Chapter 4 - Sedang Dilanda Kasmaran

1940 Words
Raut wajah Calvin dipenuhi rasa geram sekaligus malu. Dia merasa malu dengan Laura, namun di saat yang bersamaan juga merasa geram dengan perbuatan orangtuanya—yang mana dia yakin sekali pasti adalah dalang di balik penutupan semua akun rekening banknya. Orangtua Calvin, terutama ibunya, pasti merasa sangat kecewa karena ‘perjodohan’ Calvin dengan perempuan berp*yudara besar itu yang kandas begitu saja. Benaknya bisa dengan jelas membayangkan bagaimana Cindy, ibunya, dijadikan bahan olok-olok teman-teman arisannya. Padahal kalau memang sama sekali tidak ada rasa, mana bisa dipaksa? Diambilnya satu lagi kartu kreditnya serta satu kartu debitnya yang lain. “Coba yang ini,” ucap Calvin pada sang pelayan restoran. Pelayan restoran itu pergi lalu menghampiri Calvin dan Laura kembali lima menit kemudian. “Maaf, Tuan, dua kartu ini juga sudah ditutup oleh pihak bank. Apa tidak mau bayar pakai cash saja?” tawarnya. Dahi mulus Calvin langsung mengerut. “Yang ini juga ditutup?” tanyanya tak percaya. “Ah, sudah, sudah! Biar aku saja yang bayar,” timpal Laura dengan amat berat hati. Dia meraih handbag-nya lalu mengambil dompetnya dari dalam sana. “Berapa total yang harus dibayar?” tanyanya pada sang pelayan restoran. “Semuanya enam ratus lima puluh empat ribu lima ratus, Nona,” jawab sang pelayan restoran. “E .. enam ratus ribu?” ujar Laura dengan tubuh yang membeku di tempatnya. Sang pelayan restoran hanya mengangguk. Dengan amat sangat terpaksa, Laura akhirnya menyerahkan uang sebesar yang diminta pelayan restoran tersebut. Dia memang membawa uang sebesar delapan ratus ribu di dalam dompetnya, tapi bukan karena hendak berkencan dengan Calvin. Tadinya Laura berpikir sekalian mau menyetor sisa gajinya ke dalam akun rekening banknya—mengingat di Grand Paradise Mall juga terdapat ATM bank langganannya. Tapi apa daya, bukannya masuk ke akun rekeningnya, uangnya malah melayang begitu saja. “Terima kasih, saya siapkan kembaliannya dulu,” kata sang pelayan restoran seraya tersenyum dan mengangguk. Laura hanya tersenyum tipis. Sementara Calvin, sungguh, dia merasa semakin malu dan tidak enak hati pada perempuan cantik yang hari ini jadi teman kencanya itu. ‘Pokoknya setelah ini aku harus segera ganti rugi,’ janjinya dalam hati. “Ini struknya. Terima kasih, jangan lupa mampir kembali,” ucap sang pelayan restoran usai dia selesai memproses pembayaran. Lagi-lagi Laura hanya tersenyum tipis. Begitu dia sampai di rumahnya nanti, dia sudah bertekad akan langsung membakar struk pembayaran itu dan memarahi Rey—orang yang diam-diam sudah ‘menjodohkan’ dirinya dengan Calvin melalui aplikasi kencan online itu—habis-habisan. “Laura? Kamu pulang sendirian setelah ini?” tanya Calvin agak takut-takut. “Hm,” jawab Laura sambil memasukkan bukti struk pembayaran itu ke dalam dompetnya dengan raut wajah muram. Dia menatap Laura kasihan. “Tenang saja, aku janji akan mengganti rugi semuanya,” ucap Calvin serius. “Tapi masalahnya, aku sedang tidak bawa uang cash. Uang cash-ku ada di apartemen.” Barulah Laura mau menatap paras tampan laki-laki yang sedang duduk di seberangnya itu kembali. “Memangnya tidak bisa kalau ditransfer saja?” pintanya seraya mengernyitkan dahinya yang bebas jerawat. Calvin tersenyum miring, “Akun rekeningku saja ditutup, Laura. Mau ditransfer bagaimana?” “Jadi aku harus mampir ke apartemenmu, dong?” “Yeah, mau tidak mau,” ucap Calvin seraya menaikkan kedua bahunya yang lebar. “Kecuali kamu memang tidak mau diganti rugi.” Dia lanjut bicara selang lima detik kemudian, “Aku harap kamu tidak salah sangka dulu denganku. Ini bukan akal-akalanku untuk bisa mengajakmu ‘main’ ke apartemenku. Masalahnya semua akun rekeningku sudah ditutup orangtuaku.” “Memang kenapa akun rekeningmu sampai harus ditutup segala? Kamu melakukan transaksi ilegal?” tanya Laura dengan raut wajah polosnya. “Kita bicarakan di dalam mobil saja, oke?” ajak Calvin. Laura terdiam sejenak selama tiga detik lamanya sebelum akhirnya memutuskan untuk mengangguk setuju. Meskipun awalnya dia merasa amat ragu untuk berkunjung ke apartemen Calvin, yang mana kategorinya masih masuk dalam ‘cowok asing’ bagi Laura, tapi keadaan yang mendesaknya. Mau tidak mau dia harus mengiyakan ajakan Calvin, daripada uang enam ratus ribunya, yang dia peroleh dengan ‘keringat dan darah’ itu, melayang begitu saja. “Kamu tinggal di apartemen dengan keluargamu?” tanya Laura dalam perjalanan menuju tempat mobil tesla hitam milik Calvin diparkir. Calvin menggeleng. “Tidak. Sejak usiaku menginjak dua puluh satu tahun, aku sudah tidak lagi tinggal di rumah orangtuaku,” jawabnya. “Maaf sekali lagi sudah merepotkanmu,” imbuhnya. “Tidak apa-apa,” kata Laura sambil tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. ‘Yang penting kamu ganti saja uangku. Awas kalau sampai tidak diganti,’ lanjutnya dalam hati. Dia membukakan pintu mobil tesla hitamnya untuk Laura sesampainya di parkiran. “Silahkan masuk,” ucap Calvin ramah. “Wow, keren ... aku belum pernah naik mobil tesla sebelumnya,” puji Laura seraya memegangi body mobil tesla milik Calvin yang mulus. “Thanks,” kata Calvin sambil tersenyum dan memakai sabuk pengamannya. Laura lanjut bicara begitu Calvin sudah mulai menyetir mobilnya. “Jadi bagaimana ceritanya akun bankmu sampai ditutup begitu?” tanyanya penasaran. “Orangtuaku pasti marah karena ‘perjodohkanku’ dengan perempuan-perempuan pilihan mereka selalu gagal. Jadi mereka memutuskan buat menutup akun rekeningku untuk sementara, mungkin supaya aku bisa ‘belajar lebih serius’,” jawab Calvin. “Terutama ibuku, dia pasti sudah gemas sekali karena melihatku tak kunjung menikah. Tapi, yeah, memang salahku, sih. Aku kebanyakan main-main dalam urusan percintaan.” “Tapi kan bukan berarti mereka boleh bertindak seenak jidat begitu, dong? Tidak adil namanya,” komentar Laura geram. Dia terdiam sejenak sebelum lanjut bicara, “Jujur, perempuan yang kamu bawa ke restoran cepat saji tempatku bekerja waktu itu memang sexy. Kalau aku jadi kamu, aku pasti sudah mengajaknya ‘tidur’ bersama.” Calvin tersenyum, “Aku sering kok mengajak perempuan-perempuan yang dijodohkan orangtuaku untuk ‘tidur’ bersama. Malah kadang mereka sendiri yang inisiatif main ke apartemenku duluan.” “Ehh … Tapi aku mau diajak main ke apartemenmu bukan karena mau ‘berhubungan badan’ denganmu, ya. Ini semua soal uang,” sanggah Laura. “Aku tahu, Laura. Kamu memang berbeda dari antara yang lain,” ucap Calvin hangat. “Berbeda bagaimana maksudmu?” “Lupakan saja,” tutur Calvin seraya menggeleng dan tersenyum. Dia lanjut bicara. “Lalu bagaimana dengan orangtuamu? Apa mereka tahu kalau anak perempuannya yang cantik ini sedang pergi berkencan denganku?” tanyanya seraya sedikit menggoda Laura. “Aku tidak cerita pada ayah, dan aku sudah tidak punya ibu,” jawab Laura dengan sorot agak dingin. “Oh, I’m sorry, Laura. Ibumu ... sudah meninggal?” tanya Calvin nanar. “Tidak tahu deh,” jawab Laura enteng. “Yang pasti dia meninggalkanku dan ayahku begitu saja dulu, jadi aku selalu berpikir kalau dia sudah tidak ada. Entah masih hidup atau tidak, aku tidak peduli.” Melihat sorot mata Laura yang terlihat agak murung, dengan sigap Calvin berinisiatif untuk menghibur hatinya kembali. “Mau dengar lagu? Kamu suka musik jenis apa?” tanyanya seraya menyalakan alat pemutar musik dan radio mobil tesla-nya. “Heavy metal,” jawab Laura sambil menatapi jalanan lengang melalui kaca jendela mobil yang sedang dia naiki. “Damn,” gumam Calvin seraya tersenyum miring. Dia menatap Calvin kembali dengan mimik muka bingung. “Kenapa?” tanya Laura. “Baru kali ini aku bertemu dengan perempuan yang sukanya musik heavy metal,” jawab Calvin sambil mulai memutar lagu heavy metal permintaan Laura. Keduanya sampai di apartemen Crystal Lake Residence yang ditempati Calvin empat puluh menit kemudian. Begitu memasuki lobby apartemen tersebut, Laura langsung dibuat melongo dengan betapa besar dan mewahnya interior apartemen yang bergaya campuran Timur Tengah dan Eropa klasik itu. Namun pemandangan yang berbeda disuguhkan Calvin Palmer saat dia membawa Laura masuk ke dalam unit apartemen pribadinya. Interiornya didesain secara minimalis ala gaya scandinavian, dengan perabot yang kebanyakan berwarna netral seperti hitam, putih, abu-abu dan coklat muda. “Aku suka desain apartemenmu,” puji Laura sambil mengelus pelan sebuah lampu meja berwarna merah bata yang ada di hadapannya. “Thanks. Aku sendiri yang mendesain semuanya,” ucap Calvin seraya tersenyum lebar dan menunjukkan deretan giginya yang putih nan rapih. “Tunggu di sini sebentar, aku ambil uangku dulu,” perintahnya lalu melipir masuk ke dalam kamar tidurnya. Dirinya kembali menghampiri Laura kira-kira dua menit kemudian. “Ini uangmu,” katanya seraya menyerahkan beberapa lembar uangnya yang licin. Laura menghabiskan waktunya sejenak untuk menghitung jumlah uang yang diberikan Calvin padanya. Dia langsung terkejut, “Eh? Tujuh ratus ribu? Tadi totalnya cuma enam ratus ribu sekian kok? Aku tidak punya kembalian.” “Tidak apa-apa, kamu ambil saja semuanya berikut kembaliannya,” ujar Calvin seraya membaringkan tubuhnya di atas sofa. “Sini, duduk di sampingku,” ajaknya sambil menepuk pelan sofanya. “Terima kasih, ya,” kata Laura usai memasukkan semua uangnya ke dalam dompetnya. Calvin terdiam sejenak memandangi paras Laura yang cantik. Sang empunya wajah langsung bertanya sambil sedikit memiringkan kepalanya ke samping, “Kenapa memperhatikanku seperti itu? Jangan bilang ada bekas saus yang menempel di sudut bibirku?” Dia langsung menggeleng dan mengalihkan topik pembiaraan untuk menutupi kegelisahan hatinya. “Oh, ya, aku lupa. Kamu mau minum apa?” tanya Calvin kikuk. “Tidak usah, aku tidak haus,” tolak Laura. Diraihnya remote TV kabel yang tergeletak di atas meja kaca panjang yang ada di hadapannya. “Mau nonton film bersama?” ajak Calvin. Laura tidak menjawab. Ditatapnya sejenak jam dinding warna putih yang menggantung di dinding apartemen Calvin. Waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam. “Aku mau pulang sekarang saja, Calvin,” pintanya. “Oh, oke. Biar aku yang antar kamu sampai ke rumah,” ajak Calvin. Dia lanjut bicara sesampainya di depan pagar rumah Laura. Diraihnya tangan kanan Laura lalu dikecupnya punggung tangannya yang mulus itu selama dua detik. “Thanks for today, Miss Laura Danita,” gumam Calvin. Laura hanya tersenyum tipis seraya menjauhkan tangan kanannya. “Aku masuk dulu,” ucapnya sambil membuka sabuk pengamannya. “Gawat kalau sampai ayahku tahu aku pulang selarut ini bersama dengan laki-laki.” “Dia akan memarahimu?” “Tidak, tapi dia pasti akan bertanya-tanya siapa kamu, apa hubunganmu denganku, bagaimana kita bisa saling kenal, bla bla bla .. Aku malas dengar ocehannya,” jelas Laura lalu menutup perlahan mobil tesla hitam milik Calvin. Calvin hanya mengangguk dengan pelan. Selang beberapa detik, dengan sigap dia keluar dari dalam mobilnya dan lanjut memanggil Laura kembali tepat sebelum Laura membuka gembok pagar rumahnya. “Laura, tunggu! Aku boleh minta nomor ponselmu?” pintanya. “Eh? Kenapa? Tidak mau ngobrol lewat aplikasi kencan online itu saja?” tanya Laura heran—yang sama sekali belum ‘peka’ kalau Calvin Palmer sudah mulai menaruh hati padanya. “Feel-nya berbeda, Laura. Mungkin karena yang aku ajak ngobrol selama ini adalah Rey, temanmu. Iya kan? Apalagi tadi kamu juga bilang kalau Rey yang mendaftarkanmu di aplikasi kencan online itu.” “Ah, iya juga,” gumam Laura. “Ini,” sambungnya sambil memberikan Calvin nomor ponselnya. “Sudah kan? Aku masuk dulu, ya,” sambungnya usai memasukkan kembali ponselnya ke dalam handbag. “Tunggu,” cegat Calvin seraya memegangi pergelangan tangan kiri Laura. Dia mendaratkan bibirnya ke atas dahi Laura selama tiga detik lalu berkata, “Selamat malam, Laura.” “Hati-hati di jalan, Calvin,” ucap Laura seraya tersenyum tipis. Senyum kasmaran itu tak pernah luntur dari paras Calvin yang nyaris sempurna. Dia menyetir mobil tesla-nya menuju apartemennya kembali dengan penuh semangat, bak orang yang akan menerima gaji. Dimainkannya lagu heavy metal yang tadi sempat dia putarkan untuk Laura. ‘Sepertinya habis ini aku akan mulai menyukai musik-musik heavy metal,’ benaknya. “Bagaimana bisa kamu membuatku jatuh hati secepat ini, Laura?” bisik Calvin. ♥♥TO BE CONTINUED♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD