "Tugas objektif yang dua puluh soal itu?" tembakku.
"Yak benar. Selamat anda mendapatkan dua juta rupiah dipotong pajak." Aliya berbalik kemudian. "Kuy gerak. Cari contekan kita."
Aku meraih ponsel dan dompetku, buru-buru menggeser kursi agar tidak ketinggalan dengan yang lain.
"Woi siapa yang sudah siap tugas sosiologi?" seruan Devi tak lama berujung menjadi keributan di kelas.
"Devi, dodol. Kenapa maneh pakai ngingetin segala sih. Dag dig jadinya hatiku." Zion si tampan tanpa akhlak langsung berang.
"Tahu tuh," sahut Kevin. "Merusak ketenangan batin gue aja."
Tentu Devi tidak mau disalahkan. "Yee maneh g****k semua. Sudah bagus diingatkan eh malah ngomel. Cucungah!"
Zion meletakkan tangannya di depan bibir Devi. "Hush diam beban orang tua. Jangan merusak gendang telinga sebangsa setanah air dengan suara sumbang kamu itu."
Zion mendekati meja Nayala. Ya siapa lagi? Hanya perempuan itu yang dipastikan telah selesai mengerjakan tugas sosiologi. Hoho, tapi membujuk Nayala itu bagaikan menunggu apel berbuah semangka loh.
Aku kembali ke kursi, mengeluarkan buku cetak sosiologi dan buku tugas. Semoga saja waktu masih cukup untuk mengerjakan. Dapat belasan soal saja sudah lumayan.
Eh
Aku membuka lembar buku hingga tulisan terakhir. Lalu kembali lagi ke awal untuk memastikan.
"Alhamdulillah."
Aku mencium bukuku. Semua mata secara otomatis menggujammku.
"Kenapa sih?" tanya Mila.
"Sam sudah mengerjakan tugas sosologiku. Aku selamat, Mil! Selamat dari amukan Bu Tigor."
"SERIUS?"
Aku melotot. "Gak usah teriak juga kali, Mil."
"Mana?" Zion merebut bukuku, sesaat dia membaca jawabannya.
"Sok pinter kamu, kutu air," ejek Devi. "Sini aku lihat."
"No! Aku duluan."
Buku tersebut pun dilarikan oleh Zion. Dalam hitungan detik sudah dikerumuni oleh yang lain.
"Zion! Pokoknya kamu aku hajar kalau bukunya rusak," teriakku memberi ancaman.
Manusia-manusia itu terlalu banyak. Beberapa sangat agresif. Aku takut buku tersebut yang merupakan targetnya akan terluka.
Ngomong-ngomong, kapan Sam mengerjakannya ya?
***
"Gila! Sam si jahanamers ternyata punya otak secemerlang masa depanku."
Aku mendengus mendengar kalimat Zion. "Yee kamu pikir dia itu apaan sampai-sampai tidak punya otak?"
"Omnivora," ejek Devi.
"Maneh jangan sok berani disini. Noh ajak one by one." Zion melempar dagu ke parkiran. Sam tengah bersandar di bumper mobil seraya berbincang-bincang dengan anak RedMan . Wajahnya masih terlihat seperti kriminal. Ada bekas pukulan di pipi, rahang, bawah hidung hingga bibir. Namun dia dengan santai tertawa seolah tidak merasakan sakit sedikitpun. Jangan bilang kalau dia masokis ya?
"Hayo ngelihatin siapa?"
"KEVIN!" Aku tanpa segan meninju lengannya yang sudah terbalut hoodie.
Kevin mengelus sikunya. "Apa salah dan dosaku, Gusti?"
"Halah baperan lo." Devi mendorong lengannya. Dengan perawakannya yang kurus maka diapun sedikit oleng.
"Woi badak. Aku laporin juga ya kamu ke Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika. Orang ganteng begini dianiaya, penjara 24 tahun."
"Maneh ngelantur banget sih. Pasti kebanyakan nyemil pelet ikan. Hayuk pulang." Zion menarik lengan Kevin menjauh. "Seria, maneh jangan kemana-mana ya nanti malam. Aing mau numpang wifian sama makan malam."
Aku geleng-geleng kepala. Orang gila. Bisa-bisanya punya otak seperti itu. Sia-sia deh ketampanannya.
"Boleh juga ide si beleguk. Nanti malam kita ngumpul di rumah Seria," kata Devi.
"Oke, kita maskeran bareng," tambah Aliya.
"Eh eh.."
"Apaan sih, Mil?" Mulutku terbuka saat mengikuti arah pandang Mila.
Itu Adelin. Dia memanjat naik ke motor Kawasaki Ninja 400 berwarna hitam. Pengemudinya adalah Sam. Dia baru memasangkan helm saat tangan Adelin melingkar ke perutnya.
Tunggu...
Sejak kapan adegan itu terjadi?
"Sudah jelek, playboy lagi," sungut Devi. "Pantas saja tidak ada yang mau mencintainya."
"Kamu ini," tegur Mila. "Jahat banget sih."
"Kamu kenapa jadi membela dia? Suka ya?"
Tuduhan Devi membuat Mila merengut. "Gila kamu! Mana mungkin aku selingkuh dari Om Lee dong Wook."
"Apa sih, somplak? Gak jelas!" Devi meninggalkan kami. "Aku pulang. Ciao!"
"Ser, kamu pulang sama siapa?"
Loh iya. Aku baru sadar. Untung saja Mila mengingatkan.
"Sam tidak mungkin kembali ke sekolah kan?"
Mila dan Aliya dengan kompak menggeleng.
"Ya udah deh, aku minta jemput supir."
"Kamu menunggu sama Mila ya. Aku mau pulang."
"Oke."
Aliya meninggalkan kami ke parkiran, sementara itu aku dan Mila pergi ke halte.
"Kenapa sih kamu tidak membawa mobil saja?" tanya Mila. Kakinya mengedik-ngedik di bawah sana. Aku pun mengikutinya, hitung-hitung untuk menghilangkan kebosanan.
"Papa tuh. Dia tidak memberi izin aku membawa mobil sendiri. Motto dia, kalau ada supir kenapa aku harus repot-repot mengemudi."
"Tapi kamu kan tetap diam-diam mengemudi di malam hari. Apa dia tidak marah?"
"Ceramah saja sih."
"Terus..kenapa kamu tidak diam-diam membawa mobil ke sekolah?"
"Malas," kataku seraya tercengir. "Mungkin karena aku sudah terbiasa pergi bersama supir selama bertahun-tahun. Jadi aku enggan ribet-ribet mengemudi kecuali jika aku mood saja."
Rambut coklatnya begerak seiring kepalanya yang manggut-manggut. "Eh, Ser. Kamu benar-benar tidak menyukai Sam kan?"
Aku menggeleng tanpa berpikir.
"Apa kamu sudah mengatakannya kepada Sam?"
"Sekali, aku pernah mengatakan secara tersirat padanya. Aku bertanya apa dia menerima perjodohan ini."
"Lalu, apa responnya?"
Aku bersandar pada punggung bangku. "Aku sudah mencintaimu. Begitu katanya."
"Dia mengatakan itu?"
"Iya."
"Kalau begitu aku rasa Devi benar. Dia playboy. Kalau dia sudah mencintaimu kenapa dia malah mengantar pulang Adelin?"
"Terserah dia, Mil. Aku malah senang jika dia menyukai Adelin. Jadi aku akan semakin mudah untuk meninggalkannya."
"Maaf ya, Ser. Tapi aku rasa kamu ini bodoh. Kalau memang tidak suka harusnya dari awal kamu menolak pertunangan."
"Mila! Papaku itu otoriter. Dia anti dibantah. Tidak pernah mau mendengarkan pendapat orang lain."
Mau tidak mau aku akhirnya menekuk wajah mengingat seperti apa sifat papa.
"Jadi, apa rencanamu?"
"Apa ya?" Aku masih belum punya rencana secara mantap. Tapi..."Ya pokoknya tidak menikah dengan Sam lah. Aku tidak mencintainya. Aku tidak mungkin membangun hubungan sakral tanpa cinta."
"Tapi itu kan masih beberapa tahun lagi. Bagaimana jika kamu akhirnya jatuh cinta pada Sam?"
"Aku rasa tidak mungkin."
"Kenapa tidak?"
"Sebenarnya..." Aku melirik kanan dan kiri, memastikan aman lebih dulu sebelum melanjutkan kalimat. "Aku menyukai Ian."
"Ian Hirataga? Sepupunya Devi?"
Aku mengangguk, seulas senyum tanpa diminta terasa hadir di bibirku. "Tidakkah kamu lihat, Mil? Dia seperti pangeran. Tubuhnya tegap, bahunya lebar, dia memiliki tawa yang manis lagi. Sempurna sekali. Tampan, memiliki aura pemimpin dan ramah. Apalagi jika dalam balutan jas. Aku seperti melihat seorang CEO."
"Ohoo." Senyum usil Mila hadir. "Pantas saja kemarin kamu terus menatap dia ya?"
Aku berkedip. "Kamu menyadari itu?"
"Iya lah. Aku kan tidak buta."
Akhirnya kami terus berbincang-bincang tentang Ian. Cowok itu tidak punya cukup gosip. Semua pendidikannya di lakukan di dalam asrama. Dia jarang bergabung pada dunia luar yang hingar bingar. Tidak heran sifatnya sedikitpun tidak tercemar oleh sifat remaja pada umumnya yang hanya tahu tentang kesenangan.
"Seria.."
Suara lembut itu terdengar ragu-ragu. Kami pun menegakkan kepala.
Mataku membulat. "Ian?"
Itu benar-benar dia. Berdiri dalam balutan celana jeans hitam panjang dan turtleneck moca yang dibalut oleh jaket kulit berwarna coklat. Kulit putihnya tampak bersinar terang memenangkan penampilan keseluruhan. Dia benar-benar pria metroseksual yang mengagumkan.
Tidak hanya cara berpakaian saja, tapi dia juga memperhatikan tubuhnya. Sedikitpun tidak ada bulu kasar yang menganggu mata di sekitar dagunya atau kumis di atas bibir tipisnya nan merah tersebut. Dia tampil maksimal. Sungguh sosok pangeran nyata bagiku.
"Aku mencari Devi." Kepalanya celingukan untuk melihat ke dalam pagar. "Tapi sepertinya di dalam sudah sepi."
"Dia sudah pulang tiga puluh menit yang lalu dengan mobilnya sendiri."
Manik biru tersebut melebar akan pernyataan Mila. "Tapi dia bilang dia tidak membawa mobil."
Kami saling pandang. Apa Devi mengerjai Ian?
"Baiklah, kalau begitu aku pulang." Senyumnya mengembang. "Terimakasih."
"Formal banget sih," ejek Mila. "Santai saja kali. Anyway, kamu mau pulang kan? Nih.."
Aku terkejut karena Mila menyenggol lenganku. "Tolong antarin Seria dong. Supirnya dari tadi tidak datang."
"Tidak usah." Cepat-cepat aku menolak. Meskipun di kepala sudah terbayang momen bersama Ian, tapi aku tidak boleh egois. Ian mungkin punya keperluan lain.
"Ayo." Suaranya ringan, menunjukkan bahwa sedikitpun dia tidak keberatan dengan permintaan Mila.
Aku kini di ambang kebingungan. Tetap menyusahkan Ian atau pura-pura tidak mau?
"Sana-sana." Mila mendorong aku. "Daripada kamu jamuran disini. Gih mumpung Ian mau."
"Kamu bagaimana?"
"Santai." Mila mengibaskan rambut coklatnya. "Om Lee sudah otw."
Owalah perempuan halu ini.
"Ayo." Ian berbalik dan mulai mengambil langkah. Aku masih ragu, tapi dorongan Mila yang kedua kali membuat aku yakin.
Lagian kan cuma nganterin pulang. Kenapa aku selebay ini sih?!