"Lihat apa yang aku dapat."
Saat aku masuk Aera sudah memutarkan tubuh. Menunjukkan betapa cantiknya gaun brokat model mermaid yang membungkus tubuhnya.
"Dari Arkan?"
"Tentu saja. Dia kan tunanganku," sambutannya bangga.
Aera duduk kembali di sofa dan menyilangkan kaki. Tatapan remeh ia berikan padaku. "Bagaimana denganmu? Malam minggu tinggal beberapa hari saja. Apa Sam sudah membelikanmu gaun?"
"Belum."
Sebenarnya aku sedikit iri. Arkan sepertinya peduli sekali kepada Aera. Padahal kalau dilihat saksama dia tidak menyukai Aera. Aneh bukan?
"Tunangan seperti apa dia itu?" Nadanya memang simpati, tapi percayalah dibalik itu dia hanya ingin merendahkan aku.
"Entahlah." Aku beranjak. Lebih baik demikian daripada harus mendengar Aera terus membanggakan tunangannya.
Di kamar aku langsung melemparkan tubuh ke kasur. Jam pula sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tadi aku memang terlambat pulang karena nongkrong bersama sahabatku di cafe. Untungnya Sam mengizinkan.
Hish, hidup semakin ribet saja semenjak pertunangan. Aku harus melaporkan semua kegiatan pada Si Sam. Padahal tidak ada manfaatnya.
"Sam, temani aku membeli gaun untuk pesta pertunangan yuk," kataku melalui pesan suara.
Pesan terbaca. Entah kenapa aku mengigit kuku cemas. Takut Sam enggan menemani karena kesibukannya sendiri.
"Oke."
Begitu balasnya.
Aku menghela lega. Langsung pergi mandi dan mengenakan pakaian. Simpel saja. Sweater biru muda yang kebesaran dan pleated skirt putih. Oh iya bucket hat. Sam tidak boleh terlihat oleh orang lain. Aku tidak siap untuk mendengarkan komentar aneh mereka.
Sembari menunggu di sofa depan aku pun bekirim pesan pada Mila.
Tring
Satu pesan dari Ian. Loh ada apa?
Dia mengirimkan poster pertandingan Andromeda dan Neptuna. "Kamu datang?" tanyanya.
Aku tidak terlalu suka menonton pertandingan sepak bola, namun karena Sam adalah satu pemainnya aku tidak yakin tidak datang. Bisa saja nanti dia memaksa atau malah teman-temanku yang mengajak ya kan?
"Sepertinya begitu."
Akhirnya aku membalas seperti itu. Tidak mengatakan resmi iya, tapi juga tidak menolak.
Setelahnya Ian tidak membalas lagi. Ya, apalagi yang aku harapkan? Tidak mungkin dia akan memaksa aku datang. Aku tidak sepenting itu untuknya.
Tin Tin
Klakson mobil membuat aku terperanjat. Buru-buru aku mengemasi tas tali dan menyandangnya keluar.
Sam baru turun saat aku sampai di teras. Ia langsung membukakan pintu.
"Kemana?" tanyanya begitu kami sudah sama-sama berada di dalam mobil.
"Butik Courtey."
"Apa kita perlu membeli juga cincinnya malam ini?"
"Terserahmu."
Telapak kiri Sam mengadah sementara matanya pada jalanan yang ramai. "Tanganmu."
"Untuk?"
Karena tidak mau berdebat lanjut dia pun mengambil tanganku, tepatnya fokus pada jari manisku. Oh dia mengukurnya untuk membeli cincin kah? Memangnya bisa? Nanti malah melenceng pula.
Setelah merasa yakin dia melepaskan tanganku. Pembicaraan diantara kami terputus begitu saja. Keheningan berkuasa hingga mobil berhenti di depan butik courtey.
"Sam, tunggu." Ia yang hendak mendorong pintu pun menoleh. Situasi itu aku manfaatkan untuk memasangkan bucket hat padanya.
Dia tidak protes sama sekali. Langsung mendorong pintu dan berputar untuk membukakan pintu sebelah.
Eh, aku menoleh ke belakang. Kakiku yang hendak melangkah terhalangi oleh dua tangannya yang melingkari perutku.
"Rokmu terlalu pendek," katanya begitu selesai mengingkatkan kemejanya ke pinggangku.
Aku memeriksa rokku. "Biasanya juga sependek ini."
Dengan begitu aku pun berusaha melepaskan kemeja Sam, tapi dia lebih cepat menarik tanganku untuk masuk ke dalam butik. Yah kalau sudah begitu aku bisa apa? Mungkin nanti saat dia lengah akan aku lepaskan.
Tapi sepertinya tidak ada kesempatan. Setiap aku berniat melepaskan, tangannya secepat kilat kembali mengikatkan kemeja tersebut.
"Lepaskan sekali lagi." Nada rendahnya terdengar mengancam tepat di telingaku.
Damn! Jantungku langsung dangdutan setelah dia kembali berdiri tegap. Main sembarangan memeluk perutku. Dia pikir tidak ada efek sampingnya apa? Mana nafas hangatnya saat berbicara berhembus jelas di telingaku pula. Sam memang tidak tahu bahaya dari perbuatannya tersebut.
Aku mulai memilih guan, mengabaikan kemeja yang meresahkan di pinggang.
"Jangan itu," larangnya saat tanganku mengambil gaun tanpa punggung.
"Kenapa sih, Sam? Ini kan fashion," ujarku mencoba menentang pemikirannya.
Dia sepertinya tetap tidak setuju, terbukti dengan tangannya yang langsung merebut gaun itu dan menggantung kembali pada tempatnya.
Dengan kesal aku terpaksa mencari yang lain. Kali ini aku tertarik pada gaun mermaid dengan belahan hingga sebatas paha. Pasti akan sangat sexy jika dipakai.
Aku melotot saat tangan Sam merebut gaun tersebut. Lagi, dia mengembalikan ke tempatnya.
"Sam!" tegurku.
Dia tidak menerima bantahanku. Malah menarik tanganku pergi ke stand gaun berlengan panjang.
"Ini mah terlalu biasa, Sam."
Dasar budek! Dia malah memilih-milih gaun.
Aku melipat tangan. Oke. Kita lihat seperti apa pilihannya. Sekitar lima belas menit akhirnya ia memberikan aku gaun model sheath selutut berbahan brokat dengan lengan sabrina. Warnanya sendiri adalah hijau botol.
"Jelek sekali," komentarku. "Apa kamu sengaja ingin membuat aku menjadi tertawaan di pesta?"
"Coba dulu baru berkomentar."
Sialan dia malah menasehatiku.
"Oke."
Aku pergi ke fitting room. Harapanku hanya satu, yakni agar gaun ini terlihat jelek untukku.
Eh kenapa malah sebagus ini? Ukurannya pas membalut tubuhku. Brokat jarang-jarang dari paha ke lutut menampakkan kulit putihku. Memberikan kesan sexy dari keseluruhannya yang elegan.
Bibirku mencebik. "Kenapa pilihannya malah sebagus ini?" Dia pasti sangat senang dengan melihat ini. Cih!
Aku keluar. Dia sudah menunggu di depan pintu fitting room.
"Bagaimana?"
Aku memutar tubuhku. "Menurutmu?"
"Kamu yang memakainya. Jadi kamulah yang tahu."
"Ditanya malah balik bertanya," gerundelku.
"Seria..." Suara rendahnya mengiris telingaku. "Cantik atau tidaknya apa yang kamu pakai itu subjektif. Karena kamu yang memakai kenapa kamu tidak memberi nilai sendiri?"
Iya sih. Aku yang memakai gaun ini. Kalau menurutku cantik, apa gunanya pandangan orang lain? Lagian mereka siapa sampai harus membuat aku peduli pandangan mereka?
"Aku suka. Ini cantik. Tapi kan dress code-nya dusty pink."
Manik gelap itu berkedip beberapa kali. Berisi ketidakpercayaan yang kentara. Lucu sekali.
"Kalau begitu pilihlah yang lain, tapi jangan terlalu terbuka."
"Memangnya kenapa? Di usiaku pakaian seperti itu kan wajar."
"Tidak wajar," sanggahnya cepat. "Tubuh kamu berhak dihargai dengan tidak menunjukkannya terlalu banyak kepada orang lain."
Apa-apaan sih dia. Pengatur sekali. Ayahku saja tidak pernah protes eh malah dia. Harusnya dia senang karena tunangannya tampil sexy dan berbuah pujian dari publik.
"Kamu mendengarkan aku, Seria?"
"Iya-iya." Aku menghentak kesal untuk kembali ke dalam. Saat keluar aku sengaja memasang wajah kesal, menunjukkan pada Sam bahwa aku tidak suka atas perintahnya.
Tapi Sam tidak peduli. Wajahnya tetap lempeng saja. Pria macam apa sih dia itu? Tidak peka sekali akan perasaanku.
"Pokoknya aku mau ini." Aku kukuh mengangkat gaun dusty pink model sheath tanpa lengan.
"Oke. Ayo bayar." Dia membalikkan tubuh. Tidak, itu bukan tanda setuju. Matanya berkilat tajam, menunjukkan ketidaksetujuannya. Namun kalimatnya pasrah. Apa dia marah?
Aku meremas gaun yang aku pilih. Kenapa jadi aku yang tidak enak hati?
***
Selanjutnya aku menemani dia makan mie ayam di gerobak Pak Man. Dia sepertinya benar-benar marah. Terbukti dengan maniknya yang selalu tajam saat melihat ke arahku.
Aku yang tertelan bosan pun mengamati pelanggan yang datang. Itu dua orang perempuan dengan hot pants dan atasan yang ketat menonjolkan dadaanya.
Tidak ada yang menarik sampai mereka pergi, lalu beberapa pria dewasa di kursi sebelah mengatakan kotor tentangnya. Sangat-sangat hingga aku jijik dibuatnya. Tiba-tiba aku merinding membayangkan diriku di posisi itu. Memang aku ingin tampil sexy, tapi aku tidak siap menjadi target pelecehan verbal orang-orang.
Sam meletakkan mangkuknya ke kursi kosong di samping. Aku pikir dia sudah kenyang ternyata merapikan kemejanya di pinggangku agar menutupi sempurna pahaku.
"Sekarang kamu mengerti kan?" bisiknya. "Tubuhmu terlalu berharga untuk hanya sekedar pelecahan verbal dan fantasi seksual orang lain."
Aku mengangguk. Mengerti benar kenapa aku seharusnya tidak mengenakan pakaian yang terlalu terbuka.
Ia kemudian menyuapakan mie ayam padaku. Mataku terfokus pada manik gelapnya yang dingin itu.
Siapa sangka dibalik label brandal dia masih tahu cara menjaga perempuan. Aku kira dia akan b******k seperti kebayakan laki-laki brandal lainnya. Ternyata dia berbeda.
Aku bahkan tidak mengerti cara menghargai diriku sendiri. Tapi Sam mengerti. Luar biasa. Bisa mengerjakan matematika dan tahu menjaga perempuan. Aku penasaran apa lagi keistimewaannya.
***
"So, malam minggu ini kalian akan bertunangan secara resmi?"
Aku mengangguki pertanyaan Devi.
"Tapi kan, Dev. Aku tidak mau orang lain tahu tentang ini."
"Ya ya aku tahu." Dia menarik kursi di hadapanku dan mendudukkan diri. "Sam itu aib. Tidak perlu orang lain tahu."
"Jahat banget kamu," tegur Mila. "Biarpun jelek begitu Sam kan tidak jahat."
"Memangnya aku mengatakan dia jahat?"
Pertanyaan Devi membungkam mulut Mila.
"Begini saja deh. Coba kamu yang di posisi Seria. Malu tidak punya tunangan seperti itu? Sudah jelek, nakal pula. Sedikit tidaknya nama kamu pasti akan ikut tercemar dibuatnya."
Tepat seperti yang dikatakan oleh Devi. Aku takut Sam akan merubah pandangan orang-orang kepadaku. Sebelum ini aku hampir sempurna. Kenakalan yang melekat pada Sam pasti akan membuat namaku tergores.
Iya sih meskipun nakal Sam itu memiliki keistimewaan tersendiri. Tapi tetap saja aku takut menjadi bahan cemoohan publik karena bertunangan dengannya. Kami mungkin bisa backstreet, tapi aku tidak yakin papa akan setuju.
"Jadi bagaimana?" tanyaku, mengharapkan pendapat mereka.
Mila mengedikkan bahu. Begitu pula Devi.
"Bujuk saja Sam," kata Aliya. "Dia itu sebenarnya berhati lembut. Kamu hanya perlu bertingkah seperti itu juga padanya."
"Kamu tahu darimana?"
Dia kan tidak dekat dengan Sam. Kenapa dia berkata seakan telah mengenal Sam cukup lama. Aneh.
"Hanya menebak."
"Awas saja kalau salah," ancamku seraya menggeser kursi. "Dimana biasanya anak RedMan berkumpul?"
"Kantin belakang," balas Devi. "Mau aku temani?" tawarnya kemudian.
Aku menggeleng. Pembicaraan aku dan Sam akan sangat pribadi. Devi tidak boleh tahu.
"Hati-hati," seru Mila saat kakiku mulai melangkah.
Oke, aku hanya perlu mengatakan semuanya dengan lembut.