Terciduk

768 Words
Kesunyian yang tercipta membuat semua mata tertuju pada Steve, yang tampak tenang namun sedikit terkejut. Dia berusaha menyembunyikan keterkejutannya di balik ekspresi wajah yang datar. "Menikah?" ucapnya dengan nada yang tenang, meskipun di dalam hatinya, kekagetannya masih terasa. Semua orang tercengang mendengar kabar tersebut, termasuk Steve sendiri. Namun, dia tetap tenang dan tidak memperlihatkan keterkejutannya. "Ya, benar! Tuan Justin pernah menyinggung soal ini. Bahwa beliau akan menikahkan anaknya dengan anak dari rekan kerjanya. Benar begitu, Tuan Steve?" tanya salah satu kolega lain, mencoba mengkonfirmasi rumor yang beredar. Steve merasakan amarah memuncak di dalam dirinya saat namanya disebut bersama dengan keinginan ambisius Tuan Justin. Dia mengepalkan tangannya, berusaha mengendalikan emosinya yang ingin meledak. “Aku memang akan menikah. Namun, bukan dengan pilihan dari ayahku!” tegasnya, suaranya penuh dengan keputusan yang teguh, lalu dengan langkah mantap, dia beranjak dari duduknya. Tapi, pertanyaan masih terus mengalir dari rekan-rekannya yang bingung dengan keadaan tersebut. "Tapi, bagaimana bisa, Tuan Justin sangat percaya diri jika anaknya itu akan menikah dengan anak pengusaha kaya raya itu?" ucap salah satu kolega lagi, mencoba mencari pemahaman atas kebingungan yang terjadi. Di dalam hatinya, Steve tahu bahwa dia harus membantah pernyataan Justin yang salah, namun dia tidak ingin mengungkapkan terlalu banyak informasi tentang calon istrinya saat ini. Ada rahasia yang belum siap dia ungkapkan kepada publik. Namun, dia juga tidak ingin diam dan membiarkan kesalahpahaman itu berkembang. Dengan hati-hati, Steve menjawab, "Ayahku memang memiliki pandangan yang berbeda. Namun, aku pastikan bahwa kabar yang beredar tidak sepenuhnya benar," ucapnya dengan nada yang tegas namun tetap diplomatis, berusaha menjaga kebenaran tanpa mengungkapkan terlalu banyak rincian. Brandon mengendalikan mobilnya dengan cermat di tengah kemacetan lalu lintas, suaranya tenang saat dia mengungkapkan kabar yang membuat Steve terdiam, "Tuan Steve. Nona Helena juga telah mengonfirmasi bahwa beliau akan menikah dengan Anda," ucapnya dengan penuh kepastian. Steve menghela napas kasar, wajahnya tertutup bayangan ketidakpastian. “Biarkan saja. Biar aku yang urus semuanya,” jawabnya dengan suara yang terdengar lelah. Namun, Brandon tidak menghentikan pertanyaannya begitu saja, "Baik, Tuan. Lantas, bagaimana dengan wanita kemarin malam? Apakah dia hanya wanita malam yang ingin Anda sewa?" tanyanya, mencoba mengetahui lebih banyak tentang kejadian semalam. Mendengar pertanyaan itu, Steve langsung merasa kesal. "Jaga ucapanmu, Brandon! Nora bukan wanita seperti itu!" pekik Steve dengan suaranya yang tiba-tiba meninggi, membuat Brandon terkejut mendengar teriakan bosnya itu. “Maafkan saya, Tuan. Sa—saya hanya bertanya,” balas Brandon dengan gemetar, mencoba menenangkan situasi yang tiba-tiba tegang. “Pertanyaan bodoh itu namanya! Jika tidak tahu apa-apa, sebaiknya jangan bicara seperti itu! Apa kau sudah bosan, bekerja denganku?” desak Steve, suaranya masih terdengar marah. “Ti—tidak, Tuan! Saya masih ingin bekerja dengan Anda,” jawab Brandon dengan cepat, mencoba meredakan kemarahan Steve. “Maka dari itu, jangan pernah menyebut Nora sebagai wanita malam lagi!” tegur Steve dengan sangat tegas, menekankan pentingnya penghormatan terhadap Nora dalam setiap percakapan. Dia tidak akan mentolerir lagi komentar yang tidak pantas tentang wanita yang akan menjadi istrinya. ** Setelah hampir dua jam bertemu dengan beberapa klien di hotel, Steve akhirnya kembali ke apartemennya. Saat memasuki ruang tengah, matanya tertuju pada sosok yang tertidur lelap di atas sofa. “Tsk! Mengapa kau tidur di sini, Nora?” gumamnya pelan sambil menghampiri mantan istrinya. Langkahnya berhenti tepat di samping sofa, dan dia duduk di samping Nora, menatapnya dengan tatapan campuran antara kebingungan dan kelembutan. “Nora?” panggilnya dengan suara lembut, sambil menepuk-nepuk pipi Nora dengan lembut. Namun, reaksi Nora hanya membuat tangannya disingkirkan dan dia kembali tertidur. Steve menghela napas kasar, merasa sedikit frustasi dengan situasi yang ada. “Ia pun menaruh jas hitamnya di samping sofa dan menggendong tubuh Nora dengan hati-hati, membawanya masuk ke dalam kamarnya. “Argh! Berat sekali wanita ini. Aku pikir tubuhnya yang mungil ini tidak seberat ini,” gerutu Steve sambil mencoba mengangkat tubuh Nora. Setelah berhasil menempatkan Nora di atas tempat tidur dengan hati-hati, Steve menyelipkan selimut ke tubuhnya yang tertidur lelap. Dia memandang Nora dengan penuh perhatian, mencoba mencerna keadaan yang sedang terjadi. “Sepertinya kamu lelah sekali, Nora. Apa yang terjadi padamu selama dua minggu setelah aku mengusirmu dari rumahku,” gumam Steve, suaranya penuh dengan rasa bersalah dan kebingungan. Dia merasa seharusnya memberi Nora kesempatan untuk menjelaskan segala sesuatu sebelum mengusirnya dari rumahnya. Rasa bersalah itu menghantuinya saat dia menatap Nora yang terlelap dalam tidurnya, penuh dengan pikiran yang bertubi-tubi. Steve mengusapi sisian wajah Nora dengan lembut lalu menutup matanya perlahan. Mendekatkan wajahnya pada wajah Nora. Baru saja jarinya membelai pelan bibir Nora, wanita itu sudah membuka matanya secara perlahan. “Steve? Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Nora dengan suara beratnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD