Tidak Membutuhkanmu

1005 Words
Pagi itu, sinar matahari menyapa hangat di halaman rumah keluarga Alexander. Nora dan Steve tiba di sana, menghadap kedua orang tua Steve—Luna dan Justin. “Halo, Ibu, Ayah. Perkenalkan, calon istriku, Nora. Aku dan dia akan menikah dalam waktu dekat ini,” kata Steve dengan tegas, memperkenalkan Nora dengan penuh keyakinan. Nora melirik ke arah Steve, merasakan getaran yang berbeda dalam kata-kata dan sikapnya kali ini. ‘Kali ini dia tidak main-main dengan ucapannya. Kali ini Steve memperkenalkan diriku pada kedua orang tuanya,’ pikirnya dalam hati, mencoba menahan gejolak emosinya. Luna menyambut kedatangan mereka dengan senyuman hangat. “Halo, Nora. Senang bertemu denganmu. Apakah benar, kalian akan menikah? Kalian saling mencintai, hum?” tanyanya penuh keingintahuan. Nora menelan ludah, mencoba untuk tetap tenang. “Ya, Ibu. Kami saling mencintai dan hubungan kami juga sudah berjalan selama tiga bulan lamanya. Steve sudah ingin memperjelas hubungan ini, maka dari itu, kami memilih untuk melangsungkan pernikahan kami,” jawab Nora dengan penuh hati-hati. Namun, tatapan tajam dari Justin membuat Nora merasa tidak nyaman. “Apa kau serius, Steve? Kau … akan menikah dengannya?” tanya Justin dengan nada yang sedikit skeptis, menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Nora. Steve menatap Nora sejenak sebelum menjawab pertanyaan ayahnya. “Ya, Ayah. Aku akan menikah dengan Nora. Dia kekasihku, maka aku akan menikahinya. Kami saling mencintai,” ucapnya dengan tegas, meskipun ada keraguan yang tersembunyi di matanya. Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Steve rupanya mengundang debaran di hati Nora. Dia merasa sedikit lega karena Steve menyatakan cintanya di depan kedua orang tua mereka, namun, ada juga ketidakpastian yang merayap di dalam dirinya. Apakah pernikahan ini benar-benar akan membawa kebahagiaan bagi keduanya? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. “Padahal aku sudah menyiapkan calon untukmu yang mungkin lebih baik dari pilihanmu, Steve,” ucap Justin akhirnya mengatakan ketidaksetujuannya jika Steve memilih Nora. Steve menoleh ke arah ayahnya dengan ekspresi datar. “Ayah. Kau pun tahu, aku paling tidak suka dijodohkan! Aku tak ingin kau ikut campur masalah pasanganku. Sudah berulang kali aku katakan, aku hanya akan menikahi wanita yang aku cintai!” ucap Steve dengan tegas, menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap campur tangan ayahnya dalam urusan cinta dan pernikahannya. Nora, yang mendengar pernyataan itu, secara perlahan menoleh ke arah Steve, matanya penuh dengan keraguan dan tanda tanya. Apa arti dari kata-kata Steve? Apakah ia benar-benar mencintainya, atau ini hanya sebuah permainan belaka? Luna, ibu Steve, mencoba menenangkan situasi, “Sudahlah, jangan ribut lagi. Yang penting saat ini Steve sudah memiliki pasangan. Apa kau masih tak percaya pada anakmu sendiri? Steve pasti tahu mana yang terbaik untuknya,” ujarnya dengan suara lembut, mencoba meredakan ketegangan di dalam rumah mewah itu. Steve mengangguk setuju dengan kata-kata ibunya. “Ya. Ibu benar. Aku lebih tahu mana yang terbaik untukku. Kedatanganku kemari hanya untuk memberi tahu itu saja. Silakan datang ke acara pernikahanku … satu minggu yang akan datang!” ucapnya dengan tegas, menegaskan keputusannya untuk menikahi Nora. ** Nora dan Steve berdiri di ruang tamu apartemen, suasana tegang melayang di udara setelah perdebatan mereka tentang jadwal pernikahan. Nora menatap tajam ke arah Steve, ekspresi wajahnya mencerminkan ketidakpercayaan. "Apa kau gila, Steve? Satu minggu lagi?" teriak Nora, suaranya penuh dengan kebingungan dan ketidaksetujuan. Steve, yang tengah membuka jas di tubuhnya, menatap Nora dengan tatapan datar. Dia merasa tegang dengan situasi ini, namun tidak menunjukkan kelemahan di depan Nora. "Lebih cepat lebih baik. Ayahku tak suka jika aku menjalin hubungan dengan siapa pun selain pilihannya sendiri, Nora," jawab Steve dengan suara tenang namun tegas. Nora menghela napas, mencoba untuk menenangkan diri sejenak sebelum melanjutkan protesnya. "Ya, aku tahu. Raut wajah ayahmu sejak tadi memang memasang wajah yang masam. Namun, aku tak menyangka dia akan mengatakan hal itu di depanku secara langsung." Steve melangkahkan kakinya mendekati Nora, wajahnya penuh dengan ekspresi campuran antara penyesalan dan tekad. "Turuti saja apa yang aku inginkan, Nora. Kau sudah menjadi milikku. Dulu dan sekarang!" bisik Steve dengan nada yang agak rendah, sementara matanya menatap Nora dengan penuh kepastian. Nora menelan ludah, merasa tidak nyaman dengan tatapan tajam Steve yang membuatnya merasa seperti sedang diperiksa. "Jangan dekat-dekat, Steve," pintanya dengan suara gemetar. Steve hanya menyunggingkan senyum, mencoba mengendurkan ketegangan di udara dengan candaan. "Apa kau gugup?" godanya sambil meraih tangan Nora. Nora menggeleng cepat, mencoba untuk menampakkan kepercayaan diri meskipun jantungnya berdegup kencang. "Tidak. Mana mungkin aku gugup. Ingat, Steve. Kita pernah tinggal satu rumah selama tiga bulan lamanya," jawabnya, mencoba mengingatkan Steve akan masa lalu mereka yang pahit. Steve menghela napas dalam-dalam, merasa terganggu dengan kenangan masa lalu yang diungkit oleh Nora. "Mengapa kau ungkit masa itu lagi? Apa kau tidak terima, aku menceraikanmu?" timpal Steve dengan nada sedikit tertekan. Nora menggeleng pelan, ekspresi wajahnya memperlihatkan sedikit kesedihan. "Karena hanya itu, satu-satunya obrolan yang bisa aku bicarakan denganmu. Selama tiga bulan itu, duniaku hanya dirimu. Dan ternyata, takdir memanggilku kembali. Aku ... bertemu lagi denganmu," jelasnya dengan suara yang agak bergetar, mencoba mengekspresikan perasaannya yang rumit kepada Steve. Steve terdiam mendengar ucapan Nora, merenung sejenak tentang kata-kata yang baru saja dia dengar. Dia pun memalingkan wajahnya, mencoba untuk menyembunyikan ekspresi yang tidak diinginkannya dari Nora. Tapi di balik itu, dia merasa tersentuh dengan apa yang Nora ungkapkan, meskipun dia tidak ingin menunjukkannya dengan jelas. “Aku ingin tahu, mengapa kau memilihku untuk menjadi istrimu? Sementara wanita cantik dan mapan masih banyak di luar sana.” "Kau tak perlu tahu. Yang penting saat ini adalah aku telah menyelamatkanmu dari para b*****h gila wanita itu," ucap Steve dengan nada yang dingin, tidak membuka rahasia tentang alasan di balik tindakannya. Nora merasa semakin frustrasi dengan ketidakjelasan Steve. Dia ingin tahu, tetapi lelaki itu tampaknya tidak akan memberikan penjelasan apa pun. Dia mencoba untuk meredakan emosinya sejenak sebelum menjawab, "Baiklah, jika kau tak ingin memberi tahu alasanmu itu. Aku harus pulang, aku harus bertemu dengan ibu—" "Ibumu sudah tidak tinggal di rumahnya lagi. Dia telah mendapatkan banyak uang dari hasil menjualmu. Lebih tepatnya, dia sudah tidak membutuhkanmu lagi, Nora. Jangan ke mana-mana, tetap di sini, bersamaku," potong Steve dengan suara dingin, memberikan kejutan yang lebih besar kepada Nora.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD