Tubuh Steve tiba-tiba tegang begitu Nora membuka matanya. Wajahnya terpancar dengan campuran antara keterkejutan dan kebingungan saat dia melihat Nora yang mulai tersadar.
“Steve? Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa aku ada di sini? Astaga, sepertinya aku ketiduran. Maafkan aku, Steve. Aku tidak tahu kalau kamu sudah kembali,” ucap Nora dengan suara yang masih terdengar mengantuk.
Steve menelan salivanya, masih terkejut melihat Nora. Dia lalu mengangguk dengan sikapnya yang sedikit salah tingkah.
“Ya. Kau tidur di kamarku. Awalnya aku ingin memarahimu karena kamu memakai kamarku sembarangan. Siapa yang menyuruhmu tidur di kamarku, huh?” tanya Steve mencoba mengalihkan kegugupannya karena hampir ketahuan oleh Nora.
Mata Nora berkedip-kedip saat mendengar ucapan Steve. “Euh ….” Dia menggigit bibir bawahnya seraya melirik Steve yang tengah menaikkan alisnya menunggu jawaban.
“Aku … euh! Maafkan aku, Steve. Aku lupa,” jawab Nora dengan suara yang masih agak terbata-bata, mencoba merangkai kata-kata dengan cermat.
Steve menahan tawanya, bibirnya terkatup rapat untuk menahan gelak tawanya yang hampir pecah mendengar jawaban Nora.
Tentu saja, wanita itu tidak tahu apa-apa, sedangkan yang membawanya ke dalam kamar adalah Steve sendiri. Dia membatalkan tawanya, mencoba untuk mempertahankan wajah serius.
Steve menatap Nora dengan serius, ekspresinya sedikit lembut meskipun masih terdapat sedikit ketegangan. “Ya sudah, kali ini aku maafkan. Jangan lakukan hal itu lagi. Paham?” tegasnya sambil menatap mata Nora dengan tajam.
Nora mengangguk dengan polosnya. “Baiklah, aku mengerti. Aku harus mandi, Steve. Apakah ada pakaian yang bisa aku pakai?” tanyanya sambil bangkit dari tidurnya, menyadari bahwa dia harus segera bersiap.
Steve terdiam sejenak, memikirkan pilihan terbaik. Dia baru saja membeli apartemen ini setelah berpisah dengan Nora, dan dia tidak membawa semua pakaian miliknya.
“Bajumu ada di rumahku yang lama. Aku tidak membawanya kemari karena tidak tahu jika akhirnya aku akan bertemu kembali denganmu,” jelasnya dengan nada yang agak ragu.
Melangkah menuju lemari, Steve mengambil kemeja abu-abu miliknya, lalu memberikannya pada Nora dengan sedikit keraguan. Nora, yang melihatnya, menaikkan alisnya.
“Steve. Kau yakin, aku harus mengenakan baju ini?” tanyanya dengan ragu, menyadari bahwa kemeja tersebut mungkin akan membuatnya terlihat lebih seksi dan menarik.
“Lantas, kau mau memakai baju yang mana?” balas Steve dengan dingin. “Lagi pula, aku tidak akan tergoda meskipun kamu mengenakan pakaian seperti itu,” tambahnya dengan sedikit nada acuh, sebelum meninggalkan Nora dan keluar dari kamar tersebut.
Nora menggaruk belakang kepalanya, sedikit bingung dengan sikap Steve. “Steve … ini kan, kamarmu. Kenapa kamu yang keluar? Aneh,” gumamnya pelan, mencoba mencari pemahaman atas perilaku mantan suaminya tersebut, sebelum akhirnya mengambil napas dalam-dalam.
“Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Aku tidak punya pakaian lain, jadi aku harus pasrah mengenakan baju milik Steve,” pikir Nora, sambil memakai kemeja abu-abu yang diberikan Steve dengan hati-hati.
Setelah memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, Nora akhirnya keluar lima belas menit kemudian. Aroma harum dari daging steak yang dipenuhi rempah berhasil mencapai indera penciumannya, membuat perutnya mulai merasa lapar.
“Hm! Wangi sekali daging ini. Apakah Steve sedang memasak untukku? Ah, tidak mungkin. Lelaki itu kan, sangat jual mahal,” gumam Nora sambil mengerucutkan bibirnya, menghela napasnya. Tanpa pikir panjang, dia melangkahkan kakinya menghampiri Steve yang berada di ruang tamu.
“Steve?” panggil Nora, mencoba menarik perhatiannya.
Lelaki itu kemudian menoleh, matanya tidak bisa menghindari melirik lekuk tubuh indah milik Nora saat mengenakan kemeja miliknya.
Ia menelan saliva berulang kali, mencoba untuk tidak terlalu terpana, dan segera mengalihkan pandangannya kembali.
“Kau ingin menggodaku, huh?” tuduh Steve dengan nada yang tajam. “Mentang-mentang aku telah membelimu, bisa-bisanya kau menggodaku seperti itu,” lanjutnya dengan ekspresi yang agak kesal.
Nora memutar bola matanya pelan, menikmati momen yang hadir di depan matanya. Dia duduk di kursi meja makan, menatap punggung Steve yang sibuk memasak steak di dapur.
“Aku hanya ingin bertanya. Apakah kau membuatkan steak untukku juga?” tanyanya dengan harapan terselip di suaranya.
“Hm!” jawab Steve singkat, namun cukup membuat Nora tersenyum.
Senyum itu merekah di wajah Nora, meluap dari hatinya yang penuh rasa syukur. “Terima kasih, Steve. Dari dulu sampai sekarang kau memang baik,” ucapnya dengan suara hangat, mengungkapkan rasa terima kasihnya.
Steve tersenyum miring, menyimak kata-kata Nora dengan hati yang hangat. “Hanya karena kita telah berpisah selama dua minggu, kau lupa jika aku sangat baik hati, huh?” godanya disertai dengan senyuman yang menyejukkan.
Nora menggeleng, menggulirkan senyumnya dengan lembut. “Tidak. Tentu saja aku selalu mengingat kebaikanmu. Terima kasih, untuk kebaikan yang telah kau berikan padaku, Steve,” ucapnya dengan tulus, senyumnya semakin menghiasi wajahnya.
Namun, Steve hanya diam, melanjutkan kegiatannya di dapur. Dia menata piring berisi steak dan pelengkap lainnya di depan Nora dan dirinya.
“Tidak perlu berterima kasih. Karena aku membantumu bukan karena aku ikhlas membantumu. Melainkan ada sesuatu yang harus kau lakukan untukku. Termasuk menjadi istriku,” ucap Steve dengan tegas, matanya menatap Nora dengan serius.
Nora menganggukkan kepalanya, menerima dengan tulus. “Baiklah,” jawabnya sambil mengulurkan senyum kecil pada Steve, memenuhi ruangan dengan atmosfer kehangatan yang membalut mereka berdua.
“Nora?” Steve mengangkat kepalanya menatap wajah Nora dengan raut wajah datarnya.
“Ya?” ucapnya pelan.
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, setelah makan malam nanti.”