Nora menghela napas dalam-dalam, mencoba untuk tetap tenang meskipun emosinya mulai memuncak. “Ya, aku masih perawan. Apakah itu membahagiakanmu, Tuan Steve yang terhormat?” ucapnya dengan nada yang sedikit mengejek.
Steve hanya menatap Nora dengan tatapan yang tidak menunjukkan emosi apa pun. “Baguslah. Itu saja yang ingin kutanyakan. Terima kasih atas jawabannya,” ucapnya singkat, sebelum memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan.
Nora menyunggingkan bibirnya, menatap wajah mantan suaminya dengan ekspresi campuran antara kesal dan kebingungan. “Pertanyaanmu sangat tidak masuk akal, Steve. Padahal selama tiga bulan kita menikah, kau tak pernah menyentuhku sama sekali,” ucapnya, suaranya dipenuhi dengan ketidakpercayaan.
“Jangan mengingatkan itu lagi, Nora!” potong Steve dengan suara tegas, tampaknya malas membahas masa lalu mereka.
"Mengapa?" tanya Nora ingin tahu.
Steve menghela napas kasar. “Aku sudah melupakannya dan kau malah mengingatkan itu lagi,” sahut Steve, tatapannya penuh dengan kesal saat dia menatap wajah mantan istrinya.
Nora menghela napasnya, mencoba untuk menenangkan diri. “Lantas, apa yang kau inginkan, Tuan Steve? Kau telah membuangku, dan kini memungutku lagi. Apa maksud dari ini semua? Katakan, aku ingin tahu,” tuntut Nora, suaranya menuntut penjelasan dari Steve.
Steve merasa tegang, menyadari bahwa saatnya dia harus berbicara terus terang. Meskipun itu akan mengekspos rasa gengsinya karena akan dijodohkan oleh kedua orang tuanya, dia tahu dia tidak bisa mengelak lagi.
“Nora …” Steve memulai, suaranya sedikit gemetar, sebelum dia akhirnya menemukan keberanian untuk melanjutkan. “Aku tahu ini sulit dipercaya, tapi sebenarnya aku tidak ingin melepasmu. Aku memang telah memutuskan untuk bercerai dulu saat itu, tapi setelah itu aku menyadari bahwa mungkin kau adalah pilihan terakhir untukku,” jujur Steve, tatapannya lembut saat dia berbicara.
Nora terdiam, matanya memperhatikan setiap gerakan dan ekspresi wajah Steve dengan cermat. Dia tidak bisa menahan perasaan campuran antara kejutan dan keraguan yang memenuhi hatinya.
“Apakah kau serius?” tanya Nora akhirnya, suaranya dipenuhi dengan ragu.
Steve mengangguk, mencoba untuk menyampaikan segala yang ada di dalam hatinya. “Ya, aku serius, Nora. Kita mulai dari awal. Kita menikah secara resmi setelah ini,” ucapnya dengan penuh rasa.
Steve menatap Nora dengan intensitas, mencoba menembus ekspresi bingung yang terpancar dari wajahnya. Dia tahu dia harus menjelaskan dengan jelas dan tegas apa yang ingin dia sampaikan.
“Aku harus menikah dan … tidak ada pilihan lain selain kamu. Yang pernah singgah dalam hidupku,” ucapnya, suaranya terdengar serius, sementara matanya terus memperhatikan reaksi Nora.
Nora menatap Steve dengan mata yang penuh dengan kebingungan. Kata-kata Steve terasa seperti petir di siang bolong baginya. Dia tidak bisa menahan keheranannya atas pengakuan tiba-tiba itu.
“Lalu kau telah melupakan kesalahpahaman yang pernah terjadi di antara kita?” tanya Nora, suaranya penuh dengan keraguan.
“Tentu saja tidak. Nora. Aku sudah bicara padamu berulang kali, aku tak ingin membahas masa lalu itu. Aku hanya ingin menata kehidupan yang baru, kau dan aku menikah secara sah, tidak seperti dulu lagi, yang menikah secara diam-diam. Paham?” jelas Steve, mencoba menegaskan maksudnya.
Nora menggeleng perlahan, ekspresinya masih dipenuhi dengan kebingungan. “Belum. Aku belum paham,” ucapnya dengan suara pelan, mencerminkan kebimbangannya.
Steve mengusap wajahnya dengan lembut, mencoba menenangkan diri sejenak sebelum melanjutkan pembicaraan.
“Shiit! Kau selalu membuatku jengkel. Aku ingin kita menikah … lagi. Aku akan membawamu pada orang tuaku, mengenalkanmu sebagai calon istriku. Lebih dari itu, kau tak perlu mengatakan apa pun. Jangan sampai mereka tahu jika kita pernah menikah!” ucapnya dengan sedikit frustrasi, tetapi masih dengan nada yang tegas.
Nora merasakan kebingungannya semakin bertambah. Dia tidak tahu bagaimana harus merespons tawaran yang tak terduga ini.
Segala sesuatunya terasa begitu rumit, terutama dengan masalah masa lalu mereka yang belum terselesaikan. Tapi di sisi lain, ada bagian dari hatinya yang bergetar dengan harapan baru yang muncul.
“Tapi, Steve …” ucapnya ragu. “Apa ini benar-benar yang terbaik untuk kita?” tanyanya, mencoba mencari kejelasan di tengah kebimbangan yang melandanya.
Nora menatap Steve dengan tatapan yang penuh dengan keraguan dan pertanyaan. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Kau membeliku hanya untuk kau jadikan sebagai istrimu kembali?” tanya Nora dengan suara yang agak gemetar, mencoba mencari kejelasan dari situasi yang sangat membingungkan baginya.
Steve mengangguk perlahan, matanya tetap menatap tajam ke arah Nora. “Aku mungkin masih membencimu, namun, ini sudah menjadi keputusan yang amat sangat berat yang harus aku ambil. Kau harus menikah denganku, lagi,” ucapnya dengan nada yang tegas, meskipun terdengar ada rasa kebingungan dalam suaranya.
Nora merasa dadanya sesak mendengar permintaan yang begitu mendadak itu. Dia merasa sulit untuk memahami perasaannya sendiri dalam momen ini. “Atas dasar apa aku harus menerimamu kembali, Steve?” tanya Nora dengan suara yang penuh dengan keraguan, sementara dia mencoba merapikan pikirannya.
Steve merasa geram mendengar pertanyaan dari mantan istrinya itu. “Tentu saja karena kau telah kubeli. Kau sudah menjadi milikku. Begitu saja masih kau pertanyakan,” ucapnya dengan nada tajam, memperlihatkan sedikit kekesalannya.
Nora menaikkan alisnya, mencoba untuk menahan emosinya. Dia bisa merasakan getaran di dalam dadanya saat mendengar kata-kata Steve. Sungguh, dia memang sengaja ingin membuat Steve kesal padanya agar melepaskan dirinya.
‘Salah siapa dulu membuangku begitu saja. Sekarang, dia memungutku kembali bahkan mau membeliku dengan harga yang tinggi. Apa dia benar-benar mencintaiku? Namun, gengsinya yang setinggi langit itu menutupi semuanya?’ ucap Nora dalam hatinya, mencoba merapikan pikirannya yang kacau.
“Besok pagi kita ke rumah orang tuaku. Aku akan mengenalkanmu pada orang tuaku.”
“Apa kau serius dengan keputusanmu ini, Steve? Kau akan menikah lagi denganku? Kau tak ingin mencari wanita lain selain diriku?” tanya Nora dengan suara yang penuh keraguan, mencoba menyingkap alasan di balik keputusan Steve.
Steve menggeleng tegas. “Tidak. Namun, jangan sampai kau berbicara pada orang tuaku jika aku mendapatkanmu dari pelelangan! Aku tak ingin mereka tahu mengenai hal ini,” ucap Steve dengan nada serius, memperingatkan Nora agar menjaga rahasia ini dari kedua orang tua mereka.
Nora menghela napas kasar, merasa tertekan oleh perasaan bingung dan kebingungan. “Baiklah. Kali ini aku hanya bisa menurut saja,” ucapnya dengan suara yang rendah, menatap Steve dengan ekspresi campur aduk.